[Novel Romantis] Saira Ch. 22 (2/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Tahukah bahwa Gigi tidak benar-benar ingin membunuh orang? Dia melakukan itu karena dia gila. Kegilaannya itu membuatnya tidak sadar bahwa unjuk diri yang dia lakukan itu bisa berakibat serius bagi orang lain dan dirinya sendiri. Aku tidak pernah meragukan kemampuannya berkamuflase selama ini.
Aku ingat di sekolah dia membentuk gerakan anti-bullying. Dia merencanakan itu untuk menyerang balik musuhnya dan mendapatkan citra yang positif. Akhirnya dia berhasil. Tapi, dengan meninggalnya salah seorang murid yang bernama Ananda hari itu, membalikan keadaan sehingga menjadi tak berpihak padanya. Kejadian itu bukannya membuat Gigi jera dengan pencitraan berlebihan akan dirinya, namun membuatnya semakin gila. Dia meginginkan hal yang lebih besar lagi.
Aku juga ingat saat dia muncul di pintu apartemenku dan mengajakku mengikuti Saira’s Squad; kurasa dia mendapatkan simpatiku sejak itu. Tahu-tahu dia berada di Australia saat pemakaman ayahku; mengatakan hal-hal yang terasa benar dan menceritakan perjuangannya tentang impian yang dia buat. Dia pernah berkata tidak ingin memulai sesuatu yang baru di atas kebohongan; tapi sebenarnya dia sedang berbohong lagi padaku.
Dia memanfaatkan kelemahanku sehingga aku melakukan kesalahan itu; menikahi dirinya.
“I love you, Sid...,” Gigi memelas. Menatapku dengan mata merah dan bengkak. Penyesalan bertumpuk di wajahnya yang putih pucat. Dikiranya ekspresi macam itu akan membuatku kembali padanya. Setetes air mata kembali menetes di pipinya yang memutih.
Aku hanya menatapnya dengan iba. Apa yang bisa kukatakan?
Selama enam tahun kami bersama; kami pernah bahagia. Namun, semua itu berdiri di atas kebohongan. Aku menjadi suami yang baik, setia dan ada untuknya, karena kupikir dia sudah jauh berubah. Dia sudah membuang masa lalunya yang buruk dan menjadi pribadi yang lebih baik; tapi tetap saja dia membiarkan obsesinya terus meracuninya. Dia membiarkan kebencian merasuki pikirannya.
“Please...,” Gigi kembali memohon dari balik jendela kaca itu. “Keluarkan aku dari sini. Maafin aku, Sid.... kita bisa memulai semuanya dari awal lagi...,”
Aku menggeleng dengan pelan dan tertunduk. “Kamu ingat ini bukan pertama kalinya kamu mengacau dengan drama yang kamu buat sendiri,” kataku, dengan tenang. “Satu nyawa melayang karena semua tuduhan kamu....”
Gigi berontak dengan merengek. “I’m sorry...,” isaknya. “I’m sorry....”
“Maaf kamu nggak akan mengembalikan apa yang kamu rampas dari Saira, nggak akan mengembalikan Ananda, dan nggak akan mengembalikan Beatriz,” kataku lagi. “Juga nggak akan mengembalikan waktu yang aku habiskan untuk membahagiakan kamu....”
“I’m sorry...,”
“Kamu terlalu banyak berbohong...,”
“I said, I’m sorry!” Gigi berteriak dengan suaranya yang parau. Lalu ia menangis lagi; lebih keras lagi. Dia masih mencoba memaksaku untuk menerimanya.
Tapi, aku harus membiarkannya di sana. Tak tahu apakah dia akan sembuh dari penyakitnya. Bipolar bisa disembuhkan. Tapi, kebencian tidak akan pernah ada habisnya.
Aku mengirim istriku sendiri ke rumah sakit jiwa. Di sana akan lebih baik baginya. Ada dokter dan perawat yang akan memperhatikannya. Proses hukum belum bisa berjalan atas dugaan penculikan, penyekapan, dan penganiayaan hingga satu nyawa melayang sampai dokter bisa membuktikan bahwa Gigi tidak mengalami gangguan jiwa. Aku masih belum bisa mempercayai bahwa istriku merencanakan semua ini sejak Retha memberitahunya bahwa aku bertemu dengan seorang perempuan; bayangkan dia menyiapkan rencana itu dalam waktu singkat. Namun begitu, Gigi sudah lama melakukan penyadapan terhadap handphone-ku sehingga dia hampir tahu segala hal termasuk tentang Sunny.
Setelah dipikir lagi, aku meragukan apa yang membuatnya depresi adalah penolakan ibu Saira terhadap hasil karyanya. Teringat reaksi Saira yang berkata seolah Mama-nya tidak mungkin se-kekanakan itu, aku rasa... Gigi sudah mengetahui tentang pertemuanku dengan Saira di Australia, dan karena itu dia merasa depresi. Membuat skenario baru; dia hancurkan maket yang sudah dia buat sedemikian rupa untuk menunjukan bahwa dia begitu tertekan; dan sialnya, aku mempercayainya saat dia mengarang cerita.
Gigi tahu betul tidak semudah itu bagiku untuk lepas dari Saira. Dalam diam, dia mungkin saja memikirkann sebuah pembalasan terlebih setelah tahu bahwa adikku sengaja mengirimku mengajar di sekolah itu karena Sunny ada di sana. Dia mungkin kesal atas kecurigaanku bahwa Sunny mungkin saja adalah darah dagingku. Karena itu dia melibatkan semua anggota keluargaku. Tapi, apa pun yang mungkin dia rencanakan untuk memberiku pelajaran berharga, kematian Beatriz tidak sesuai dengan perhitungan.
“Siiiiiiiiiid!” jeritannya bergema sepanjang lorong rumah sakit sementara aku terus melangkah. Aku tidak ingin menoleh ke belakang. “Sid, jangan tinggalin aku....”
Seorang perawat laki-laki menghampiriku. Dia menyodoriku sebuah surat yang harus kutanda tangani.
“Dia akan baik-baik saja ‘kan?” tanyaku pada perawat itu dan perawat itu mengangguk. Lalu kusempatkan sejenak melihatnya untuk terakhir kali.
Gigi dengan baju putih khusus untuk orang gila tidak dapat bergerak leluasa. Tangannya terbungkus di dalam lengan baju yang ujungnya diikat ke belakang. Baju khusus itu dimaksudkan agar Gigi tidak menyakiti dirinya atau melakukan hal yang membahayakan nyawanya. Karena berontak, dia terpaksa ditarik oleh dua orang perawat sekaligus.
Aku bertemu dengan keluarganya di depan. Mereka tampak tidak marah padaku walau aku sudah menyampaikan keputusanku.
“Kami turut berduka cita, Sidney...,” kata Ibu Gigi padaku dan ayahnya menepuk bahuku dengan pelan.
Aku mengangguk dan berlalu tanpa mengatakan apa-apa.
Setelah ini aku akan mengurus perceraian. Mungkin ini kelihatan kejam dan tanpa perasaan. Tapi, aku sudah mencapai ambang batasku.
Apa dengan begitu aku merasa bebas untuk mengejar Saira lagi? Tidak. Aku tidak akan mengejarnya lagi. Aku mencintainya; tapi mengejarnya bukan cara mencintai yang benar. Dan satu lagi, aku sudah bertanya padanya dengan penuh harap tentang Sunny dan dia memberiku jawaban yang mengecewakan.
Aku mulai bisa menarik kesimpulan dari semua ini; Saira yang enggan mengakuinya serta perkataan ibu Saira di sekolah yang menuduh bahwa aku adalah penyebab; yaitu... mereka tidak ingin berurusan denganku. Ibu Saira ingin menjauhkan putri dan cucunya dariku.
Namun jika benar, kehancuran hidupnya adalah salahku. Aku rela membayarnya dengan mengorbankan perasaanku. Aku tidak mau memaksanya bersamaku.
Satu hal yang kupelajari selama mengenal Magisa Sunarya adalah segala hal mempunyai batas. Ada perbedaan tipis antara berusaha keras dan memaksa. Perbedaan itu akan jelas terlihat setelah kita mendapatkan apa yang kita kejar. Kita bisa disebut telah berusaha keras, apabila yang kita inginkan menjadi satu dengan hati kita. Tapi bila tidak, artinya kita hanya memaksa.
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments