๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Chakka menyodorkan sekaleng Coca Cola yang dia ambil di lemari. Talisa sedikit mengintip sedikit ternyata dia punya satu krat di dalamnya.
“Kalau ini sogokan supaya aku diam kayaknya nggak sebanding,” katanya mencoba masuk akal. Talisa bisa saja memerasnya untuk menaikan jabatan dari administrasi setingkat asisten manajer. Tapi, itu terlalu konyol.
“Kayaknya kamu syok,” kata Chakka santai.
“Haha!” kata Talisa lagi masih berusaha untuk tidak menatap Chakka. “Kamu menodai pikiran seorang gadis yang masih polos.”
“Aku tahu. Karena itu minumlah,” kata dia, setengah membujuk.
“Ini nggak diberi racun supaya aku hilang ingatan dan lupa soal hari ini ‘kan?”
Chakka tertawa jenaka. “Lihat saja. Segelnya masih utuh kok,” kata dia.
“Tapi, aku nggak minum beginian,” kata Talisa. “Kata Mama bisa bikin tulang keropos.”
“Kalau bikin tulang keropos, pabriknya pasti sudah ditutup dari dulu. Sudah, minum saja sana!” kata dia setengah memaksa. “Kamu sepertinya dehidrasi gara-gara syok.”
Dengan sangat terpaksa juga Talisa meraih kaleng itu di atas meja. Talisa tidak habis pikir mengapa ia disuruh minum Coca Cola setelah memergoki laki-laki itu mencium direktur? Entah mengapa senyum Chakka kali ini mengisyaratkan sesuatu. Harusnya dia panik, memohon pada Talisa agar tidak membuka aib nya. Tapi, semua kemungkinan yang terbesit di dalam otaknya sepertinya hanya imajinasi saja.
Talisa melirik jam dinding. Sudah pukul lima sore. “Aku harus pulang,” katanya sambil berdiri. “Kalau kamu menahanku di sini hanya supaya aku nggak buka mulut. Kamu nggak perlu melakukannya. Itu juga bukan urusanku kok ....”
“Tapi, kamu kelihatan sakit hati,” katanya.
Talisa segera berdiri. “Itu bukan urusanku!” balasnya, setengah menjerit.
Chakka tampak terkejut. Dia menatap Talisa tanpa berkedip. “Maaf ...,” katanya, pelan lalu tertunduk. Sepertinya dia memang sangat terganggu walaupun dari tadi dia kelihatan santai.
“Kamu nggak perlu minta maaf. Memang aku yang berada di tempat yang salah ....”
“Ya sudah ...” Chakka kemudian berdiri dari kursinya. “Kamu boleh pergi.”
Baguslah, kata Talisa dalam hati tapi ia sendiri masih kesal. Talisa menaruh kembali Coca Cola itu tanpa membukanya dan bergegas menuju pintu. Udara di ruangan ini membuatnya makin sesak.
Talisa melihat Chakka tertunduk. Tapi, dia mematahkan hatinya bahkan di saat Talisa belum betul-betul menyadari telah jatuh cinta padanya. Dia terlihat sangat sedih dan putus asa. Talisa bisa merasakannya dan itu membuatnya serba salah. Namun, Talisa tahu ia harus pergi. Ia menarik gagang pintu dengan tangannya yang masih gemetaran. Lalu menutupnya dengan hati-hati setelah keluar. Tiba-tiba ia kehilangan semua kekuatannya. Kedua kakinya seakan tak bertulang. Talisa berusaha untuk mengatur nafas tapi air mata membuatnya menjadi sulit. Itulah pertama kalinya Talisa menangis untuk cinta.

Komentar
0 comments