[Novel Romantis] Saira Ch. 21 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Well, sounds complicated...,” komentar Mr. Ulrich setelah suasana kembali tenang.
Aku masih mengingat saat aku berlari keluar ruang kepala sekolah mengejar Saira dengan putus asa. Dan ternyata seseorang telah menunggunya di luar; dokter yang kulihat malam itu di rumah sakit. Saira sempat menatapku sejenak sebelum naik mobil di mana Sunny juga menunggunya.
Sunny sempat memanggilku dengan melambaikan tangan, “Pak Guru!” tapi tampaknya dia tidak diperbolehkan turun oleh neneknya yang akan naik mobil yang sama.
Minggu lalu dia masih mengenakan pakaian jelek serba hitam dengan tindik di hidung; aku tidak menyukainya. Lalu dia bilang akan pulang ke rumah demi Sunny. Aku luar biasa senang; dia tidak akan menghilang lagi dariku. Sekarang semuanya berbalik 180 derajat di mana saat ia bisa hidup selayaknya aku langsung tersingkir.
Saira selalu membuatku gila.
“Saya tidak tahu bahwa semuanya akan menjadi seperti ini,” kata dia lagi; kebingungan masih tampak di wajahnya yang penuh kerutan. “Ini di luar rencana...,”
“Rencana siapa?” aku bertanya; tapi pikiranku masih melantur.
I’m sorry for you, Sidney,...” ucap dia menatapku dengan kasihan. “Kamu mencoba melakukannya dengan benar, tapi kita tidak tahu dengan apa yang akan terjadi....”
“Apa Reggina membicarakan hal lain selain dari program yang ingin aku buat itu?” aku mulai curiga.
Aku tak lagi percaya pada kebetulan yang ajaib. Kebetulan yang ajaib malah membuatku kembali sengsara seperti ini.
Mr. Ulrich hanya menatapku.
“Aku punya firasat bahwa adikku merencanakan hal lain di luar itu,” kataku. “Tapi, dia nggak mengatakannya....”
Pria itu menarik nafas panjang, “Saya hanya ingin membantu, tapi, sebaiknya kamu menanyakannya pada Reggina,” jelasnya. “Your sister knows you better....”
Terakhir kali aku bertanya padanya, dia berkata seolah tidak tahu apa-apa. Semua orang sengaja berbohong padaku seperti menghukumku. Aku tidak berkeinginan untuk menelepon Reggina. Percuma bertanya kepadanya, dia tidak akan memberiku jawaban yang ingin kudengar. Saira pun seperti itu.
Aku berencana pulang lebih awal; tidak merasa bahwa istriku bisa menenangkanku. Aku tidak bisa menceritakan hal seperti ini padanya. Walau Gigi sudah tenang dan tampak bisa diandalkan tapi jika ia mendengar nama Saira, mo0d-nya akan terbalik secara ekstrim seperti penderita bipolar; mungkin saja dia memang menderita gejala itu.
Dengan langkah lunglai, aku menuju kantorku dan seperti biasanya aku mendengar para guru perempuan bergosip. Hanya saja ada sesuatu yang berbeda kali ini. Aku mendengar suara rengekan Retha.
“Aku sudah bilang, Retha! Jangan mencampuri urusan orang lain! Kamu lihat sendiri, keadaan yang awalnya baik-baik saja, jadi kacau karena kamu nggak bisa mengendalikan rasa cemburu kamu!” Anna terdengar marah sementara Retha menangis. “Harusnya kamu menerima kenyataan kalau Sidney sudah menikah! Kamu nggak harus merasa iri dengan orang lain dengan mengatakan hal yang nggak-nggak ke istrinya Sidney!”
“Kalian bilang apa?” aku segera menyela.
Kedua perempuan itu terkejut. Namun Retha kelihatan takut setengah mati.
“Sid, kami...,” Anna mencoba mengatakan sesuatu tapi ia juga ketakutan.
“Katakan apa yang seharusnya nggak kalian lakukan tapi kalian lakukan?” aku bertanya lagi, lebih keras.
Anna mulai bingung. Lalu menoleh ke sahabatnya, “Kamu harus minta maaf, Ret...,” dia berkata. “Katakan saja....”
“Sidney, aku sama sekali nggak bermaksud jahat...,” dia meneteskan air mata tapi aku tidak percaya ucapannya itu
“Di mana kalian bertemu Gigi?” aku bertanya lagi.
“Jumat kemarin dia ke sini,” jawab Anna. “Aku nggak tahu persis tapi Retha sempat ketemu dia.”
Perempuan terkadang adalah makhluk mengerikan. Laki-laki memang sering menyakiti wanita. Tapi, saat wanita menyakiti laki-laki, caranya pasti lebih perih. Mereka selalu yang merasa paling tersakiti dan mengatakan hal-hal yang tak mereka pahami. Aku merasa muak! Aku muak dengan semua ini!
***
Masih segar di benakku saat aku pulang ke rumah karena mendengar Gigi dalam masalah. Aku terbang dari Australia ke Indonesia, hanya karena takut dia menyakiti dirinya sendiri karena kegagalan maketnya. Tapi, kali ini walaupun jarak sekolah dan rumah tak sejauh itu, aku merasa lebih khawatir lagi.
Istriku membenci Saira dengan sepenuh jiwanya. Kebodohan seorang wanita yang cemburu dan patah hati karenaku membuat dia harus mengetahui kenyataan yang paling dia benci. Semalam aku bermimpi bahwa istriku akan membunuhku; meski di dunia nyata itu tak mungkin; saat ini aku dilanda ketakutan yang luar biasa. Seperti seorang pengkianat negara yang tak akan diampuni saat tertangkap; seperti itulah aku saat ini. Seperti seorang lelaki penyelingkuh yang ketahuan dengan sangat telak.
Hari ini telah begitu tidak adil padaku. Apakah di rumah nanti aku harus menghadapi pertengkaran yang lebih besar lagi? Rumah tanggaku adalah masa depanku. Tapi, aku tak menjaganya dengan benar-benar karena tak bisa melupakan cinta masa laluku yang sekarang pergi dengan orang lain.
Aku baru sadar betapa bodohnya aku.
Tapi, di tengah perjalanan pulang, handphone-ku berbunyi. Vanessa, sekretarisku di kantor dulu.
“Hi, Sidney,” dia menyapaku dengan ramah seperti biasanya. “How are you?”
“Not really good,” jawabku. “It’s been a long time...”
“Well, your mother and your sister has landed today in Jakarta,” dia menjelaskan. “It was supposed to be at 3.00 pm in Indonesia. But, I tried to call Reggie and Triz. Their phones seems like unreachable. Are you with them?”
“Shit! I forgot that today they will be arrived...,” aku tiba-tiba kesal pada diriku. Bisa-bisanya aku melupakan hal itu.
“Oh? I just want to make sure that they’re fine...,” kata dia. “If you meet Reggie or Triz, please tell them that I’m waiting a phone call. You know, Triz has an asthma, and she forgot her medicine....”
“Ok.”
“Thanks, Sidney.”
Aku mulai mencoba menghubungi Reggina, tapi seperti yang dikatakan Vanessa. Nomornya tidak dapat dihubungi. Operator juga menjawab telepon Triz dan Mum. Aku tidak suka mereka memberiku kejutan kedatangan mereka dengan cara seperti ini; walaupun salahku sendiri aku lupa dan tidak menjemput ke bandara. Namun, saat ini, ada hal yang lebih aku cemaskan daripada keluargaku yang mungkin saja naik taksi ke hotel dan mereka sedang menikmati spa karena lelah oleh perjalanan jauh.
Jam menunjukan pukul tiga sore saat aku tiba di rumah dengan perasaan khawatir yang sangat. Aku tidak ingin menemukan rumah dalam keadaan berantakan seperti saat Gigi membanting maketnya dan benda itu menjadi sampah di lantai. Atau pecahnya vas-vas bunga sehingga lantai dipenuhi beling yang bisa melukai.
Namun, suasana yang kutemui sangat jauh berbeda dengan apa yang terlintas di pikiranku barusan. Tak ada yang berubah. Perabotan berada di tempatnya; hanya saja suasana begitu hening. Mungkin, Gigi tidak ada di rumah. Tapi, aku keliru, istriku sedang berada di dapur dan dia sedang... memasak?
“Kamu sudah pulang?” dia bertanya dengan ramah padaku.
Aku tidak menjawab.
Gigi terlalu tenang untuk ukuran wanita yang tahu bahwa suami yang dia cintai pergi dengan wanita lain.
“Ini pertama kalinya kamu pulang cepat sejak kamu mengajar,” dia berkata sambil menghidangkan makanan di atas meja. “Kebetulan aku baru selesai masak. Kamu pasti lapar.”
“Gi, aku...,” aku bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana melihat dia yang begitu terkendali.
Apa dia berusaha mengenyampingkan amarahnya? Tapi, setahuku Gigi tidak seperti itu. Dia mudah sakeli meledak; ini tentang Saira! Saira yang selalu  membuatnya paranoid.
“Nanti aja bicaranya, kamu makan dulu ya?” dia berujar sambil duduk di kursi dan menungguku bergabung.
Aku tak punya pilihan lain. Mungkin, Gigi mencoba diplomatis. Dia berusaha untuk menghadapi masalah dengan kepala dingin. Ya semoga saja.
Semangkuk sup sudah tersaji di atas meja. Kelihatannya lezat. Tapi, kuperhatikan Gigi hanya duduk di sana dan tidak ikut makan. Dia masih tersenyum penuh seribu makna padaku.
“Kamu nggak bilang kalau Mum dan adik-adik kamu ke sini,” kata dia.
“Aku... lupa mereka datang hari ini,” kataku dan Gigi mengangguk-angguk mengerti. Aku mengalihkan perhatian dengan mulai menyendok sup, menyatukannya dengan nasi dan makan seperti yang dia inginkan
“Habis kamu sibuk kerja,” katanya lagi. “Tapi, aku juga heran nggak satu pun dari mereka yang bilang ke aku. Kayaknya mereka nggak mau ketemu sama aku.”
“Terus dari mana kamu tahu kalau mereka ke sini?”
“Dari handphone kamu, tadi pagi,” dia menjelaskan. “Ada SMS dari Reggina.”
SMS? Kenapa aku tidak melihatnya? Aku mengernyit heran. Apa Gigi menghapusnya? Untuk apa?
“Kamu menghapus sesuatu di handphone-ku tanpa seizinku?” aku sedikit kesal, tapi entah mengapa tiba-tiba pandanganku mengabur. Kepalaku sakit; sakit yang merambat dengan cepat.
Aku memandangi makanan yang baru saja kutelan dan merasa curiga.
“Aku sudah melakukan banyak akhir-akhir ini, Sid,” kata dia. “Aku membuntuti kamu, memasang alat penyadap di handphone kamu, ya karena aku nggak percaya dengan kegiatan amal yang kamu rencanakan. Ah ya, dan satu lagi, Reggina juga terlibat dengan semua ini....”
Aku tidak mendengarkan perkataannya sampai selesai karena tiba-tiba semuanya gelap. Benar mimpiku. Istriku membunuhku. Tapi, bukan dengan mencekik tapi meracuniku. Aku sudah lama tahu bahwa dia sosok yang obsesif; Gigi pernah menghalalkan segala cara mencapai tujuannya. Banyak sekali kejahatan yang dia lakukan dan aku memaafkannya.
Harusnya aku tidak menikahi wanita ini. Benar kata Reggina, aku menikahinya karena tidak enak pada perjuangannya mendapatkanku. Tapi, kenapa belakangan itu aku merasa aku begitu mencintainya? Mungkin karena Gigi terlalu pandai menyembunyikan bahwa inilah sifat aslinya.
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments