๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Talisa tersenyum lebar. “Kencan?” ia mengernyit, sambil bergabung di meja makan. Kebetulan sedang ada Sinat –suami Reti yang sedang makan siang. “Boro-boro ....”
Reti tertawa. Sepertinya dia senang sekali melihat ekspresi cemberut adik perempuannya. Talisa memang pernah tanya-tanya soal cinta pertama padanya dan sepertinya dia menafsirkan itu sebagai curhat. Memang ujung-ujungnya curhat tapi kakaknya yang ini punya kebiasaan meledek yang parah. Apalagi kalau di dekat Sinat; mereka akan menertawai Talisa sampai menjerit “Mamaaa!” lalu mereka berdua akan terpingkal-pingkal karena berhasil membuat sang adik jengkel.
“Terus kamu mau pergi sama siapa?” tanya Reti, tatapannya mulai mencurigai.
“Ya, sama Onny-lah! Sama siapa lagi?” cetus Talisa sambil meraih toples keripik dan ikut-ikutan ngemil, selagi menunggu Onny yang janji datang setengah jam lagi.
“Masa?” Reti kelihatan tidak percaya. “Memang si Onny nggak jalan sama pacarnya?”
“Kami sudah janji dari kemarin-kemarin mau nonton,” Talisa berkata menjelaskan. Dan pucuk dicinta Onny tiba –walaupun hanya panggilan telpon saja. Handphone-nya berbunyi dan Talisa buru-buru menjauh sebelum kakaknya menguping dan menyela dengan menjengkelkan. “Ya, halo?”
“Sa, sorry ya ...” kata Onny seketika dari seberang sana dan firasat buruk. “Aku lupa kalau sudah ada janji sama Ryan ....”
Bagus! Onny ingkar janji yang dibuatnya sendiri! Talisa kembali ke meja makan di mana kakaknya memandang dirinya heran. Kalau Onny sudah menelpon berarti harusnya Talisa pergi. Tapi, karena dia melihat Talisa kembali dengan wajah cemberut, senyum jahil seketika terukir di bibir tipisnya. Talisa duduk dengan kesal di kursiknya sambil menghela nafas.
“Aku nggak jadi pergi ...,” Talisa berkata sambil memasukan beberapa keping keripik ke mulutnya karena kesal. “Onny malah pergi sama pacarnya ....”
Reti dan Sinat tertawa bersamaan di saat Talisa rasanya ingin menangis. Di hari libur seperti ini tidak mungkin ia harus menghabiskannya dengan menemani sepasang kekasih yang labil ini. Talisa menggerutu sambil meraih lebih banyak keripik dan memakannya sekaligus.
“Makanya punya pacar sana,” kata Sinat.
“Aku belum dibolehkan pacaran sama Papa,” jawab Talisa sewot. Sebenarnya Talisa malu mengatakan tidak mau buru-buru pacaran karena takut menikahnya juga buru-buru seperti Reti dan Sinat. Mama bilang kerja dulu dan puaskan masa muda supaya nanti tidak menyesal.
“Ya pacarannya jangan bilang-bilang,” kata Reti padanya sedikit berbisik dan itu terdengar seperti mengajak untuk mengikuti jejaknya yang menikah muda. Tidak. Talisa tidak mau menikah muda. Lagipula menikah dengan siapa? Pacar saja tidak punya. Nah, yang suka padanya juga tidak ada. “Main cantik dong, Sayang .....”
“Papaaa!” teriak Talisa tiba-tiba dan Reti tampak terkejut. “Kak Reti ngajarin Talisa yang nggak-nggak!”
“Ah, nih anak!” Reti terlihat menggerutu sementara Sinat malah cekikikan di sampingnya.
Talisa ikut tertawa. Karena kalau ketahuan Reti pasti diomeli Papa. Talisa segera pergi ke kamar sebelum Papa datang sambil membawa toples cemilannya ke kamar.
“Talisa! Itu cemilan aku!” jerit Reti tapi Talisa sudah menutup pintu kamarnya.
***
Talisa masih bisa tertawa beberapa saat sebelum menemukan diri sendiri di depan cermin, merengut dengan kecewa. Sudah dandan susah-susah, tiba-tiba tidak jadi pergi. Dengan kecewa, Talisa mengganti bajunya dengan yang lebih jelek.
Handphone-nya berbunyi lagi. Ah, kenapa Onny menelpon lagi? Apa dia berubah pikiran?
Tapi, ternyata yang menelpon bukan Onny. Sebuah nomor yang tidak dikenal. Talisa berpikir sejenak sebelum mengangkatnya dengan gerutuan. Siapa sih yang menelpon di saat aku sedang kesal?
“Hallo?” suara itu terdengar familiar.
Chakka?
“Hallo?” suara itu memanggilnya lagi dan sedetik kemudian Talisa malah bertanya dari mana dia tahu nomor handphone-nya sementara Talisa tidak pernah memberikannya.
Sedetik kemudian Talisa sadar kalau orang ini adalah atasannya. Dia tidak perlu bertanya kalau itu hanya nomor telpon, dia punya riwayat lengkap tentang di mana rumah dan sekolah Talisa dulu kalau itu diperlukan.
“Iya!” sahut Talisa, detik-detik berikutnya ia kembali berdebar.
Kenapa Chakka menelponnya? Ada apa?
“Kamu mau ke pantai?” tanya Chakka.
Tuhan, apa aku mimpi? Talisa malah melongo menatapi wajahnya di cermin dengan tidak sadar bahwa sosok yang terlihat bodoh itu adalah dirinya sendiri.
“Hallo? Talisa?” suara Chakka itu menarik Talisa dari gelembung yang mengepungnya beberapa detik lalu tapi cukup membuatnya menahan nafas seperti baru menemukan sesosok hantu di cermin.
“Ke ... ke pantai?” Talisa masih tidak yakin.
Apa yang menelpon benar-benar Chakka? Kenapa dia mengajak Talisa dan bukan pacarnya yang cantik?
“Ya,” nada suaranya tegas. “Aku sedang di jalan ke rumah kamu. Mungkin sekitar lima menit lagi sampai.”
“Lima menit? Hah?!”
“Ya, tapi aku nggak tahu rumah kamu yang mana,” kata dia. “Makanya sekarang kamu keluar dan tunggu aku di jalan.”
“Tunggu! Kenapa mendadak?”
“Aku nggak punya teman untuk diajak ke pantai di hari secerah ini.”
“Kenapa kamu nggak minta pacar kamu?”
“Mantan pacar,” tegas Chakka.
“Apa?!”
“Tiga menit!” dia kedengaran memaksa.
Talisa mulai mondar-mandir dengan panik. Tidak ada satu pun kata yang terpikir untuk Talisa ucapkan untuk menolak atau mungkin menerima –walaupun sebenarnya Talisa senang, tapi ada sesuatu yang terasa tidak benar di sini. Kenapa harus aku?
“Aku nggak suka ke pantai. Aku nggak bisa berenang,” Talisa berkata –ia tahu itu terdengar bodoh.
“Satu menit sebelum aku turun dari mobil, nanya ke tetangga di sekitar dan berdiri di depan pintu rumah kamu,” justru dia yang memperingatkan Talisa dengan keras. Seolah dia tahu bahwa Talisa tidak ingin keluarganya berpikir bahwa Talisa menjalin hubungan dengan seseorang yang usianya jauh lebih tua darinya.
Gawat! Talisa makin panik. Kalau sempat Papanya yang membukakan pintu Talisa pasti dihujani banyak pertanyaan. Lagipula mana pernah sejarahnya ada seorang lelaki –kecuali teman sekolah, datang ke rumah?
“Iya! Iya!” Talisa segera berlari keluar kamar secepat kilat. Tidak menutup pintu. Tidak pamitan pada Papa yang pasti memelototinya dengan heran.
Apa-apaan orang ini?
Chakka membuat Talisa berlari dari rumah seperti orang yang kesurupan. Lupa membawa dompet. Tidak sempat memakai pakaian yang bagus. Lalu berdiri di pinggir jalan tidak jauh dari rumahnya menunggu sebuah mobil sedan merah keluaran tahun 90-an berwarna merah maron yang antik dan terawat berhenti di pinggir jalan. Tidak ada tanda-tanda Chakka akan membuka pintunya dan turun dari sana. Chakka membuat Talisa harus menghampirinya dengan kebingungan yang amat besar di wajahnya untuk tahu ada apa dengan hari ini. Talisa berdiri di depan jendelanya dan menunggu sampai lelaki itu menurunkan kaca mobil.
“Naik,” kata dia dengan datar bahkan tanpa memandang Talisa.
Talisa sedang mengatur nafas karena masih sesak. “Aku nggak bisa pergi,” Talisa berkata beralasan sambil menengok ke bawah –sepasang kakinya yang memakai sandal jepit lusuh dan jelek. Mana mungkin pergi dengannya seperti ini?
“Naik,” dia memerintah Talisa lagi persis seperti sedang di kantor.
“Ta ... tapi, ...” Talisa masih berkilah dan seketika tercekat karena Chakka menoleh padanya dan menatap dengan sesrius. Sedetik kemudian ia sadar bahwa ia terlalu bodoh bila menolak ajakannya. Jantungnya kembali berdebar; makin keras. Teringat bahwa Talisa menyukai orang ini –sangat-sangat suka. Sehingga akhirnya Talisa beranjak dan naik mobil itu. Kemudian ia duduk di sampingnya sambil mengatakan pada dirinya berulang kali untuk tenang; dan berharap –bahwa ini bukan mimpi seperti biasanya.

Komentar
0 comments