๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Talisa, kamu di mana sih?!” desak lelaki
itu dan membuat Talisa kembali risau.
Rapat kali ini benar-benar penting sampai
Chakka tidak ingin membuang waktu sedikit pun.
“Iya aku sudah hampir sampai!” jawab Talisa
cepat.
“Ya sudah, aku tunggu di depan ya?” kata
Chakka sebelum menutup telepon.
Talisa tidak menjawab; apa jadinya kalau
Talisa mengatakan bos yang dimaksud adalah orang yang hampir menabraknya. Tapi,
sudahlah. Talisa menganggap ini akan menjadi pertama dan terakhir ia naik
motornya Pai.
Begitu sampai di kantor, Talisa bergegas
masuk namun ternyata ia menemukan Chakka baru turun dari lantai dua dan
menantinya di lobi kantor.
“Kamu diantar siapa?” tanya Chakka yang
menemukan seorang pengendara motor yang baru saja mengebut pergi dengan suara
motornya yang nyaring.
“Teman kampus,” jawab Talisa sambil menuju
tangga ke lantai dua. Ia tidak ingin menjawab lebih jauh bahwa yang
mengantarnya adalah orang yang tidak disukai Chakka.
“Kalau nggak salah dia anak yang
ugal-ugalan itu ‘kan?” tanya Chakka akhirnya saat mereka sama-sama menaiki
tangga.
Talisa diam. Aduh, bagaimana cara
menjelaskannya?
“Aku ‘kan sudah bilang kalau kamu harus
menjauhi orang seperti itu,” kata Chakka secara tiba-tiba. Apa dia sedang
bicara soal firasatnya lagi? Atau sebenarnya Chakka mulai cemburu melihat
Talisa dekat dengan laki-laki lain?
Talisa tertunduk. “Aku nggak punya pilihan
lain. Kalau nggak aku bisa terlambat ke sini,” jelasnya.
Chakka tampak menghela nafas lelah. “Ya
sudah, sekarang kamu selesaikan laporannya. Setengah jam ya?” katanya sebelum menaiki
tangga dengan setengah berlari.
***
Hari-hari mulai padat dan melelahkan.
Kuliah dan tugas-tugas, bekerja dan menghadapi muka masam orang-orang yang
tidak suka padanya adalah kombinasi yang membuatnya sedikit berhenti berkeluh
kesah. Tapi, satu hal yang tak pernah ia kesampingkan adalah memikirkan Chakka
meskipun terkadang ia harus melihat hal-hal yang menyayat hati juga.
Dara masuk ke ruangan di saat Talisa tidak
di kantornya. Hubungan mereka belum membaik sejak itu karena Chakka terkesan
tidak terlalu mempedulikannya. Tapi, Dara berusaha membujuk dengan bersikap
baik dan manja seolah dia sangat membutuhkan Chakka.
“Beberapa hari ini kamu nggak pulang,” kata
dia. “Aku tahu kamu masih kesal tapi kita harus bicara ....”
“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya
Chakka, acuh tak acuh.
Perempuan itu bergerak mengitari meja dan
berhenti di samping Chakka yang sedang bekerja dengan komputernya. Ia mengambil
sela antara Chakka dan komputernya dan mengisi ruang itu agar Chakka tidak
melihat ke komputernya.
“Kamu mau apa?” tanya Chakka dingin, seakan
tidak tertarik dengan Dara yang mencoba menggodanya.
“Aku hanya rindu ...,” jawab Dara pelan
sambil mencondongkan tubuhnya dan memberi Chakka ciuman di bibirnya selama
beberapa detik yang dibalas Chakka dengan tetap diam. Dara mulai meraih
belakang kepala Chakka dan duduk di pangkuannya seperti wanita nakal menggoda.
Tapi, Chakka mendorong tubuhnya dan menolak
ciuman itu secara tiba-tiba. “Ini kantor dan aku nggak mau ada yang masuk lalu
melihatnya,” tegas Chakka sambil berdiri, menghindari Dara.
“Aku tahu kamu menginginkannya ...,” Dara
mulai kesal dan mengikuti Chakka yang ingin keluar ruangan. “Tapi ego kamu
menolak dan kamu memperlakukan aku seperti ini?”
“Lalu aku harus bagaimana lagi?”
“Kita akan segera menikah, Chakka!” tegas
Dara. “Kamu tahu kita nggak perlu berlama-lama seperti ini karena kita akan
menikah.”
“Aku nggak mau menikah dengan terpaksa ...”
cetus Chakka yang hendak meraih gagang pintu. Tapi Dara mencegatnya dengan
memeluk punggungnya erat.
“Aku membutuhkan kamu, Chakka ....”
Katanya, lemah hingga Chakka terdiam di depan pintu. “Apa yang membuat kamu
berpikir kalau aku nggak mencintai kamu? Aku cemburu, bisa kamu bayangkan aku
tersiksa saat tahu kamu tidur dengan perempuan lain hanya untuk membalasku? Aku
mohon, kita harus berhenti bermain-main seperti ini ....”
Chakka masih diam; membeku.
“Aku mencintai kamu, Chakka ....” Ucap Dara
lagi, membuat Chakka bergidik. “Aku merindukan kamu ....”
“Kelemahanku adalah kamu, Dara ...,” kata
Chakka, yang masih tidak bergerak dari pelukan Dara yang erat. “Kamu tahu itu?”
Dara memejamkan matanya tanpa melepaskan
kedua lengannya dari Chakka. “Aku berpikir untuk meninggalkan kota ini, menjual
perusahaan, lalu menikah dan tinggal di Jakarta bersama kamu ...,” katanya. “Apa
kamu mau?”
“Aku nggak pernah menolak semua permintaan
kamu ‘bukan?” balas Chakka lalu Dara melepaskan dirinya setelah yakin lelaki
itu tidak akan menghindarinya.
“Pulanglah, Chakka ...,” ujar Dara sambil
menatapnya lekat-lekat; lalu setetes air mata mengalir turun di pipinya yang
merah. “Jangan pergi dengan dia lagi ....”
Chakka mengangguk sambil mendekat untuk
meraih Dara ke dalam dekapannya selama beberapa detik sebelum menciumnya dengan
khidmat. Ia juga tak bisa mengingkari bahwa dirinya pun juga terlalu merindukan
perempuan ini. Tidak kuasa menahan kerinduan yang begitu besar terhadap Dara,
Chakka melupakan bahwa Talisa bisa saja masuk dan melihat ini; saat Chakka
menyandarkan Dara ke pintu dengan hasrat tak terbendung sambil menciuminya dan
Dara membalas denga melucuti satu persatu kancing kemejanya. Mereka saling
bertemu di depan pintu dan membuat suara-suara panas yang mungkin akan membuat
hati Talisa tersayat kalau ia mendengarnya.
Tapi, Talisa mungkin sudah terbiasa.
Di balik pintu itu Talisa berdiri; ia
enggan membuka pintunya. Ia mendengarkan dengan seksama bagaimana Chakka
menyenangkan perempuan itu. Lalu teringat bahwa dulu di tempat yang sama Dara
pernah menolak Chakka dengan kata-kata menyakitkan sampai Chakka ‘memaksa’nya
memberi kepuasan; Chakka memperkosanya di dalam kantor itu.
Tanpa perlu menangis, ia menjauh dari pintu
dan pergi.
***
“Kamu nggak kerja?” Pai bertanya dengan
hati-hati karena Talisa kelihatan cemberut. Bisa saja Talisa akan menyemprotnya
karena merasa terganggu. Tapi, sejak melihat Talisa yang datang ke kampus
dengan wajah murung membuatnya bertanya-tanya.
Pai tentu tidak mengerti dengan beratnya
beban seorang mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Waktu mereka tidak akan
cukup untuk mengerjakan banyak hal dalam satu hari.
Talisa menoleh; baru sadar tahu-tahu orang
itu sudah mengambil kursi kosong di sampingnya selagi ia menunggu dosen masuk.
Dia tidak menjawab; hanya mengambil buku catatan dari dalam tasnya dan
menaruhnya di meja dengan lesu.
“Kamu mau apa sih?” celetuk Talisa yang tak
suka dihampiri Pai.
Pai tertawa dengan konyolnya. “Aku cuma
kebetulan lewat,” jawabnya.
“Lewat di kelas orang?” Talisa mengernyit;
mulai terpancing dengan kehadiran Pai yang selalu mengganggunya itu.
Pai masih tertawa. Tidak membantah apa yang
dikatakan Talisa, ia pindah ke kursi yang ada di depannya untuk membuat Talisa
tetap memperhatikannya.
“Kamu nggak berpikir untuk mengganggu orang
yang kamu nggak suka?” tanya Talisa menanggapi Pai dengan serius.
“Maksudnya?”
“Maksudku kamu mengganggu cewek simpanan
yang kamu benci,” jelas Talisa dan Pai terdiam.
Sepertinya Pai merasa bersalah dengan
kata-katanya itu.
“Aku juga nggak suka diganggu sama orang
yang pernah bilang kalau aku simpanan,” cetus Talisa; menunjukan kekesalannya.
“Bagiku itu seperti hinaan.”
“Oke,” kata Pai tba-tiba. “Aku minta maaf
soal itu. Aku memang salah sangka ...”
Talisa tersenyum sinis. “Jadi ... setelah
kumaafkan kamu mau apa?”
Pai tertawa lagi. Tanpa jawaban.
“Setelah yang kamu katakan, aku bisa dong
bilang kalau aku nggak suka sama berandal yang hobinya memotong jalan orang,
berkelahi sampai babak belur dan sok jagoan,” kata Talisa hingga Pai terdiam.
“Menjauhlah dariku ...”
“Fairuz, apa kamu salah masuk kelas?” tegur
seseorang yang membuat Pai terkejut. Ia menemukan bahwa dosen yang ditunggu
Talisa baru saja masuk kelas. Merasa diusir, Pai pun segera keluar.
Talisa melengos. Orang yang menyebalkan itu
seenaknya datang kepadanya dengan sikap menjengkelkan. Tapi sebenarnya itu
tidaklah terlalu buruk. Ini pertama kalinya Talisa seperti dikejar-kejar
setengah mati oleh orang yang kelihatan suka padanya. Chakka saja cukup acuh
padanya walaupun hubungan mereka sudah lebih dari sekedar ‘teman’ dekat dan
Chakka sering memperingatkan Talisa agar tidak dekat dengan sembarang orang.
Tapi, tunggu. Apa maksud Chakka
melarang-larang? Dia tidak berhak mengatur Talisa seolah ia adalah kekasihnya
saja bukan?
Talisa termangu, tanpa sadar ia melamun di
saat sang dosen mulai mengabsen.
“Talisa Andari!” hardik dosen pria itu
dengan kesal semntara seorang mahasiswa menyikut lengannya.
“Talisa!” tegur teman di sebelahnya.
Gadis itu tersadar. “Hadir!” sahutnya
sambil mengacungkan tangan dengan buru-buru di saat yang sama ia merasa masih
ada yang sesuatu yang bisa dilakukan untuk menarik Chakka kembali ke sisinya.

Komentar
0 comments