[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch.6 (2/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Oh ya, Talisa, bukannya kamu tadi beli Coca Cola?” tanya Chakka tiba-tiba.
“Coca Cola di kafeteria habis,” jawab Talisa, sambil tetap membolak-balik halaman di dalam sebuah map.
“Kamu lihat tadi Dara ke sini?” dia bertanya, menatap Talisa serius. Dari rautnya, ia tampak ingin memastikan bahwa Talisa tidak menguping atau megintip lagi. Dia tidak mempercayai jawaban Talisa.
“Nggak,” jawab Talisa acuh. Tadi ia pergi ke pantry dan bertemu Onny di sana lalu sempat mengobrol sebentar. Onny melihat Coca Cola itu dan tanpa basa-basi meminumnya –seingat Talisa. “Kalau kamu mau kamu bisa minta tolong office boy untuk beli di luar.”
“Ah iya ...,” dia mengangguk-angguk. Berhenti bertanya pada Talisa dan langsung meraih gagang telpon. “Bisa tolong belikan saya Coca Cola?”
Berkas yang diperlukan Chakka ketemu. Talisa segera menyerahkan lembaran itu padanya tanpa berlama-lama. “Ini dia,” katanya, menyodorkan berkas itu. “Ada lagi?”
“Oh, terima kasih,” Chakka menerima dokumen itu dengan senyuman di bibirnya. “Nggak. Ini aja.”
“Aku boleh kembali ke ruangan?” Talisa bertanya padanya dan Chakka segera mengangguk.
Talisa langsung melangkah ke pintu. Sesak itu kembali menyerang dadanya.
“Kamu bukan pembohong yang handal, Talisa,” dia berkata. “Pasti ada sesuatu yang bikin kamu terganggu. Ayo bilang!”
“Nggak ada. Tadi aku lupa ada hal yang harus aku kerjakan ...”
“Aku nggak percaya. Kamu nggak bakat berbohong, kamu tahu?”
Talisa menghela nafas. Ternyata Chakka bisa juga memaksanya. Ini artinya dia memaksa Talisa juga untuk ikut campur masalah pribadinya.
“Aku juga atasan kamu, harusnya kamu menjawab kalau ditanya.”
Talisa menoleh ke arahnya. “Kamu nggak tahu rasanya berdiri di antara dua orang dewasa yang bertengkar setiap saat dan berbaikan di saat yang sama seolah mereka nggak punya pekerjaan yang lebih penting!” kata Talisa dengan sangat jujur. “Ya, aku langsung pergi karena aku lihat bosku masuk, karena cukup kamu yang tahu kalau aku pernah menguping dan aku nggak mau kalau dia juga tahu soal itu. Aku nggak mau dipecat!”
Chakka masih termangu di tempat dia berdiri. Dia hanya menatapku. “Memangnya siapa yang mau memecat kamu?”
“Siapa lagi?”
“Memangnya kamu pikir aku juga nggak bisa memecat orang?” cetus dia. “Kalau misalnya yang menguping itu teman kamu yang suka bergosip, aku pastikan Dara nggak perlu repot-repot memecat. Aku duluan yang melakukannya. Dan untungnya itu kamu!”
“Aku?” Talisa mengernyit. Apa dia sedang berusaha mengatakan bahwa dirinya istimewa? “Memang kenapa aku nggak dipecat? Kamu takut aku bilang ke orang lain?”
“Apa? Takut?” dia tertawa geli.
“Terus apa?”
Chakka masih tertawa. “Kamu ini benar-benar lugu ya ...,” kata dia. “Aku nggak pernah ketemu gadis seperti kamu sebelumnya.”
Talisa hanya merengut sambil memandangnya. Orang ini benar-benar tidak terduga. Di satu sisi dia kelihatan pintar tapi terkadang seperti anak kecil. Tertawa terus.
“Aku senang dengan orang yang apa adanya seperti kamu. Nggak peduli aku ini siapa, kamu bisa bersikap seperti itu ...,” kata dia lagi di sela-sela tawanya.
Kenapa dia malah tertawa? Adakah sesuatu yang lucu tentang dirinya? Talisa masih belum mengerti
“Seperti apa?”
“Kamu memperlakukan aku seperti tersangka yang tertangkap dengan barang bukti.”
Aah, apa tidak bisa kejadian hari itu lenyap dari pikiranku?! Gerutu Talisa.
“Tapi aku senang. Aku tahu kamu nggak akan mengatakannya pada siapapun,” kata dia tiba-tiba dan itu membuat Talisa amat tersanjung. “Kamu boleh nggak percaya ini, tapi aku punya intuisi yang kuat. Aku ...bisa menebak karakter seseorang ... dan menurutku kamu tipe yang bisa dipercaya dan seorang penjaga rahasia.”
“Hebat ...,” Talisa mencoba tersenyum. Pujian itu terdengar seperti rayuan yang memaksa untuk menyimpan rahasianya.
Talisa tidak mempercayai dirinya. Dia? Mempunyai intuisi yang kuat? Jika dia bisa memahami orang lain, dia tidak akan tega menyakiti hati gadis yang pernah bersamanya. Dia tidak akan menjadi seorang playboy. Ya, itulah yang Talisa tahu walau ia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya.
Sementara mata Talisa tertuju pada jam dinding yang menunjukan pukul tiga sore.  Talisa teringat masih punya pekerjaan di kantor administrasi, kalau tidak menyelesaikannya ia akan pulang telat. Talisa punya rencana berkumpul dengan teman-teman SMA nya setelah ini.
***

Previous


Next




Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments