[Novel Romantis] Saira Ch. 21 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Jejak

“Kamu berantem sama siapa?”; pertanyaan Gigi ketika aku baru keluar kamar dengan langkah tergopoh di hari Minggu.
Seluruh tubuhku sakit karena terlalu lelah. Belum lagi seorang perempuan sinting ‘menghajarku’ semalam.
Aku memperhatikannya dengan seksama untuk memahami apa maksud pertanyaannya. Rupanya istriku sudah menemukan sebuah barang bukti: jejak sepatu di kemejaku.
“Oh itu...,” aku mencoba memikirkan jawaban ideal untuk bekas dari tendangan Saira yang membuat lambungku nyaris kehilangan fungsinya. Sementara kepalaku masih sakit.
Aku masih mengenakan celana pendek dan mencoba mencari sesuatu di kulkas; tenggorokanku kering. Sepertinya aku terserang demam.
“Kemarin ada anak yang berkelahi di sekolah dan aku melerai sampai dia nggak sengaja menendangku,” jawabku setelah minum seteguk dari sebotol air mineral.
“Anak-anak?” Gigi mengernyit. Bukan Gigi namanya kalau dia langsung mempercayainya. Dia selalu curiga dan selalu cemburu. “Ukuran kaki yang besar untuk anak SD?”
“Kalau yang kamu kira itu anak-anak pribumi,” tegasku; seingatku kaki Saira tidak sebesar itu.
Gigi tidak bertanya lagi. Dia membawa kemeja itu ke belakang dan pasti melemparnya dengan kasar ke dalam mesin cuci.
Aku kembali ke kamar tidur. Aku masih ingin berbaring. Thanks God, it’s Sunday....
Kepalaku begitu berat dan penglihatanku berangsur kabur, namun aku masih bisa melihat bahwa Gigi masuk dan dia menghampiriku.
“Kelihatannya kamu begitu menikmati kegiatan mengajar sampai harus pulang malam-malam,” kata dia. “Aku sampai mencari kamu ke sekolah, tapi security nya bilang aku nggak bisa masuk.”
Aku mencoba mendengarkan baik-baik saat jantungku berdegup kencang. Aku punya firasat buruk. Gigi tersenyum tapi itu bukanlah senyum biasa; melainkan seringai.
“Terus... security-nya bilang...,” Gigi merebahkan tubuhnya ke sampingku untuk berbisik. “Kamu pergi mengantar seorang murid ke rumahnya. What a nice teacher....”
Tubuhku lemas saat merasakan sentuhan tangan Gigi meraba bagian dadaku hingga dia meraih leherku. Sentuhan itu dingin dan menusuk. Kemudian aku benar-benar tak bergerak. Tapi, masih bisa merasakan bahwa tangannya di leherku semakin ketat.
“Apa kamu menikmatinya seperti kamu mencium ibunya juga?” Gigi bertanya lagi dan genggamannya di leherku semakin kuat.
Aku berontak dan berteriak hingga kusadari itu hanya mimpi.
“Ya Tuhan, Sid!” gigi yang harusnya terlelap di sebelahku tampak terkejut setengah mati. “Kamu mimpi buruk?”
Aku mengatur nafasku yang tersengal. Mimpi buruk macam apa itu? Sampai peluh dingin membasahi sekujur tubuhku; kengeriannya terasa amat nyata bagiku.
***
Senin yang mendung menyambut pagiku yang sama sekali tidak ceria. Gigi sudah terlihat seperti seorang istri idaman yang memasak, membereskan kamar, mencuci pakaian yang kotor dan berbelanja sendiri. Dia tidak lagi rewel dan manjanya sedikit berkurang; mungkin karena aku sering acuh padanya. Aku bahkan belum menanggapi keinginannya untuk kembali ke Australia. Sepertinya bersikap koperatif adalah caranya membujukku agar aku setuju. Aku belum tahu apa aku akan mengabulkannya atau tidak.
Aku berusaha untuk tidak memikirkannnya begitu di sekolah.
Keadaanku tidak terlalu baik dibandingkan hari-hari di minggu kemarin. Namun suasana kelas satu pagi ini terasa berbeda ketika aku masuk; Sunny absen. Aku kembali membuka kelas gambar seperti biasa; mengabaikan gangguan dari bangku Sunny di pojok belakang yang kosong. Aku teringat pada tawanya dan juga tangisnya.
Joana kembali menggambar unicorn dan pelangi dengan versi berbeda; ditambah dengan makhluk kuning yang mirip seperti pisang. Oh, Minions rupanya. Dia mengulang perkataannya Minggu lalu; akan memberikan gambar itu ke Daddy-nya. Sangat manis.
Di tengah pelajaran, Anna tiba-tiba datang. Wajahnya terlihat cemas. “Sid, kamu harus ke ruang kepala sekolah,” dia berkata.
Aku tidak langsung bertanya kenapa. Melihat wajah Anna yang cemas, sesuatu pastilah terjadi dan itu mungkin buruk.
Mr. Ulrich belum pernah memanggilku. Baru minggu lalu aku bergabung dan kami belum bicara apa-apa mengenai adaptasiku di sekolah. Kupikir tidak ada masalah berarti. Anak-anak cukup menyukaiku dan mereka senang dengan kelas gambarnya. Tapi, sepertinya bukan itu.
Aku menemukan seorang wanita sudah duduk bersama Mr. Ulrich di ruangannya. Saat aku masuk, dia segera menoleh ke belakang untuk melihatku. Firasat burukku terbukti.
“Saya nggak menyangka harus ketemu kamu lagi, tapi pertemuannya sangat nggak menyenangkan, Sidney...,” wanita itu menegurku sambil berdiri; dia memberiku sambutan yang langsung membuatku hampir mati berdiri.
“Saya mohon, tenang dulu, Ibu Sastri...,” kata Mr. Ulrich yang ikut berdiri dari kursinya.
Aku mengenal wanita dengan setelan kantor itu sebagai Mamanya Saira. Mungkin dia sudah tahu bahwa Pak Didi nggak langsung mengantarkan Sunny pulang, tapi malah membiarkannya pergi dengan Saira ditambah lagi aku juga terlibat dalam pelarian itu.
“Apa nggak cukup kamu dan istri kamu menghancurkan kehidupan putri saya?!” dia berteriak padaku dan aku terkejut.
Ibu Saira megetahui bahwa Gigi adalah istriku. Aku tidak menyangka dia juga menyalahkanku. Tapi atas dasar apa?
“Sekarang kamu bersikap seperti seorang pahlawan?!” wanita itu masih mencercaku.
“Saya bukan pahlawan bagi siapa pun, Bu Sastri. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan,” kataku. “Kalau anda nggak memisahkan mereka dengan cara yang kekanakan seperti ini, saya nggak akan ikut campur!”
“Tahu apa kamu soal keluarga saya?” tandasnya. Tatapannya makin tajam dan aku berusaha untuk tetap tenang. “Tahu apa kamu, hah?!”
“Bu Sastri, tenang, masalah ini masih bisa diselesaikan secara baik-baik,” kata Mr. Ulrich. “Keluarga Sidney adalah pemilik yayasan, tidak mungkin dia melakukan hal yang tidak pantas!”
“Oh, berarti pihak sekolah tahu kalau Sunny dibawa oleh seorang guru dengan memanfaatkan keteledoran supir?!” kemarahan ibunya Saira semakin menjadi-jadi.
“Mama!” seseorang tiba-tiba mendobrak masuk. Aku terkejut bahwa itu adalah Saira; Saira yang mengenakan baju perempuan normal. “Kenapa Mama ke sini hanya untuk cari masalah?! Bukannya semua selesai kalau aku sudah kembali?!”
Aku benar-benar bingung. Memperhatikan Saira dan Mamanya.
“Mama sudah bilang seratus kali, Saira, jangan berurusan lagi dengan dia!” teriak Mamanya.
Saira menatapku dengan ngeri. “ Ini hanya kebetulan, Ma! Kalau Mama nggak suka Sunny sekolah di sini, ya sudah, kita hanya tinggal memindahkan dia dari sini!” kata Saira tak kalah keras dari ibunya.
Sang ibu tampak melunak. Dia menatapiku dengan bengis lalu Saira yang khawatir. Wanita itu tampaknya sudah ingin pergi karena putrinya datang.
“Ingat, Saira, dia sudah menghancurkan seluruh kehidupan kamu,” kata ibunya sebelum ia keluar dan melewati pintu itu. “Mama nggak mau kamu mengulangi kesalahan yang sama....”
Aku terpana pada Saira yang menatapku khawatir.
“Maaf, Azid,...” dia berkata sebelum pergi menyusul Mamanya. Bahkan tidak mengatakan apa-apa pada Mr. Ulrich yang masih bingung.
Aku merasa dipermalukan. Tapi, jika aku mengingat cara wanita itu menatapku sepertinya dia tahu semua yang kulakukan di masa lalu; membuat Saira menghilang dan ketika mencariku ke Australia hal yang buruk terjadi padanya. Entah perasaanku saja atau aku telah melakukan kesalahan yang lebih buruk dari itu.. Aku seakan terseret oleh kesalahan yang tak pernah aku tahu; dan tak seorang pun yang memberitahuku.
Saat Saira menghilang, hatiku hancur. Aku mencarinya bukan? Aku keliling dunia hanya untuk menemukannya; adakah yang memahami kegilaanku saat itu karena merasa bersalah membuatnya pergi? Aku sudah melakukan semua yang aku bisa untuk menemukannya! Aku bahkan sampai membayar orang untuk itu. Hingga akhirnya aku melanjutkan hidupku; di atas ketidaktahuanku bahwa Saira sebenarnya mencariku dan harus menderita karenanya. Aku hanya melanjutkan hidupku... aku hanya mencoba bangkit dari keterpurukanku....
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments