๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Adikku, Beatriz-Margriet Adams meninggal dunia di usia 23
tahun karena asma. Dia tidak terselamatkan karena kami tidak memberinya obat
segera. Aku tidak menyangka ini harus terjadi padanya. Dengan kesedihan
mendalam, aku, ibuku dan Reggina kembali ke Australia untuk menyiapkan acara pemakamannya.
Sampai detik adikku dimakamkan di samping ayahku, aku masih
tidak percaya bahwa Triz yang tidak banyak bicara dan manja itu telah pergi
untuk selamanya. Kejadian itu begitu singkat. Aku begitu marah pada diriku
karena semuanya adalah salahku.
Seminggu setelah pemakaman, suasana rumah kami masih sunyi.
Mum masih sering menangis mengenang putri yang selama ini selalu bersamanya.
Sedangkan Reggina tidak pernah pergi ke kantor lagi. Dia menemani Mum hingga
seringkali aku melihat mereka berpelukan sambil menangis. Bagaimana pun
kehilangan ini terlalu mendadak.
Aku mengenangnya dengan kembali memutar video saat liburan
di masa kecil kami. Kedua adikku selalu merengek padaku; selalu berebut untuk
digendong olehku. Saat mereka remaja pun mereka suka tidur di dekatku. Terutama
Beatriz karena dia anak bungsu. Dia memanggil namaku dengan merengek; selalu
seperti itu. Sekarang dia sudah tiada.
“I’m so sorry...,”
aku mendekati ibu dan adik perempuanku yang berusaha saling menghibur. Lalu
berlutut dan menunjukan penyesalanku. “Kalau bukan karena aku, ini nggak akan
terjadi....”
Reggina terisak makin keras dan tertunduk sedih.
Sulit untuk menerima kepergian Beatriz yang terlalu cepat.
Tapi, Mum menatapku, walau ia juga terisak, ia masih
memberiku sebuah senyum. Dengan pelan dia mengusap wajahku. “You’ve been good, honey... you’ll always
be....” katanya dan aku tak bisa lagi menahan tangisku. Aku ikut tertunduk
hingga bahkan menangis dengan suara keras.
Aku masih tak mengerti, kenapa harus adikku yang mendapatkan
imbas dari kesalahanku?
“Aku harusnya memberitahu kamu lebih awal tentangnya...,”
kata Reggina. “Tapi, Triz melarangnya, karena dia nggak ingin menghancurkan
rumah tangga kamu.... Aku nggak memberitahu dia semuanya....,”
Pedih di hatiku merambat dengan sangat cepat.
“Aku nggak mengatakan semuanya karena... takut hal yang
lebih buruk akan terjadi...,” sambung dia; dan kembali meringis. “Aku
menyesal....”
“Jangan dilanjutkan, Reggie Sayang,” ujar Mum sambil
membelai rambut Reggina.
Reggina mengangkat kepalanya untuk menatapku. “Wenchester
berteman dengan Magisa, Sid...,” katanya dan jantungku tiba-tiba berdetak
keras. “Karena Wenchester terbunuh, sulit untuk mencari kebenaran bahwa Magisa
yang meminta dia menculik Saira. Magisa tahu Saira ke sini untuk mencari
kamu....”
Semua menjadi masuk akal. Pantas saja Gigi begitu paranoid
dengan kembalinya Saira. Aku ingat kata-katanya saat kami baru pindah ke
Jakarta. “Aku takut dia kembali
sewaktu-waktu untuk menghancurkan kita....”
Dia memiliki ketakutan yang begitu besar pada apa yang telah
dia lakukan pada Saira. Untuk itu dia selalu merasa takut. Untuk itu dia selalu
merasa curiga padaku.
Tanpa sadar aku mengepalkan tanganku dengan kuat. Tak tahu
ke mana aku bisa melampiaskan kemarahanku saat ini. Semua hal tiba-tiba saja
membuatku marah.
“Sidney...,” Mum mengusap bahuku. Mungkin ia tahu amarah
sedang bergejolak di dadaku, dan ia berusaha menenangkanku dengan tatapannya
yang memohon. “Kita sudah melalui hal yang buruk... lupakanlah semuanya....”
Aku telah dibohongi ratusan kali. Harusnya kali ini aku bisa
membela diriku bahwa aku pun tidak menginginkan hal ini terjadi. Tapi, malah di
saat aku sudah mempunyai kesempatan, aku tak berdaya oleh permintaan ibuku.
“Sid, kita tahu ini sangat berat buat kamu, tapi sudahlah...
kamu sudah melepaskan satu masalah dari hidup kamu dan jangan mengundang
masalah yang baru...,” ibuku kembali berujar.
Reggina hanya menatapku sedih. “I’m sorry, Sid...,” ucapnya. “Cut
it out. I tried my best to help you but now we can’t take it anymore....”
Perlahan tapi pasti, semuanya berubah. Jakarta, Indonesia,
adalah negeri terlarang bagiku. Aku sudah bersumpah di hadapan ibu dan adikku
bahwa aku tidak akan kembali ke sana. Di samping itu juga, jika kupaksakan apa
yang bisa kutemui di sana?
Saira bisa saja akan menikah dengan orang lain dan Sunny
akan memanggilnya ayah. Aku akan tetap tinggal sebagai ‘Pak Guru’ di dalam
kepalanya dan suatu saat nanti dia juga akan melupakan sosokku. Aku sudah
membayar mahal untuk bisa bersama perempuan yang kucintai dan anak yang tidak
akan pernah tahu siapa ayahnya; yaitu dengan nyawa adikku. Aku sudah tidak
tahan lagi.
Sejak itu, hal kecil pun terasa begitu memuakkan. Aku pulang
ke Double Bay hanya untuk membakar semua foto pernikahanku atau apa pun yang
mengingatkanku pada perempuan yang kutinggalkan di rumah sakit jiwa itu. Aku
tak ingin mengingatnya sedikitpun namun kata-katanya yang seolah benar itu
terngiang. Itulah yang membuatku mempercayainya; itulah yang membuatku
benar-benar kehilangan kesempatanku.
Kebetulan-kebetulan itu adalah takdir; takdir yang akhirnya
menunjukan bahwa aku telah lama berdiri di atas penderitaan orang lain. Dan
untuk itulah aku dihukum.
Aku Sidney Adams, memiliki kekayaan yang tak pernah habis.
Aku bisa membeli semuanya dengan uangku. Aku bisa melakukan apa saja yang
kusukai. Bahkan jika saat ini aku membunuh orang, aku tidak akan pernah masuk
penjara. Tidak ada yang berani melawanku. Aku memliki semua yang orang inginkan
di dunia ini tapi... aku... aku tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Aku
tidak bisa menikahi perempuan yang paling kucintai; aku juga bahkan tidak
berani menemui anakku seperti seorang pengecut.
Itulah aku. Itulah aku.
***
Satu tahun
kemudian....
Aku membuka mataku. Pecahan mimpi yang baru saja kulihat
tersapu oleh suara pintu yang terbuka disambut dengan suara botol yang
berguling di lantai. Aku terkejut, ada penyusup! Namun, ketika aku bangkit yang
kutemukan adalah sesosok perempuan kantoran dan berkaca mata tengah mendekat ke
arahku. Dia tampak mengamati sekitarnya, sebelum dia kembali fokus kepadaku.
“Oh My God, you look
like shit...,” komentarnya sambil mengitari meja yang penuh dengan sampah
untuk bisa sampai ke tempatku.
Menyadari bahwa dia hanyalah adikku, aku kembali menjatuhkan
badanku di atas sofa. Cahaya matahari rupanya telah mengisi seluruh ruang dan
aku sedikit kecewa ini sudah siang. Aku menatap langit-langit rumahku sejenak
sebelum tersadar bahwa Reggina sudah kembali seperti semula. Ah, aku sudah lama
tidak pulang. Aku juga tidak menemui siapa-siapa sejak itu.
“You’re back?” aku
bertanya sambil mencari-cari sesuatu di antara botol-botol minuman yang sudah
kosong. Aku melihat sekaleng bir yang sepertinya belum kosong. Tapi mengetahui
kaleng itu ringan sekali membuatku kesal sehingga aku membantingnya ke sudut
ruangan. Aku kehabisan minuman di saat aku begitu haus.
Reggina terdengar menghela nafas. Ketika aku memandangnya,
dia terlihat begitu kecewa. Adikku sudah kembali ke kantor dan bekerja; hidup
normal seperti sedia kala.
“Semua orang harus bangkit,” jawab dia. “Mum sudah mulai
seperti biasa. Berkebun, berbelanja dan memasak untuk anak-anaknya. But, unfortunately, you were never home.”
Aku hanya tertawa sinis. “My
home is here...,” jawabku dengan malas.
Reggina kembali menatapi sekitarnya. “This place smells like hell,” balasnya. Lalu menghela nafas. “Kamu
menghalau semua orang dari kehidupan kamu dan menghilang. Kalau kamu nggak bisa
menyanggupi permintaan Mum untuk melepaskannya, bukan begini caranya.”
“Terus aku harus gimana?” tandasku.
“Kamu mempunyai kehidupan, Sid...,” dia berkata.
“Kehidupan yang mana?!” teriakku. “Kehidupan mana yang
kumiliki saat ini?!”
Reggina memalingkan wajahnya sejenak sebelum kembali
menatapku. “Aku ke sini bukan untuk berdebat dengan kamu,” kata dia, berusaha
tenang dan tampaknya masih ada lagi yang ingin dia katakan padaku. Mungkin saja
banyak.
Selama aku di sini, aku tidak pernah ingin bertemu siapa
pun. Aku memutus komunikasi dengan keluargaku hingga bahkan aku tak tahu lagi
entah berapa lama waktu yang telah bergulir di tempat ini. Aku membiarkan dunia
di luar sana berputar sedang di duniaku ini, matahari telah lama tenggelam dan
tak pernah kembali. Semuanya gelap.
“Take this,” kata
Reginna padaku seraya menyerahkan sesuatu; sebuah handphone. “Kamu
meninggalkannya di rumah.”
“Aku nggak membutuhkannya,” kataku. Memangnya siapa yang
akan kuhubungi dan siapa juga yang akan meneleponku?
“Sepertinya aku dan Mum sudah mengatakan hal yang salah,”
dia kembali memulai pembicaraan di saat aku ingin melanjutkan tidurku oleh karena
kepalaku yang berat.
Aku pikir aku sudah terbiasa dengan rasa sakit ini karena
aku tidak pernah tertidur lelap jika tidak mabuk terlebih dahulu. Dan
botol-botol kosong itu adalah saksi bisu bahwa aku tak pernah berhenti berusaha
mengubur kenanganku dalam-dalam. Dalam pikiranku, aku telah berlari sangat jauh
dari kenyataan yang kubenci tapi ketika terbangun, aku kecewa karena ternyata
aku tak ke mana-mana. Aku tak pernah beranjak dari kenangan itu.
“Kami pikir dengan mengatakan ‘lupakan’ kamu akan memulai
semuanya dari nol,” dia melanjutkan. “Tapi, kami keliru, Sid, kamu nggak
memulai apa-apa dan malah semakin terpuruk. Aku pernah lihat kamu begitu kacau
sebelum Daddy meninggal, tapi nggak separah ini....”
“Pergilah...,” kataku. Aku tak tahan dengan ocehan adikku
yang seolah ingin mengatur semuanya lagi. Aku sangat trauma dengan hal itu. Aku
hanya ingin sendiri, dengan diriku. Aku tak membutuhkan orang lain untuk
mengatakan apa yang harus kulakukan walau aku sendiri tak tahu apa yang harus
kulakukan.
“Sid,...” adikku mulai terdengar memohon agar aku
mendengarkannya. “Kamu nggak bisa seperti ini terus....”
“Just... go away,
Reggie...,” kataku sambil menunjuk ke pintu.
Reggina menatapku sambil mengerutkan dahinya. Dia tampak
kecewa tapi aku tak mau melihatnya dulu. Aku tidak ingin bertemu siapa pun. Dia
tidak berkata apa-apa lagi padaku namun dia meninggalkan sesuatu di atas meja
sebelum pergi dengan wajah kesal. Sebuah surat dengan amplop putih bertuliskan
nama dan alamat rumahku. Surat itu ditulis oleh Saira dan dikirim lewat pos;
bahkan dijaman yang sudah secanggih ini dia masih menulis surat?
Dengan tidak sabar, aku merobek amplopnya dan mendapati
surat hampir setebal sebuah buku. Aku mulai membaca halaman pertama dengan
tangan yang gemetaran.
Dear Azid,
Aku baru mendengar
kabar duka tentang keluarga kamu. Tapi, aku menulis surat ini bukan karena hal
itu. Maaf, setelah hampir satu tahun berlalu, aku baru bisa mengirimnya.
Percayalah, Azid, ini bukan karena aku sengaja untuk bersembunyi. Aku hanya
merasa lelah dengan segala hal yang harus kujalani untuk melanjutkan hidupku.
Semuanya terasa sangat berat.
Ingat, aku pernah
janji nggak akan ada rahasia dan nggak akan menghilang. Aku menyesal nggak
menepati janjiku sehingga aku kembali merasakan kehilangan yang sama sewaktu
kamu akhirnya pergi dari sini. Dan kali ini, aku akan mengajak kamu untuk
kembali pada semua yang pernah kita tinggalkan. Kita bertemu pada waktu-waktu
yang sangat terbatas dan seolah kita ini harus selalu lari dari sesuatu yang
akan memisahkan kita. Tapi, saat ini, aku merasa kalau kita nggak terlalu
banyak bercerita tentang apa yang terjadi.
Pertama kali aku
ketemu kamu di sekolah, aku pikir kamu adalah ancaman. Kamu melihatku bolos dan
pasti mengadukanku ke guru, aku kaget kamu nggak melakukan itu. Kamu datang
dengan cara yang sangat mudah dalam hidupku. Kamu melihatku dengan cara yang
berbeda. Kamu nggak peduli dengan rok pendek yang biasa aku pakai ke sekolah,
nggak seperti anak-anak lain yang suka sekali melotot. Saat berdiri di samping
kamu aku kelihatan seperti pencuri kecil yang takut dihukum. Jadi aku merokok
supaya kamu nggak meremehkan aku.
Azid, aku pikir saat
itu bagian terbaik dalam hidupku setelah semua kejadian buruk yang menimpaku
adalah kamu. Kamu bilang kamu percaya sama aku sekali pun orang bilang kalau
aku bukan gadis yang baik. Kamu melihatku sebagaimana aku ingin dilihat oleh
orang lain. Itu adalah perasaan paling berharga yang pernah aku miliki.
Aku tertawa pada kalimat terakhir sebelum aku melanjutkan ke
paragraf lain yang juga tak kalah panjang. Aku akan menghabiskan waktu yang
cukup lama untuk membaca semuanya sampai selesai. Kupikir ini adalah rahasia
terakhir Saira....
Komentar
0 comments