๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Merasa tidak tenang, Talisa kembali menyulut sebatang rokok yang biasa ia simpan di laci mejanya jika tiba-tiba ingin merokok. Talisa memang bukan perokok berat. Ia pernah berhenti merokok karena seseorang tapi semenjak kehidupannya kembali tergoncang ia membutuhkan benda itu untuk meredakan gemetar di sekujur tubuhnya.
Ayi menatapinya heran, sekaligus prihatin. Beginilah Talisa yang dikira orang-orang –termasuk Arun –sempurna. Rapuh, selalu gelisah dan penyendiri.
“Sa, aku heran ...,” kata Ayi padanya sambil mengamati Talisa yang sedang menghembuskan kumpulan asap putih dari mulut dan hidungnya. “Aku ... sama sekali nggak bermaksud mengungkit masa lalu, lho. Tapi ... aku penasaran apa ... Chakka juga yang mengajari kamu merokok?”
Tanpa ragu, Talisa mengangguk. “Dia mengajarkan apa yang aku nggak pernah tahu,” jawabnya. “Dia memberi banyak hal, tapi mengambil lebih banyak. Begitulah ....”
“Dan ... setelah itu pergi? Begitu saja?”
Talisa kembali mengangguk.
“Kamu sudah melakukan semuanya untuk dia ‘kan? Kenapa dia tega sekali pergi dengan perempuan lain setelah semua yang kamu alami?”
“Dia hanya punya satu alasan ....”
“Apa?”
Talisa kembali menghisap batangan itu dalam-dalam dan menjawab, “Dia nggak akan pernah bisa mencintaiku ...,” sambil menghembuskan kepulan asap putih lagi hingga membubung di udara. Menebarkan aroma pahit yang sangat dibenci Ayi dan berbahaya bagi kandungannya. Tapi, apa boleh buat, Talisa sangat membutuhkannya.
“Terus Dara?”
Talisa tertunduk. “Pertama kali masuk ke sini, aku merasa ingin seperti dia. Cantik dan modis. Hanya saja dengan versi yang lebih baik dari Dara yang sombong dan kasar. Sedangkan Chakka adalah playboy yang ramah, penuh kepura-puraan, dan ... menyimpan banyak rahasia. Setelah patah hati satu kali, dia nggak pernah benar-benar jatuh cinta lagi. Hanya ada satu orang di hatinya. Dara. Nggak peduli berapa kali disakiti dan dihancurkan, dia tetap bertahan. Aku juga seperti itu.” jelasnya. “Mungkin Nelly benar. Dulu, aku adalah gadis yang punya banyak teman, aktif dan bersosialisasi. Tapi, mereka mengubahku ... bukan ... aku memang meniru mereka. Aku bukanlah diriku.”
“Talisa ...,” panggil Ayi yang mulai cemas.
Talisa menoleh. Berhenti menghisap rokoknya sebentar dan menunggu Ayi mengatakan sesuatu padanya.
“Pernahkah kamu berpikir untuk berhenti dari pekerjaan ini?” tanya dia. “Dengan terus bekerja di sini, hanya akan membuat kamu semakin sulit terlepas dari kenangan ....”
“Kata siapa?”
“Aku tahu kamu nggak pernah naik ke lantai tiga karena menurut senior dulunya di sana adalah kantor Chakka dan Dara. Sesuatu pasti pernah terjadi di sana ....”
Talisa diam. Ia kembali menghisap rokoknya yang tinggal seperempat itu dengan tenang.
“Kenapa kamu bertahan di sini sementara banyak hal yang masih kamu benci dari tempat ini? Kalau seperti ini bagaimana kamu akan menikah dengan Arun? Kamu pernah bilang bahwa Arun adalah cinta sejati kamu ‘kan? Tapi, kenapa kamu seolah masih ingin terjebak di masa lalu?”
Setetes air mata kembali jatuh. Perlahan tapi pasti Talisa kembali terisak.
“Setelah semua hal yang menyakitkan itu ... aku bertemu Arun dan berpikir bahwa dia adalah ... hidupku. Hidupku ...,” jelasnya dengan suara yang mulai gemetaran. “Aku sudah punya rencana berhenti bekerja, memulai kehidupan baru yang jauh berbeda dari sekarang. Tapi, saat dia berubah menjadi orang asing bagiku, aku merasa ... aku ... aku nggak punya apa-apa selain dari masa laluku yang buruk di sini. Lebih baik di sini, daripada mencintai orang lain dengan tulus tapi nggak ada yang menghargainya ....”
Ayi diam dan ikut menangis sedih saat melihat Talisa tidak bisa menghentikan air matanya. Sungguh, Talisa yang malang.
Sayangnya Ayi harus pergi karena teleponnya berbunyi. Suaminya datang menjemput. Lalu Talisa kembali sendirian.
***
Lantai tiga. Tempat yang paling bersejarah bagi Talisa di kantor ini. Sekarang tempat itu telah menjadi tempat penyimpanan arsip dan gudang perabotan kantor yang rusak dan tak terpakai. Delapan tahun sudah semuanya berlalu dan tidak banyak yang tahu bahwa kekacauan dalam hidup Talisa di masa lalunya bermula dari tempat itu.
Betahun-tahun Talisa tidak pernah naik tangga ini untuk melihat seperti apa di atas sana sejak ia enggan untuk sekedar melihat. Ya, dulunya juga tidak ada apa-apa di sana selain Chakka dan Dara, serta kegaduhan yang mereka buat. Kantor Chakka di sebelah kiri sedangkan Dara di sebelah kanan.
Setelah melewati lorong yang tidak terlalu panjang, Talisa memasuki ruangan yang dilabeli ruang arsip pada pintunya. Dulu ruangan ini adalah ruangan Chakka dan kemudian menjadi ruang kerja Talisa juga. Tapi, setelah masa peralihan kepemilikan peralihan, ia pindah ke lantai dua. Begitu naik jabatan, harusnya Talisa kembali berkantor di lantai tiga tapi dia meminta agar kantornya tetap di lantai dua.
Benar seperti katanya. Tidak ada apa-apa di sini, selain dari kesedihan dan kepahitan. Dinding, rak-rak arsip dan meja yang tak berubah dari posisinya semula telah menjadi saksi bisu atas semua kesakitan yang ia rasakan. Begitu Talisa kembali ke sini, para saksi bisu itu seakan mengingatkannya bahwa dulunya dia seperti ini ....
Entah dari mana memulainya tapi saat mengenal Chakka lah Talisa pernah benar-benar mencintai seseorang untuk yang pertama kalinya dan itu juga menjadi yang terakhir. Talisa pernah bertanya kepada mereka yang berhasil melupakan tentang bagaimana cara melupakan tapi ia selalu gagal. Dan yang terburuk dari semua rasa sakit itu adalah Talisa tahu bahwa Chakka sudah melupakan dirinya untuk selamanya. Mungkin, karena segala sesuatu tentang Chakka di dalam hidupnya hanyalah hal-hal menyakitkan. Entah mengapa pula Talisa tidak pernah bisa membencinya.
Semua orang boleh menyebut dirinya bodoh. Tapi, ini benar-benar terjadi padanya ....
Entah Talisa akan menikah atau mungkin tidak sempat menikah. Namun, ia sudah lama tidak merasa bahwa mati adalah salah satu perintang di antara dirinya dan cinta sejatinya. Sejak mengenal Arun, Talisa merasa telah menemukan hidupnya kembali. Tapi, setelah cukup lama kemudian, Talisa merasa bahwa pencariannya belum berakhir. Ada sesuatu tentang Arun yang tidak ia mengerti. Ia belum keluar dari labirin dan masih tersesat
**

Komentar
0 comments