๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Hari Senin di minggu berikutnya bukan lagi hari yang ditunggu selepas perasaan berdebar di pantai walaupun hari-hari kembali terasa biasa. Talisa belum masuk ke kantornya karena tidak ada perintah untuk mencari dan menemukan arsip.
“Talisa,” Nelly memanggilnya tapi kali ini tampak tidak ada berkas di tangannya. Mungkin dia menegur Talisa saja karena memang Talisa belum menyentuh pekerjaan sejak pagi.
“Ya?” sahutnya.
“Kamu dipanggil Pak Chakka,” katanya lalu segera pergi. Sepertinya dia sedang kesal karena sesuatu yang berhubungan dengan Talisa.
Kalau dia melihatku tidak bekerja seharusnya dia mengatakan dengan jelas bukan mengadukanku pada Chakka! Dasar!
Dipanggil Chakka sudah tidak lucu lagi seperti saat dia kehilangan berkas dan meminta Talisa mencarinya di antara ribuan map yang berjejer di rak kantornya. Mungkin itu tidak akan semeyenangkan dulu lagi. Walaupun begitu melihatnya setelah seminggu berlalu –yang mana Talisa begitu merindukannya. Dia selalu bisa tersenyum sambil menyapa; memberi harapan baru.
“Apa kabar?” sapaannya menjadi formal dan Talisa merasa aneh. Beginikah Chakka setelah dia melepaskan semua yang membebaninya seperti yang Talisa inginkan? Dia malah tampak tidak membutuhkan siapapun lagi –termasuk Talisa yang selalu ada untuknya, kecuali untuk mencari sebuah dokumen.
“Baik,” jawab Talisa sambil mengamati dan menemukan kalau dia kelihatan baik-baik saja seolah dia benar-benar sudah melupakan masalahnya.
“Duduk,” kata dia, lalu mengambil selembar surat di antara sebuah tumpukan dan memberikannya pada Talisa.
Talisa pun mulai membaca begitu surat di tangannya. Tapi, apa yang ia baca tidak langsung terekam di benaknya –terutama kalimat pembukanya. Talisa baru menyadari bahwa ini sebuah kabar baik saat menemukan kalimat ‘ ...setelah pertimbangan yang baik dan matang, dengan ini mereka memberitahukan bahwa saudari dipromosikan ....”
Harusnya Talisa memasang senyum lebar sambil melompat-lompat. Itulah kata-kata yang ia tunggu sejak lama. Tapi semua hal yang dulu terpikirkan untuk ia lakukan ketika akhirya bisa pindah dari mejanya yang sekarang, tidak ingin ia lakukan; seakan Talisa masih betah duduk di sana dan rela menerima perlakuan kepala admin yang seenaknya.
“Naik jabatan?” Talisa menatap Chakka, bukan tidak percaya. Tapi heran. “Asisten?”
Seingatnya posisi itu belum pernah ada sebelumnya. Di bawah Chakka masih ada tiga orang staf lagi yang ruangannya berada di lantai dua.
“Aku pernah mengajukan ke direktur kalau aku butuh asisten,” dia menjelaskan sebelum Talisa berpikiran negative lagi –bahwa Chakka mengusulkan posisi itu khusus untuk dirinya, karena dia ingin bersamanya untuk berbagi cerita. “Lagipula kamu sudah kerja lebih dari satu tahun dan dibandingkan karyawan yang sama-sama direkrut dengan kamu dulu, sepertinya kamu kerjaanya yang paling beres.”
Talisa tidak langsung senang mendengar pujian itu. Ia memandang menembus lemari yan ada di belakang Chakka –terbayang mejanya akan berada di sana, atau justru di satu sudut di ruangan ini di mana Talisa bisa melihat Chakka setiap hari tanpa terkecuali.
“Dan satu lagi, kamu menguasai susunan berkas yang tersimpan di sini. Jadi aku pikir aku pasti akan sangat butuh kamu, Talisa,”
‘Aku butuh kamu, Talisa’ kalimat Chakka terngiang di telinganya.
Saat Talisa berpikir untuk mengukur bayang-bayangnya, kenapa justru malah semakin dekat dengan Chakka? Bagaimana Talisa bisa berhenti berharap sedangkan dia malah tampak membangkitkan kembali harapan yang pernah hancur di hatinya?
***
Rabu, pukul 13.00 WIB, Meeting General. Talisa tidak menyangka Chakka mengajaknya ke rapat itu. Biasanya Meeting General dihadiri oleh manajer dan supervisor. Tapi, Chakka memintanya untuk ikut serta –katanya bisa saja ada sesuatu yang dia lupakan dan Talisa harus mencatatnya. Seperti dugaan, Talisa bertemu dengan Dara.
Begitu melihat mereka berdua masuk semua mata melihat dengan serentak termasuk Dara yang ternyata –tidak seperti dugaan, terlihat tenang. Dara mengenakan blazer hitam dengan dalaman putih. Make up smokey eyes nuansa hitam mendramatisir matanya yang ditempeli bulu mata palsu yang amat lentik. Secara keseluruhan dia tidak terlihat seperti wanita lemah.
Ada kursi kosong di sebelahnya dan Chakka dengan santainya menuju kesana. Talisa terpaksa mengikuti. Rasa canggung tidak bisa ia sembunyikan karena Dara memperhatikan seolah tengah menghitung langkah Chakka. Namun, Dara sempat menyunggingkan senyum padanya yang dia balas dengan senyum simpul, sebelum dia menemukan Talisa lalu menoleh ke arah yang lain. Meeting pun dimulai begitu semua telah duduk.
Ternyata menjadi asisten itu jauh dari kata menyenangkan bagi Talisa. Mungkin karena atasannya adalah orang yang membuatnya patah hati berulang kali dan ditambah dia tidak tahu apa-apa soal itu. Mereka berada di satu ruangan. Jadi Talisa berpeluang untuk tahu hal-hal di luar pekerjaan yang berhubungan dengannya.
Chakka memang pernah menjalin hubungan dengan beberapa perempuan tapi dia bilang dia sudah berhenti menjadi don juan. Ada banyak hal positif dari perubahan itu. Pertama, dia sudah bisa tersenyum pada orang lain. Kedua, dari segi penampilan, Chakka membiarkan rambut hitam lurusnya sedikit melewati dahinya dan gaya berpakaiannya pun lebih santai. Dulu dia sangat identik dengan jas dan dasi, tapi sekarang dia sering ke kantor dengan kemeja polos saja. Ketiga, dia tampak makin bersemangat dari hari ke hari, terlihat dari caranya menyapa Talisa. Tapi, entah mengapa Talisa merasa bahwa perubahannya lebih banyak ke arah yang negatif. Chakka sering datang terlambat. Dari semua pekejaan yang harusnya dia lakukan dalam sehari, dia hanya mengerjakan setengahnya saja. Waktu untuk mengerjakan yang setengah lagi terpakai untuk main games di komputer dan minum beberapa kaleng Coca Cola sepanjang hari. Dan bagian yang setengah itu-lah yang dia serahkan pada Talisa.
Inilah alasan sebenarnya Chakka mengajukan posisi asisten. Karena dia tidak ingin berurusan dengan banyak surat-menyurat, laporan dan berkas. Dari sekian banyak karyawan di sini, kenapa dia memilih Talisa? Apakah karena Talisa satu-satunya orang yang tidak mungkin membeberkan bahwa Chakka mulai bermain-main dengan pekerjaannya? Semenjak dia tahu bahwa Talisa pegawai yang rajin sejak itulah dia sadar bahwa dia bisa memanfaatkan gadis itu kapan saja?
Firasat Talisa ini sangat beralasan karena sejak menjadi asistennya mereka bahkan tidak seakrab dulu lagi. Mejanya berada di antara rak arsip yang berjejer tinggi di sepanjang ruangan –bukan di tempat di mana Talisa bisa melihatnya. Dia sangat jarang menghampiri kemari. Kalaupun tiba-tiba dia muncul hanya untuk mengambil apa yang dia butuhkan! Dia seakan menjebloskan Talisa ke sini dengan sengaja untuk meninggalkannya begitu saja karena tahu Talisa tidak akan pernah berteriak bahwa Chakka pun bisa melakukan banyak kesalahan yang fatal.
***
“Hai, Bu Asisten!” Onny menyapa lalu cekikikan karena Talisa kaget.
Lamunan Talisa buyar dan tidak bersisa. Panggilan itu terdengar menggelikan baginya. Talisa mendengus, memandang kosong sekitarnya, lalu menyesap minuman dingin kalengan. “Apa sih, Onny?” celetuknya.
“Baru sebulan jadi asisten udah KO,” kata dia. “Kerjaannya banyak ya?”
“KO karena kerjaan sih masih mending, On ...,” gerutunya.
“Patah hatinya belum hilang juga?”
Talisa diam. Entah. Rasanya Talisa kecewa berat bukan karena patah hatinya lagi. Talisa berada pada tingkatan paling tinggi jauh di atas ‘patah hati’.
Level satu, cinta bertepuk sebelah tangan. Level dua, Chakka jatuh cinta setengah mati pada wanita cantik yang berbanding terbalik dengan dirinya. Level tiga, Chakka terlalu mencintai wanita itu. Level empat, setelah ditolak habis-habisan Chakka masih tidak melihat dirinya. Level lima, Chakka mulai tidak fokus pada apapun. Level enam, sampai saat ini Chakka belum juga menyadari bahwa Talisa sangat menyukainya. Level tujuh, Chakka membawanya kembali ke dekatnya hanya untuk melihatnya makin tidak peduli pada sekitar. Level delapan, Chakka memanfaatkannya untuk melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan. Level sembilan, dia masih mengabaikan Talisa.
Dan level sepuluh, game over ....
Talisa mendengus lagi. “Aku mengundurkan diri aja deh kayanya, On ...,” ia berkata setengah putus asa sambil menjatuhkan kepalanya di atas meja. “Lama-lama aku nggak kuat ....”
“Menyerah?”
“Ya, mau gimana lagi? Coba deh kamu ada di posisiku sekarang ....”
“Kok berhenti sih? Aku justru mau ngajakin kamu kuliah supaya nggak suntuk,” kata Onny. “Kalau kuliah kita bisa ketemu sama yang seumuran. Biar lebih sehat! Kebetulan sekarang semester baru.”
“Kuliah?” Talisa mengernyit.
“Iya. Jaman sekarang harus punya titel. Kalau nggak karir kamu mentok, Talisa ...,” kata Onny. “Lagian karena kita bergaulnya kebanyakan sama orang-orang dewasa di kantor, kita jadi ikut-ikutan tua, lho ....”
Onny benar. Ikut-ikutan tua. Terlibat masalah orang tua pula.
Lalu dia memberi Talisa sebuah brosur sebuah universitas swasta yang membuka kelas malam untuk mahasiswa yang bekerja. Ada jurusan ekonomi, computer, hukum, psikologi, sosial, ilmu politik, Bahasa Inggris dan lain-lain.
“Rencananya aku mau ngambil jurusan hukum aja,” jelas Onny.
“Memang mau jadi pengacara?”
“Nggak semua sarjana hukum jadi pengacara kali, Talisa. Jangan bego begitu kenapa sih?”
“Ngapain kuliah kalau udah bisa nyari duit sendiri?”
“Duh, jangan skeptik dulu. Dengarin aku deh!”
Talisa masih mengernyit. Kuliah lagi hanya membuat kepalanya penuh. Bahkan saat ini ia sudah tidak bisa berpikir lagi.
“Kita bisa ngambil kelas malam. Jadwalnya fleksibel kok, weekend,” jelas Onny lagi meyakinkan Talisa yang sama sekali tidak bersemangat.
“Katanya pengalaman adalah universitas yang paling bagus ...,” celetuk Talisa yang memang tidak berminat, tapi Onny belum berhenti bicara.
“Tapi, tetap butuh legalitas, Talisa. I-ja-zah!” putus dia. “Minggu depan aku mau daftar. Kalau kamu mau juga, ayo sekalian kita ke sana ....”
“Nggak minat,” cetus Talisa dan Onny pun cemberut.
Talisa belum ingin memikirkan hal lain selain bagaimana ia bisa terbebas dari siksaan ini. Kenapa Chakka menjadikannya seorang penggerutu yang gelisah begini? Talisa tidak berhenti-berhentinya menjatuhkan dirinya sendiri karena merasa terlalu bodoh saat kembali ke ruangan lalu menemukannya sudah duduk di kursinya dengan beberapa berkas.
Chakka hanya menyapa dengan secuil senyuman –tidak biasanya dia sibuk; Chakka tidak menyentuh komputernya sama sekali. Talisa berlalu dengan segera pergi ke mejanya yang ada di belakang. Terbayang beberapa tumpuk berkas yang harus dikembalikan ke tempatnya setelah ia mengotak-atiknya hanya untuk mencari selembar surat –demi Chakka.
“Talisa!” Chakka memanggil saat Talisa baru melewatinya.
“Ya?” sahutku lesu sambil menghampirinya.
“Aku minta tolong fotokopi surat ini ya?” kata dia mengulurkan selembar surat dan membuat Talisa semakin tidak bersemangat.
Gadis itu tidak menjawab; hanya berlalu dengan selembar surat keterangan di tangannya. Sekilas Talisa membacanya dan sebuah nama tertangkap oleh sudut matanya –Vonnya Rosalina, alias Onny si super cerewet. Rupanya dia minta dibikinkan surat keterangan dari tempat kerja untuk bisa mendaftar kuliah. Ternyata dia benar-benar serius soal kuliah, gelar dan karir.
“Kamu nggak mau juga?” tanya Chakka tiba-tiba saat Talisa tertegun membaca surat Onny
“Mau apa?”
“Kuliah. Vonnya katanya mau mendaftar kelas malam,”
“Oh, aku nggak tertarik ....”
“Kenapa? Pendidikan itu penting, Talisa. Masa depan kamu masih panjang. Memang kamu mau kerja di sini selamanya? Jadi bawahan orang terus?”
Talisa menghela nafas. “Aku juga nggak mau jadi direktur,” celetuknya sambil membalikan badan dan bergegas pergi.
Tawa kecilnya terdengar sesaat sebelum Talisa membuka pintu dan keluar. Tidak ada lagi hal yang menyenangkan untuk dibicarakan dengannya. Suasana sudah berubah meskipun Chakka sudah lebih ramah. Tapi, bukan seperti ini pula yang Talisa inginkan.
Sekembalinya dari lantai dua, Talisa menemukan Chakka sudah sibuk lagi dengan game komputer nya. Dia sampai tidak mempedulikan surat yang sudah di-fotokopi itu sudah ditaruh kembali di meja. Lalu Talisa pergi ke tempatnya, menunggu sampai jam lima tiba dan pulang.
Tapi, sebelum pukul lima, Chakka bahkan sudah tampak bersiap-siap hendak pergi. Dia tampak menyusun berkas-berkas miliknya diatas meja sekenanya saja. Dia kelihatan sangat buru-buru. Secepat kilat dia menyambar kunci mobilnya lalu keluar setengah berlari, lalu menghilang di balik pintu. Dia bahkan tidak bilang pada Talisa bahwa dia harus pulang lebih dulu.
Perhatian Talisa kemudian tertuju kepada mejanya yang tampak tak berbeda dari saat dia mengeluarkan semua berkas untuk mencari sesuatu lalu dibiarkan begitu saja. Saking buru-burunya dia lupa meminta asistennya mengembalikan dokumen di atas meja kembali ke tempatnya. Tapi tetap saja artinya adalah Talisa harus membereskan pekerjaan yang tidak bisa dia selesaikan. Ya, untuk inilah Talisa berada di sini ....
Pelan-pelan, Talisa mulai memasukan berkas-berkas itu ke tempatnya semula. Jumlahnya ada puluhan lembar dan terberai dari foldernya sendiri. Talisa kembali menyusun berkas itu berdasarkan tanggal. Butuh lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya dan Talisa tidak ingin menunggu besok. Akhirnya sore itu Talisa lembur lagi. Pekerjaannya mulai terasa semakin membosankan.
Tapi, kemudian Talisa seakan melihat secercah harapan begitu menemukan kembali surat keterangan untuk Onny. Lalu berpikir, mungkin Onny ada benarnya juga.
Komentar
0 comments