๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Sunny sudah hampir kehabisan energi saat masuk ke mobil.
Dalam perjalan menuju tempat Pak Didi menunggunya, Sunny ketiduran. Di dalam
mobil seketika menjadi hening, karena Saira tak juga bicara. Dia juga enggan
memandang ke arahku. Mungkin kalau kami memulai sebuah pembicaraan, pasti
berujung pada keributan yang tak bisa dihindari. Aku dan Saira tampak sama;
sama-sama takut Sunny akan mendengarnya.
Tapi, akhirnya Saira melirik ke arahku. “Terima kasih untuk
hari ini,” ucapnya.
Aku hanya mengangguk satu kali.
“Aku tahu kamu benar,” kata Saira dan aku segera menoleh.
Sepertinya dia tidak akan bicara dengan nada menyalahkanku lagi. “Harusnya aku
pulang sehingga bertemu Sunny aja nggak akan serumit ini. Kasihan Pak Didi juga
‘kan kalau sampai ketahuan Mama.”
Aku tidak berkomentar sehingga Saira diam lagi sampai kami
tiba di tempat Pak Didi menunggu. Saira menyerahkan Sunny yang sudah ketiduran
kepada Pak Didi sementara aku hanya menunggu di mobil. Aku sempat memperhatikan
Saira berbicara dengan Pak Didi.
Pak Didi pergi membawa Sunny, Saira pun kembali ke mobil.
Aku masih diam menunggu dia mengatakan tujuan selanjutnya; tempat dia tinggal.
“Sampai di sini aja, Azid,” katanya, sepertinya dia tidak
akan lagi ikut berkendara denganku. Ah ya, dia berkata tidak ingin semobil
dengan lelaki beristri; sedangkan yang tadi itu karena ada Sunny bersamanya.
Dia selalu menghindar, seperti kemarin, setelah ribut-ribut, dia memberhentikan
taksi dan naik ke sana tanpa ragu-ragu. Sehingga aku gagal lagi untuk tahu
rumahnya.
Aku tidak menjawab. Aku tidak berharap dia berada di sini
lebih lama, tapi tak ingin dia berlalu. Setelah dia mengatakan akan kembali
pada Mamanya, mulai besok tak akan ada lagi alasan untuk pergi seperti ini.
Keputusannya terdengar melegakan; bagus untuknya; bagus untuk Sunny; tapi tidak
adil bagiku. Aku masih ingin bersamanya.
Dilema adalah aku juga bukan orang yang bebas untuk bisa
pergi dengan perempuan lain tanpa melibatkan perasaan.
“Terima kasih banyak..,” ucap Saira lagi lalu meraih gagang
pintu mobil untuk membukanya. Tapi, aku menghentikannya.
Aku tak tahu apa yang aku pikirkan saat menariknya dengan
kasar ke sisiku.
“Azid!” Saira meronta saat berada dalam dekapanku. Kenapa
dia tidak menyukainya?
Aku tidak berkata sepatah kata pun. Ada ketakutan luar biasa
di dalam diriku. Aku benar-benar tidak dapat menguasai diriku atas perasaan
ini. Aku mempererat pelukanku sampai Saira melemah. Aku tahu tubuh kurusnya
tidak akan mampu melawanku. Saat itulah aku melepasnya dan terpaksa mencuri
sebuah ciuman hanya untuk meredakan kegelisahanku; apabila setelah ini aku
tidak melihatnya lagi; apabila aku tidak bisa sedekat ini lagi dengannya.
Tapi, aku salah besar.
Tubuh yang kurus itu memberontak; membuat perlawanan yang
besar terhadapku. Saat aku berusaha ‘menjinakannya’ dengan bibirku dia
menemukan cara untuk menyadarkan kegilaanku.
PLAK!!!
Pipiku terasa nyeri. Dia menamparku dengan sangat keras.
“Kamu sakit jiwa!” teriaknya dan tak cukup dengan itu, Saira
menendang perutku dengan kakinya.
Malam ini berakhir dengan lebih buruk dari malam sebelumnya
di mana tak hanya sekedar bertengkar; kali ini aku dihajar oleh seorang
perempuan yang tidak suka dengan ciumanku.
“Aduh!” aku memeluk diriku yang baru saja ‘dihantam’ dengan
kuat oleh kaki perempuan kurus.
Sakit yang luar biasa merambat dengan cepat di badanku.
Tendangan itu terlalu berlebihan jika dia hanya ingin menyadarkanku dari
kesurupan amarah. Rasanya sangat... terlalu.
“Azid?!” setelahnya Saira histeris. “Azid?! Kamu nggak apa-apa?!”
Aku menekan bagian perutku yang sakit. Ada bekas sepatu di
kemeja biruku. “Kamu... yang sakit jiwa...,” kataku sambil meringis. “Apa kamu
pikir aku ini pemerkosa?”
Saira tampak merasa bersalah. Tapi, dia mempertahankan
egonya. “Kamu sendiri yang mulai,”
“Itu hanya ciuman, Saira...,” kataku, membela diri dalam
ringisan sakit pada perutku yang berdenyut. “Di Australia kita melakukan lebih
dari itu dan kamu nggak menolakku....”
“Ke...keadaannya berbeda!” tegas Saira. Rona merah mulai
bermunculan di pipinya yang tirus.
“Apanya yang berbeda?” aku menggerutu dan berusaha tidak
merasakan nyeri itu; pikiranku kacau lagi seperti orang mabuk. “Kamu pernah
naik mobil dengan laki-laki beristri ini waktu di Australia.”
Saira hanya memandangku prihatin. Kurasa bukan itu perbedaan
yang dia maksud.
“Oh, aku tahu, kamu sudah punya pacar baru?” aku mencoba
untuk menebak dan menanti reaksinya tapi dia menatapku dengan cara yang sama.
“Sebaiknya kamu pulang!” kata dia. “Nggak ada gunanya lagi
kita mengungkit masa lalu, Azid. Hidup kita ada di masa depan...,”
Lalu Saira pergi meninggalkanku dengan rasa perih dan bekas
sepatu di kemejaku. Tapi, aku tidak sebodoh kemarin-kemarin lagi walau tadi aku
sempat bicara ngawur padanya.
Begitu Saira naik ke taksi yang dia berhentikan di pinggir
jalan dan taksi itu melaju. Aku menyalakan mesin dan mengejar taksi itu. Jika
dia tidak mau memberitahuku tempat di mana aku bisa menemukannya, aku harus
mencari tahu dengan caraku sendiri. Aku pikir aku sudah terlalu pintar
menghadapinya; membuntuti seperti paparazi yang begitu ingin tahu kehidupan
sang idola. Tidak kusangka tindakanku itu malah membuatku patah hati.
Aneh bukan, laki-laki yang tidak sendiri sepertiku, patah
hati karena gadis lain.
Saira berhenti di sebuah rumah sakit. Aku berpikir dia
sedang sakit atau apa; wajahnya cukup pucat hari ini. Bisa saja ‘kan? Sakit
bisa menjadi alasan kenapa tubuhnya kurus kering begitu.
Tapi, kekecewaan pertamaku adalah saat tahu bahwa ternyata
gadis yang jarang berterus terang secara sukarela ini mempunyai ponsel di dalam
saku jeansnya. Dia baru mengeluarkan benda itu sesaat setelah turun dari taksi
untuk menelepon seseorang. Aku pernah meminta nomor telepon tapi dia mengaku
tidak punya ponsel. Aku bahkan sampai ingin membelikannya agar aku bisa menghubunginya
tapi dia menolak.
Dia menunggu di tempat parkir tidak lama sebelum seorang
laki-laki; berpakaian putih menghampirinya. Laki-laki itu langsung
merangkulnya; membuat darahku berdesir.
Siapa dia?
Mereka sempat mengobrol sebentar dan laki-laki yang
tampaknya berprofesi sebagai dokter itu beberapa kali mengusap rambut Saira.
Mereka masih berangkulan saat akhirnya masuk ke gedung rumah sakit.
Walau ini tetap tak pantas, aku merasa ditipu olehnya.
***
Komentar
0 comments