๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku masih mengingat saat aku berlari keluar ruang kepala
sekolah mengejar Saira dengan putus asa. Dan ternyata seseorang telah
menunggunya di luar; dokter yang kulihat malam itu di rumah sakit. Saira sempat
menatapku sejenak sebelum naik mobil di mana Sunny juga menunggunya.
Sunny sempat memanggilku dengan melambaikan tangan, “Pak
Guru!” tapi tampaknya dia tidak diperbolehkan turun oleh neneknya yang akan
naik mobil yang sama.
Minggu lalu dia masih mengenakan pakaian jelek serba hitam
dengan tindik di hidung; aku tidak menyukainya. Lalu dia bilang akan pulang ke
rumah demi Sunny. Aku luar biasa senang; dia tidak akan menghilang lagi dariku.
Sekarang semuanya berbalik 180 derajat di mana saat ia bisa hidup selayaknya
aku langsung tersingkir.
Saira selalu membuatku gila.
“Saya tidak tahu bahwa semuanya akan menjadi seperti ini,”
kata dia lagi; kebingungan masih tampak di wajahnya yang penuh kerutan. “Ini di
luar rencana...,”
“Rencana siapa?” aku bertanya; tapi pikiranku masih
melantur.
“I’m sorry for you,
Sidney,...” ucap dia menatapku dengan kasihan. “Kamu mencoba melakukannya
dengan benar, tapi kita tidak tahu dengan apa yang akan terjadi....”
“Apa Reggina membicarakan hal lain selain dari program yang
ingin aku buat itu?” aku mulai curiga.
Aku tak lagi percaya pada kebetulan yang ajaib. Kebetulan
yang ajaib malah membuatku kembali sengsara seperti ini.
Mr. Ulrich hanya menatapku.
“Aku punya firasat bahwa adikku merencanakan hal lain di
luar itu,” kataku. “Tapi, dia nggak mengatakannya....”
Pria itu menarik nafas panjang, “Saya hanya ingin membantu,
tapi, sebaiknya kamu menanyakannya pada Reggina,” jelasnya. “Your sister knows you better....”
Terakhir kali aku bertanya padanya, dia berkata seolah tidak
tahu apa-apa. Semua orang sengaja berbohong padaku seperti menghukumku. Aku
tidak berkeinginan untuk menelepon Reggina. Percuma bertanya kepadanya, dia
tidak akan memberiku jawaban yang ingin kudengar. Saira pun seperti itu.
Aku berencana pulang lebih awal; tidak merasa bahwa istriku
bisa menenangkanku. Aku tidak bisa menceritakan hal seperti ini padanya. Walau
Gigi sudah tenang dan tampak bisa diandalkan tapi jika ia mendengar nama Saira,
mo0d-nya akan terbalik secara ekstrim
seperti penderita bipolar; mungkin saja dia memang menderita gejala itu.
Dengan langkah lunglai, aku menuju kantorku dan seperti
biasanya aku mendengar para guru perempuan bergosip. Hanya saja ada sesuatu
yang berbeda kali ini. Aku mendengar suara rengekan Retha.
“Aku sudah bilang, Retha! Jangan mencampuri urusan orang
lain! Kamu lihat sendiri, keadaan yang awalnya baik-baik saja, jadi kacau
karena kamu nggak bisa mengendalikan rasa cemburu kamu!” Anna terdengar marah
sementara Retha menangis. “Harusnya kamu menerima kenyataan kalau Sidney sudah
menikah! Kamu nggak harus merasa iri dengan orang lain dengan mengatakan hal
yang nggak-nggak ke istrinya Sidney!”
“Kalian bilang apa?” aku segera menyela.
Kedua perempuan itu terkejut. Namun Retha kelihatan takut
setengah mati.
“Sid, kami...,” Anna mencoba mengatakan sesuatu tapi ia juga
ketakutan.
“Katakan apa yang seharusnya nggak kalian lakukan tapi
kalian lakukan?” aku bertanya lagi, lebih keras.
Anna mulai bingung. Lalu menoleh ke sahabatnya, “Kamu harus
minta maaf, Ret...,” dia berkata. “Katakan saja....”
“Sidney, aku sama sekali nggak bermaksud jahat...,” dia
meneteskan air mata tapi aku tidak percaya ucapannya itu
“Di mana kalian bertemu Gigi?” aku bertanya lagi.
“Jumat kemarin dia ke sini,” jawab Anna. “Aku nggak tahu
persis tapi Retha sempat ketemu dia.”
Perempuan terkadang adalah makhluk mengerikan. Laki-laki
memang sering menyakiti wanita. Tapi, saat wanita menyakiti laki-laki, caranya
pasti lebih perih. Mereka selalu yang merasa paling tersakiti dan mengatakan
hal-hal yang tak mereka pahami. Aku merasa muak! Aku muak dengan semua ini!
***
Masih segar di benakku saat aku pulang ke rumah karena
mendengar Gigi dalam masalah. Aku terbang dari Australia ke Indonesia, hanya
karena takut dia menyakiti dirinya sendiri karena kegagalan maketnya. Tapi,
kali ini walaupun jarak sekolah dan rumah tak sejauh itu, aku merasa lebih
khawatir lagi.
Istriku membenci Saira dengan sepenuh jiwanya. Kebodohan
seorang wanita yang cemburu dan patah hati karenaku membuat dia harus
mengetahui kenyataan yang paling dia benci. Semalam aku bermimpi bahwa istriku
akan membunuhku; meski di dunia nyata itu tak mungkin; saat ini aku dilanda
ketakutan yang luar biasa. Seperti seorang pengkianat negara yang tak akan
diampuni saat tertangkap; seperti itulah aku saat ini. Seperti seorang lelaki
penyelingkuh yang ketahuan dengan sangat telak.
Hari ini telah begitu tidak adil padaku. Apakah di rumah
nanti aku harus menghadapi pertengkaran yang lebih besar lagi? Rumah tanggaku
adalah masa depanku. Tapi, aku tak menjaganya dengan benar-benar karena tak
bisa melupakan cinta masa laluku yang sekarang pergi dengan orang lain.
Aku baru sadar betapa bodohnya aku.
Tapi, di tengah perjalanan pulang, handphone-ku berbunyi.
Vanessa, sekretarisku di kantor dulu.
“Hi, Sidney,” dia
menyapaku dengan ramah seperti biasanya. “How are you?”
“Not really good,”
jawabku. “It’s been a long time...”
“Well, your mother and
your sister has landed today in Jakarta,” dia menjelaskan. “It was supposed to be at 3.00 pm in
Indonesia. But, I tried to call Reggie and Triz. Their phones seems like
unreachable. Are you with them?”
“Shit! I forgot that
today they will be arrived...,” aku tiba-tiba kesal pada diriku.
Bisa-bisanya aku melupakan hal itu.
“Oh? I just want to
make sure that they’re fine...,” kata dia. “If you meet Reggie or Triz, please tell them that I’m waiting a phone
call. You know, Triz has an asthma, and she forgot her medicine....”
“Ok.”
“Thanks, Sidney.”
Aku mulai mencoba menghubungi Reggina, tapi seperti yang
dikatakan Vanessa. Nomornya tidak dapat dihubungi. Operator juga menjawab
telepon Triz dan Mum. Aku tidak suka mereka memberiku kejutan kedatangan mereka
dengan cara seperti ini; walaupun salahku sendiri aku lupa dan tidak menjemput
ke bandara. Namun, saat ini, ada hal yang lebih aku cemaskan daripada
keluargaku yang mungkin saja naik taksi ke hotel dan mereka sedang menikmati
spa karena lelah oleh perjalanan jauh.
Jam menunjukan pukul tiga sore saat aku tiba di rumah dengan
perasaan khawatir yang sangat. Aku tidak ingin menemukan rumah dalam keadaan
berantakan seperti saat Gigi membanting maketnya dan benda itu menjadi sampah
di lantai. Atau pecahnya vas-vas bunga sehingga lantai dipenuhi beling yang
bisa melukai.
Namun, suasana yang kutemui sangat jauh berbeda dengan apa
yang terlintas di pikiranku barusan. Tak ada yang berubah. Perabotan berada di
tempatnya; hanya saja suasana begitu hening. Mungkin, Gigi tidak ada di rumah.
Tapi, aku keliru, istriku sedang berada di dapur dan dia sedang... memasak?
“Kamu sudah pulang?” dia bertanya dengan ramah padaku.
Aku tidak menjawab.
Gigi terlalu tenang untuk ukuran wanita yang tahu bahwa
suami yang dia cintai pergi dengan wanita lain.
“Ini pertama kalinya kamu pulang cepat sejak kamu mengajar,”
dia berkata sambil menghidangkan makanan di atas meja. “Kebetulan aku baru
selesai masak. Kamu pasti lapar.”
“Gi, aku...,” aku bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana
melihat dia yang begitu terkendali.
Apa dia berusaha mengenyampingkan amarahnya? Tapi, setahuku
Gigi tidak seperti itu. Dia mudah sakeli meledak; ini tentang Saira! Saira yang
selalu membuatnya paranoid.
“Nanti aja bicaranya, kamu makan dulu ya?” dia berujar
sambil duduk di kursi dan menungguku bergabung.
Aku tak punya pilihan lain. Mungkin, Gigi mencoba
diplomatis. Dia berusaha untuk menghadapi masalah dengan kepala dingin. Ya semoga
saja.
Semangkuk sup sudah tersaji di atas meja. Kelihatannya
lezat. Tapi, kuperhatikan Gigi hanya duduk di sana dan tidak ikut makan. Dia
masih tersenyum penuh seribu makna padaku.
“Kamu nggak bilang kalau Mum dan adik-adik kamu ke sini,”
kata dia.
“Aku... lupa mereka datang hari ini,” kataku dan Gigi
mengangguk-angguk mengerti. Aku mengalihkan perhatian dengan mulai menyendok
sup, menyatukannya dengan nasi dan makan seperti yang dia inginkan
“Habis kamu sibuk kerja,” katanya lagi. “Tapi, aku juga
heran nggak satu pun dari mereka yang bilang ke aku. Kayaknya mereka nggak mau
ketemu sama aku.”
“Terus dari mana kamu tahu kalau mereka ke sini?”
“Dari handphone kamu, tadi pagi,” dia menjelaskan. “Ada SMS
dari Reggina.”
SMS? Kenapa aku tidak melihatnya? Aku mengernyit heran. Apa
Gigi menghapusnya? Untuk apa?
“Kamu menghapus sesuatu di handphone-ku tanpa seizinku?” aku
sedikit kesal, tapi entah mengapa tiba-tiba pandanganku mengabur. Kepalaku
sakit; sakit yang merambat dengan cepat.
Aku memandangi makanan yang baru saja kutelan dan merasa
curiga.
“Aku sudah melakukan banyak akhir-akhir ini, Sid,” kata dia.
“Aku membuntuti kamu, memasang alat penyadap di handphone kamu, ya karena aku
nggak percaya dengan kegiatan amal yang kamu rencanakan. Ah ya, dan satu lagi,
Reggina juga terlibat dengan semua ini....”
Aku tidak mendengarkan perkataannya sampai selesai karena
tiba-tiba semuanya gelap. Benar mimpiku. Istriku membunuhku. Tapi, bukan dengan
mencekik tapi meracuniku. Aku sudah lama tahu bahwa dia sosok yang obsesif;
Gigi pernah menghalalkan segala cara mencapai tujuannya. Banyak sekali
kejahatan yang dia lakukan dan aku memaafkannya.
Harusnya aku tidak menikahi wanita ini. Benar kata Reggina,
aku menikahinya karena tidak enak pada perjuangannya mendapatkanku. Tapi,
kenapa belakangan itu aku merasa aku begitu mencintainya? Mungkin karena Gigi
terlalu pandai menyembunyikan bahwa inilah sifat aslinya.
***

Komentar
0 comments