๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Sudah lama aku tidak merasa selelah ini. Setelah jam-jam
menyenangkan di mana aku terbawa eforia Saira dan Sunny, aku kembali muram
dalam perjalanan pulang. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa melupakan Gigi
sejenak. Tiba-tiba aku merasa khawatir bagaimana jika perasaan yang aneh ini
tidak kunjung reda. Aku tidak pernah kenal seorang pria yang bisa membagi
hatinya untuk perempuan lain. Karena lelaki sejati harusnya setia pada
cintanya. Tapi, setelah bertemu Saira lagi, aku jadi mempertanyakan siapa yang
aku cintai sebenarnya?
Beberapa bulan yang lalu, aku dan Gigi begitu bahagia,
seolah dunia ini hanya ada kami di dalamnya. Rumah baru, kehidupan baru, tahap
hubungan yang baru, semua itu kupikir akan mengisi kekosongan di antara kami.
Pindah ke Indonesia akhirnya tidak menjadi sesuai harapan. Banyak hal yang tak
terduga.
Apa ini ujian yang jauh lebih berat lagi? Apa aku bisa
melewatinya? Entahlah....
Aku membuka pintu dengan langkah gontai. Tanpa perlu melihat
jam tangan, aku tahu jarumnya sudah berada di angka delapan. Aku sudah
menyiapkan jawaban yang pas apabila Gigi mengeluh soal keterlambatanku; Jakarta
itu memang macet. Tapi, aku juga yakin dia tidak seperhatian itu lagi sekarang
walaupun tetap saja suka mencurigai dan cemburu. Aku tidak ingin memikirkannya
dulu.
Tapi, Gigi menyambutku dengan makan malam di meja makan. Aku
sangat terkejut dia menyiapkan banyak menu kesukaanku. Dan bahkan dia
menyambutku dengan senyuman hangat. Aku pikir aku sedang bermimpi tapi itu
benar.
Tampaknya dia sudah sembuh.
Hanya saja... aku tidak terlalu senang. Mungkin karena lelah
atau senja yang buruk yang baru saja kualami; kata-kata Saira yang tajam masih
terngiang di benakku. APA YANG TERJADI PADANYA ADALAH SALAHKU. Bagaimana bisa
aku menikmati makan malam dengan tenang sekali pun melihat istriku sudah
membaik? Sepintas aku merasa, bukan inilah yang aku butuhkan sekarang. Namun
aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya kuinginkan.
Yang jelas, di dalam dadaku begitu hampa; sama hampanya
ketika aku mencari gadis yang kucintai ke sana kemari tapi aku tak pernah
menemukannya....
Bahkan saat akhirnya Gigi memelukku di atas ranjang, aku
nyaris mati rasa. Aku memandang wajahnya, mencoba menemukan sesuatu yang bisa
membangkitkan kembali rasa sebelum Gigi terguncang. Namun aku gagal. Aku memang
bercinta dengannya lagi; setelah sekian lama tapi rasanya tidak lagi sama.
Hambar.
“Aku sudah memikirkannya, Sid,” Gigi berkata di telingaku.
Suaranya kedengaran manja. “Apa yang nggak membuatku bahagia belakangan
ini....”
Apa pun itu aku tidak peduli. Aku sudah jera menghadapi
sikapnya yang tak mudah dimengerti.
“Sidney Sayang...,” Gigi mengalungkan kedua lengannya di
dadaku; menegaskan bahwa aku adalah miliknya yang berharga dan sempat hilang
sehingga ia memelukku begitu erat.
Aku bisa merasakannya bernafas di punggungku dan aku
mendengarkan walaupun aku masih memikirkan Saira.
“Bagaimana kalau kita kembali ke Australia?” dia menanyaiku
seperti mengucapkan sebuah permohonan. “Aku pikir... Jakarta memiliki banyak
kenangan yang buruk buat aku, buat kamu juga... kamu ingat, di Australia kita
hidup bahagia. Walaupun kamu sering pulang telat dan aku sendirian, tapi kita
tetap bahagia....”
Aku tidak menjawab.
“I love you,
Sidney...,” ucapnya sambil membenamkan wajahnya di punggungku.
Aku tidak ingin meninggalkan Jakarta begitu saja. Gigi tidak
bisa begitu saja membalikan keadaan setelah kami kembali seperti semula. Tidak,
tidak bisa seperti itu. Perasaanku sudah berubah walaupun aku tak
menginginkannya. Tapi, aku tak bisa meningkari bahwa bahagiaku berada di
sekolah itu; bersama anak-anak; memperhatikan mereka; dan tentu saja bertindak
seperti orang tua mereka. Gigi tidak akan memahami perasaan seperti itu.
***
“Pak Didi nggak datang?” Anna bertanya padaku saat aku
merapikan meja kerjaku. Dia baru kembali dari memastikan anak-anak di kelasnya
sudah dijemput semua.
“Ya, tadi dia menelpon,” jawabku. “Aku sendiri yang akan
mengantarnya.”
“Wow! Baiknya.” seru Retha yang muncul secara mendadak.
Benar ‘kan? Dia suka menguping?
Anna mengangguk-angguk. “Ok,” sahutnya. “Sampai ketemu
besok.”
Aku segera berlalu dari hadapan mereka dengan langkah
terburu-buru. Sebenarnya bukan Pak Didi tidak bisa menjemput; padahal itu tugas
utamanya. Dia hanya akan menjemput sore nanti setelah Sunny bertemu dengan
ibunya seperti kemarin. Menurutnya
Nyonya tidak curiga bahwa cucunya tidak pulang seharian. Sedangkan Saira dia
sudah menunggu di tempat yang sama kemarin.
Sunny sedang duduk di bangku taman dan tampak ditemani oleh
Joan; mereka mulai akrab belakangan ini walaupun Sunny tidak bisa berbahasa
Inggris dan Joan juga tidak bisa berbahasa Indonesia. Saat anak-anak
bercengkrama dengan bahasa tubuh, itu terlihat lucu.
Tapi, aku melupakan sesuatu. Kunci mobil! Aku menaruhnya di
dalam laci meja!
Terpaksa aku kembali dan sesampainya di sana aku harus
mendengar dua orang perempuan sedangan bergosip; dan itu tentangku.
“Itu bukan urusan kita, Retha,”
Tak jelas apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Namun Anna
sepertinya mencoba menasehati temannya itu.
“Kita nggak bisa terus berpura-pura. Maksudku, kamu ‘kan
seorang perempuan juga, gimana kalau suami kamu selingkuh?” Retha kedengaran
ngotot sekali.
“Yang jelas kita nggak tahu seperti apa sebenarnya hubungan
Sidney sama Mamanya Sunny,” tegas Anna. “Bisa jadi mereka itu sahabat dekat.
Kamu harus positif thinking, Ret.
Salah-salah, kamu bisa dipecat karena ikut campur urusan orang. Lagian dia
Sidney Adams, yang punya yayasan. Gimana pun kita harus menghormati dia. Apa
kamu nggak merasa segan karena dia sangat low
profile?”
“Aku nggak ngerti deh, An. Kenapa kamu malah nggak
sependapat. Sebagai sesama wanita lho!” Retha tetap memaksa. “Mereka berpelukan
di pinggir jalan, An! Kita lihat sendiri kemarin!”
“Iya aku tahu. Tapi, Sidney bukan orang timur. Berpelukan
itu sesuatu yang biasa!”
“Kalau lihat suasananya, pelukan itu bukan sesuatu yang
santai,” Retha tetap bersikeras dan aku menghentikannya dengan masuk secara
tiba-tiba.
“Sorry, kunci
mobil ketinggalan!” kataku dengan buru-buru dan segera membuka laci untuk mengambil
barang yang kumaksud.
Anna kelihatan tidak nyaman dengan kehadiranku; mungkin
merasa bersalah. Sementara Retha yang biasanya menatapku penuh godaan, kini
terlihat angkuh dan menyebalkan. Aku langsung pergi dan lebih memilih tidak
memusingkan pembicaraan mereka. Perempuan memang hobi bergosip dan aku terlalu
bodoh apabila menanggapinya serius.
“Dag, Joana!” Sunny terlihat melambaikan tangannya pada
Joana yang sudah berada di mobil; bersemangat sekali.
Joana pun demikian. Mereka kelihatan dekat sekali.
Saat melihatku, Sunny lebih gembira lagi. Ia bahkan sampai
berlari-lari kecil bersama boneka kelincinya menuju mobilku. Tampak tidak sabar
bertemu dengan ibunya.
Seperti biasa ketika Saira naik ke mobil, Sunny akan berseru
dan ibunya akan memeluknya erat. Lalu aku sebagai supir pribadi harus bertanya
ke mana tujuan mereka.
”Sea World!” jawab mereka berbarengan.
Meski pun semalam aku dan Saira bertengkar hebat; kami
berusaha terlihat akrab di depan Sunny. Karena saat aku lebih banyak diam,
Sunny mengira kalau aku marah padanya. Saira yang menyadari itu kembali
bersikap seperti dia yang biasanya.
Selama di Sea World, aku tak banyak berada di sekitar
mereka. Aku membiarkan mereka menikmati pemandangan akuarium raksasa dengan
berbagai macam ikan di dalamnya. Saat ada pertunjukan oleh penyelam memberi
makan ikan, aku berdiri paling belakang.
Pembawa acara mengundang anak-anak ke depan untuk menjawab
pertanyaannya dan bagi yang bisa menjawab dengan benar akan mendapatkan hadiah.
Saira terlihat mengacungkan tangan Sunny sehingga pembawa acara memilihnya lalu
memberinya tantangan. Yaitu menyebutkan dengan benar kalimat seperti ‘Kelapa
diparut, kepala diurut’.
Tiga orang anak mendapatkan perhatian sang pembawa acara.
Anak pertama menyebutkannya dengan terbalik ‘Kepala diparut, kelapa diurut’ dan
penonton yang bejibun ikut tertawa. “Kepala kok diparut?”
Sunny mendapat giliran terakhir. Dia tampak menyimak kalimat
si pembawa acara sebelum dia menyebutkan kalimat itu dengan pelan-pelan dan dia
melakukannya dengan baik. Saira berseru dengan riangnya saat menyambut putranya
kembali dengan sebuah hadiah; boneka Nemo alias ikan badut.
Kami menghabiskan waktu setengah hari di Sea World dan makan
sea food di salah satu food court yang ada di sekitar Sea
World. Kali ini, Sunny yang makan dengan lahap. Sedangkan Saira hanya makan
sedikit. Sepertinya dia kenyang hanya dengan mengamati putranya. Aku
memandangnya sampai dia sadar bahwa aku juga tidak menyentuh makananku karena
terlalu asyik memperhatikan mereka.
Sekilas, kami terlihat seperti keluarga yang utuh; ayah, ibu
dan seorang anak. Sampai-sampai seorang penjaga sebuah photo booth yang berkostum ikan Dori mengajak kami untuk berfoto.
Saira tidak melewatkan kesempatan untuk membuat sebuah kenangan yang manis.
Mereka berdua masuk ke dalam sana, tapi tiba-tiba Sunny keluar dan menarik
lenganku.
“Pak Guru!” serunya agar aku ikut serta.
Aneh rasanya. Saira cukup tidak nyaman saat berada di photo booth. Tapi, mesin foto yang
bercuap-cuap menyuruh kami berpose dengan gembira menggunakan properti yang
ada. Dan jadilah sebuah foto yang ceria. Andai aku bisa menyimpannya satu; kami
terlihat gila dan bahagia.
***
Komentar
0 comments