๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Saat bel pulang berbunyi lagi, tak ada yang berubah dari
halaman belakang di mana aku dan Sunny menunggu Saira muncul. Anak itu kembali
kecewa; kali ini padaku. Dia menangis tersedu-sedu; sebelumnya tidak pernah.
Aku berusaha menenangkannya namun tidak sanggup lagi berjanji. Aku tidak bisa
menjamin ibunya akan menemuinya; aku bahkan tidak berdaya. Didukung oleh cuaca
mendung, kesedihan rasanya makin pekat saja.
Pak Didi terlihat cemas melihat Sunny menangis sampai
matanya bengkak. Aku tidak menjelaskan banyak karena ini rahasia kecil kami.
Meski pun Pak Didi sepertinya bisa dipercaya karena dia jelas ikut sedih saat
melihat Sunnya terisak-isak.
“Dia kangen Mamanya,” aku menjelaskan ke Pak Didi.
“Sunny selalu kangen Mamanya. Kalau saya tahu Non Saira ada
di mana pasti saya antar dia ke sana...,” kata Pak Didi. “Walaupun saya bakal
dimarahin Nyonya, tapi saya nggak akan kehilangan nurani saya melihat anak
kecil yang begitu sayang sama ibunya tapi untuk ketemu aja nggak bisa. Kalau
seandainya Non Saira mau mengalah, Sunny nggak akan kayak gini... tapi memang
Nyonya juga keras.”
“Apa benar kalau Saira pulang dia dikurung?” tanyaku lagi.
“Sunny mengira Mamanya dikurung karena pernah dengar Non
Saira sama Nyonya ribut di rumah. Memang Nyonya sampai bilang kalau Non Saira
nggak mau dengar, dia bakal dikurung supaya nggak ke mana-mana. Tau sendiri Non
Saira juga keras, dia maunya bebas seperti selama ini...,”
Andai saja aku bertemu dengannya, akan kukatakan bahwa semua
ini akan membaik kalau saja dia mengalah; mengalah untuk Sunny; mengalahn untuk
menang.
“Saya pasti akan menemukan Saira, Pak Didi...,” aku berujar.
“Saya sudah janji sama Sunny kalau dia pasti bisa ketemu sama Mamanya....”
“Makasih, Pak Guru,” ucapnya. Memandangku lekat-lekat. Saat
dia harusnya sudah membawa Sunny, dia masih menatapku.
“Ada apa, Pak Didi?” tanyaku.
“Ah, enggak, Pak Guru teman Non Saira yang mana ya?” dia
tiba-tiba bertanya.
“Saya pernah magang di SMA nya Saira dulu...,” jawbaku.
“Oh ya, ya...,” Pak Didi mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Tampaknya dia maklum lalu bersiap untuk naik ke mobil. “Saya pamit, Pak Guru.
Makasih sudah menjaga Den Sunny....”
Aku memperhatikan mobil itu melaju hingga keluar gerbang sekolah
dan merasa hampa. Belakangan tidak ada hal lain yang bisa kupikirkan selain
bagaimana caranya agar Sunny tidak bersedih. Tapi, dengan memikirkannya, aku
bisa lepas dari keluh kesah yang ada di rumah. Setidaknya di sekolah, menemani
dan memperhatikan anak-anak membuatku merasa bahagia.
Aku melirik jam tanganku yang menunjukan pukul tiga sore.
Setelah memastikan semua murid sudah dijemput keluarga, aku bisa pulang. Aku
tidak berencana melakukan apa-apa sepulang dari sekolah. Aku masih belum berani
mengajak Gigi makan di luar lagi; takut mood-nya akan menghancurkan suasana dan
itu hanya membuat kami semakin jauh berselisih.
Tapi, saat aku kembali ke kantor, Retha sudah berada di sana
tanpa Anna; padahal kantornya berada di sebelah.
“Kamu punya waktu setelah jam sekolah?” tanya dia dengan
pelan namun tatapannya begitu penuh dan terpusat hanya kepadaku. “Untuk
secangkir kopi?”
“Aku ingin tapi sayangnya aku punya jam pulang yang nggak
boleh dilanggar,” jawabku diplomatis. “Mungkin lain kali?”
Retha mulai mendekatiku.
Aku tahu dia bertubuh tinggi. Penampilannya seperti guru
dengan versi yang modis. Rok di atas lutut, sweater ketat dan sepatu hak tinggi
berujung runcing. Harusnya dia bisa menarik perhatian pria lain, bukannya
lelaki sepertiku yang lebih suka dengan anak-anak daripada wanita seksi. Aku
memang payah dalam urusan wanita, tapi setidaknya aku berusaha setia.
Tanpa canggung dia berdiri di hadapanku dalam jarak kurang
dari 20 cm. Aku hampir menabrak tubuhnya yang langsing; aku baru menyadarinya
sekarang. “Ayolah, Sid,...” dia mencoba membujuk dan sekonyong-konyong menaruh
kedua lengannya di bahuku.
Aku hanya menatap wajahnya. “Sorry,” ucapku tegas. “Aku
punya makan malam dengan istriku.”
Dahinya seketika berkerut lalu melepaskanku. Sepertinya baru
tahu kalau aku sudah menikah. Tampaknya dia langsung patah hati.
“Seriously?” dia
terdengar protes. “Benar-benar nggak seru.”
“Maaf kalau kamu kecewa, Retha,” ucapku tersenyum simpul
sambil membereskan barang-barangku di atas meja.
Di saat yang bersamaan, Anna masuk dan kaget melihat kami.
Mungkin dia heran, apa yang dilakukan Retha tanpanya di sini? Tapi, tampaknya
dia tidak berpikiran buruk soal itu.
“Sebentar lagi hujan, Ret,” kata Anna dengan buru-buru
menuju mejanya. Dia sepertinya ingin cepat pulang. “Kamu bisa nyetir lebih
cepat?”
“Bisa, sayangnya Sid nggak mau ikut,” jawab dia melirik Anna
lalu kembali padaku. “Mr. Adams rupanya sudah menikah....”
Anna malah tertawa, “tuh kan?” dia menambahkan sambil
melihat ke arahku. “Aku bilang juga apa?”
Aku baru tahu ternyata mereka suka membicarakanku di
belakang. Itu bukan sesuatu yang bagus, tapi baik untuk menyadarkan Retha agar
bersikap sewajarnya terhadapku. Aku memang tidak suka dengan wanita agresif
yang belum apa-apa sudah ingin memelukku bahkan menciumku. Itu sesuatu yang
nggak pantas dilakukan oleh seorang guru; di sekolah pula.
“Jadi kamu nggak bisa ikut ngopi sore bareng kita, Sid?”
Anna bertanya padaku.
“Maaf, kayaknya lima menitku sudah habis,” jawabku dengan
pasti.
“Alright,” balas Anna yang sudah menenteng tas dan jaketnya.
“Sampai jumpa besok, Sid.”
Aku mengangguk sambik memperhatikan Retha yang masih
berusaha menggodaku dengan langkah yang diikuti gerakan pinggulnya. Dia
membuatku tertawa geli. Aku melirik jam tanganku lagi, lima belas menit sudah
habis hanya untuk meladeni para wanita yang ingin minum kopi bersama.
Setelah memastikan barang-barang di mejaku tersusun rapi,
aku menuju parkiran mobil. Rintik hujan sudah membasahi tanah dan langit tidak
sekedar mendung; gelap. Dengan kecepatan sedang aku melewati gerbang sekolah
sehingga aku bisa melihat ada seseorang yang berdiri di depan pagar sekolah.
Aku memperhatikan sosok seorang perempuan yang tampak
menunggu di tengah rintik hujan. Ketika mobilku lewat di depannya, aku baru
sadar bahwa itu adalah Saira. Segera aku menepikan mobil dan berlari keluar.
Syukurlah itu benar-benar dia!
“Azid...,” dia memanggil namaku dengan suara pelan yang
kedengaran sedih.
“Kamu ke mana saja?” aku menanyainya dan dia menatapku
sambil menggeleng; tampak memintaku untuk tidak bertanya sesuatu yang belum mau
dia jawab.
“Tolong aku...,” katanya; menangis. Air matanya tersamarkan
oleh suara hujan yang tiba-tiba bergemuruh. “Aku mohon, kali ini tolong
aku....”
“Kamu selalu tahu aku akan melakukan apa saja,” ujarku
sambil mendekat beberapa langkah. Aku memiliki perasaan yang amat kuat untuk
memeluk tubuhnya yang kurus.
Saira tertunduk. Ia menahan isak tangisnya saat akhirnya aku
memeluknya. Aku merindukannya. Aku sangat merindukannya....
***

Komentar
0 comments