[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 18 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Chakka masih menelponnya dengan tidak sabaran.
“Talisa, kamu di mana sih?!” desak lelaki itu dan membuat Talisa kembali risau.
Rapat kali ini benar-benar penting sampai Chakka tidak ingin membuang waktu sedikit pun.
“Iya aku sudah hampir sampai!” jawab Talisa cepat.
“Ya sudah, aku tunggu di depan ya?” kata Chakka sebelum menutup telepon.
“Bos kamu cerewet ya?” tanya Pai padanya.
Talisa tidak menjawab; apa jadinya kalau Talisa mengatakan bos yang dimaksud adalah orang yang hampir menabraknya. Tapi, sudahlah. Talisa menganggap ini akan menjadi pertama dan terakhir ia naik motornya Pai.
Begitu sampai di kantor, Talisa bergegas masuk namun ternyata ia menemukan Chakka baru turun dari lantai dua dan menantinya di lobi kantor.
“Kamu diantar siapa?” tanya Chakka yang menemukan seorang pengendara motor yang baru saja mengebut pergi dengan suara motornya yang nyaring.
“Teman kampus,” jawab Talisa sambil menuju tangga ke lantai dua. Ia tidak ingin menjawab lebih jauh bahwa yang mengantarnya adalah orang yang tidak disukai Chakka.
“Kalau nggak salah dia anak yang ugal-ugalan itu ‘kan?” tanya Chakka akhirnya saat mereka sama-sama menaiki tangga.
Talisa diam. Aduh, bagaimana cara menjelaskannya?
“Aku ‘kan sudah bilang kalau kamu harus menjauhi orang seperti itu,” kata Chakka secara tiba-tiba. Apa dia sedang bicara soal firasatnya lagi? Atau sebenarnya Chakka mulai cemburu melihat Talisa dekat dengan laki-laki lain?
Talisa tertunduk. “Aku nggak punya pilihan lain. Kalau nggak aku bisa terlambat ke sini,” jelasnya.
Chakka tampak menghela nafas lelah. “Ya sudah, sekarang kamu selesaikan laporannya. Setengah jam ya?” katanya sebelum menaiki tangga dengan setengah berlari.
***
Hari-hari mulai padat dan melelahkan. Kuliah dan tugas-tugas, bekerja dan menghadapi muka masam orang-orang yang tidak suka padanya adalah kombinasi yang membuatnya sedikit berhenti berkeluh kesah. Tapi, satu hal yang tak pernah ia kesampingkan adalah memikirkan Chakka meskipun terkadang ia harus melihat hal-hal yang menyayat hati juga.
Dara masuk ke ruangan di saat Talisa tidak di kantornya. Hubungan mereka belum membaik sejak itu karena Chakka terkesan tidak terlalu mempedulikannya. Tapi, Dara berusaha membujuk dengan bersikap baik dan manja seolah dia sangat membutuhkan Chakka.
“Beberapa hari ini kamu nggak pulang,” kata dia. “Aku tahu kamu masih kesal tapi kita harus bicara ....”
“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Chakka, acuh tak acuh.
Perempuan itu bergerak mengitari meja dan berhenti di samping Chakka yang sedang bekerja dengan komputernya. Ia mengambil sela antara Chakka dan komputernya dan mengisi ruang itu agar Chakka tidak melihat ke komputernya.
“Kamu mau apa?” tanya Chakka dingin, seakan tidak tertarik dengan Dara yang mencoba menggodanya.
“Aku hanya rindu ...,” jawab Dara pelan sambil mencondongkan tubuhnya dan memberi Chakka ciuman di bibirnya selama beberapa detik yang dibalas Chakka dengan tetap diam. Dara mulai meraih belakang kepala Chakka dan duduk di pangkuannya seperti wanita nakal menggoda.
Tapi, Chakka mendorong tubuhnya dan menolak ciuman itu secara tiba-tiba. “Ini kantor dan aku nggak mau ada yang masuk lalu melihatnya,” tegas Chakka sambil berdiri, menghindari Dara.
“Aku tahu kamu menginginkannya ...,” Dara mulai kesal dan mengikuti Chakka yang ingin keluar ruangan. “Tapi ego kamu menolak dan kamu memperlakukan aku seperti ini?”
“Lalu aku harus bagaimana lagi?”
“Kita akan segera menikah, Chakka!” tegas Dara. “Kamu tahu kita nggak perlu berlama-lama seperti ini karena kita akan menikah.”
“Aku nggak mau menikah dengan terpaksa ...” cetus Chakka yang hendak meraih gagang pintu. Tapi Dara mencegatnya dengan memeluk punggungnya erat.
“Aku membutuhkan kamu, Chakka ....” Katanya, lemah hingga Chakka terdiam di depan pintu. “Apa yang membuat kamu berpikir kalau aku nggak mencintai kamu? Aku cemburu, bisa kamu bayangkan aku tersiksa saat tahu kamu tidur dengan perempuan lain hanya untuk membalasku? Aku mohon, kita harus berhenti bermain-main seperti ini ....”
Chakka masih diam; membeku.
“Aku mencintai kamu, Chakka ....” Ucap Dara lagi, membuat Chakka bergidik. “Aku merindukan kamu ....”
“Kelemahanku adalah kamu, Dara ...,” kata Chakka, yang masih tidak bergerak dari pelukan Dara yang erat. “Kamu tahu itu?”
Dara memejamkan matanya tanpa melepaskan kedua lengannya dari Chakka. “Aku berpikir untuk meninggalkan kota ini, menjual perusahaan, lalu menikah dan tinggal di Jakarta bersama kamu ...,” katanya. “Apa kamu mau?”
“Aku nggak pernah menolak semua permintaan kamu ‘bukan?” balas Chakka lalu Dara melepaskan dirinya setelah yakin lelaki itu tidak akan menghindarinya.
“Pulanglah, Chakka ...,” ujar Dara sambil menatapnya lekat-lekat; lalu setetes air mata mengalir turun di pipinya yang merah. “Jangan pergi dengan dia lagi ....”
Chakka mengangguk sambil mendekat untuk meraih Dara ke dalam dekapannya selama beberapa detik sebelum menciumnya dengan khidmat. Ia juga tak bisa mengingkari bahwa dirinya pun juga terlalu merindukan perempuan ini. Tidak kuasa menahan kerinduan yang begitu besar terhadap Dara, Chakka melupakan bahwa Talisa bisa saja masuk dan melihat ini; saat Chakka menyandarkan Dara ke pintu dengan hasrat tak terbendung sambil menciuminya dan Dara membalas denga melucuti satu persatu kancing kemejanya. Mereka saling bertemu di depan pintu dan membuat suara-suara panas yang mungkin akan membuat hati Talisa tersayat kalau ia mendengarnya.
Tapi, Talisa mungkin sudah terbiasa.
Di balik pintu itu Talisa berdiri; ia enggan membuka pintunya. Ia mendengarkan dengan seksama bagaimana Chakka menyenangkan perempuan itu. Lalu teringat bahwa dulu di tempat yang sama Dara pernah menolak Chakka dengan kata-kata menyakitkan sampai Chakka ‘memaksa’nya memberi kepuasan; Chakka memperkosanya di dalam kantor itu.
Tanpa perlu menangis, ia menjauh dari pintu dan pergi.
***
“Kamu nggak kerja?” Pai bertanya dengan hati-hati karena Talisa kelihatan cemberut. Bisa saja Talisa akan menyemprotnya karena merasa terganggu. Tapi, sejak melihat Talisa yang datang ke kampus dengan wajah murung membuatnya bertanya-tanya.
Pai tentu tidak mengerti dengan beratnya beban seorang mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Waktu mereka tidak akan cukup untuk mengerjakan banyak hal dalam satu hari.
Talisa menoleh; baru sadar tahu-tahu orang itu sudah mengambil kursi kosong di sampingnya selagi ia menunggu dosen masuk. Dia tidak menjawab; hanya mengambil buku catatan dari dalam tasnya dan menaruhnya di meja dengan lesu.
“Kamu mau apa sih?” celetuk Talisa yang tak suka dihampiri Pai.
Pai tertawa dengan konyolnya. “Aku cuma kebetulan lewat,” jawabnya.
“Lewat di kelas orang?” Talisa mengernyit; mulai terpancing dengan kehadiran Pai yang selalu mengganggunya itu.
Pai masih tertawa. Tidak membantah apa yang dikatakan Talisa, ia pindah ke kursi yang ada di depannya untuk membuat Talisa tetap memperhatikannya.
“Kamu nggak berpikir untuk mengganggu orang yang kamu nggak suka?” tanya Talisa menanggapi Pai dengan serius.
“Maksudnya?”
“Maksudku kamu mengganggu cewek simpanan yang kamu benci,” jelas Talisa dan Pai terdiam.
Sepertinya Pai merasa bersalah dengan kata-katanya itu.
“Aku juga nggak suka diganggu sama orang yang pernah bilang kalau aku simpanan,” cetus Talisa; menunjukan kekesalannya. “Bagiku itu seperti hinaan.”
“Oke,” kata Pai tba-tiba. “Aku minta maaf soal itu. Aku memang salah sangka ...”
Talisa tersenyum sinis. “Jadi ... setelah kumaafkan kamu mau apa?”
Pai tertawa lagi. Tanpa jawaban.
“Setelah yang kamu katakan, aku bisa dong bilang kalau aku nggak suka sama berandal yang hobinya memotong jalan orang, berkelahi sampai babak belur dan sok jagoan,” kata Talisa hingga Pai terdiam. “Menjauhlah dariku ...”
“Fairuz, apa kamu salah masuk kelas?” tegur seseorang yang membuat Pai terkejut. Ia menemukan bahwa dosen yang ditunggu Talisa baru saja masuk kelas. Merasa diusir, Pai pun segera keluar.
Talisa melengos. Orang yang menyebalkan itu seenaknya datang kepadanya dengan sikap menjengkelkan. Tapi sebenarnya itu tidaklah terlalu buruk. Ini pertama kalinya Talisa seperti dikejar-kejar setengah mati oleh orang yang kelihatan suka padanya. Chakka saja cukup acuh padanya walaupun hubungan mereka sudah lebih dari sekedar ‘teman’ dekat dan Chakka sering memperingatkan Talisa agar tidak dekat dengan sembarang orang.
Tapi, tunggu. Apa maksud Chakka melarang-larang? Dia tidak berhak mengatur Talisa seolah ia adalah kekasihnya saja bukan?
Talisa termangu, tanpa sadar ia melamun di saat sang dosen mulai mengabsen.
“Talisa Andari!” hardik dosen pria itu dengan kesal semntara seorang mahasiswa menyikut lengannya.
“Talisa!” tegur teman di sebelahnya.
Gadis itu tersadar. “Hadir!” sahutnya sambil mengacungkan tangan dengan buru-buru di saat yang sama ia merasa masih ada yang sesuatu yang bisa dilakukan untuk menarik Chakka kembali ke sisinya.
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments