[Novel Romantis] Saira Ch.22 (3/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Adikku, Beatriz-Margriet Adams meninggal dunia di usia 23 tahun karena asma. Dia tidak terselamatkan karena kami tidak memberinya obat segera. Aku tidak menyangka ini harus terjadi padanya. Dengan kesedihan mendalam, aku, ibuku dan Reggina kembali ke Australia untuk menyiapkan acara pemakamannya.
Sampai detik adikku dimakamkan di samping ayahku, aku masih tidak percaya bahwa Triz yang tidak banyak bicara dan manja itu telah pergi untuk selamanya. Kejadian itu begitu singkat. Aku begitu marah pada diriku karena semuanya adalah salahku.
Seminggu setelah pemakaman, suasana rumah kami masih sunyi. Mum masih sering menangis mengenang putri yang selama ini selalu bersamanya. Sedangkan Reggina tidak pernah pergi ke kantor lagi. Dia menemani Mum hingga seringkali aku melihat mereka berpelukan sambil menangis. Bagaimana pun kehilangan ini terlalu mendadak.
Aku mengenangnya dengan kembali memutar video saat liburan di masa kecil kami. Kedua adikku selalu merengek padaku; selalu berebut untuk digendong olehku. Saat mereka remaja pun mereka suka tidur di dekatku. Terutama Beatriz karena dia anak bungsu. Dia memanggil namaku dengan merengek; selalu seperti itu. Sekarang dia sudah tiada.
“I’m so sorry...,” aku mendekati ibu dan adik perempuanku yang berusaha saling menghibur. Lalu berlutut dan menunjukan penyesalanku. “Kalau bukan karena aku, ini nggak akan terjadi....”
Reggina terisak makin keras dan tertunduk sedih.
Sulit untuk menerima kepergian Beatriz yang terlalu cepat.
Tapi, Mum menatapku, walau ia juga terisak, ia masih memberiku sebuah senyum. Dengan pelan dia mengusap wajahku. “You’ve been good, honey... you’ll always be....” katanya dan aku tak bisa lagi menahan tangisku. Aku ikut tertunduk hingga bahkan menangis dengan suara keras.
Aku masih tak mengerti, kenapa harus adikku yang mendapatkan imbas dari kesalahanku?
“Aku harusnya memberitahu kamu lebih awal tentangnya...,” kata Reggina. “Tapi, Triz melarangnya, karena dia nggak ingin menghancurkan rumah tangga kamu.... Aku nggak memberitahu dia semuanya....,”
Pedih di hatiku merambat dengan sangat cepat.
“Aku nggak mengatakan semuanya karena... takut hal yang lebih buruk akan terjadi...,” sambung dia; dan kembali meringis. “Aku menyesal....”
“Jangan dilanjutkan, Reggie Sayang,” ujar Mum sambil membelai rambut Reggina.
Reggina mengangkat kepalanya untuk menatapku. “Wenchester berteman dengan Magisa, Sid...,” katanya dan jantungku tiba-tiba berdetak keras. “Karena Wenchester terbunuh, sulit untuk mencari kebenaran bahwa Magisa yang meminta dia menculik Saira. Magisa tahu Saira ke sini untuk mencari kamu....”
Semua menjadi masuk akal. Pantas saja Gigi begitu paranoid dengan kembalinya Saira. Aku ingat kata-katanya saat kami baru pindah ke Jakarta. “Aku takut dia kembali sewaktu-waktu untuk menghancurkan kita....”
Dia memiliki ketakutan yang begitu besar pada apa yang telah dia lakukan pada Saira. Untuk itu dia selalu merasa takut. Untuk itu dia selalu merasa curiga padaku.
Tanpa sadar aku mengepalkan tanganku dengan kuat. Tak tahu ke mana aku bisa melampiaskan kemarahanku saat ini. Semua hal tiba-tiba saja membuatku marah.
“Sidney...,” Mum mengusap bahuku. Mungkin ia tahu amarah sedang bergejolak di dadaku, dan ia berusaha menenangkanku dengan tatapannya yang memohon. “Kita sudah melalui hal yang buruk... lupakanlah semuanya....”
Aku telah dibohongi ratusan kali. Harusnya kali ini aku bisa membela diriku bahwa aku pun tidak menginginkan hal ini terjadi. Tapi, malah di saat aku sudah mempunyai kesempatan, aku tak berdaya oleh permintaan ibuku.
“Sid, kita tahu ini sangat berat buat kamu, tapi sudahlah... kamu sudah melepaskan satu masalah dari hidup kamu dan jangan mengundang masalah yang baru...,” ibuku kembali berujar.
Reggina hanya menatapku sedih. “I’m sorry, Sid...,” ucapnya. “Cut it out. I tried my best to help you but now we can’t take it anymore....”
Perlahan tapi pasti, semuanya berubah. Jakarta, Indonesia, adalah negeri terlarang bagiku. Aku sudah bersumpah di hadapan ibu dan adikku bahwa aku tidak akan kembali ke sana. Di samping itu juga, jika kupaksakan apa yang bisa kutemui di sana?
Saira bisa saja akan menikah dengan orang lain dan Sunny akan memanggilnya ayah. Aku akan tetap tinggal sebagai ‘Pak Guru’ di dalam kepalanya dan suatu saat nanti dia juga akan melupakan sosokku. Aku sudah membayar mahal untuk bisa bersama perempuan yang kucintai dan anak yang tidak akan pernah tahu siapa ayahnya; yaitu dengan nyawa adikku. Aku sudah tidak tahan lagi.
Sejak itu, hal kecil pun terasa begitu memuakkan. Aku pulang ke Double Bay hanya untuk membakar semua foto pernikahanku atau apa pun yang mengingatkanku pada perempuan yang kutinggalkan di rumah sakit jiwa itu. Aku tak ingin mengingatnya sedikitpun namun kata-katanya yang seolah benar itu terngiang. Itulah yang membuatku mempercayainya; itulah yang membuatku benar-benar kehilangan kesempatanku.
Kebetulan-kebetulan itu adalah takdir; takdir yang akhirnya menunjukan bahwa aku telah lama berdiri di atas penderitaan orang lain. Dan untuk itulah aku dihukum.
Aku Sidney Adams, memiliki kekayaan yang tak pernah habis. Aku bisa membeli semuanya dengan uangku. Aku bisa melakukan apa saja yang kusukai. Bahkan jika saat ini aku membunuh orang, aku tidak akan pernah masuk penjara. Tidak ada yang berani melawanku. Aku memliki semua yang orang inginkan di dunia ini tapi... aku... aku tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Aku tidak bisa menikahi perempuan yang paling kucintai; aku juga bahkan tidak berani menemui anakku seperti seorang pengecut.
Itulah aku. Itulah aku.
***
Satu tahun kemudian....
Aku membuka mataku. Pecahan mimpi yang baru saja kulihat tersapu oleh suara pintu yang terbuka disambut dengan suara botol yang berguling di lantai. Aku terkejut, ada penyusup! Namun, ketika aku bangkit yang kutemukan adalah sesosok perempuan kantoran dan berkaca mata tengah mendekat ke arahku. Dia tampak mengamati sekitarnya, sebelum dia kembali fokus kepadaku.
“Oh My God, you look like shit...,” komentarnya sambil mengitari meja yang penuh dengan sampah untuk bisa sampai ke tempatku.
Menyadari bahwa dia hanyalah adikku, aku kembali menjatuhkan badanku di atas sofa. Cahaya matahari rupanya telah mengisi seluruh ruang dan aku sedikit kecewa ini sudah siang. Aku menatap langit-langit rumahku sejenak sebelum tersadar bahwa Reggina sudah kembali seperti semula. Ah, aku sudah lama tidak pulang. Aku juga tidak menemui siapa-siapa sejak itu.
“You’re back?” aku bertanya sambil mencari-cari sesuatu di antara botol-botol minuman yang sudah kosong. Aku melihat sekaleng bir yang sepertinya belum kosong. Tapi mengetahui kaleng itu ringan sekali membuatku kesal sehingga aku membantingnya ke sudut ruangan. Aku kehabisan minuman di saat aku begitu haus.
Reggina terdengar menghela nafas. Ketika aku memandangnya, dia terlihat begitu kecewa. Adikku sudah kembali ke kantor dan bekerja; hidup normal seperti sedia kala.
“Semua orang harus bangkit,” jawab dia. “Mum sudah mulai seperti biasa. Berkebun, berbelanja dan memasak untuk anak-anaknya. But, unfortunately, you were never home.”
Aku hanya tertawa sinis. “My home is here...,” jawabku dengan malas.
Reggina kembali menatapi sekitarnya. “This place smells like hell,” balasnya. Lalu menghela nafas. “Kamu menghalau semua orang dari kehidupan kamu dan menghilang. Kalau kamu nggak bisa menyanggupi permintaan Mum untuk melepaskannya, bukan begini caranya.”
“Terus aku harus gimana?” tandasku.
“Kamu mempunyai kehidupan, Sid...,” dia berkata.
“Kehidupan yang mana?!” teriakku. “Kehidupan mana yang kumiliki saat ini?!”
Reggina memalingkan wajahnya sejenak sebelum kembali menatapku. “Aku ke sini bukan untuk berdebat dengan kamu,” kata dia, berusaha tenang dan tampaknya masih ada lagi yang ingin dia katakan padaku. Mungkin saja banyak.
Selama aku di sini, aku tidak pernah ingin bertemu siapa pun. Aku memutus komunikasi dengan keluargaku hingga bahkan aku tak tahu lagi entah berapa lama waktu yang telah bergulir di tempat ini. Aku membiarkan dunia di luar sana berputar sedang di duniaku ini, matahari telah lama tenggelam dan tak pernah kembali. Semuanya gelap.
“Take this,” kata Reginna padaku seraya menyerahkan sesuatu; sebuah handphone. “Kamu meninggalkannya di rumah.”
“Aku nggak membutuhkannya,” kataku. Memangnya siapa yang akan kuhubungi dan siapa juga yang akan meneleponku?
“Sepertinya aku dan Mum sudah mengatakan hal yang salah,” dia kembali memulai pembicaraan di saat aku ingin melanjutkan tidurku oleh karena kepalaku yang berat.
Aku pikir aku sudah terbiasa dengan rasa sakit ini karena aku tidak pernah tertidur lelap jika tidak mabuk terlebih dahulu. Dan botol-botol kosong itu adalah saksi bisu bahwa aku tak pernah berhenti berusaha mengubur kenanganku dalam-dalam. Dalam pikiranku, aku telah berlari sangat jauh dari kenyataan yang kubenci tapi ketika terbangun, aku kecewa karena ternyata aku tak ke mana-mana. Aku tak pernah beranjak dari kenangan itu.
“Kami pikir dengan mengatakan ‘lupakan’ kamu akan memulai semuanya dari nol,” dia melanjutkan. “Tapi, kami keliru, Sid, kamu nggak memulai apa-apa dan malah semakin terpuruk. Aku pernah lihat kamu begitu kacau sebelum Daddy meninggal, tapi nggak separah ini....”
“Pergilah...,” kataku. Aku tak tahan dengan ocehan adikku yang seolah ingin mengatur semuanya lagi. Aku sangat trauma dengan hal itu. Aku hanya ingin sendiri, dengan diriku. Aku tak membutuhkan orang lain untuk mengatakan apa yang harus kulakukan walau aku sendiri tak tahu apa yang harus kulakukan.
“Sid,...” adikku mulai terdengar memohon agar aku mendengarkannya. “Kamu nggak bisa seperti ini terus....”
“Just... go away, Reggie...,” kataku sambil menunjuk ke pintu.
Reggina menatapku sambil mengerutkan dahinya. Dia tampak kecewa tapi aku tak mau melihatnya dulu. Aku tidak ingin bertemu siapa pun. Dia tidak berkata apa-apa lagi padaku namun dia meninggalkan sesuatu di atas meja sebelum pergi dengan wajah kesal. Sebuah surat dengan amplop putih bertuliskan nama dan alamat rumahku. Surat itu ditulis oleh Saira dan dikirim lewat pos; bahkan dijaman yang sudah secanggih ini dia masih menulis surat?
Dengan tidak sabar, aku merobek amplopnya dan mendapati surat hampir setebal sebuah buku. Aku mulai membaca halaman pertama dengan tangan yang gemetaran.
Dear Azid,
Aku baru mendengar kabar duka tentang keluarga kamu. Tapi, aku menulis surat ini bukan karena hal itu. Maaf, setelah hampir satu tahun berlalu, aku baru bisa mengirimnya. Percayalah, Azid, ini bukan karena aku sengaja untuk bersembunyi. Aku hanya merasa lelah dengan segala hal yang harus kujalani untuk melanjutkan hidupku. Semuanya terasa sangat berat.
Ingat, aku pernah janji nggak akan ada rahasia dan nggak akan menghilang. Aku menyesal nggak menepati janjiku sehingga aku kembali merasakan kehilangan yang sama sewaktu kamu akhirnya pergi dari sini. Dan kali ini, aku akan mengajak kamu untuk kembali pada semua yang pernah kita tinggalkan. Kita bertemu pada waktu-waktu yang sangat terbatas dan seolah kita ini harus selalu lari dari sesuatu yang akan memisahkan kita. Tapi, saat ini, aku merasa kalau kita nggak terlalu banyak bercerita tentang apa yang terjadi.
Pertama kali aku ketemu kamu di sekolah, aku pikir kamu adalah ancaman. Kamu melihatku bolos dan pasti mengadukanku ke guru, aku kaget kamu nggak melakukan itu. Kamu datang dengan cara yang sangat mudah dalam hidupku. Kamu melihatku dengan cara yang berbeda. Kamu nggak peduli dengan rok pendek yang biasa aku pakai ke sekolah, nggak seperti anak-anak lain yang suka sekali melotot. Saat berdiri di samping kamu aku kelihatan seperti pencuri kecil yang takut dihukum. Jadi aku merokok supaya kamu nggak meremehkan aku.
Azid, aku pikir saat itu bagian terbaik dalam hidupku setelah semua kejadian buruk yang menimpaku adalah kamu. Kamu bilang kamu percaya sama aku sekali pun orang bilang kalau aku bukan gadis yang baik. Kamu melihatku sebagaimana aku ingin dilihat oleh orang lain. Itu adalah perasaan paling berharga yang pernah aku miliki.
Aku tertawa pada kalimat terakhir sebelum aku melanjutkan ke paragraf lain yang juga tak kalah panjang. Aku akan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk membaca semuanya sampai selesai. Kupikir ini adalah rahasia terakhir Saira....

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments