[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 18 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

*New Update

Not The Only One~

Talisa terbangun dengan kepala yang terasa seberat satu ton sampai ia tidak bisa langsung duduk untuk mengetahui di mana dirinya. Yang jelas ia tahu bahwa dia tidak sedang di kamarnya karena ia tidak pulang; mana mungkin pulang dengan keadaan mabuk berat bersama seorang pria? Bau tempat itu asing; sepertinya juga bukan kamarnya Chakka; Talisa sempat memperhatikan beberapa interiornya yang tertangkap oleh pandangan matanya pertama kali ia membukanya.
Suara ponsel yang berbunyi itu terdengar mengganggu; barangkali itulah yang membuatnya terbangun dengan sakit kepala yang parah. Seingatnya, bunyi classic ringtone itu bukan miliknya; melainkan milik Chakka yang masih pulas tertidur di sampingnya.
Talisa mencoba untuk bangkit, mencari asal suara itu. Ia ingin mematikan benda itu supaya berhenti mengganggu paginya. Ia belum ingin memikirkan apa-apa namun menemukan ponsel itu agaknya membuat ia kewalahan.
Di mana benda sialan itu? gerutunya sambil turun dari tempat tidur dan menajamkan pendengaran di saat matanya masih terasa berat. Sampai ia menemukan celana Chakka yang tercecer di lantai; benda itu berada di dalam sakunya. Talisa mengumpulkan semua kesadarannya yang tercerai berai sejak ia meneguk minuman keras itu sampai ia berakhir di kamar hotel dan terbangun oleh suara ponsel Chakka yang tidak sabaran. Lalu matanya mencermati barisan huruf yang berkedip di layar ponsel Chakka. D-A-R-A.
Perempuan itu sudah menelepon beberapa kali, tapi karena mereka terlalu pulas bahkan Chakka sama sekali bergeming. Setidaknya ponsel itu merekam 20 panggilan tak terjawab. Talisa tersenyum; lalu tertawa kecil. Satu panggilan lagi membuat ponsel itu kembali berbunyi. Tanpa ragu, Talisa menjawabnya.
“Chakka?!” suara Dara yang berseru, membuktikan betapa kehilangannya Dara beberapa hari ini sejak ketahuan masih menjalin hubungan dengan mantan suaminya. “Chakka, kamu di mana?!”
“Dia sedang tidur,” jawab Talisa.
Tiba-tiba menjadi hening.
“Halo?” Talisa tersenyum lagi; membayangkan bagaimana bibir Dara tidak bisa mengatup karena terkejut. Dia menikmatinya; walau di saat bersamaan hatinya juga tercabik menyadari bahwa saat ini dirinya adalah seorang perempuan yang tidak tahu malu juga  tak punya harga diri.
“Apa ... apaan kamu?” balas Dara dari seberang sana.
“Dia sedang tidur,” ulang Talisa.
Talisa tertawa kecil; tanpa jawaban. Lalu telepon terputus. Dara pasti membanting ponselnya karena marah dan tak terima. Dia mulai panik; mondar-mandir; begitulah.
Namun, Talisa masih tak merasa menjadi pemenangnya. Satu malam di diskotik di mana ia bisa melupakan kenyataan sejenak telah berlalu. Begitu ia memandangi Chakka yang masih tertidur, ia kembali ingat, laki-laki ini tidak mencintainya; laki-laki ini bukan miliknya; tidak akan pernah menjadi miliknya. Meski pun mereka mempunyai sebuah ‘ikatan’ yang tak mudah putus. Takdir mereka sangatlah unik.
***
PLAK!
Dara baru saja menampar Chakka begitu baru melihatnya. Seperti wanita yang benar-benar terluka diselingkuhi ia meradang, sampai ingin menjambak Talisa yang masuk bersamaan dengan Chakka. Rupanya wanita itu sudah menunggu di kantor sejak pagi dengan mata merah, wajah pucat dan pakaian yang tak rapi.
“Kurang ajar!” makinya, sebelum ia menghampiri Talisa yang terkejut menemukannya. “Pelacur!”
Tapi, sebelum Dara sempat memberikan tamparan yang rasanya sama kepada Talisa, Chakka sudah lebih dulu menariknya dari Talisa. Lalu menyeretnya keluar untuk bertengkar di ruang sebelah.
Talisa hanya diam di dekat pintu; membiarkan mereka pergi adalah cara terbaik baginya untuk memberikan Chakka waktu menyelesaikan persoalannya. Selalu ada saat di mana Talisa yang selalu menahan perasaan; Chakka akan kembali kepadanya setiap ingin melarikan diri dan itu saja sudah lebih dari cukup. Meski mendengar keributan di ruang sebelah tetap saja membuatnya menangis.
Dia memang sudah tak punya harga diri, lalu apa? Setidaknya masih punya cinta. Cintanya lah yang membuat Chakka kembali datang ke pelukannya, meski tanpa balasan namun Chakka sudah mengakui bahwa tanpa Talisa ia akan sangat kesepian. Chakka sudah mengakui bahwa tidak pernah ada seorang pun yang bisa menyentuh kepedihan dan kegelapan di dalam dirinya sebelum Talisa.
Sampai penghabisan, Talisa tidak akan pernah menyerah memperjuangkan cintanya ....
Sepuluh menit kemudian Chakka kembali, dengan wajah kesal. Ia sempat membanting pintu sampai Talisa yang duduk di kursinya terkejut setengah mati. Sepertinya petengkaran itu memang membuat hubungan mereka semakin kacau. Talisa tidak bertanya. Ia perlu membuat aturan sejauh mana ia harus tahu segala hal tentang Chakka mulai sekarang; ia merasa harus menutup mata tentang Dara. Talisa tidak pernah ingin membicarakan tentang Dara; begitu pula dengan Chakka. Chakka akan datang dengan sendirinya setiap ia lelah dengan perempuan itu; ironis.
Mereka lebih memilih pergi ke tempat di mana mereka bisa meninggalkan kenyataan sejenak; walaupun sebenarnya ini bisa berakhir jika saja Chakka mencintai Talisa. Tapi, tak ada yang mampu mengubah Chakka.
Saat dia kembali pada tunangannya, Talisa menjadi bayang-bayang kesepian yang mencari tempat berteduh dari hujan yang ia benci. Hingga suatu hari, Talisa terdesak untuk bisa ‘merasakan sesuatu’ selain dari cinta butanya kepada Chakka. Dia harus memikirkan kuliahnya dan keluarganya yang mulai heran dengan kelakuannya.
***
Ujian semester kali ini benar-benar kacau. Namanya berada di daftar mahasiswa kelas malam yang harus mengulang. Artinya, untuk mengejar ketinggalan SKS, Talisa harus meluangkan waktu untuk masuk kuliah di siang hari. Artinya masuk kuliah reguler dan meminta izin Chakka selama tiga jam untuk belajar setiap harinya sampai SKS tuntas. Sepertinya ini akan menjad masalah; terutama bagi Dara meski pun Chakka tidak akan membiarkan perempuan itu menindak Talisa.
Hanya saja, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ia pelajari sejak jarang masuk kuliah; sering keluyuran bersama Chakka membuat otaknya menjadi tumpul. Entah ada apa dengan dirinya; melakukan apa yang dia suka tak lagi menjadi hal yang menyenangkan. Begitu terjebak, Talisa yang muak meninggalkan kelas, menyendiri ke satu tempat di mana tak ada seorang pun yang melihatnya menyulut rokok dengan pemantik api.
Chakka mengajarkan padanya, inilah cara terbaik menghilangkan ketegangan; merokok. Menghembuskan asap rokok di depan wajahnya, seakan bisa memberi inspirasi. Tapi, tidak. Merokok itu rasanya lebih kepada menghilangkan semacam rasa haus yang tak bisa diredakan dengan minum air; ini hanyalah sebuah kebiasaan dan Chakka-lah yang membuatnya terbiasa.
Tapi, tiba-tiba saja ketenangannya terganggu oleh sesuatu; seseorang menyaksikannya menghisap rokok di sela jarinya dengan khidmat. Terlambat sembunyi, Talisa berusaha untuk acuh. Lagipula yang dilihatnya hanya anak kelas reguler yang menyebalkan itu. Bocah itu pernah mengatainya ‘simpanan orang’, melihat dirinya merokok juga tidak mengubah apa-apa. Di mata orang itu Talisa sudah dianggap rendah; dia tidak peduli.
Namun yang tidak dimengerti Talisa adalah kenapa ia selalu melihat orang itu di kampus dan menemukannya tengah memandang dirinya di berbagai kesempatan. Talisa berusaha untuk tidak peduli, toh dia pasti sedang mengumpulkan kata-kata hinaan lain padanya. Talisa sangat benci dengan orang seperti itu. tapi, ia tak bisa menghindar saat orang itu tiba-tiba muncul di hadapan Talisa dengan motor besarnya; menawarkan tumpangan.
“Ayo naik, aku bisa antar kamu ke tempat kerja,” dia berkata dengan ramah.
Talisa heran, apa orang ini memperhatikan saat Talisa begitu buru-buru mengemasi bukunya karena harus kembali ke kantor; ia harus hadir dalam rapat general hari ini kalau tidak ingin posisinya dipermasalahkan. Saking tergesa-gesanya, Talisa bahkan menjatuhkan bukunya beberapa kali di sepanjang lorong kampus. Ia begitu kerepotan dengan beberapa buku tebal yang ia bawa.
“Aku naik bus saja,” Talisa tetap melangkah melewatinya. Naik motor dengan laki-laki yang pernah merendahkannya tanpa alasan?
Anak itu memacu motornya mengikuti langkah Talisa yang angkuh menghindarinya. “Hei, aku tahu aku nggak punya mobil, tapi aku nggak tega lihat kamu kerepotan. Kamu juga sepertinya buru-buru ....”
“Aku baru tahu ada orang yang berniat menolong tapi juga mengatakan hal-hal yang mengesalkan. Kalau kamu tahu diri nggak punya mobil, jangan sok jadi pahlawan,” celetuk Talisa.
“Hey, Talisa, jangan begitu!” kata orang itu masih membuntutinya dengan suara motor dua tak nya yang bersauara nyaring dan bising.
Talisa heran, orang ini sekarang juga tahu namanya. Tapi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dari Chakka!
“Halo?” Talisa menjawab telepon itu dan segera mengbaikan si pengganggu itu.
“Kamu sudah di mana?” tanya Chakka terdengar mendesak. “Rapatnya akan dimulai, Talisa. Aku ingin kamu mengerjakan beberapa laporan ini dulu.”
“Iya, iya, aku segera ke sana!” kata Talisa lalu teleponnya terputus. Ini membuatnya panik. Ia hanya punya satu jam untuk kembali ke kantor dan megerjakan laporan yang dibutuhkan Chakka. Tapi, butuh setengah jam untuk sampai ke kantor dengan naik bus yang biasa, setengah jam lagi tak akan cukup untuk membuat laporan.
Tapi, si pengacau masih di sana. Sepertinya dia tidak mau pergi sebelum Talisa mengiyakan untuk naik ke motornya dan bersedia diantar. Apa boleh buat. Dia tidak ingin terlambat.
***

Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments