[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 7 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Chakka menahan Talisa untuk tidak meninggalkannya. Hati Talisa yang terberai hancur berkeping-keping karena mengetahui kenyataan sebenarnya, seakan kembali menyatu meski belum utuh. Hatinya akan tetap rapuh dan retak di setiap bagiannya, setiap terjatuh ia akan hancur lagi dengan rasa sakit yang sama –bahkan semakin buruk bila cinta sepihak ini terus ia lanjutkan.
Tapi, apa pilihannya yang tersisa?
Berada di sisi Chakka saat ini seperti anugrah. Melihat setiap kelemahan yang dia tunjukan seperti pertanda bahwa Talisa akan menopangnya setiap dia akan jatuh. Talisa memang tidak mengerti mengapa Chakka masih berusaha meyakinkan Dara untuk menerima cintanya tapi kemudian Talisa mulai merasasakan bagaimana menjadi Chakka –yang melakukan apa saja tapi orang yang dia cintai tidak akan pernah bisa merasakan cintanya.
Hatinya terenyuh saat memandang wajahnya yang sedih. Chakka belum mengatakan apa-apa. Dia hanya meminta Talisa tinggal. Saat kesedihan membuatnya tidak berdaya Talisa berada di sana untuk meminjamkan bahunya. Dan dia mengatakan pada Talisa “Aku tidak punya pilihan ....”
Lihat aku! Itulah yang Talisa katakan berkali-kali di dalam hatinya setiap memandangnya. Chakka menatapnya tapi sinar matanya redup oleh kesedihan. Talisa merasakan siksaan yang luar biasa berada di sekitarnya. Dia tidak ‘melihat’-dirinya. Chakka tidak bisa membaca hatinya.
“Aku memang bukan laki-laki. Nggak tahu persis gimana sifat laki-laki,” Talisa berkata setelah selesai mengemasi kembali isi kotak P3K. “Tapi, menurutku, sepertinya kamu sudah ditolak berulang kali. Dikatai oleh perempuan sampai seperti itu adalah penghinaan bagi seorang laki-laki. Aku memang nggak tahu apa yang sudah kalian lalui. Tapi, aku tahu kalau kamu mencoba berkata jujur tapi dia nggak peduli.”
Chakka termangu. Wajahnya yang lelah kembali murung.
“Dia menyebut kamu psikopat, brengsek. Aku nggak suka kamu dituduh sampai seperti itu. Kamu bahkan mungkin nggak seperti yang dia pikirkan. Entah .... tapi, aku nggak ngerti kenapa kamu nggak mengatakan apa yang harus kamu katakan.”
“Menurut kamu memang apa yang harus aku katakan?”
“Aku nggak tahu, tapi kamu menahannya. Entah kamu mau bilang ‘aku cinta kamu’ atau sejenisnya apapun yang bikin dia berhenti berpikir kamu nggak seperti itu ....” Talisa menarik nafas dalam-dalam dan berusaha berpikir. Tapi, sebenarnya kepalanya kosong, sepertinya Talisa masih gugup dan syok. Hanya saja mulutnya tidak bisa berhenti bicara. “Ah, aku juga nggak tahu apa sebenarnya yang kamu pikirkan ... aku nggak tahu siapa yang benar siapa yang salah ... dan ... aku juga nggak berhak tahu itu bukan urusanku ... ah, aku nggak tahu ....”
Tawa kecil Chakka terdengar dan itu segera membuatnya sadar bahwa ia baru saja meracau. Talisa segera diam, berusaha agar ia tidak melihat wajahnya. Talisa tidak sempat memikirkan kesan yang ada pada dirinya jika ia terus bicara. Aku hanya ... hanya ... entah ....
“Mau bagaimana lagi?” katanya, tersenyum getir. Dan Talisa semakin heran saja. “Namanya juga sudah cinta.”
“Cinta?” Talisa mengernyit. “Kayak drugs ya? Bikin orang jadi kehilangan akal sehat. Sampai nggak bisa mengendalikan amarah ....”
“Kamu nggak bakal mau tahu,” kata dia. “Karena kamu nggak suka jadi dewasa.”
“But, I will ...” potongku. “Hanya saja ... bukan menjadi orang dewasa yang suka menyakiti atau memaksa orang yang dia cintai ....”
 “Kadang itu harus ...”
“Kamu berbohong!”
“Orang dewasa terkadang harus berbohong, Talisa.”
Talisa melihatnya tertunduk lagi. Walaupun Chakka mematahkan hatinya, ia tidak bisa membencinya. Dia terlihat sangat sedih dan putus asa. Ia bisa merasakannya seakan ia dapat menyentuh kepedihan di relung hatinya yan paling dalam.
“Kamu mencintainya sampai seperti itu?” Talisa kembali bertanya.
“Lebih dari yang orang lain tahu ...,” Chakka menjawabnya dan kepalanya tertunduk.
“Tapi, kamu tahu jawabannya dan kamu ... punya pacar yang lain ‘kan?”
Chakka menggeleng. “Itu berbeda ....”
“Di mananya?”
“Kamu nggak mengerti, sudah kubilang ....”
“Aku memang nggak mengerti ... tapi kamu sendiri yang bilang kalau aku adalah orang yang bisa dipercaya ....”
Chakka terkekeh, dia tampak ragu bahwa dia memang pernah mengatakan hal itu pada Talisa. Ekspresinya terlihat seakan ingin menarik kata-kata itu lagi.
Apakah aku telah mendesaknya? Oh, ini saat yang tidak tepat. Harusnya Talisa pergi. Menepati janji pada teman-temannya. Tapi, langkahnya berat sekali. Rasanya seperti dipaku. Anehnya Talisa punya firasat bahwa Chakka belum mengizinkanya pergi.
Talisa menghela nafas. “Baik, aku mengerti,” ucapnya sambil berdiri. Talisa harus pergi. Ia tidak mungkin menemaninya di sini walaupun ingin sekali. “Aku cuma anak kecil ... aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu suka bicara seolah-olah kamu mengerti semuanya?” kedengarannya ia kembali mengumpulkan emosinya.
Apa salahku sekarang? Kenapa aku juga kena? Talisa mulai kesal sendiri. Apa itu efek rasa sakit di tangannya atau mungkin emosinya yang belum stabil?
“Aku nggak mengerti! Sama sekali nggak mengerti! Dan nggak mau mengerti!” timpal Talisa yang sudah benar-benar kesal. “Tapi, aku lihat apa yang nggak kamu lihat. Dia nggak menyukai kamu, itu saja.”
“Lalu aku harus bagaimana?!” Chakka malah berteriak padaku.
Ini mulai terasa melelahkan.
“Tinggalkan semuanya!” Talisa berkata, tak kalah kerasnya.
“Kamu nggak bisa seenaknya bilang begitu, Talisa ...” suaraya melemah sebelum dia berteriak lagi pada Talisa, “kamu nggak tahu apa-apa soal aku! Jangan sok tahu!”
“Untuk apa semua ini kalau kamu malah menderita?!”
“Aku nggak menderita! Kamu hanya nggak mengerti bahwa kadang-kadang setiap orang bisa saja punya masalah! Dan itu nggak bisa diselesaikan dengan lari atau bersenang-senang!”
“Tapi kamu nggak pernah melangkah keluar dari sana!”
“Kata siapa?! Kamu anak kecil mana bisa mengerti?!”
“Dan kamu orang dewasa kenapa nggak tahu apa yang harus kamu lakukan?! Kamu mau bilang sama aku pacaran dengan lebih dari satu orang perempuan itu adalah cara kamu menikmati hidup? Aku baru tahu ada orang yang gemar menyakiti orang lain seperti itu dengan sengaja atau mungkin perempuan itu yang kurang waras! Aku rasa itu alasan Dara menyebut kamu psikopat. Buat kamu menyenangkan tapi untuk orang lain itu sesuatu yang menyakitkan!”
“Kamu nggak perlu tahu apa yang harus aku lakukan! Dengar, semuanya nggak segampang yang ada di pikiran kamu!”
“Kalau begitu kenapa nggak pikiran kamu aja yang membuatnya jadi gampang?! Kenapa harus ada anak kecil yang harus memberitahu apa yang harus kamu lakukan!”
“Aku nggak pernah minta kamu ikut campur!”
“Tapi kamu menyeretku!”
“Aku nggak menyeret kamu!”
“Kalau begitu jangan bertengkar atau melakukan yang nggak-nggak di kantor! Apa kalian nggak punya rasa malu?!”
“Kalau begitu jangan datang lagi ke sini!”
“Ya sudah! Kenapa kamu nggak pecat aku saja sekalian?!”
“Keluar, Talisa!”
“Baik!”
Talisa segera berlari ke pintu. Kenapa Talisa malah bertengkar dengannya? Bodoh! Talisa memaki dirinya sendiri saat ia sadar bahwa sebenarnya semua ini dimulai dari ketidaksengajaan. Ia hanya tidak sengaja melihat semua ini dan tahu-tahu sudah terlibat dengan urusan mereka. Sebenarnya Talisa bahka tidak perlu tahu masalah mereka. Ini mulai kelihatan aneh. Apakah Talisa sendiri yang telah menyeret dirinya ke dalam badai ini?
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments