๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rahasia Terakhir~
Wajah Reggina terlihat gusar saat pertama kali aku membuka
mataku. Aku mencoba bangkit dengan semua tenagaku yang terkuras entah oleh apa,
namun aku nyaris tak merasakan kedua tanganku.
“Your wife is a
psycho...,” dia berkata sambil menatap ke depan dengan marah.
Aku baru menyadari bahwa kedua tanganku terikat; begitu
ketat. Mungkin tak ada darah yang mengalir sampai ke ujung jariku. Reggina
juga diikat dan Triz yang tampak lemah
bersandar ke sisinya. Ibuku sudah tergeletak tak berdaya di sampingku.
Gigi ‘menumpuk’ semua anggota keluargaku di sudut kamar
tidur. Aku heran bagaimana cara dia mengumpulkan mereka semua di sini selagi
aku tidak berada di rumah.
“Mum?!”
Tapi, dia tak bergerak sama sekali.
“Aku tahu dari dulu kalau adik iparku nggak suka sama aku,”
suara Gigi terdengar menusuk dan kudapati dia duduk di meja riasnya dan habis berdandan;tidak
dia tidak benar-benar berdandan. Dia memoles matanya sampai benar-benar hitam
dan memakai lipstik merah menyala dengan tidak beraturan. Keseluruhan dia
terlihat seperti orang sakit jiwa.
Aku masih berusaha mempercayai ini: istriku menculik ibu dan
adik-adikku, menyekapnya di kamar dalam keadaan terikat; setelah itu dia
membubuhkan obat tidur di dalam sup yang dia sebut sebagai makan siangku. Aku
berharap ini adalah mimpi seperti biasanya di mana Gigi memang melakukan
hal-hal yang absurd; mencekikku atau menuduhku tidur dengan perempuan lain
dengan wajah menyeramkan. Kurasa mimpi itu merefleksikan kenyataan yang
sebenarnya. Gigi bisa berbuat apa saja. Bahkan kalau tidak salah aku
mendengarnya mengaku telah menyadap teleponku bahkan sejak kami masih di
Australia.
“Harusnya kamu bersyukur, aku nggak meminta Sid menceraikan
kamu,” balas Reggina. “Aku menyesal nggak melakukannya.”
Gigi tertawa lalu berdiri dan mendekati kami. “Kalian
benar-benar keluarga yang kompak ya?”
“Apa yang mau kamu lakukan, Gi?” celetukku. “Kamu mau
membunuh semua orang yang ada di sini?”
“Kalau diperlukan.”
“Kamu bukan penculik yang pintar. Kalau kamu nggak berencana
membunuh kami semua, kenapa kamu seperti ini?!” aku berteriak padanya.
“Aku cuma mau ngasih pelajaran sama kalian! Aku ini nggak
bodoh! Aku tahu semua yang kalian sembunyikan! Aku cuma nggak habis pikir, apa
karena selama ini aku diam kamu bebas melakukan apa pun di luar sana, Sid?!”
Sosok aslinya yang emosional pun keluar. Dia mendekatiku
menarik kerah bajuku dengan kasar hingga aku berada jauh dari Mum, Reggina dan
Triz.
“Sid...,” Triz memanggilku dengan suara parau. Melihat raut
wajahnya yang ketakutan membuatku berontak. Aku harus melepaskan mereka!
“So, your sister won’t
tell you the truth?” dia menyeringai sambil menoleh ke arah Reggina.
“Harusnya Reggie mengatakan semuanya dari awal jadi kamu punya alasan yang
tepat untuk kembali sama Saira kamu tercinta.”
Reaksi adikku saat dituduh adalah diam. Dia terus menatap
Gigi dengan tajam; seakan jika tangannya tidak terikat dia akan menjambak Gigi.
“Dunia ini nggak adil, Sid,” Gigi menatapku seolah dia
sedang terluka. “Semua orang mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan tanpa
usaha apa-apa. Sementara aku? Aku berusaha keras tapi aku malah nggak dapat
apa-apa. Di saat aku mendapatkannya pun, selalu ada yang mencoba merampasnya
dariku....”
“Karena obsesi kamu jadi gila...,” celetukku.
“My only one
obsession... is you...,” dia menegaskan; tatapannya berubah tajam. Kali ini
rautnya begitu bengis. “Tapi, apa? Kamu suka gadis cantik seperti Saira yang
digilai banyak cowok di sekolah. Kamu mendapatkan dia dengan mudah. Kalian
tidur bersama; seolah-olah sedang menjalin hubungan yang serius. Bagiku itu
nggak akan menyakitkan, kalau saja Saira nggak bilang sama aku sesaat sebelum
dia mendorongku sampai jatuh ditangga?”
Gigi mulai mondar-mandir seperti seorang ratu yang jahat
dengan obsesinya yang gila.
“Aku nggak akan bisa mendapatkan kamu karena kamu nggak suka
dengan gadis jelek seperti aku, dan aku juga nggak bisa bergabung dengan
perkumpulan sialan mereka yang idenya itu berasal dariku!” Gigi mulai
menggebu-gebu; menguak rahasia lain yang lebih mengejutkanku. “Kamu tahu betapa
menyakitkannya itu? Tapi, harusnya dia tahu, kalau akhirnya kamu menikahi aku!
Sayang, dia sudah masuk penjara lebih dulu....”
“Jadi, kamu tau itu...?” hatiku seakan tercabik
mendengarnya.
“Ask... your...
sister...,” dia berbisik di telingaku lalu terkekeh sambil kembali menatap
Reggina.
Aku menoleh ke belakang, di mana adikku tampak khawatir.
“Sejak... kapan...?” tanyaku.
Reggina tidak menjawabku.
“Kenapa kamu nggak bilang, Reg?” aku bertanya lagi, dengan
amarah yang menggumpal di dadaku. Tak pernah aku semarah ini padanya. Adikku
juga bahkan penuh dengan rahasia.
“Andai aku tahu lebih cepat, kamu nggak perlu sampai harus
menikah sama perempuan gila itu...,” hanya itu yang Reggina katakan tanpa
berani menatap wajahku.
Gigi terbahak lagi. “Kamu pikir kamu seorang perencana yang
hebat, Reg?” dia menghampiri Reggina yang selalu buang pandang darinya. “Kamu
harusnya tahu, seorang arsitek adalah perencana yang hebat dan itu adalah aku.”
“Ya, kamu hebat dalam menyuruh orang mencelakai orang
lain,...” sambung Beatriz. Air mata mengotori wajahnya yang memerah. Dia
ketakutan sekaligus marah pada istri yang harusnya sudah kuceraikan sejak lama.
Nafasnya tersengal dan dia masih mencoba untuk berbicara dengan lantang.
Kondisinya mulai tampak mengkhawatirkan.“Tapi, kamu nggak bisa melawan
takdir,... kamu hanya... orang gila!”
Aku khawatir bila tiba-tiba asmanya kambuh. Adikku mengidap
asma yang cukup parah dan tadi Vanessa memberitahuku bahwa obatnya masih
tertinggal. Aku punya firasat buruk soal itu terlebih ruangan itu benar-benar
tertutup rapat.
Gigi tertawa seperti iblis. “Ya, aku memang gila...,” akunya
sambil melotot pada kami. Matanya yang dilingkari hitam seperti panda tampak
begitu menakutkan.
“Triz?!” Reggina menjerit tiba-tiba.
Beatriz jatuh dalam keadaan sesak nafas!
“Oh, My God, Triz?!”
Gigi tampaknya juga terkejut. Keadaan Beatriz mungkin di
luar dugannya sehingga dia tak bisa menyembunyikan paniknya. Aku beringsut ke
dekat adikku yang mulai kejang karena tak bisa bernafas. Kurasakan tubuhnya
mendingin. Aku bahkan tak bisa menyentuhnya karena tanganku terikat dengan
kuat. kami hanya bisa menyaksikan Beatriz melawan asmanya yang kambuh tak
terkendali.
Kami tidak lagi memperhatikan Gigi yang hanya berdiri di
sana memperhatikan bagaimana ruangan itu menjadi sarat dengan teriakan
histeris.
“No, Triz! No!” pekik
Reggina saat Triz akhirnya tak bergerak lagi di dekatnya. “Triiiiiz!!!”
***
Komentar
0 comments