๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Heart Breaks
Sunny kelihatan gembira saat dia tidak perlu harus naik
mobil Pak Didi dan pulang ke rumah. Pak Didi pergi lebih dulu dan dia lega saat
aku mengatakan bahwa aku akan membawa Sunny ke ibunya. Dia bilang padaku bahwa
dia akan mengurus segala sesuatu di rumah sehingga Nyonya rumah tidak tahu
bahwa cucunya belum pulang.
Kemarin Saira memohon padaku agar dia mempertemukan aku
dengan putranya. Aku tidak bisa menolaknya. Saat aku bilang bahwa aku sempat
berbicara dengan Pak Didi dia memintaku untuk mengatakannya pada Pak Didi.
Saira tahu bahwa pria itu tidak akan bilang tidak menyangkut dirinya. Saira
tahu bahwa Pak Didi orang yang bisa dia andalkan.
Saira menunggu di sudut jalan yang tidak jauh dari sekolah.
Saat akhirnya mereka bertemu, aku ikut gembira. Saira memeluk putranya erat
bahkan sampai meneteskan air mata.
“Mama kangen sama Sunny,” dia berkata sambil membelai-belai
puncak kepala putranya. “Sunny nggak nakal ‘kan?”
Sunny menggeleng dengan polosnya. “Pak Guru jagain aku...,”
kata dia.
Saira melirikku sambil tersenyum. “Ah iya, Pak Guru,...”
ledeknya. “Kalau Pak Guru yang jahat bilang sama Mama ya?”
“Pak Guru nggak jahat!” kata Sunny. “Pak Guru bantuin aku
bikin gambar buat Mama.”
“Oh ya, gambar apa? Coba Mama lihat.”
Sunny membuka risluting tasnya dan mengeluarkan sebuah
kertas yang dilipat dua dari dalam sana. Ia memberikan hasil karyanya kepada
Saira yang langsung histeris. Sunny menggambar dirinya dan ibunya di bawah
sebuah matahari lengkap dengan bunga matahari yang banyak sekali.
“Ini aku, dan ini Mama,” kata Sunny sambil menunjuk
guratan-guratan krayon pada selembar kertas itu. “Kita ada di ladang bunga
matahari.”
“Bagus sekali...,” Saira memujinya sambil mengecup kedua
pipi Sunny dan memeluknya erat-erat. “Anak Mama memang pintar!”
“Mama janji nggak akan pergi lagi?” Sunny bertanya padanya.
“Nggak, Sayang...,” jawab Saira sambil membelai rambutnya.
“Mama nggak akan ninggalin kamu. Tapi, kamu harus dengerin Pak Guru ya?”
Sunny mengangguk dengan patuh.
Aku melajukan mobil menuju taman bermain di mana mereka bisa
bersama sepuasnya dan Sunny bisa menjadi anak-anak seperti selayaknya. Berlari
dengan girang, dipeluk oleh ibunya, makan es krim, bermain dan tentu saja
bahagia. Kemurungan itu sudah sirna sama sekali walau dia jadi terlihat sangat
manja. Aku bisa memahami selama ini Sunny hidup tanpa itu semua. Pertemuan
mereka pun tidak pernah lama. Begitu matahari hampir terbenam, aku harus
mengantarnya kembali ke Pak Didi di tempat yang kami janjikan.
Ya, Saira terlihat sedih begitu ia melepas putranya dari
pelukan. Namun, besok kami akan mengulang hari ini lagi dengan pergi bermain ke
tempat lain yang lebih menyenangkan dari taman hiburan. Tapi, walaupun harus
berpisah, Sunny masih dapat terlihat ceria saat melambaikan tangannya dari
dalam mobil.
Sampai di penghujung senja, saatnya aku dan Saira harus
berpisah. Tapi, tidak sebelum aku mengajukan beberapa pertanyaan yang sudah
bernaung di kepalaku dan membuatku gelisah.
“Urusan kita belum selesai,” kataku saat Saira tampak ingin
undur diri. Wajahnya juga ceria; tidak seperti kemarin di hari yang gerimis
itu. “Kamu harus menjawab semua pertanyaanku dengan jujur, Saira.”
“Kamu mengajukan syarat, tidak ada rahasia lagi dan jangan
menghilang. Aku nggak melakukan satu pun dari keduanya,” kilahnya.
“Yakin?” tantangku. “Aku rasa kamu masih menyembunyikan
sesuatu dan itu sangat penting. Penting sekali.”
“Soal apa?”
“Ya, soal Sunny. Kamu belum bilang siapa ayahnya ‘kan?”
Saira tampak terkejut untuk beberapa saat kemudian tertawa
terpingkal-pingkal. Entah apa yang menurutnya lucu. Saat menatapku dia kembali
melecehkanku. “Kamu kira dia anak kamu?” tanya dia dan membuatku berfirasat
buruk.
“Ya bisa saja... kita.. kita pernah...,” dia kembali
membuatku seperti orang bodoh karena tak dapat melanjutkannya.
Saira kembali tertawa. “Kita menjalin hubungan nggak lama
dan entah itu bisa disebut pacaran. Soalnya kamu punya gadis lain ‘kan?” Saira
seolah memojokanku; mempertegas bahwa aku tak pantas berpikiran bahwa Sunny
adalah darah dagingku. Terus terang, sikap itu mengecewakanku lebih dari saat
aku menyadari bahwa aku dan Sunny memang tidak memiliki hubungan darah.
“Kamu memang laki-laki pertama dalam hidupku, tapi bukan
berarti karena melarikan diri setelah apa yang kamu lakukan membuatku nggak
bisa menjalin hubungan dengan orang lain,” kata-katanya kedengaran amat serius.
“Lagian apa menurut kamu Sunny itu mirip dengan kamu?”
“Dia nggak mirip aku karena terlalu mirip kamu,” celetukku,
tak puas dengan jawaban yang selalu menjadi pertanyaan dan balik menyerangku.
“Lalu siapa orangnya? Wenchester?”
Air muka Saira berubah. Sepertinya dia tidak suka nama itu
disebut. “Kamu sama sekali nggak asyik,” gerutunya sambil melangkah.
“Tapi, dia nggak ada tampang bulenya sama sekali,” kataku,
kembali memancing kejujurannya.
“Berarti dia juga bukan anak kamu,” putus Saira, tapi sambil
tertawa. “Kamu lupa kalau kamu juga bule? Walaupun setengah?”
“Jadi Sunny bukan anakku?”
“Kenapa kamu bisa berpikir begitu?”
Aku menghembuskan nafas lelah. “Apa kamu nggak bisa memberi
jawaban saja ketimbang ngasih pertanyaan lain?” tukasku. “Jelas aku berpikir
begitu karena kita pernah melakukannya! Apa lagi?! Lagian sebelum kamu
ditangkap, bukannya kamu yang bilang sendiri kamu ke Australia untuk
mencariku?! Aku pikir kamu mencariku karena Sunny sudah lahir dan kamu
menitipkannya sama teman kamu ‘kan?!”
Gadis itu menatapku skeptis. Aku mulai bosan dengan wajahnya
yang seperti itu.
“Aku mencari kamu karena aku masih ingin bertemu. Tapi,
penjara itu mengubah semuanya. Aku lebih memikirkan Sunny karena dia masih
kecil sekali dan sejak lahir aku nggak benar-benar mengurusnya dengan baik.
Waktu aku tahu aku hamil dia, aku panik tapi karena dia satu-satunya yang
kupunya, aku mempertahankan Sunny. Aku menyesal harus berakhir di penjara
sementara dia harus hidup dengan orang lain. Kamu pikir di penjara itu enak,
walaupun Mama-ku mengusahakan agar aku keselamatanku dijaga?”
“Itu nggak menjawab pertanyaanku tentang siapa ayah Sunny,
Saira!”
“Kamu berkata seolah kamu cemburu aku menjalin hubungan
dengan orang lain selain kamu, sementara kamu sendiri menikah dengan gadis yang
menghancurkan aku! Apa kamu masih berhak menanyakan sesuatu yang bukan urusan
kamu yang aku juga nggak mau mengingatnya?! Apa kamu nggak sadar aku nggak
pernah mau membicarakannya karena itu menyakitkan?!”
“Ini semua nggak akan terjadi kalau kamu nggak menghilang.
Aku mencari kamu seperti orang gila! Aku mengakui kesalahanku soal hari itu dan
aku juga menyesal karena nggak mengejar kamu!”
“Rasanya aku sudah bilang berkali-kali aku menghilang karena
kamu! Kamu tidur sama aku! Kamu tidur sama perempuan yang ada di apartemen yang
ternyata adalah tunangan kamu! Saat itu kamu memang nggak mengkhianati aku,
tapi kamu memakai aku untuk mengkhianati tunangan kamu! Dan aku masih terlalu
kecil untuk mengerti hubungan yang seperti itu!” Saira berteriak membungkamku.
Aku belum pernah melihatnya seemosi ini. “Itu belum termasuk saat aku tahu
ternyata kamu menikahi si kawat gigi. Memang, perasaanku sudah jauh berubah
terhadap kamu, aku merasa bodoh mencari kamu ke Australia sehingga kejadian itu
menimpaku. Aku menyesali itu seumur hidupku, anakku harus menderita dan
semuanya karena kamu!”
“Kenapa kamu malah menyalahkan aku?!”
Bibir Saira gemeretak menahan amarah. “Kamu tahu, aku benci
sama semua kebetulan yang membuat kita harus bertemu lagi!” teriaknya. “Dan aku
lebih benci lagi aku harus memohon sama kamu hanya untuk bisa bertemu sama
anakku!”
Aku menelan ludah. Pertengkaran ini harus dihentikan. “Kalau
kamu merasa benci, kamu nggak perlu merasa kalau aku melakukan ini karena apa
yang ada di masa lalu,” kataku, rasa perih seakan menancap dalam-dalam di
dadaku. “Aku gurunya dan aku hanya berniat membantu seorang murid yang bahkan
untuk bertemu ibunya saja begitu sulit... siapa yang tega melihat hal seperti
itu?”
Saira memilih diam dan mengalihkan matanya dariku.
“Kamu juga kekanakan seperti ibu kamu,” kataku pelan. “Kamu
nggak perlu memohon sama aku juga kalau kamu pulang ke rumah. Bukankah itu yang
bikin ibu kamu melakukan hal ini? Supaya kamu pulang?”
“Kamu nggak ngerti...,” Saira berkata, dengan pelan. “Ini
nggak sesederhana yang kamu pikirkan.”
Aku tidak ingin melanjutkan pertengkaran ini; aku ingin
segera pulang karena malam sudah menjelang. “Pulanglah, Saira...,” kataku.
“Dengan begitu... kita nggak perlu harus bertemu seperti ini lagi....”
***
Komentar
0 comments