[Novel Romantis] Saira Ch. 19 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Selamat hari senin. Jangan sampai benci hari senin ya, karena Saira akan menemani kalian dengan kisahnya yang mengharu biru. Mau baca novel online gratis? Di sini tempatnya!
Happy reading! 

Kenangan Yang Menjauh~

Sudah tiga hari Saira tidak datang. Aku dan Sunny selalu menunggu di halaman belakang. Mencapai hari ketiga ini, Sunny semakin murung dan tak kalah muram dengan hari-hari sebelumnya. Seandainya saja aku tahu Saira berada di mana, aku akan membawanya ke sana. Bodohnya aku tidak bertanya di mana dia tinggal. Aku juga tidak meminta nomor telepon; aku sendiri juga ragu Saira punya telepon genggam. Dia benar-benar kelihatan seperti orang yang tak punya apa-apa. Ya, sepertinya harta berharga satu-satunya bagi Saira adalah Sunny. Tapi, kenapa dia menghilang lagi setelah dia berjanji padaku akan kembali lagi? Paling tidak demi putranya.
“Mama pasti sakit...,” kata Sunny. Suaranya yang pelan terdengar merengek. “Mama nggak bisa datang....”
Sunny seolah mengatakan bahwa sakit adalah satu-satunya hal yang menghentikan Saira. Selain itu tak ada lagi yang bisa menghalanginya untuk datang menemui Sunny.
“Kamu tahu Mama sakit apa?” aku bertanya dengan khawatir.
Sunny menggeleng.
“Apa Mama sering seperti ini?”
Anak itu mengangguk dengan polos.
Ada perasaan marah di dalam hatiku saat memandangi Sunny yang ingin menangis tapi dia berusaha untuk menahannya. Sepertinya dia diajarkan untuk tidak terlihat lemah oleh Saira karena dia seorang anak lelaki. Tapi, bagiku, anak lelaki atau perempuan tetap tak pantas dipisahkan; mereka akan tetap menangis tak peduli betapa kuatnya mereka.Teringat bahwa istriku juga mengalami depresi yang parah karena orang yang sama; Saira juga menyebutnya kekanakan, membuatku ingin menemuinya. Entah. Aku benar-benar sangat kesal.
Saat Pak Didi akhirnya datang juga, Sunny tampak tak ingin naik ke mobil. Dia memeluk kakiku dan berpegangan di sana saat Pak Didi akhirnya harus turun dari mobil untuk membujuknya.
“Den Sunny pulang ya?” ujarnya.
Tapi Sunny menggeleng-geleng sambil tetap menyembunyikan wajahnya di kakiku.
Pak Didi langsung kelihatan kewalahan. Dia memandangku dengan khawatir.
“Sunny, besok ke sini lagi ya?” aku ikut berujar sambil jongkok agar dia mau naik ke mobil. “Besok ada pelajaran berenang.”
Dia tetap menolak.
“Biasanya nggak pernah begini,” kata Pak Didi padaku. “Apa tadi ada kejadian, Pak Guru?”
Aku menghela nafas. “Beberapa hari ini dia murung,” jawabku, tiba-tiba jadi ingin menanyakan sesuatu padanya. “Apa di rumah dia seperti ini juga?”
Pak Didi tampak iba. “Den Sunny mau ketemu sama Mamanya tapi nggak dibolehin sama Nyonya,” jawab Pak Didi. “Jadinya di rumah cuma sama pembantu dan tukang kebun, Pak Guru....”
“Kenapa Sunny nggak dibolehin ketemu sama Mamanya?”
“Saya nggak bisa cerita, Pak Guru...,” jawab Pak Didi lagi, ikut muram sambil memandangi Sunny yang masih berpegangan pada kakiku.
“Pak Didi, saya kenal Mamanya Sunny,” ujarku.
Pak Didi masih menatapku ragu. “Saya nggak mau dimarahi Nyonya, Pak...,” katanya.
“Saira juga mau ketemu anaknya,” kataku. “Saya tahu itu, Pak Didi... tapi kenapa Mamanya nggak mengizinkan dia ketemu sama Sunny?”
Pria itu menatapku lagi, kali ini melunak. “Nyonya Maunya Non Saira pulang, tapi dianya nggak mau. Selama Non Saira juga nggak pulang, dia nggak ngizinin Non Saira ketemu Sunny...,”
“Mama nggak mau pulang...,” kata Sunny merengek. “Kalau Mama pulang, dikurung sama Oma....,”
Aku sangat terkejut mendengar pengakuan Sunny yang mulai menangis.
“Non Saira itu keras kepalanya luar biasa kayak Nyonya. Tapi, gimana pun Non Saira anak satu-satunya. Ibu mana yang nggak mau bersama anaknya. Itu satu-satunya jalan supaya Non Saira pulang...,”
“Apa Pak Didi tahu kenapa Saira nggak ingin pulang?”
“Saya nggak tahu, Pak Guru. Tapi, sebelum Non Saira menghilang dan tiba-tiba ditangkap di Australia, dia pernah bilang sama Mamanya kalau dia nggak bisa bikin Mamanya bangga. Daripada menyusahkan dia lebih memilih pergi,” kenang Pak Didi.
Jika bertemu Saira, mungkin aku akan membicarakan ini dengannya. Namun, untuk saat ini aku harus membujuk Sunny agar dia mau naik ke mobil.
“Sunny, kamu harus pulang ya? Besok ke sekolah lagi,” ujarku sambil menggendongnya.
“Aku mau ketemu sama Mama...,” rengeknya.
Aku dan Pak Didi sama-sama terenyuh melihat air matanya.
“Anak laki-laki nggak boleh nangis,” ujarku sambil membawanya ke mobil. “Besok kita pasti ketemu sama Mama....”
“Pak Guru janji aku bisa ketemu sama Mama?” dia bertanya begitu dia duduk di jok belakang.
“Ya,... Pak Guru janji...,” jawabku sambil mengusap pelan kepalanya.
Setelah Sunny mau duduk di sana, aku pun menutup pintunya. Tapi, Pak Didi masih berdiri di tempatnya menatapku dengan senyuman haru.
“Selama ini Den Sunny nggak bisa dekat sama siapa-siapa. Waktu Non Saira di Australia dan nggak bisa pulang, dia selalu minta ketemu...,”
“Sudah berapa lama Sunny tinggal sama Oma-nya?”
“Sejak umur empat tahun. Sebelumnya Sunny tinggal sama teman Mamanya sampai akhirnya dijemput sama Nyonya yang awalnya nggak tahu kalau Non Saira hamil. Saat itu, Sunny juga udah tahu siapa Mamanya. Dia punya fotonya Non Saira sama boneka kelincinya. Karena Nyonya nggak tega, Den Sunny dibawa ke Australia untuk ketemu Non Saira. Tapi, nggak bisa sering-sering karena Nyonya sibuk....”
Aku hampir tidak percaya dengan perkataan Pak Didi. Ternyata Mamanya Saira nggak sejahat itu padanya; walau caranya begitu ‘kasar’ dan Saira begitu keras seperti karang. Dia hanya ingin putri satu-satunya pulang.
“Maaf, Pak Guru, saya permisi dulu...,” Pak Didi akhirnya pamitan.
“Pak Didi, tunggu sebentar,” aku memanggilnya sebelum ia sempat menyalakan mesinnya. “Pak Didi tahu di mana rumah teman Saira tempat Sunny pernah dititipkan?”
“Tahu, Pak Guru. Tapi, dia sudah nggak tinggal di sana. Saya juga nggak tahu ke mana dia pindah...,” jawab Pak Didi, dan itu membuat jalanku kembali buntu.
***
“Aku nggak nyangka kamu bisa terikat begitu kuat dengan anak yang baru kamu kenal beberapa hari lalu,” Anna muncul lagi dan seperti biasanya membuyarkan pikiranku. Mungkin karena aku terlalu banyak melamun dan masih saja membuka data siswa itu. “Anak itu juga, dia dengan mudahnya bisa terbuka sama kamu bahkan supir keluarga yang biasanya nggak banyak bicara tiba-tiba bercerita panjang dengan kamu....”
Aku hanya tersenyum. Sulit untuk mengatakan bahwa banyak kebetulan yang membawaku ke sini. Tapi, Anna sepertinya guru yang baik juga; berbeda dengan Retha. “Apa kamu percaya dengan kebetulan?” aku bertanya padanya.
“Kebetulan yang bagaimana?” dia tampak tertarik dengan pertanyaanku.
“Aku mengenal nama yang tertulis di data siswa ini,” jelasku.
“Ibunya Sunny?”
Aku hanya tersenyum.
“Mantan pacar kamu?” tanya Anna tiba-tiba dan aku tersentak. Dia tertawa mendapati reaksiku. “Aku benar ya?” dia mulai mencandaiku.
Aku masih tertawa. Semua itu hanyalah kenangan yang menjauh.
“Kebetulan itu memang aneh. Tapi, ada beberapa yang bisa dijelaskan dengan logika. Pertemuan adalah sebuah misteri yang hampir nggak bisa terpecahkan. Karena itu ada kebetulan,” dia menjelaskan, tampak memberikanku dukungan atas perasaanku saat ini. “Dan... konon katanya, kebetulan yang sering terjadi adalah takdir.”
Takdir?
Aku mengurut kembali setiap pertemuan yang kuanggap kebetulan paling ajaib. Melihatnya di Australia, lalu di sekolah ini. Semua itu seolah terhubung kepada sesuatu -Sunny; seorang anak yang membuatku merasakan bagaimana memiliki seorang anak.
“Tapi, yang aku lihat di antara kamu dan Sunny adalah sebuah ikatan,” kata Anna. “Ikatan yang kuat bisa saja mengubah nasib.”
Aku beruntung memiliki rekan kerja seperti Anna. Dia wanita yang baik dan cerdas. Walaupun dia mempunyai seorang sahabat yang tidak terlalu kusukai; Retha. Kami menemukannya saat keluar dari ruang guru. Dia tengah berdiri di sana; seperti menguping.
“Kelas renang sudah selesai,” dia memberitahu kami. Tapi, aku tidak yakin dia datang ke sini hanya untuk mengatakan itu walaupun setelah kelas renang ada kelas Bahasa Inggris di mana Anna akan mengajar.
Entah perasaanku saja atau Retha memang sengaja tidak masuk ruangan karena ingin mendengarkan pembicaraan kami. Tapi, untuk apa dia menguping?
***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments