๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku adalah pelanggan ruang konseling yang setia. Di sana Bu
Tetty selalu memarahiku ditambah dengan Mama-ku yang datang dengan kesal. Aku
tahu kali ini aku nggak akan selamat dari semua kemarahan itu. Karir
modelling-ku berakhir dan aku dihukum oleh Mama; inilah yang terburuk. Aku
pikir dunia benar-benar sudah menentangku. Meskipun nggak dikeluarkan karena
Mama sudah menyumbang satu laboratorium tahun ini untuk sekolah, hidupku sudah
seperti buronan yang kabur dari Nusa Kambangan saja. Terlebih setelah aku
menuliskan ‘mading tukang fitnah’ dengan cat semprot pada singgasana si kawat
gigi; yaitu mading-nya.
Seperti biasa, aku dipanggil lagi ke ruang konseling.
Dimarahi Bu Tetty yang murka setengah mati dan seandainya sekolah nggak
memandang Mama ku dia pasti sudah menamparku karena terlalu kurang ajar. Tapi,
aku menyadari ada sesuatu yang berbeda di ruang konseling belakangan. Biasanya
hanya Bu Tetty si tukang marah yang berada di ruangan itu, sekarang dia sudah
punya asisten dan itu seorang laki-laki. Masih muda dan rada mirip Arifin
Putra.
Aku jadi ingat pernah melihat segerombol anak perempuan yang
mengintip ke ruang konseling saat mendengar bahwa ada cowok keren yang baru
magang di sekolah. Rupanya dia. Tanpa sadar, aku melirik ke arahnya saat Bu
Tetty kembali meyakinkanku bahwa aku adalah pembuat masalah. Tapi, orang itu
asyik sekali dengan bukunya. Jangan-jangan dia homo, pikirku sambil kembali
memusatkan perhatian ke guru konseling yang cerewet itu.
“Kalau foto ini keliru, lalu apa yang benar, Saira?” ia
kembali memaksaku untuk menceritakan yang sebenarnya.
Aku pikir, menceritakan yang sebenarnya reputasiku juga
tetap jelek. Nggak semua orang bisa memahami bahwa modelling itu adalah dunia
persaingan yang lebih sadis dari perebutan juara umum di sekolah. Di dalamnya
sarat dengan godaan dan tawaran menggiurkan yang membuat seorang gadis bisa
saja kehilangan harga dirinya. Orang-orang sudah terlanjur mengira bahwa aku
tidur dengan om-om tua untuk sebuah peran di sinetron. Aku nggak bisa
menjelaskannya kepada setiap orang dan terlalu konyol untuk membuat konferensi
pers. Konferensi pers hanya akan membuat masalah semakin lebar.
Jadi aku membiarkannya begitu saja. Aku nggak pernah
menjelaskan kejadian sebenarnya di balik sebuah foto yang menunjukan bahwa aku
duduk di pangkuan seorang lelaki tua. Kalau saja aku lebih hati-hati tentu pria
genit itu nggak akan menarikku dengan paksa ke dekatnya. Si kawat gigi mengambilnya
dengan sangat tepat seolah dia memang sedang menunggu momen yang paling
memalukan bagiku di setiap detiknya. Padahal hanya beberapa saat sebelum aku
menarik diri darinya dan marah-marah karena dia baru saja melecehkanku.
Tapi, sekarang, semuanya percuma.
Mama-ku nggak pernah sebenci ini padaku. Dia benar-benar
merasa aku telah mempermalukannya sehingga dia nggak sudi memandangku. Aku
nggak percaya sebuah fitnah bisa memberiku sebuah penolakan yang begitu besar
dari orang-orang sekelilingku. Jangan pikir saat itu aku bisa dengan acuh
melangkah di hadapan orang-orang. Aku berusaha dengan kuat untuk tegar dengan
berpikiran bahwa apa yang terjadi bukan salahku. Semuanya akan berlalu. Tapi,
semakin lama aku semakin lemah.
Saat air mataku akhirnya menetes juga, aku merasa hidupku
benar-benar kacau. Kemudian seseorang mendatangiku dengan penyesalannya. Dia
bukan temanku; aku memang nggak berteman lagi sejak lama. Tapi, dia
satu-satunya orang selain si kawat gigi yang tahu bahwa kejadian di foto itu
nggak seperti yang orang-orang pikirkan.
“Maafin gue, Sai...,” katanya, ikut menangis di depanku.
“Gue nggak tahu lo bakal dituduh sejahat itu sama Gigi....”
Ya, dia adalah teman si kawat Gigi yang menemaninya saat
mengambil foto di kontes model itu. Ananda namanya. Dia adalah orang pertama
yang benar-benar bisa disebut sebagai seorang teman sejati. Aku menjulukinya
gadis matahari.
***
Selama ini aku tinggal di dalam kotak kaca buatan Mama-ku.
Sejak kecil hingga remaja aku nggak pernah bisa lepas dari pengawasannya. Kata
orang, Mama-ku melakukannya karena dia menyayangiku tapi yang aku tahu kasih
sayang seorang ibu kepada anaknya haruslah bersikap seperti seorang ibu. Ya
seorang ibu yang memperhatikan anaknya. Tapi, Mama-ku adalah seorang bos; semua
perintahnya harus dipatuhi. Kalau aku nggak mendengarkannya, dia dengan mudah
menghukumku.
Aku memang punya kehidupan berkecukupan. Nggak pernah yang
namanya jalan kaki ke sekolah; boro-boro. Naik angkot atau bus itu bisa
dibilang belum pernah. Tapi, apa aku bahagia? Nol. Melalui sikap Mama selama
ini terhadapku, sepertinya dia mengajarkan aku untuk nggak berempati terhadap
orang lain. Entah dia sadar atau nggak. Namun, masih ada juga orang yang
menginginkan kehidupan seperti kehidupanku. Ananda misalnya. Segala hal tentang
dirinya adalah kebalikan dari diriku.
Aku seorang gadis broken
home sedangkan dia mempunyai keluarga yang sempurna; sepasang orang tua
yang saling mengasihi, seorang kakak dan adik laki-laki; Adrian dan Arman.
Mereka hidup sederhana di pinggiran kota dengan menghuni sebuah rumah yang
nggak lebih besar dari ruang tamu rumahku.
Aku ingat dengan jarak yang sempit antara satu ruang dengan
ruang lainnya. Perabotan tampak berdesakan di setiap sudut. Ruang depan saja
hanya berukuran enam meter persegi dan tampak tak cukup untuk kursi-kursi kecil
yang lusuh.Mereka punya dapur yang dindingnya menyatu dengan dinding kamar
mandi. Tapi, yang paling kuingat dari rumah keluarga itu adalah halaman
depannya sempit dan ditanami bunga matahari; Ananda yang menanamnya sendiri.
Itu pertama kalinya aku bermain ke rumah seorang teman.
Sambutan ibunya ketika Ananda mengenalkanku padanya adalah senyumnya yang ramah
dan suaranya yang lembut; bertolak belakang dengan Mama-ku. Ananda memanggilnya
dengan sebutan Bunda; itu terdengar sangat manis. Ayahnya Ananda hanya pegawai
kantor biasa. Pergi pagi pulang sore. Sedangkan Adrian sedang kuliah di
kedokteran. Kalau Arman saat itu masih SMP. Mereka semua sangat baik padaku.
Yah, begitulah sebuah keluarga seharusnya.
Hampir setiap hari setelah pulang sekolah, aku pergi ke
rumah Ananda dan itu pun dengan jalan kaki. Sejak masalah yang bikin aku dalam
masalah besar, Mama melarang Pak Didi menjemputku. Sebenarnya Pak Didi nggak
tega. Jadi dia sering curi-curi waktu untuk menjemputku kalau aku belum pulang
juga.
Kami melewati perkampungan kumuh yang selama ini menjadi
salah satu bagian yang tersembunyi dari sebuah ibukota yang penuh dengan mimpi
muluk. Kota ini begitu padat karena orang-orang dari daerah terus berdatangan
dengan harapan sebagian kecil dari uang Rupiah yang beredar di sini bisa
menjadi milik mereka. Jakarta punya gedung-gedung tinggi yang bisa
memperkerjakan ratusan bahkan ribuan orang. Mereka yang berhasil bisa ikutan
terlihat berkelas layaknya bos-bos kaya. Tapi, bagi mereka yang bernasib sial,
berakhir di tempat-tempat seperti ini; rumah-rumah gang sempit yang kumuh di
bantaran kali.
“Sekali-sekali gue ke rumah lo dong, Sai,” kata Ananda
padaku.
“Rumah gue ngebosenin. Yang ada cuma pembantu, tukang kebun
sama supir,” balasku.
“Lo punya banyak pembantu? Keren dong!” serunya dengan
girang. Entah apa yang keren dengan pembantu yang sering dimarahi Mama-ku.
Tapi, akhirnya aku mengajak dia ke rumah. Mengenalkan dia
sama pembantu-pembantuku yang sebenarnya ramah dan baik. Ananda senang sekali
saat Mbok Ijah membawakan minuman jeruk dan snack untuknya ke kamarku. Ironis
bukan? Ananda menginginkan apa yang aku miliki dan aku menginginkan apa yang
dia punya. Tapi, kami nggak bisa bertukar peran.
“Kamar ini keren, Sai!” dia nggak berhentinya kagum dengan
kamarku. “Lo punya lemari baju yang udah kayak ruangan sendiri! Kayak toko
baju!”
Aku hanya tersenyum simpul di depan pintu lemari dan
memperhatikan dia sedang melihat-lihat koleksi baju dan sepatuku. “Kalau lo
mau, lo bisa ambil baju yang lo suka,” kataku.
“Beneran, Sai?!” Ananda semakin girang. Dia mulai memilih
dengan senang hati sambil menyanyi-nyanyi kecil.
Aku belum pernah melihat orang sesenang itu sebelumnya. Aku
saja lupa kapan terakhir kali aku benar-benar senang. Tapi, nggak lama kemudian
aku mulai terbawa karena sepertinya Ananda bingung memilih baju yang pas
untuknya. Soalnya Ananda lebih pendek dariku dan tubuhnya sedikit berisi.
Lagipula seperti yang Mama bilang, bajuku sempit-sempit. Kalau Ananda yang
memakainya, aku yakin Ayah dan Bunda-nya nggak akan suka melihat anaknya pakai
baju ketat. Di dalam lemari kami mulai mencari; aku baru sadar banyak baju yang
sudah lama dibeli tapi belum pernah dipakai.
“Sai, lo beruntung ya?” kata Ananda lagi saat kami
menjatuhkan diri di atas ranjangku setelah puas memilih baju sambil bermain di
dalam lemari.
“Maksudnya?”
“Lo nggak perlu harus mikirin kerasnya kehidupan. Jadi anak
tunggal dan nggak perlu harus ngalah sama saudara lo yang lain,” jelas dia,
terdengar sedih. “Beda sama gue. Karena Adrian kuliahnya kedokteran, jadi Ayah
lebih banyak ngasih ke dia. Sementara buat gue sama Arman ya... kalau bisa
ditunda dulu, ya ditunda....”
“Kalau Adrian sukses lo juga senang, Nan...,” kataku. “Lo
harus sabar. Bukan karena ortu lo nggak sayang sama lo. Mereka baik banget kok.
Nyokap gue aja nggak begitu....”
“Iya, gue tahu...,”
“Gue yakin Adrian pasti berhasil,” ujarku.
Ananda tiba-tiba mengernyitkan dahinya padaku. “Ya sih...,”
ia tiba-tiba menjadi muram sehingga membuatku bertanya-tanya.
Satu hal yang terlintas di pikiranku saat itu adalah mungkin
saja Ananda merasa orang tuanya nggak adil. Memang, kuliah di kedokteran itu
biayanya mahal dan orang tuanya pasti berjuang mati-matian untuk bisa
menyekolahkan Adrian sampai berhasil.
“Sebenarnya gue juga pingin kayak Mas Adrian,” katanya
sambil menatapi langit-langit kamar. “Maksudnya bukan jadi dokter tapi jadi
arsitek.”
“Arsitek?”
“Yah, arsitek. Tapi, kuliahnya di luar negeri. Kayak di
Australia, University of Canberra.”
“Kenapa arsitek?”
Ananda menarik nafas lalu tersenyum. “Lo ‘kan tahu rumah gue
kecil banget. Udah gitu saluran airnya sering bermasalah. Kalau Bunda mau masak
dan harus nyuci sesuatu, pasti harus pergi ke keran belakang. Soalnya dapur
udah sempit dan penuh sama lemari-lemari jadi nggak bisa dikasih wastafel,”
jelas dia. “Kamar Adrian sama Arman juga nggak muat untuk orang berdua. Mana
Arman suka berantakan dan mereka sering banget berantem kalau ada barang yang
hilang. Soalnya udah campur aduk gitu. Jadinya gue pingin bikin sebuah rumah impian
untuk keluarga gue. Biar nggak sempit-sempitan lagi.”
Aku sering tertegun oleh hal-hal sederhana yang Ananda
ungkapkan padaku tentang sebuah impian. Dia memiliki banyak harapan sedangkan
aku? Aku sudah terlalu menyia-nyiakan banyak hal dalam hidupku. Hanya saja,
kadang aku berpikir, kenapa aku tak pernah merasa benar-benar menginginkan
sesuatu selama ini?

Komentar
0 comments