[Novel Romantis] Sidney (hal.1)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

*New Update anf Happy weekend all!!

A Letter From Home

Saat seorang anak perempuan tumbuh besar, cinta pertamanya adalah sang ayah, tapi aku? Aku bahkan nggak pernah tahu seperti apa ayahku. Dia meninggalkan Mama saat aku masih kecil dan belum mengerti apa yang disebut pengkhianatan. Mama-ku menyelamatkan dirinya dari kekecewaan itu dengan pekerjaannya. Dia berhasil melewati penderitaan itu, tapi aku nggak. Aku juga merasa kehilangan Mama-ku di saat yang sama aku tahu kalau Papa-ku tiba-tiba saja pergi.
Bagiku setiap hari, adalah hari yang sibuk; sibuk melarikan diri dari kenyataan. Setiap pagi aku bertemu Mama di ruang makan. Seperti biasa dia mengenakan setelan kantor, sepatu tinggi dan handbag mahal. Nggak lupa sebuah handphone yang selalu berada di telinga. Dia berbicara dengan terburu-buru; kadang-kadang marah atau memerintah seseorang agar melakukan hal yang benar untuknya. Mama-ku orang yang tegas; juga cenderung pemarah. Nggak hanya sama bawahannya di kantor, tapi juga aku.

Aku duduk di meja makan; seringkali kehilangan selera makan memperhatikan Mama-ku yang nggak mempedulikan apa-apa selain panggilan telepon di pagi buta. Kalau suasana hati Mama sedang buruk dia akan menghampiriku.

“Saira, cepat habisin sarapannya, Mama bisa telat nungguin kamu sarapan!” katanya, lalu mulai mondar-mandir sambil tetap menelepon.

Aku pun berdiri dari kursiku. Aku sama sekali nggak menyentuh sarapan bikinan pembantu yang menunya selalu sama; roti isi dengan sayuran yang banyak sekali; itu dibuat atas permintaan Mama-ku. Supaya aku makan makanan yang bergizi setiap hari. Mama-ku mengatur hidupku dengan menggunakan orang lain. Misalnya pembantu tadi, lalu supir pribadi yang sering ditugasi Mama mengawasiku pulang sekolah. Mama benar-benar nggak mengizinkan aku keluyuran.

Begitu naik mobil, Mama masih belum selesai menelepon. Aku lebih suka dia menelepon saat di mobil, karena kalau sedang nggak menelpon, biasanya Mama menceramahiku soal seragam lalu dari soal seragam dia akan beralih ke hal-hal lain yang nggak dia sukai dariku. Ya, aku memang suka pakai rok di atas lutut. Mau bagaimana lagi, kakiku memang panjang dan memakai rok di bawah lutut membuatku seperti kutu buku; hanya tinggal menambahkan kaca mata bulat; kawat gigi dan kepang rambut saja.

“Saira!” Mama memanggilku saat aku akan turun dari mobil. Dia tampak menginterupsi panggilan teleponnya untuk menegurku dan kurasa pasti ada sesuatu yang tidak dia suka.

Aku menoleh; hampir nggak bisa menunjukan kalau sebenarnya aku capek dengan omelan Mama walaupun aku belum mendengarnya sejak pagi tapi hari-hari sebelumnya aku sudah menerima banyak keluhan dari Mama yang nggak suka dengan rokku.

“Siapa yang mengizinkan kamu pakai rok itu?!” teriak dia dari dalam mobil.

“Ma, aku udah telat!” kataku sambil menunjuk jam tanganku.

Mama mendesak kesal. Kesal pada waktu; kesal pada orang di telepon; dan kesal karena ia nggak bisa meladeniku karena harus ke kantor cepat-cepat. Dia membelalakan matanya sambil mendecak kesal. “Pak Didi, sudah, jalan!”

“Baik, Nya...,” jawab Pak Didi yang sempat melirikku dan aku tersenyum.

Satu ketegangan sudah berlalu; itu hanya paginya saja. Aku beruntung pagi ini aku nggak perlu harus teriak pada Mama untuk membiarkanku memakai apa yang aku suka. Mama selalu berpikir rok pendek itu nggak pantas untuk anak sekolah; padahal juga Mama ke kantor sering pakai rok span. Di satu sisi Mama menginginkan aku untuk berpikir dewasa dengan nggak membuat masalah dan sisi yang lainnya Mama memperlakukanku seperti anak kecil yang cara berpakaian saja harus diatur-atur. Mama melarangku pacaran; dilarang hang out dengan teman cowok. Mama cuma nggak tahu aja, boro-boro seorang cowok, aku nggak bisa dekat dengan siapa pun. Di sekolah juga aku nggak benar-benar punya yang namanya... teman.

Orang-orang hanya melihat fisikku saja; mungkin rok di atas lutut yang selalu membuatku dipanggil Bu Tetty. Aku nggak peduli. Kalau aku dihukum nggak boleh masuk sekolah, ya sudah, aku senang nggak harus belajar. Kalau nanti Mama dipanggil lagi karena pelanggarannya sudah terlalu banyak; ya aku cuma harus mendengar omelannya; aku sudah sering diomeli. Mama paling-paling juga nggak memberiku uang jajan. Aku nggak peduli. Soalnya aku juga bukan orang yang boros. Malah uang jajan dari minggu-minggu sebelumnya juga masih ada. Setelah diomeli pun nggak ada yang berubah. Aku tetap melangkah, mengabaikan orang-orang yang berpikir aku suka pamer body.

Aku nggak ingin terlihat seperti mereka yang kekanakan. Bergosip dan cerita soal cowok. Hah! Cowok itu adalah makhluk paling menjijikan yang pernah aku tahu. Obrolan cowok itu nggak pernah jauh dari dada dan isi celana dalam cewek. Mereka bangga pernah ciuman atau lebih dari itu dengan pacar mereka seolah itu adalah prestasi yang bergengsi. Aku lebih suka sendiri; sejak aku merasa dimanfaatkan oleh mereka yang ingin ‘numpang’ tenar.

Padahal aku bukan selebriti. Aku menjadi model salah satu cover majalah karena kebetulan; kebetulan karena kakiku panjang. Menurutku tubuhku hampir seperti tiang listrik. Dada rata dan kurus. Aku hanya berkulit putih, berambut panjang dan berhidung mancung. Tapi, agensi model itu tertarik padaku karena katanya aku seperti Taylor Swift.  Aku nggak percaya itu. Mereka bilang begitu untuk membujukku supaya mau bergabung. Untungnya aku nggak mendapatkan masalah dari Mama yang kupikir akan melarangku. Memang jawabannya waktu aku bilang ingin jadi model itu sedikit membuatku sakit hati, ‘Ya sudah, kamu boleh jadi model asal kamu nggak keluyuran nggak jelas dan baju kamu yang sempit-sempit itu jadi berguna’.

Mama-ku memang nggak pernah mengatakan hal yang manis padaku. Dia hanya ingin aku seperti dirinya. Menjadi wanita karir yang sukses. Tapi, aku bukan anak yang pintar. Aku sering menyembunyikan nilaiku dari orang-orang. Begitu ada yang tahu aku pernah jadi ranking terakhir di kelas, mereka menjulukiku si cantik bego. Aaah, aku nggak mengerti. Apa karena terlahir cantik aku harus jadi anak yang pintar juga? 

Tapi, aku ingat pernah ada yang kagum padaku walaupun aku jelas-jelas ketahuan bodoh. Waktu kelas satu aku pernah sekelas dengannya dan aku hampir nggak pernah bicara padanya. Habis saat itu, aku nggak berteman dengan golongan anak cupu karena digandrungi anak-anak keren. Aku masih ingat ketika dia datang dan menawarkan sebuah wawancara untuk bahan mading. Aku menolaknya karena menurutku nggak ada yang tertarik membaca mading di jaman yang sudah canggih ini. Mading itu sesuatu yang kolot.

“Kalau anak-anak ingin cari tahu soal gue, mereka tinggal buka google dan ketik ‘Saira Gayatri’. Mereka nggak akan perlu repot-repot baca di mading lo yang isinya cuma tips menghilangkan jerawat itu!” kataku, sambil bertolak pinggang. 

Teman-temanku ikut tertawa di belakangku.

“Denger ya, kawat gigi, daripada lo ngekorin gue ke mana-mana atau jepret-jepret gue sembarangan pake kamera lo yang murahan itu, mending lo cari aja di google sana!” kataku lagi; aku nggak menyangka kejadian hari itu adalah petaka dari segalanya.

Aku tahu si kawat gigi itu menatapku dengan kecewa dan sedih. Sepertinya tanggapanku di luar dugaannya. Dia nggak mengatakan apa pun karena aku terus-terusan mencelanya dan pergi begitu saja dengan tertunduk. Setelah itu, teman-temanku mulai menjulukinya ‘si kawat gigi’ walaupun dia mempunyai nama yang bagus. 

Namun, sejak itu aku mempunyai seorang musuh abadi yang selalu bergerak dengan senyap. Walaupun aku nggak ikut-ikutan mem-bully dia seperti teman-temanku yang menjadikannya bulan-bulanan. Aku sudah mulai menyadari kalau teman-teman satu tongkrongan itu, hanya ingin terlihat keren saja. Lagian melihat mereka mem-bully seseorang secara beramai-ramai itu membuatku muak.

Sepulang sekolah, aku dijemput Pak Didi dan diantar ke agensi untuk sesi foto. Ya, di sana aku juga nggak terlalu bergaul. Di tempat itu, aku bukan model satu-satunya yang pernah dibilang mirip artis oleh manajer. Terbayang ‘kan, agensi model adalah tempat berkumpulnya gadis-gadis cantik yang ingin ketenaran dan kekayaan yang mana buatku itu nggak penting dan itu juga membuat aku nggak sepaham dengan mereka. Ujung-ujungnya mereka bilang kalau aku sombong dan berada di sana karena koneksi. Memang sakit hati sih, tapi aku nggak mempedulikannya. Toh, kalau aku nggak suka aku tinggal keluar dari agensi dan jadi anak SMA biasa. Apa susahnya?

Aku terlalu cuek karena sudah biasa mendengar komentar orang soal rokku, tabiatku dan kebodohan akademisku. Mana ada manusia yang sempurna? Kalau ada manusia yang berusaha untuk sempurna sih mungkin masih mending. Tapi, ada lagi manusia sakit yang memaksakan orang lain untuk sempurna. Mereka itu orang-orang yang melelahkan.
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments