[Novel Romantis] Saira Ch. 19 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Saat bel pulang berbunyi lagi, tak ada yang berubah dari halaman belakang di mana aku dan Sunny menunggu Saira muncul. Anak itu kembali kecewa; kali ini padaku. Dia menangis tersedu-sedu; sebelumnya tidak pernah. Aku berusaha menenangkannya namun tidak sanggup lagi berjanji. Aku tidak bisa menjamin ibunya akan menemuinya; aku bahkan tidak berdaya. Didukung oleh cuaca mendung, kesedihan rasanya makin pekat saja.
Pak Didi terlihat cemas melihat Sunny menangis sampai matanya bengkak. Aku tidak menjelaskan banyak karena ini rahasia kecil kami. Meski pun Pak Didi sepertinya bisa dipercaya karena dia jelas ikut sedih saat melihat Sunnya terisak-isak.
“Dia kangen Mamanya,” aku menjelaskan ke Pak Didi.
“Sunny selalu kangen Mamanya. Kalau saya tahu Non Saira ada di mana pasti saya antar dia ke sana...,” kata Pak Didi. “Walaupun saya bakal dimarahin Nyonya, tapi saya nggak akan kehilangan nurani saya melihat anak kecil yang begitu sayang sama ibunya tapi untuk ketemu aja nggak bisa. Kalau seandainya Non Saira mau mengalah, Sunny nggak akan kayak gini... tapi memang Nyonya juga keras.”
“Apa benar kalau Saira pulang dia dikurung?” tanyaku lagi.
“Sunny mengira Mamanya dikurung karena pernah dengar Non Saira sama Nyonya ribut di rumah. Memang Nyonya sampai bilang kalau Non Saira nggak mau dengar, dia bakal dikurung supaya nggak ke mana-mana. Tau sendiri Non Saira juga keras, dia maunya bebas seperti selama ini...,”
Andai saja aku bertemu dengannya, akan kukatakan bahwa semua ini akan membaik kalau saja dia mengalah; mengalah untuk Sunny; mengalahn untuk menang.
“Saya pasti akan menemukan Saira, Pak Didi...,” aku berujar. “Saya sudah janji sama Sunny kalau dia pasti bisa ketemu sama Mamanya....”
“Makasih, Pak Guru,” ucapnya. Memandangku lekat-lekat. Saat dia harusnya sudah membawa Sunny, dia masih menatapku.
“Ada apa, Pak Didi?” tanyaku.
“Ah, enggak, Pak Guru teman Non Saira yang mana ya?” dia tiba-tiba bertanya.
“Saya pernah magang di SMA nya Saira dulu...,” jawbaku.
“Oh ya, ya...,” Pak Didi mengangguk-angguk sambil tersenyum. Tampaknya dia maklum lalu bersiap untuk naik ke mobil. “Saya pamit, Pak Guru. Makasih sudah menjaga Den Sunny....”
Aku memperhatikan mobil itu melaju hingga keluar gerbang sekolah dan merasa hampa. Belakangan tidak ada hal lain yang bisa kupikirkan selain bagaimana caranya agar Sunny tidak bersedih. Tapi, dengan memikirkannya, aku bisa lepas dari keluh kesah yang ada di rumah. Setidaknya di sekolah, menemani dan memperhatikan anak-anak membuatku merasa bahagia.
Aku melirik jam tanganku yang menunjukan pukul tiga sore. Setelah memastikan semua murid sudah dijemput keluarga, aku bisa pulang. Aku tidak berencana melakukan apa-apa sepulang dari sekolah. Aku masih belum berani mengajak Gigi makan di luar lagi; takut mood-nya akan menghancurkan suasana dan itu hanya membuat kami semakin jauh berselisih.
Tapi, saat aku kembali ke kantor, Retha sudah berada di sana tanpa Anna; padahal kantornya berada di sebelah.
“Kamu punya waktu setelah jam sekolah?” tanya dia dengan pelan namun tatapannya begitu penuh dan terpusat hanya kepadaku. “Untuk secangkir kopi?”
“Aku ingin tapi sayangnya aku punya jam pulang yang nggak boleh dilanggar,” jawabku diplomatis. “Mungkin lain kali?”
Retha mulai mendekatiku.
Aku tahu dia bertubuh tinggi. Penampilannya seperti guru dengan versi yang modis. Rok di atas lutut, sweater ketat dan sepatu hak tinggi berujung runcing. Harusnya dia bisa menarik perhatian pria lain, bukannya lelaki sepertiku yang lebih suka dengan anak-anak daripada wanita seksi. Aku memang payah dalam urusan wanita, tapi setidaknya aku berusaha setia.
Tanpa canggung dia berdiri di hadapanku dalam jarak kurang dari 20 cm. Aku hampir menabrak tubuhnya yang langsing; aku baru menyadarinya sekarang. “Ayolah, Sid,...” dia mencoba membujuk dan sekonyong-konyong menaruh kedua lengannya di bahuku.
Aku hanya menatap wajahnya. “Sorry,” ucapku tegas. “Aku punya makan malam dengan istriku.”
Dahinya seketika berkerut lalu melepaskanku. Sepertinya baru tahu kalau aku sudah menikah. Tampaknya dia langsung patah hati.
“Seriously?” dia terdengar protes. “Benar-benar nggak seru.”
“Maaf kalau kamu kecewa, Retha,” ucapku tersenyum simpul sambil membereskan barang-barangku di atas meja.
Di saat yang bersamaan, Anna masuk dan kaget melihat kami. Mungkin dia heran, apa yang dilakukan Retha tanpanya di sini? Tapi, tampaknya dia tidak berpikiran buruk soal itu.
“Sebentar lagi hujan, Ret,” kata Anna dengan buru-buru menuju mejanya. Dia sepertinya ingin cepat pulang. “Kamu bisa nyetir lebih cepat?”
“Bisa, sayangnya Sid nggak mau ikut,” jawab dia melirik Anna lalu kembali padaku. “Mr. Adams rupanya sudah menikah....”
Anna malah tertawa, “tuh kan?” dia menambahkan sambil melihat ke arahku. “Aku bilang juga apa?”
Aku baru tahu ternyata mereka suka membicarakanku di belakang. Itu bukan sesuatu yang bagus, tapi baik untuk menyadarkan Retha agar bersikap sewajarnya terhadapku. Aku memang tidak suka dengan wanita agresif yang belum apa-apa sudah ingin memelukku bahkan menciumku. Itu sesuatu yang nggak pantas dilakukan oleh seorang guru; di sekolah pula.
“Jadi kamu nggak bisa ikut ngopi sore bareng kita, Sid?” Anna bertanya padaku.
“Maaf, kayaknya lima menitku sudah habis,” jawabku dengan pasti.
“Alright,” balas Anna yang sudah menenteng tas dan jaketnya. “Sampai jumpa besok, Sid.”
Aku mengangguk sambik memperhatikan Retha yang masih berusaha menggodaku dengan langkah yang diikuti gerakan pinggulnya. Dia membuatku tertawa geli. Aku melirik jam tanganku lagi, lima belas menit sudah habis hanya untuk meladeni para wanita yang ingin minum kopi bersama.
Setelah memastikan barang-barang di mejaku tersusun rapi, aku menuju parkiran mobil. Rintik hujan sudah membasahi tanah dan langit tidak sekedar mendung; gelap. Dengan kecepatan sedang aku melewati gerbang sekolah sehingga aku bisa melihat ada seseorang yang berdiri di depan pagar sekolah.
Aku memperhatikan sosok seorang perempuan yang tampak menunggu di tengah rintik hujan. Ketika mobilku lewat di depannya, aku baru sadar bahwa itu adalah Saira. Segera aku menepikan mobil dan berlari keluar.
Syukurlah itu benar-benar dia!
“Azid...,” dia memanggil namaku dengan suara pelan yang kedengaran sedih.
“Kamu ke mana saja?” aku menanyainya dan dia menatapku sambil menggeleng; tampak memintaku untuk tidak bertanya sesuatu yang belum mau dia jawab.
“Tolong aku...,” katanya; menangis. Air matanya tersamarkan oleh suara hujan yang tiba-tiba bergemuruh. “Aku mohon, kali ini tolong aku....”
“Kamu selalu tahu aku akan melakukan apa saja,” ujarku sambil mendekat beberapa langkah. Aku memiliki perasaan yang amat kuat untuk memeluk tubuhnya yang kurus.
Saira tertunduk. Ia menahan isak tangisnya saat akhirnya aku memeluknya. Aku merindukannya. Aku sangat merindukannya....
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments