๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Jejak
“Kamu berantem sama siapa?”; pertanyaan Gigi ketika aku baru
keluar kamar dengan langkah tergopoh di hari Minggu.
Seluruh tubuhku sakit karena terlalu lelah. Belum lagi
seorang perempuan sinting ‘menghajarku’ semalam.
Aku memperhatikannya dengan seksama untuk memahami apa
maksud pertanyaannya. Rupanya istriku sudah menemukan sebuah barang bukti:
jejak sepatu di kemejaku.
“Oh itu...,” aku mencoba memikirkan jawaban ideal untuk
bekas dari tendangan Saira yang membuat lambungku nyaris kehilangan fungsinya.
Sementara kepalaku masih sakit.
Aku masih mengenakan celana pendek dan mencoba mencari
sesuatu di kulkas; tenggorokanku kering. Sepertinya aku terserang demam.
“Kemarin ada anak yang berkelahi di sekolah dan aku melerai
sampai dia nggak sengaja menendangku,” jawabku setelah minum seteguk dari
sebotol air mineral.
“Anak-anak?” Gigi mengernyit. Bukan Gigi namanya kalau dia
langsung mempercayainya. Dia selalu curiga dan selalu cemburu. “Ukuran kaki
yang besar untuk anak SD?”
“Kalau yang kamu kira itu anak-anak pribumi,” tegasku; seingatku
kaki Saira tidak sebesar itu.
Gigi tidak bertanya lagi. Dia membawa kemeja itu ke belakang
dan pasti melemparnya dengan kasar ke dalam mesin cuci.
Aku kembali ke kamar tidur. Aku masih ingin berbaring.
Thanks God, it’s Sunday....
Kepalaku begitu berat dan penglihatanku berangsur kabur,
namun aku masih bisa melihat bahwa Gigi masuk dan dia menghampiriku.
“Kelihatannya kamu begitu menikmati kegiatan mengajar sampai
harus pulang malam-malam,” kata dia. “Aku sampai mencari kamu ke sekolah, tapi
security nya bilang aku nggak bisa masuk.”
Aku mencoba mendengarkan baik-baik saat jantungku berdegup
kencang. Aku punya firasat buruk. Gigi tersenyum tapi itu bukanlah senyum
biasa; melainkan seringai.
“Terus... security-nya bilang...,” Gigi merebahkan tubuhnya
ke sampingku untuk berbisik. “Kamu pergi mengantar seorang murid ke rumahnya. What a nice teacher....”
Tubuhku lemas saat merasakan sentuhan tangan Gigi meraba
bagian dadaku hingga dia meraih leherku. Sentuhan itu dingin dan menusuk.
Kemudian aku benar-benar tak bergerak. Tapi, masih bisa merasakan bahwa
tangannya di leherku semakin ketat.
“Apa kamu menikmatinya seperti kamu mencium ibunya juga?”
Gigi bertanya lagi dan genggamannya di leherku semakin kuat.
Aku berontak dan berteriak hingga kusadari itu hanya mimpi.
“Ya Tuhan, Sid!” gigi yang harusnya terlelap di sebelahku
tampak terkejut setengah mati. “Kamu mimpi buruk?”
Aku mengatur nafasku yang tersengal. Mimpi buruk macam apa
itu? Sampai peluh dingin membasahi sekujur tubuhku; kengeriannya terasa amat
nyata bagiku.
***
Senin yang mendung menyambut pagiku yang sama sekali tidak
ceria. Gigi sudah terlihat seperti seorang istri idaman yang memasak,
membereskan kamar, mencuci pakaian yang kotor dan berbelanja sendiri. Dia tidak
lagi rewel dan manjanya sedikit berkurang; mungkin karena aku sering acuh
padanya. Aku bahkan belum menanggapi keinginannya untuk kembali ke Australia.
Sepertinya bersikap koperatif adalah caranya membujukku agar aku setuju. Aku
belum tahu apa aku akan mengabulkannya atau tidak.
Aku berusaha untuk tidak memikirkannnya begitu di sekolah.
Keadaanku tidak terlalu baik dibandingkan hari-hari di
minggu kemarin. Namun suasana kelas satu pagi ini terasa berbeda ketika aku
masuk; Sunny absen. Aku kembali membuka kelas gambar seperti biasa; mengabaikan
gangguan dari bangku Sunny di pojok belakang yang kosong. Aku teringat pada
tawanya dan juga tangisnya.
Joana kembali menggambar unicorn dan pelangi dengan versi
berbeda; ditambah dengan makhluk kuning yang mirip seperti pisang. Oh, Minions
rupanya. Dia mengulang perkataannya Minggu lalu; akan memberikan gambar itu ke
Daddy-nya. Sangat manis.
Di tengah pelajaran, Anna tiba-tiba datang. Wajahnya
terlihat cemas. “Sid, kamu harus ke ruang kepala sekolah,” dia berkata.
Aku tidak langsung bertanya kenapa. Melihat wajah Anna yang
cemas, sesuatu pastilah terjadi dan itu mungkin buruk.
Mr. Ulrich belum pernah memanggilku. Baru minggu lalu aku
bergabung dan kami belum bicara apa-apa mengenai adaptasiku di sekolah. Kupikir
tidak ada masalah berarti. Anak-anak cukup menyukaiku dan mereka senang dengan
kelas gambarnya. Tapi, sepertinya bukan itu.
Aku menemukan seorang wanita sudah duduk bersama Mr. Ulrich
di ruangannya. Saat aku masuk, dia segera menoleh ke belakang untuk melihatku.
Firasat burukku terbukti.
“Saya nggak menyangka harus ketemu kamu lagi, tapi
pertemuannya sangat nggak menyenangkan, Sidney...,” wanita itu menegurku sambil
berdiri; dia memberiku sambutan yang langsung membuatku hampir mati berdiri.
“Saya mohon, tenang dulu, Ibu Sastri...,” kata Mr. Ulrich
yang ikut berdiri dari kursinya.
Aku mengenal wanita dengan setelan kantor itu sebagai
Mamanya Saira. Mungkin dia sudah tahu bahwa Pak Didi nggak langsung
mengantarkan Sunny pulang, tapi malah membiarkannya pergi dengan Saira ditambah
lagi aku juga terlibat dalam pelarian itu.
“Apa nggak cukup kamu dan istri kamu menghancurkan kehidupan
putri saya?!” dia berteriak padaku dan aku terkejut.
Ibu Saira megetahui bahwa Gigi adalah istriku. Aku tidak
menyangka dia juga menyalahkanku. Tapi atas dasar apa?
“Sekarang kamu bersikap seperti seorang pahlawan?!” wanita
itu masih mencercaku.
“Saya bukan pahlawan bagi siapa pun, Bu Sastri. Saya hanya
melakukan apa yang harus saya lakukan,” kataku. “Kalau anda nggak memisahkan
mereka dengan cara yang kekanakan seperti ini, saya nggak akan ikut campur!”
“Tahu apa kamu soal keluarga saya?” tandasnya. Tatapannya
makin tajam dan aku berusaha untuk tetap tenang. “Tahu apa kamu, hah?!”
“Bu Sastri, tenang, masalah ini masih bisa diselesaikan
secara baik-baik,” kata Mr. Ulrich. “Keluarga Sidney adalah pemilik yayasan,
tidak mungkin dia melakukan hal yang tidak pantas!”
“Oh, berarti pihak sekolah tahu kalau Sunny dibawa oleh
seorang guru dengan memanfaatkan keteledoran supir?!” kemarahan ibunya Saira
semakin menjadi-jadi.
“Mama!” seseorang tiba-tiba mendobrak masuk. Aku terkejut
bahwa itu adalah Saira; Saira yang mengenakan baju perempuan normal. “Kenapa
Mama ke sini hanya untuk cari masalah?! Bukannya semua selesai kalau aku sudah
kembali?!”
Aku benar-benar bingung. Memperhatikan Saira dan Mamanya.
“Mama sudah bilang seratus kali, Saira, jangan berurusan
lagi dengan dia!” teriak Mamanya.
Saira menatapku dengan ngeri. “ Ini hanya kebetulan, Ma!
Kalau Mama nggak suka Sunny sekolah di sini, ya sudah, kita hanya tinggal
memindahkan dia dari sini!” kata Saira tak kalah keras dari ibunya.
Sang ibu tampak melunak. Dia menatapiku dengan bengis lalu
Saira yang khawatir. Wanita itu tampaknya sudah ingin pergi karena putrinya
datang.
“Ingat, Saira, dia sudah menghancurkan seluruh kehidupan
kamu,” kata ibunya sebelum ia keluar dan melewati pintu itu. “Mama nggak mau
kamu mengulangi kesalahan yang sama....”
Aku terpana pada Saira yang menatapku khawatir.
“Maaf, Azid,...” dia berkata sebelum pergi menyusul Mamanya.
Bahkan tidak mengatakan apa-apa pada Mr. Ulrich yang masih bingung.
Aku merasa dipermalukan. Tapi, jika aku mengingat cara
wanita itu menatapku sepertinya dia tahu semua yang kulakukan di masa lalu;
membuat Saira menghilang dan ketika mencariku ke Australia hal yang buruk
terjadi padanya. Entah perasaanku saja atau aku telah melakukan kesalahan yang
lebih buruk dari itu.. Aku seakan terseret oleh kesalahan yang tak pernah aku
tahu; dan tak seorang pun yang memberitahuku.
Saat Saira menghilang, hatiku hancur. Aku mencarinya bukan?
Aku keliling dunia hanya untuk menemukannya; adakah yang memahami kegilaanku
saat itu karena merasa bersalah membuatnya pergi? Aku sudah melakukan semua
yang aku bisa untuk menemukannya! Aku bahkan sampai membayar orang untuk itu.
Hingga akhirnya aku melanjutkan hidupku; di atas ketidaktahuanku bahwa Saira
sebenarnya mencariku dan harus menderita karenanya. Aku hanya melanjutkan
hidupku... aku hanya mencoba bangkit dari keterpurukanku....
***
Komentar
0 comments