๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Talisa bercita-cita menjadi wanita karir yang sukses. Baginya wanita dengan setelan kantoran dan stiletto terlihat sangat keren. Talisa selalu mengira bahwa mereka punya gaya hidup yang glamor dan serba ada. Tinggal menjentikan jari, apapun yang mereka inginkan akan terwujud. Siapa yang tidak ingin hidup mapan dan dipuja? Tapi, Talisa tidak ingin seperti Dara. Dia memang memiliki semua yang ia inginkan di dunia, tapi Talisa tidak mau menjadi dirinya. Pokoknya Talisa tidak mau seperti penyihir itu.
She’s a nightmare dressed like a daydream ...
“Heh! Kamu!” satu kali dia pernah menegur Talisa.
Kali ini Talisa kebetulan bertemu dengannya saat ia berada di ruangan stafnya untuk mengantarkan surat. Talisa sudah menyapanya dengan senyuman. Dia berdiri di dekat mejanya bersama tumpukan dokumen yang lumayan tinggi –Talisa mulai punya firasat buruk soal itu.
“Kamu di bagian administrasi ‘kan?” tanya dia.
“Ya, Bu.” Jawab Talisa
“Bagus” dia menganguk-angguk. Menatap Talisa seakan dirinya seonggok sampah di lantai yang mengotori jalannya. “Sekarang tolong arsip di tempatnya masing-masing ya!”
Tinggi tumpukan map itu hampir setengah dari tinggi tubuh Talisa. Dara tidak memberinya waktu untuk berpikir bagaimana ia bisa mengangkatnya sendiri ke ruangannya.
“Cepat sana!” perintahnya setengah menghardik.
Tanpa pikir panjang Talisa memeluk tumpukan itu dengan kedua lengannya yang kurus. Berada di sekitar Dara membuat nafasnya sesak. Entah kehadirannya itu seperti racun amoniak, terhirup, bisa mati! Talisa buru-buru mengangkat tumpukan map itu, walaupun langkahnya tertatih.
Tapi, tiba-tiba semuanya jatuh berserakan di lantai. Talisa baru saja menabrak sesuatu karena tidak bisa melihat dengan jelas apa yang menanti di depannya. Si wanita penyihir pasti tertawa melihatnya menabrak dinding. Tapi, setelah semua kertas berserakan di lantai, Talisa demikian khawatir memungutnya kembali terlebih tahu Dara ada di sekitarnya untuk membuat gelisah sampai ia menemukan ada orang lain yang membantunya.
Oh, ternyata Talisa tidak menabrak sesuatu, melainkan seseorang.
Chakka!
“Kenapa kamu nggak suruh office boy?” Chakka bertanya pada Dara dan membuat Talisa heran. Kenapa pula dia membantu Talisa mengemasinya kalau tahu ini kerjaannya office boy?
Talisa diam sampai tiba-tiba Dara sudah berdiri di belakangnya –bertolak pinggang. Wajahnya terlihat amat gusar.
“Chakka, kamu ngapain sih?!” tegur penyihir itu.
Chakka segera berdiri. Talisa menyaksikan sendiri kalau Chakka melewati sosok Dara begitu saja dan meraih sebuah gagang telpon di salah satu meja. Ia memencet sebuah nomor. “Hallo? Ada office boy yang bisa ke lantai tiga? Sekarang! Penting!” katanya dan langsung menutup telpon setelah selesai bicara.
Dara menghampiri Chakka dengan kesal. “Bukannya ngurus administrasi itu urusannya dia?” protesnya.
“Kerja bagian administrasi itu surat menyurat dan arsip. Bukan ngangkat barang-barang, Dara!” tegas Chakka dan Talisa terkejut. Dia sudah tampak ingin pergi sedangkan Dara makin marah sampai ingin menyusulnya. Apa pun yang Chakka ingin lakukan saat masuk ke sini sebelum menabrak Talisa, mungkin ia jadi tidak ingin melakukannya.
Untungnya mereka tidak sampai bertengkar, karena itu bisa saja terjadi bahkan karena hal yang sepele. Tapi, setidaknya Talisa senang Chakka membelanya.
***

Komentar
0 comments