[Novel Romantis] Sidney (hal.2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Tahun kedua di SMA, adalah tahun emas bagi si kawat gigi. Entah bagaimana caranya, dia berhasil merintis klub mading yang kini mulai digandrungi anak-anak kelas satu. Aku sih nggak pernah menongkrongi tulisan-tulisan madingnya tapi kabarnya konten-konten yang ditulis di sana mulai berbobot. Ibarat timeline facebook, penuh dengan curhatan dan foto-foto yang disukai anak-anak. Setiap hari selalu ada artikel baru sehingga banyak yang rela mengantri untuk membacanya. Sedangkan aku tetap sibuk dengan modelling; pakai baju seksi dan difoto.

Sepintas kehidupanku memang terlihat glamor. Aku hanya perlu didandani, pakai baju bermerek dan berpose. Lalu orang-orang bisa wajahku terpapang di majalah-majalah remaja. Harusnya aku menerima tawaran untuk jadi bintang iklan juga dan mungkin main sinetron. Tapi, aku tahu Mama pasti nggak suka. Dia membayangkan kehidupan selebriti itu adalah kehidupan yang bebas. Nggak selamanya seseorang bisa hidup hanya dengan menjual kepura-puraan di televisi. Lagipula aku sudah menebak reaksi Mama kalau aku bilang aku ingin main sinetron ‘Memang kamu bisa akting?’. Mama pasti nggak akan setuju. Lagipula aku juga nggak tertarik menjadi lebih terkenal dari ini. Aku ‘kan cewek yang bodoh. Raport-ku selalu berbunga di setiap akhir semester dan membuat Mama-ku sering geleng-geleng kepala. Kalau aku jadi artis, aku nggak mau Mama bilang ‘Mama malu kalau kamu jadi artis yang nyaris nggak bisa punya rahasia soal kehidupan pribadinya. Kamu mau nilai-nilai kamu yang jebol itu jadi headline infotainment?’

Mama-ku selalu punya kata-kata yang menusuk sehingga aku nggak pernah berani membantahnya. Seolah Mama tahu hingar bingar kehidupan model itu nggak jarang dekat dengan pesta di diskotik, minuman keras dan seks bebas. Semakin lama, semakin banyak model baru yang bermunculan. Persaingan pun makin sinis di antara mereka. Saat itu aku merasa bahwa tahun-tahun gemilangku sudah mulai berlalu. Harusnya saat ini aku sudah melepaskan diri dari agensiku yang sekarang dan berada di bawah naungan agensi yang lebih bergengsi sekilas artis layar lebar atau minimal artis sinetron.

Usia 17 tahun akan mengantarkanku pada proses yang lebih ‘dewasa’ sehingga menjadi gadis sampul itu hampir tidak pantas lagi bagiku. Aku akan tergeser dengan anak kelas satu atau kelas dua SMA. Sehingga di tahun ketiga aku mulai berpikir untuk mundur saja. Namun, aku tidak melewatkan sebuah kontes model yang saat itu diminati oleh model-model lain. Sebenarnya hanya iseng; aku nggak berhasrat untuk menang karena sebenarnya aku cuma anak sekolah yang kurang kerjaan dan pemalas belajar. Aku ini seseorang yang nggak punya minat dan bakat yang jelas; meski pun suka difoto dan pamer perut. Begitulah.

Saat kontes model diadakan, semua orang datang untuk melihat. Nggak terkecuali si kawat gigi yang menjadikan kegiatan itu sebagai bahan untuk madingnya. Setelah lama aku nggak bicara langsung dengannya, akhirnya di sana aku bisa melihat perlawanan dari korban bullying yang pada akhirnya bangkit dengan membuat segudang prestasi. Setelah dia merasa berjalan di atas awan di mana aku berada di bawahnya, dia nggak canggung lagi berhadapan denganku.

Aku merampas kameranya karena menurutku dia baru saja menggambil gambar yang harusnya nggak diambil sembarangan. Aku nggak tahu bagaimana dia bisa masuk ke bagian belakang catwalk dan mengendap seperti pencuri bersama seorang temannya untuk mengambil foto di ruang ganti.

“Hei, balikin kamera gue!” dia berteriak padaku.

“Lo pikir ini tempat apa, hah?” tantangku sambil menjauhkan kamera itu darinya.

“Kenapa? Lo takut foto lo barusan gue pajang di mading gue yang menurut lo nggak penting?” balas dia dan aku kesal sekali.

“Gue nggak ada urusan sama lo ya, kawat gigi!”

Dia terkekeh sambil menatapku dengan santai. “Tuh kan lo takut!” kata dia dengan puas.

Aku diam. Memandangi temannya yang berwajah khawatir.

“Kenapa gue harus takut?” balasku, sambil bertolak pinggang. Selama ini nggak pernah ada satu pun orang yang berani mengancamku.

“Kalau lo nggak takut, balikin kamera gue, Saira!” kata dia dengan kasar padaku.

Aku hanya terkejut nggak percaya kalau sosok itu adalah dia yang dulunya nggak melawan saat aku menertawainya. Karena nggak ingin berurusan dengannya, aku pun mengembalikan kameranya walaupun aku punya kekhawatiran dia benar-benar akan memasang foto yang baru dia potret di mading sekolah. Habisnya aku baru saja diperlakukan nggak senonoh oleh seorang produser film yang sedang mencari wajah baru untuk film terbarunya.

“Udah deh, mending lo pergi dari sini!” kataku, mengusir. “Buruan sana!”

Tapi, aku merasa si kawat gigi nggak akan berani melakukannya. Harusnya aku curiga dengan ekspresinya saat dia meninggalkan ruang ganti, dia tersenyum penuh kemenangan. Dan beberapa hari kemudian, foto hasil jepretan isengnya itu menjadi headline sampai-sampai menutupi artikel-artikelnya yang menurutku adalah sampah. Semua yang dia buat di mading itu benar-benar hanyalah sampah.

Kejadian itu mengakhiri segalanya dan membuka gerbang neraka yang baru bagiku.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments