๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Mata mereka sama-sama bertemu dengan deburan ombak yang menyapu pinggiran pantai dan kemudian kembali ke tengah –berulang kali.
“Melakukan apa?”
Chakka mendengus, melirik Talisa dengan sedikit jengkel. “Kamu bilang aku orang yang gemar menyakiti hati perempuan ‘kan?”
“Jadi itu benar?”
Chakka bertambah kesal, “Kamu kecil tapi benar-benar menjengkelkan ...,” gumamnya.
Talisa tertawa. “Jadi ... sekarang mau jadi psikopat yang bagaimana?” ia bertanya, di sela-sela tawanya. Tidak disangka itu membuat Chakka mendadak muram. Seketika ia merasa bodoh. Yang mengatainya psikopat ‘kan bukan dirinya tapi Dara! Chakka pasti teringat lagi!
“Aku bukan psikopat,” dia menjelaskan tapi wajahnya datar. Sepertinya dia serius. “Aku ....”
Talisa hanya mendengarkan. Takut reaksi spontan yang ia tunjukan malah membuat Chakka bertambah murung. Orang ini sudah dilanda banyak masalah.
“Aku hanya nggak bisa menjalani hidup normal karena satu hal ...,” dia kembali menjelaskan. “Orang tuaku meninggal waktu aku masih kecil, itu sebelum ayah Dara menjadikanku anak angkat. Sejak kecil, barangkali sejak lahir, aku juga bukan anak yang normal.”
“Maksudnya nggak normal? Kamu autis?”
Chakka menggeleng dengan cepat.
“Sesuatu yang lebih mengerikan dari itu,”
“Dyslexia? Atau punya penyakit emosi yang akut?”
Chakka masih menggeleng tapi dia kemudian menatap Talisa lagi. “Ya, sesuatu yang pokoknya sangat tidak menyenangkan,”
“Seberapa tidak menyenangkan?”
Chakka tampak berpikir. “Sama sekali nggak menyenangkan karena aku nggak pernah merasa jadi anak kecil,” jawabnya. “Tahu-tahu sudah begini, memiliki pola pikir yang rumit sampai-sampai nggak bisa bergaul dengan anak-anak yang seumuran. Mereka pikir aku aneh, karena nggak mau main perosotan atau mobil-mobilan. Aku lebih tertarik berdebat dengan guru di kelas sampai mereka khawatir karena aku tahu lebih banyak. Orang tuaku nggak memahaminya, nggak ada seorang pun yang paham diriku. Sampai kemudian mereka meninggal dan aku diadopsi, akhirnya aku dibawa ke psikolog anak. Mereka bilang itu memang bukan hal yang biasa dan harusnya aku nggak sekolah di sekolah umum. Sejak itu mulai home schooling, membaca ratusan buku.”
“Kamu dewasa sebelum waktunya?”
“Entah,” jawabnya. “Tapi, mereka punya istilah untuk orang-orang sepertiku.”
“Apa?”
“Indigo?”
“Apa itu?”
“Bukan hal yang keren.”
“Berarti kamu jenius?”
Chakka menggeleng lagi. Lalu tertawa. “Aku nggak bilang begitu,”
“Tapi, kamu nggak kelihatan jenius ...,” komentar Talisa.
“Aku menganggapnya seperti penyakit sampai harus ikut terapi untuk menghilangkannya. Aku ingin hidup normal, menjalani fase hidup yang normal. Dari kanak-kanak, remaja dan dewasa. Tapi siklus itu terganggu karena keadaan itu. Aku menjalani masa terapi bertahun-tahun yang sangat berat dan itu sama sekali nggak mudah untuk dilalui ...”
“Kenapa?”
Chakka diam dan masih terlihat murung.
“Oke, terus kamu berhasil menjalani terapinya?”
“Untungnya. Keadaan itu mulai berubah seiring bertambahnya umur. Aku berusaha untuk hidup normal dengan kuliah dan jatuh cinta. Aku membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatku untuk bisa mengusir suara-suara di kepalaku. Dan itu sangat tidak mudah. Itu sangat mengerikan.”
Kalimat terakhir membuat Talisa sedikit tercenung. Indigo adalah sesuatu yang mengerikan. Talisa tidak memahaminya namun ia bisa menangkap arah kata-katanya tentang orang-orang terdekat. Talisa bisa menyimpulkan satu hal. “Apa Dara salah satu orang yang banyak membantu kamu?” Talisa memberanikan dirinya bertanya.
Chakka mengangguk. “Ya begitulah, dia seperti seorang kakak, walaupun secara pemikiran aku lebih dewasa.” jawabnya. “Dia memperlakukan aku seperti adik kecil agar aku bisa bersikap layaknya orang seumuranku. Padahal mereka sama-sama tahu walaupun berada di keluarga yang sama, mereka nggak punya hubungan darah. Aku melakukan satu kesalahan yang bikin dia mulai menjauhiku.”
“Apa?” Talisa mulai menebak-nebak.
Tiba-tiba Chakka tertawa. “Aku pernah menciumnya dan dia kesal sekali,” jawab Talisa. “Mulai saat itu Dara menyadari kalau dia nggak bisa menjadikanku adik. Dia mulai merasa bahwa aku sebenarnya adalah laki-laki dewasa yang terjebak ditubuh remaja 16 tahun. Sejak dia mulai berpacaran dengan orang lain aku memikirkan cara untuk menunjukan padanya kelakuanku sangat sesuai dengan umurku. Aku melawan intusisiku, berperang dengan pikiranku. Belajar tentang bagaimana menjadi seorang remaja yang normal walaupun aku tahu itu tolol. Bertahun-tahun aku melakukannya, lalu tiba-tiba saja aku merasa bahwa terkadang aku bisa melakukan hal yang kekanakan seperti berlagak bodoh, mencari keributan, dan hal-hal yang meresahkan. Tapi, Dara nggak pernah mau menerimaku dengan alasan kami sudah seperti saudara.”
“Dan kamu berakhir di pelukan perempuan lain. The end.” Sambung Talisa. Dia sedikit kehilangan minat setiap Chakka menyebut nama Dara.
Chakka tertawa lagi. “Ceritanya membosankan?”
“Nggak. Hanya mengagetkan ...,” komentar Talisa. “Karena buatku kamu bukan orang yang dewasa ....”
“Terus di mata kamu aku orang yang seperti apa?”
“Sesuatu di antara kekanakan dan dewasa.”
“Kenapa begitu?”
“Kalau dibilang laki-laki dewasa, juga belum tepat karena laki-laki dewasa nggak akan memukul pintu sampai tangannya berdarah soalnya itu ‘kan sakit sekali. Pintunya juga nggak salah apa-apa. Dia juga nggak akan memperlakukan perempuan dengan kasar.”
“Kamu menyindirku?”
“Itu benar! Siapapun nggak pantas menerima amukan kamu yang kekanakan. Tapi ... kalau dipikir-pikir mendengar riawayat kamu seorang Indigo yang mengerikan, aku berani menyimpulkan satu hal.”
“Apa?”
“Sepertinya kamu sudah hidup dengan normal.”
“Oh ya?”
“Kenapa nggak? Dengan banyak perempuan silih berganti sepanjang tahun seperti anak kuliahan yang kurang kerjaan, kekanakan sekali. Mengurus pekerjaan di saat itu perlu, dewasa sekali. Itulah maksudku.”
“Nggak juga. Masih ada sesuatu yang kadang suka mengganggu ...,”
“Apa?”
“Aku nggak mau membicarakannya sekarang ...”
“Baik, tapi jangan bikin aku banyak bertanya lagi ya?”
Talisa memandangnya sekali lagi, lalu tersenyum getir; Chakka masih tidak teraih olehnya. Entahlah, Talisa hanya merasa sekalipun lelaki itu ada di sampingnya, terkadang jiwanya pergi entah ke mana. Talisa paham dengan masalah yang saat ini sedang dia pikirkan.
Sebelum ini Talisa merasa ia akan punya kesempatan untuk meggantikan siapa pun yang hilang dari hatinya. Meskipun pasti butuh waktu lama untuk melupakan cinta yang terjalin begitu lama.
Hari itu mereka bermain di pantai dan lomba minum Coca Cola terbanyak. Rasanya yang asam dan karbonasinya yang tajam menggelitik lidah dan tenggorokan. Cegukan terasa begitu menyakitkan seakan baru menelan duri. Tapi, mereka tidak bisa berhenti. Tertawa dan sendawa, hingga perut Talisa sakit dan kembung, sedangkan Chakka terlihat biasa saja. Hampir sama seperti mabuk alkohol, bedanya Talisa tidak kehilangan kesadarannya dan masih bisa merasakan Chakka menepuk-nepuk punggungnya di saat Talisa hampir muntah karena perutnya terasa penuh.
“Aku bisa mati ...,” keluh Talisa sambil membungkukan badan memeluk perutnya yang kembung dan sakit.
“Nggak ada orang yang mati karena minum Coca Cola,” ujarnya sambil tertawa. “Kamu tenang saja.”
“Aku nggak mau jadi yang pertama,” Talisa berkata setengah sewot sambil melihatnya tertawa meledek. Lalu melirik ke jok belakang. Mereka hanya menyisakan tiga dari lima belas kaleng. Talisa sudah minum lima kaleng, sedangkan Chakka sudah menghabiskan tujuh!
“Nggak akan kok,” ujarnya.
Talisa hanya menatapnya. Dan Chakka membalas tatapan itu.
Satu hal yang masih belum dimengerti Talisa, mengapa ia bisa berada demikian dekat dengannya? Apa dirinya begitu istimewa bagi Chakka? Talisa tidak pernah tahu. Ia hanya terbawa iramanya yang tenang seperti riak air di tengah danau yang tenang –pelan tapi dengan pasti merebak hingga ke tepi. Demikian dia mempengaruhi sampai Talisa terjebak dalam perasaan yang tidak terbalas. Ketika dia mengulurkan tangannya dan mengajak Talisa bermain dengan ombak bersamanya, Talisa semakin berharap ini menjadi sebuah arti yang pasti.
Chakka memegang tangannya saat sebaris ombak besar menerjang mereka. Talisa ketakutan setengah mati. Tapi, dia masih di sampingnya. Talisa mendengar gemuruh di dalam air bersamaan dan merasakan kedua lengan Chakka yang merangkul pinggangnya ketika ombak besar itu melampaui mereka. Kerasnya hantaman ombak tidak berarti apa-apa karena Talisa masih berpijak di dasar, merasakan pasir dan kerang-kerang kecil di bawah kakinya. Chakka menatapnya sambil tersenyum, lalu ombak yang lebih besar tengah kembali menerjang.
Talisa tenggelam dan dia juga. Ia membuka matanya dalam detik-detik itu, lalu melihat Chakka. Ia semakin tidak mengerti dan yang ia tahu hanyalah, dirinya benar-benar sudah jatuh cinta pada lelaki itu.
Semua yang Talisa kenakan di badannya basah. Rasanya ia memang tidak perlu berdandan yang cantik karena toh air laut dan pasir membuatnya kelihatan jelek. Tapi, Talisa tidak peduli. Mereka kembali ke pinggir setelah memastikan kedua matanya merah oleh serbuan butir-butir pasir dalam air asin. Sembari berjemur mengeringkan baju di badan, mereka membangun istana pasir. Mereka seakan berubah menjadi sepasang anak kecil dan tidak peduli apa-apa sampai sore menjelang.
Saat mereka harus pulang, sama seperti kembali kepada kenyataan sesungguhnya –mereka bukan siapa-siapa satu sama lain jika kata teman terlalu berlebihan untuk sebuah pelukan erat yang hampir membuat jiwa Talisa melayang. Chakka masih menatapi Talisa dengan tatapan itu –penuh dan intens, saat mereka sudah duduk di dalam mobil. Jika tadi Talisa masih bisa tertawa, sekarang ia merinding.
Talisa menghindari tatapan itu dengan perasaan canggung sambil sesekali tersipu malu. Ia tidak pernah menghadapi situasi di mana semua sifat cerewetnya hilang secara mendadak. Talisa kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan bahwa ia sangat senang sampai lupa waktu.
Tiba-tiba Chakka meraih tangannya dan jantung Talisa lagi-lagi berdegup kencang. “Makasih untuk hari ini ya ...,” ucapnya pada Talisa.
Talisa yang bahagia mengangguk sambil tersenyum. Berharap Chakka tidak bisa mendengar kerasnya detak jantungnya. “Makasih juga untuk bikin aku keluar dari rumah dengan baju kaos jelek dan sandal jepit yang lusuh ...,” balasnya lalu tertawa sendiri.
Sore telah berlalu dalam pelukan senja. Gelap mulai menyusup bersamaan dengan hawa dingin. Lampu-lampu pelabuhan yang seolah berada di seberang mulai menyala. Tadi siang ia hanya terlihat seperti kotak-kotak yang di susun tidak beraturan di kaki bukit. Saat gelap malam menyembunyikan latar belakangnya, cahaya putih hingga kekuningan seolah membentuk gugusan bintang di langit yang hitam. Lampu-lampu kapal di tengah laut tampak seperti gambar bunga dengan ilustrasi neon versi hitam putih.
Chakka tidak tahu tempat ini akan menjadi begitu tidak terlupakan dengan kehadirannya.
Tapi, mereka harus kembali. Mungkin besok saat kembali ke kantor, mereka akan bersikap seolah bahwa ini tidak pernah terjadi. Talisa sedikit berkecil hati bahwa di depan orang lain mereka tidak akan pernah bisa menunjukan kedekatan ini.
Laki-laki itu ikut tersenyum; memperlihatkan kebahagiaan yang sama.
Talisa pun mengangguk-angguk. “Bagus,” ucap Talisa dengan gembira dan Chakka mulai bersiap untuk pergi. Dia menyalakan mesin dan mereka pun bergerak meninggalkan pemandangan yang indah itu di belakang.
Meski hanya sekali terjadi dalam hidupnya, Talisa tidak pernah melupakannya. Sekalipun setelah itu Chakka selalu menjadi milik orang lain ....
***

Komentar
0 comments