[Novel Romantis] Saira Ch. 20 (3/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Sunny sudah hampir kehabisan energi saat masuk ke mobil. Dalam perjalan menuju tempat Pak Didi menunggunya, Sunny ketiduran. Di dalam mobil seketika menjadi hening, karena Saira tak juga bicara. Dia juga enggan memandang ke arahku. Mungkin kalau kami memulai sebuah pembicaraan, pasti berujung pada keributan yang tak bisa dihindari. Aku dan Saira tampak sama; sama-sama takut Sunny akan mendengarnya.
Tapi, akhirnya Saira melirik ke arahku. “Terima kasih untuk hari ini,” ucapnya.
Aku hanya mengangguk satu kali.
“Aku tahu kamu benar,” kata Saira dan aku segera menoleh. Sepertinya dia tidak akan bicara dengan nada menyalahkanku lagi. “Harusnya aku pulang sehingga bertemu Sunny aja nggak akan serumit ini. Kasihan Pak Didi juga ‘kan kalau sampai ketahuan Mama.”
Aku tidak berkomentar sehingga Saira diam lagi sampai kami tiba di tempat Pak Didi menunggu. Saira menyerahkan Sunny yang sudah ketiduran kepada Pak Didi sementara aku hanya menunggu di mobil. Aku sempat memperhatikan Saira berbicara dengan Pak Didi.
Pak Didi pergi membawa Sunny, Saira pun kembali ke mobil. Aku masih diam menunggu dia mengatakan tujuan selanjutnya; tempat dia tinggal.
“Sampai di sini aja, Azid,” katanya, sepertinya dia tidak akan lagi ikut berkendara denganku. Ah ya, dia berkata tidak ingin semobil dengan lelaki beristri; sedangkan yang tadi itu karena ada Sunny bersamanya. Dia selalu menghindar, seperti kemarin, setelah ribut-ribut, dia memberhentikan taksi dan naik ke sana tanpa ragu-ragu. Sehingga aku gagal lagi untuk tahu rumahnya.
Aku tidak menjawab. Aku tidak berharap dia berada di sini lebih lama, tapi tak ingin dia berlalu. Setelah dia mengatakan akan kembali pada Mamanya, mulai besok tak akan ada lagi alasan untuk pergi seperti ini. Keputusannya terdengar melegakan; bagus untuknya; bagus untuk Sunny; tapi tidak adil bagiku. Aku masih ingin bersamanya.
Dilema adalah aku juga bukan orang yang bebas untuk bisa pergi dengan perempuan lain tanpa melibatkan perasaan.
“Terima kasih banyak..,” ucap Saira lagi lalu meraih gagang pintu mobil untuk membukanya. Tapi, aku menghentikannya.
Aku tak tahu apa yang aku pikirkan saat menariknya dengan kasar ke sisiku.
“Azid!” Saira meronta saat berada dalam dekapanku. Kenapa dia tidak menyukainya?
Aku tidak berkata sepatah kata pun. Ada ketakutan luar biasa di dalam diriku. Aku benar-benar tidak dapat menguasai diriku atas perasaan ini. Aku mempererat pelukanku sampai Saira melemah. Aku tahu tubuh kurusnya tidak akan mampu melawanku. Saat itulah aku melepasnya dan terpaksa mencuri sebuah ciuman hanya untuk meredakan kegelisahanku; apabila setelah ini aku tidak melihatnya lagi; apabila aku tidak bisa sedekat ini lagi dengannya.
Tapi, aku salah besar.
Tubuh yang kurus itu memberontak; membuat perlawanan yang besar terhadapku. Saat aku berusaha ‘menjinakannya’ dengan bibirku dia menemukan cara untuk menyadarkan kegilaanku.
PLAK!!!
Pipiku terasa nyeri. Dia menamparku dengan sangat keras.
“Kamu sakit jiwa!” teriaknya dan tak cukup dengan itu, Saira menendang perutku dengan kakinya.
Malam ini berakhir dengan lebih buruk dari malam sebelumnya di mana tak hanya sekedar bertengkar; kali ini aku dihajar oleh seorang perempuan yang tidak suka dengan ciumanku.
“Aduh!” aku memeluk diriku yang baru saja ‘dihantam’ dengan kuat oleh kaki perempuan kurus.
Sakit yang luar biasa merambat dengan cepat di badanku. Tendangan itu terlalu berlebihan jika dia hanya ingin menyadarkanku dari kesurupan amarah. Rasanya sangat... terlalu.
“Azid?!” setelahnya Saira histeris. “Azid?! Kamu nggak apa-apa?!”
Aku menekan bagian perutku yang sakit. Ada bekas sepatu di kemeja biruku. “Kamu... yang sakit jiwa...,” kataku sambil meringis. “Apa kamu pikir aku ini pemerkosa?”
Saira tampak merasa bersalah. Tapi, dia mempertahankan egonya. “Kamu sendiri yang mulai,”
“Itu hanya ciuman, Saira...,” kataku, membela diri dalam ringisan sakit pada perutku yang berdenyut. “Di Australia kita melakukan lebih dari itu dan kamu nggak menolakku....”
“Ke...keadaannya berbeda!” tegas Saira. Rona merah mulai bermunculan di pipinya yang tirus.
“Apanya yang berbeda?” aku menggerutu dan berusaha tidak merasakan nyeri itu; pikiranku kacau lagi seperti orang mabuk. “Kamu pernah naik mobil dengan laki-laki beristri ini waktu di Australia.”
Saira hanya memandangku prihatin. Kurasa bukan itu perbedaan yang dia maksud.
“Oh, aku tahu, kamu sudah punya pacar baru?” aku mencoba untuk menebak dan menanti reaksinya tapi dia menatapku dengan cara yang sama.
“Sebaiknya kamu pulang!” kata dia. “Nggak ada gunanya lagi kita mengungkit masa lalu, Azid. Hidup kita ada di masa depan...,”
Lalu Saira pergi meninggalkanku dengan rasa perih dan bekas sepatu di kemejaku. Tapi, aku tidak sebodoh kemarin-kemarin lagi walau tadi aku sempat bicara ngawur padanya.
Begitu Saira naik ke taksi yang dia berhentikan di pinggir jalan dan taksi itu melaju. Aku menyalakan mesin dan mengejar taksi itu. Jika dia tidak mau memberitahuku tempat di mana aku bisa menemukannya, aku harus mencari tahu dengan caraku sendiri. Aku pikir aku sudah terlalu pintar menghadapinya; membuntuti seperti paparazi yang begitu ingin tahu kehidupan sang idola. Tidak kusangka tindakanku itu malah membuatku patah hati.
Aneh bukan, laki-laki yang tidak sendiri sepertiku, patah hati karena gadis lain.
Saira berhenti di sebuah rumah sakit. Aku berpikir dia sedang sakit atau apa; wajahnya cukup pucat hari ini. Bisa saja ‘kan? Sakit bisa menjadi alasan kenapa tubuhnya kurus kering begitu.
Tapi, kekecewaan pertamaku adalah saat tahu bahwa ternyata gadis yang jarang berterus terang secara sukarela ini mempunyai ponsel di dalam saku jeansnya. Dia baru mengeluarkan benda itu sesaat setelah turun dari taksi untuk menelepon seseorang. Aku pernah meminta nomor telepon tapi dia mengaku tidak punya ponsel. Aku bahkan sampai ingin membelikannya agar aku bisa menghubunginya tapi dia menolak.
Dia menunggu di tempat parkir tidak lama sebelum seorang laki-laki; berpakaian putih menghampirinya. Laki-laki itu langsung merangkulnya; membuat darahku berdesir.
Siapa dia?
Mereka sempat mengobrol sebentar dan laki-laki yang tampaknya berprofesi sebagai dokter itu beberapa kali mengusap rambut Saira. Mereka masih berangkulan saat akhirnya masuk ke gedung rumah sakit.
Walau ini tetap tak pantas, aku merasa ditipu olehnya.
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments