๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Aku lebih parah, Sa. Disuruh buang sampah,” kata Onny.
Onny, teman Talisa satu-satunya dikantor. Nama aslinya Vonnya Rosalia. Gadis berambut pendek dan ikal serta berpipi gemuk. Hobby-nya adalah bergosip
“Padahal front desk officer itu bukan membereskan meja yang berantakan. Alasannya karena semuanya harus bisa dikerjakan termasuk kerjaan yang sepele. Tapi, waktu itu, pernah ketahuan sama Pak Chakka, dia tanya ke supervisor-ku kenapa aku disuruh kerjaan yang bisa dikerjakan office boy. Dia malah ngeles, katanya si office boy keluar. Terus Pak Chakka panggil sendiri office boy-nya dan langsung bertanya. Karena jawaban nggak sinkron, makanya dia langsung dimarahi habis-habisan.”
“Maksud kamu ... Pak Chakka yang tampangnya asem itu?” tanya Talisa. Dia pernah melihat orang itu beberapa kali. Orang itu jarang terlihat turun dari lantai tiga untuk bersosialisasi dengan bawahan.
“Ya dia. Di sini cuma ada satu yang namanya Chakka. Friendly tapi suka memberi harapan palsu,” jelas Onny. “Tapi, kamu kok bilang tampangnya asem?”
“Habisnya setiap aku berpapasan sama dia, aku nggak pernah lihat dia senyum ...,” jawab Talisa.
Onny tertawa satu kali. “Mungkin dia berantem lagi sama big boss. Mereka ‘kan memang nggak pernah akur. Kadang nggak segan berdebat di depan karyawan. Kalau sudah begitu biasanya Chakka langsung walk out dengan kesal ....” Onny kembali mulai mengoceh. “Lagian dia ngerasa kamu penting untuk disenyumin? Haha, nggak lah!”
“Aku pikir mereka akrab,” kata Talisa lagi, teringat bahwa ia pernah beberapa kali melihat mereka merokok di kantor. Mereka mengobrol layaknya dua orang yang dekat. Sekilas Talisa juga mendengar mereka membicarakan masalah keluarga. Chakka juga memanggil ayahnya Dara dengan sebutan ‘Papa’.
“Yah, mungkin karena Chakka adalah anak angkat di keluarga Dara dan sangat disayang tapi kayaknya Dara nggak suka itu,” Onny kembali memelankan suaranya.
Talisa baru tahu itu.
“Kamu tahu, kakak dan adiknya Dara juga beranggapan kalau Chakka itu pengganggu karena orang tua Dara percaya sekali padanya? Chakka dianggap akan mengambil alih semua perusahaan yang dimiliki keluarga Dara. Bahkan pernah terdengar kabar bahwa dulu Chakka dan Dara sampai mau dijodohkan tapi Dara malah menikah dengan laki-laki yang nggak berguna.”
“Tapi, Dara lebih tua ‘kan?” Talisa menjadi penasaran.
Onny mendecak beberapa kali. “Chakka memang beruntung,” kata dia, sambil tersenyum sinis. “Dia hanya perlu mendapatkan Dara kalau dia menginginkan semua ini. Tapi, seperti biasa, Chakka pacarnya banyak dan dia bermasalah sama semua perempuan yang dia kenal. Kamu tahu nggak sebulan yang lalu ada cewek yang mencari dia ke kantor karena nggak terima diputusin? Seisi kantor heboh, tahu nggak? Aku pikir itu yang bikin Dara nggak suka sama dia!”
Orang yang mereka bicarakan tiba-tiba muncul. Terlihat Chakka dengan setelan kemeja biru langit dan celana hitamnya tengah menuju ke arah mereka. Mungkin dia ingin memfotokopi selembar surat yang ia genggam di tangannya.
Talisa diam dan tampaknya dia juga tidak tahu Onny sedang membicarakannya. Sedangkan Onny belum juga berhenti mengigau.
“Aku pikir dia mengincar Dara sekali pun dia janda. Tapi, Dara janda cantik tanpa anak yang menggoda. Jangankan lelaki dewasa, anak SMA juga pasti suka karena dia punya tubuh yang seksi dan dada yang kencang. Kalau Chakka berhasil mendapatkan Dara, artinya Chakka menang banyak ...” sambung dia.
“Onny ...,” desis Talisa karena Chakka sudah semakin dekat dan tampaknya dia mulai curiga pada gumaman Onny yang lumayan keras.
Tapi, Onny terlambat. Chakka sepertinya dengar kalimat yang terakhir.
“Siapa yang menang banyak?” tanya dia dan rasanya Talisa ingin mengubur kepalanya di dalam tanah.
Onny menoleh. Apapun yang Talisa rasakan saat ini, mungkin tidak sebanding dengan yang Onny rasakan ketika ia menengok ke belakang. Sosok yang dia gosipkan bertubi-tubi berdiri tepat di belakang dan menangkap basah gosip itu keluar dari mulutnya. Matilah mereka!
“Setahu saya front desk itu berada di depan, bukan di ruang fotokopi,” kata dia tenang seolah tidak tersinggung.
Onny segera kabur layaknya atlet jalan cepat. Kurang lima detik, sosoknya menghilang di balik pintu. Mungkin Onny melupakan sesuatu, laporan yang dia bawa ke sini untuk difotokopi. Tapi, entah mengapa setiap melihat Talisa dia segera lupa diri dan langsung saja bergosip.
Talisa sempat hilang akal sebelum kembali sibuk dengan mesin fotokopi. Ia masih punya satu map berkas yang harus dikerjakan dan karena Onny,Talisa menelantarkannya beberapa saat.
“Saya butuh ini cepat,” katanya masih menggenggam selembar kertas di tangannya.
Talisa sempat mengira bahwa dia akan menyuruhnya untuk menggandakan kertas itu di mesin fotokopi. Tapi, Chakka malah melakukannya sendiri.
“Jadi ... itu yang kalian pikirkan tentang saya?” Chakka bertanya pada Talisa seolah ialah yang mengatakan demikian. Dia sibuk memencet beberapa tombol dan selagi menunggu salinannya keluar dia menoleh pada Talisa yang mulai gugup.
Ah, Onny ...
Talisa tidak menyangka ia malah terkena getahnya.
Saat-saat berdiri di samping Chakka yang selalu berwajah tenang adalah siksaan. Jantungnya berdebar keras. Tapi tubuhnya seperti membeku.
Tiba-tiba tawa lirihnya terdengar. “Ada-ada saja ...,” kata dia. Chakka tidak marah.
Talisa menatapnya dengan heran.
“Kamu ... percaya itu?” dia bertanya pada Talisa lagi dan Talisa tidak sanggup memandang langsung ke wajahnya.
Talisa lumayan kaget, karena dia tersenyum. Lalu menggeleng pelan. Sebelum tertunduk. “Saya nggak tahu ...,” jawab Talisa pelan. Kedengarannya cukup diplomatis. “Bagaimana saya tahu kalau saya nggak mengenal seseorang dengan baik ... Saya ... belum cukup satu bulan di sini .... ”
Chakka masih tersenyum pada Talisa. Itu sangat mengherankan. Tapi, dia harus segera pergi karena sudah selesai memakai mesin fotokopi. Dia menatap Talisa lagi dan gadis itu kembali tertunduk menelan ludah. Talisa tidak tahu bahwa dia sedang memperhatikan apa yang sedang dilakukannya. “Kamu mau fotokopi dokumen sebanyak itu?” dia bertanya.
Talisa mengangguk pelan. Ya, itulah yang selalu aku kerjakan, jawab Talisa dalam hati.
“Bagaimana dengan pekerjaan kamu yang lain?” tanya dia.
“Saya ... hanya ditugasi fotokopi ...,” jawab Talisa ragu-ragu.
“Kamu di bagian apa?” tanya dia.
“Administrasi.”
“Kamu mungkin suka dengan pekerjaan kamu, tapi percayalah administrasi itu bukan hanya untuk fotokopi dokumen sebanyak itu,” komentar dia. “Harusnya kalau terlalu banyak bisa diserahkan ke office boy sementara kamu bisa mengerjakan hal yang lain ...”
“Saya tahu, tapi ....”
“Tenang, itu bukan salah kamu,” ujarnya dan Talisa sempat kaget. Dia benar-benar tidak marah!
Talisa sedikit lega. Paling tidak Talisa tahu dia memang ramah kalau bicara.
“Kamu belum mengerti surat menyurat? Menginventarisasi kebutuhan kantor?” tanya dia.
“Saya pernah sekolah sekretaris. Sedikitnya bisa ...,” jawab Talisa.
“Kamu berada di lingkungan orang dewasa,” dia mengingatkan. “Kamu harus banyak belajar, terutama menyesuaikan diri dengan orang-orang yang jauh lebih tua dari kamu. Dan itu nggak sama dengan bergaul di sekolah. Tapi kamu nggak harus ikut nongkrongin gossip untuk bisa membaur. Itu sesuatu yang nggak positif sama sekali.”
“Saya tahu ...,” jawab Talisa lesu. Habisnya yang dia katakan itu benar. “Maaf ... saya ...”
Chakka tertawa lagi. “Ya, perempuan memang lebih kompleks ...,” jawab dia. “Semakin dewasa kadang malah kekanakan ....”
“Apa hebatnya jadi dewasa?” Talisa menggumam.
“Kamu mau selamanya jadi anak kecil?” tanya dia, ternyata dia mendengarnya.
“Selama yang diperlukan,” jawab Talisa kembali lesu.“Jadi orang dewasa itu rumit. Pacaran, putus, patah hati, nangis, pacaran lagi, putus lagi, nangis lagi. Begitu seterusnya sampai laki-laki atau perempuan di dunia ini habis!”
Chakka kembali tertawa.
“Jadi orang dewasa itu harus punya banyak uang,” sambung Talisa lagi. “Harus beli ini, beli itu, bayar ini, bayar itu. Itu pun kalau gajinya cukup, kalau nggak?”
“Jadi kamu merasa gaji kamu nggak cukup?” tanya dia dan Talisa tersentak.
Tiba-tiba Talisa ingin menarik ucapannya lagi. Sepertinya ia sudah mengatakan hal yang salah pada orang yang salah. Tapi, Chakka masih saja tertawa.
“Cukup ...,” jawab Talisa kemudian sambil tertunduk lagi.
Chakka tampaknya sudah ingin pergi. Talisa masih melongo –baru sadar, seseorang yang selama ini hanya menganggapnya udara mengajaknya bicara. Entah mengapa gadis seperti Talisa bisa membuatnya tertawa. “Kamu benar, jadi orang dewasa itu sama sekali nggak enak,” kata dia. “Tapi, masalahnya, waktu nggak bisa kembali ...,”
Talisa tertegun. Chakka sudah terlihat ingin pergi. Dia mengambil hasil fotokopinya dan bersiap. Lalu dia mulai melangkah dan meninggalkan semacam bau dreamy yang membuat Talisa tercenung –mungkin parfum atau sejenisnya. Talisa baru berdiri dari tempatnya setelah ia berada cukup jauh. Talisa masih tidak percaya ia bicara dengan orang yang ia kira tak tersentuh. Malahan Talisa mungkin membuatnya tersinggung dengan ucapannya soal menjadi dewasa. Mungkin karena dia memang sudah dewasa –Chakka tujuh tahun lebih tua darinya.
Dan yang Talisa takutkan tentang menjadi dewasa selama ini, akhirnya terjadi juga. Talisa jatuh cinta pada Chakka.
***
Komentar
0 comments