[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch.6 (3/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Talisa!” seseorang memanggilnya di saat Talisa baru selesai mengemasi barangnya ke dalam tas. Rupanya Nelly, kepala administrasi yang selalu menyuruhnya melakukan hal-hal yang tidak penting. Dialah biang kerok mengapa bawahannya yang lain mulai hobi memerintah Talisa seenaknya.
Talisa yang sudah siap untuk pulang, hampir telat bertemu teman-temannya. Melihat Nelly sudah menyandang tas nya, rasanya wanita yang hamil lima bulan itu juga mau pulang. Tapi, ada sebuah berkas yang ia sodorkan pada Talisa.
“Kamu berikan ke Chakka ya?” kata dia.
Ya Tuhan, kantor Chakka berada di lantai tiga dan itu artinya Talisa harus naik tangga. Apa tidak ada yang mengerti bahwa seharian ini ia  sudah naik tangga belasan kali dan di saat ia baru merasa lega ia harus mengulangnya lagi?
Dengan lesu, Talisa pun menaiki lantai tiga. Sepatu tumit lima senti ini membuat kakinya pegal. Ah, hari yang menyebalkan!, gerutunya.
Talisa masih menggerutu sampai tiba-tiba  ia mendengar suara-suara orang sedang berbicara. Tidak ada orang lain di lantai tiga selain Chakka dan Dara karena hanya kantor mereka yang berada di sana –tepatnya berhadapan. Chakka di sebelah kiri dan Dara di sebelah kanan.
Ketika lewat, pintu kantor Dara terbuka dan Talisa sempat mengintip ke dalam ruangan itu; ternyata kosong. Talisa harus masuk ke ruangan Chakka untuk mengantarkan berkas sekali pun Dara berada di dalam. Talisa tidak boleh terlambat di acara reuni kecil-kecilan itu karena ialah yang menggagasnya. Tapi, Talisa hanya bisa terdiam di depan pintu ruangan Chakka. Menunggu dengan bingung sembari mendengarkan pertengkaran mereka dan itu bukanlah masalah pekerjaan.
“Jangan mimpi, Chakka!” makian Dara membuatku terkaget-kaget. “Kamu pikir setelah semua yang terjadi, aku berubah pikiran?! Semuanya sudah selesai!”
Tak ada jawaban dari Chakka.
Tapi, Talisa terkejut saat pintu di hadapannya bergerak seperti dihantam oleh sesuatu lalu Dara menjerit. “Lepas, Chakka!”
Apa hal itu terjadi lagi?
Jantung Talisa kembali berdebar keras. Apa yang mereka lakukan?
Harusnya Talisa pergi. Tahu akan menangis dan kecewa lagi. Tapi Talisa tetap di sana, diam dan mendengarkan.
Pintu itu kembali dihantam dengan lebih keras. Apa Chakka memukul pintunya?
“Cukup!” Chakka berteriak. Itulah pertama kalinya Talisa mendengar dia berteriak marah. Suaranya keras dengan penekanan yang dalam sampai Talisa-lah yang merinding mendengarnya sementara entah bagaimana dengan Dara.
Talisa membayangkan bagaimana perempuan itu diseret dan didorong ke pintu seperti yang dulu pernah Chakka lakukan padanya dengan emosional. Dia kelihatan sangat ketakutan saat itu. Tapi, mungkin kali ini Chakka jauh lebih beringas.
“Chakka!” Dara berteriak lagi.
“Berhenti main-main dengan perasaan orang lain!” Chakka balas berteriak sambil kembali memukul pintu.
BRAK!!
Talisa terkejut dan semakin gemetar.
“Aku nggak mempermainkan kamu!” teriak Dara. “Kamu yang datang padaku! Ingat! Kamu yang membuat semuanya berantakan!”
“Oh ya?!”
“Aku tahu kamu sengaja! Kamu berusaha memanfaatkan keadaan supaya aku jatuh cinta sama kamu! Tapi, asal kamu tahu, Chakka, kamu nggak akan pernah bisa apa pun yang mau kamu lakukan! Aku nggak peduli! aku nggak mencintai kamu! Terimalah kenyataan!”
BRAK!!
Pintu itu kembali dihantam dengan tinju.
“Chakka! Hentikan!” Dara menjerit dan pintu bergerak-gerak lagi. Sepertinya Dara berusaha melepaskan diri tapi Chakka menahannya.
BRAKK!
“Kamu mau tahu apa yang disebut kesalahan?!” Chakka balas memakinya. “Kamu benar-benar mau tahu apa yang disebut kesalahan?!”
Suara itu semakin mengerikan saja. Ditambah dengan suara rintihan Dara yang terdengar kesakitan. Apa yang Chakka lakukan padanya? Talisa menajamkan pendengarannya dalam rasa ragu apakah tidak sebaiknya ia mengetuk pintu untuk menghindari Chakka semakin menyakiti perempuan itu.
Tapi, pintu kemudian bergeming. Talisa mendekatkan telinganya untuk mendengar lebih seksama. Untuk sesaat hening –sebelum Talisa mendengar suara tangis Dara disela suaranya yang pelan sekali berkata “Hentikan ...” –suara yang terdengar begitu merana. Sepertinya mereka sudah menjauh dari pintu.
Di dalam mulai gaduh –seperti suara barang-barang jatuh di sela-sela teriakan sakit Dara yang meminta Chakka melepaskannya.
Talisa pun menjauh dari pintu. Namun suara itu masih terdengar –meski samar-samar, tapi membuatnya benar-benar tertekan.
Apa-apaan mereka?
“Kamu ingat saat semua orang bilang aku orang yang mengerikan?! Kamu ingat itu?!” Chakka masih berteriak. “Ya! Aku memang mengerikan! Sampai aku nggak bisa hidup normal seperti kamu dan saudara-saudara kamu yang berpikir bahwa aku psikopat?!”
A ... apa? Apa maksudnya mengerikan? Apa maksudnya tidak normal? Chakka psikopat?
“Kamu memang psikopat!” teriak Dara.
“Terus kenapa?! Kenapa? Hah?!”
“Kamu gila!”
“Ya! Aku memang gila dan itu semua gara-gara kamu! Aku berusaha untuk berubah! Aku berusaha untuk hidup normal seperti yang kamu inginkan! Tapi, apa?! Kamu menikah dengan laki-laki brengsek itu!”
Stop, Chakka!”
“Aku nggak akan berhenti! Aku nggak peduli kalau aku harus memaksa kamu! Karena kamu selalu memaksa aku untuk melakukan hal ini hanya supaya kamu mengerti!”
“Sakit, Chakka! Hentikan!”
“Sakit?! Kamu bilang sakit?! Bagaimana dengan yang sebelumnya?! Hah?! Kamu sama sekali nggak keberatan aku melakukannya!”
Talisa tidak habis pikir. Kalau mereka melakukan sesuatu yang ... tidak pantas artinya ....
“Berhenti, Chakka! Kamu nggak harus seperti ini!”
“Terus aku harus bagaimana?! Bagaimana, hah?!”
Talisa tidak sanggup membayangkannya. Ia harus pergi.
“Aku tahu, waktu itu kamu datang hanya karena punya masalah dan kesepian! Kamu memperlakukan aku seolah aku ini tempat yang bisa kamu datangi di saat butuh dan pergi di saat kamu bosan! Seperti itu?!”
“Lepaskan aku, brengsek!”
“Kamu bilang aku brengsek?!”
“Sakit! Lepaskan!”
Talisa menutup telinganya dan segera berlari turun melewati tangga. Semua orang sudah pergi. Artinya hanya Talisa dan dua orang itu yang tersisa di sini ....
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
***

Previous

Next



Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments