๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
*New Update
Not The Only One~
Talisa terbangun dengan kepala yang terasa
seberat satu ton sampai ia tidak bisa langsung duduk untuk mengetahui di mana
dirinya. Yang jelas ia tahu bahwa dia tidak sedang di kamarnya karena ia tidak
pulang; mana mungkin pulang dengan keadaan mabuk berat bersama seorang pria?
Bau tempat itu asing; sepertinya juga bukan kamarnya Chakka; Talisa sempat
memperhatikan beberapa interiornya yang tertangkap oleh pandangan matanya
pertama kali ia membukanya.
Suara ponsel yang berbunyi itu terdengar
mengganggu; barangkali itulah yang membuatnya terbangun dengan sakit kepala
yang parah. Seingatnya, bunyi classic
ringtone itu bukan miliknya; melainkan milik Chakka yang masih pulas
tertidur di sampingnya.
Talisa mencoba untuk bangkit, mencari asal
suara itu. Ia ingin mematikan benda itu supaya berhenti mengganggu paginya. Ia
belum ingin memikirkan apa-apa namun menemukan ponsel itu agaknya membuat ia
kewalahan.
Di
mana benda sialan itu? gerutunya sambil turun dari
tempat tidur dan menajamkan pendengaran di saat matanya masih terasa berat.
Sampai ia menemukan celana Chakka yang tercecer di lantai; benda itu berada di
dalam sakunya. Talisa mengumpulkan semua kesadarannya yang tercerai berai sejak
ia meneguk minuman keras itu sampai ia berakhir di kamar hotel dan terbangun
oleh suara ponsel Chakka yang tidak sabaran. Lalu matanya mencermati barisan
huruf yang berkedip di layar ponsel Chakka. D-A-R-A.
Perempuan itu sudah menelepon beberapa
kali, tapi karena mereka terlalu pulas bahkan Chakka sama sekali bergeming.
Setidaknya ponsel itu merekam 20 panggilan tak terjawab. Talisa tersenyum; lalu
tertawa kecil. Satu panggilan lagi membuat ponsel itu kembali berbunyi. Tanpa
ragu, Talisa menjawabnya.
“Chakka?!” suara Dara yang berseru, membuktikan
betapa kehilangannya Dara beberapa hari ini sejak ketahuan masih menjalin
hubungan dengan mantan suaminya. “Chakka, kamu di mana?!”
“Dia sedang tidur,” jawab Talisa.
Tiba-tiba menjadi hening.
“Halo?” Talisa tersenyum lagi; membayangkan
bagaimana bibir Dara tidak bisa mengatup karena terkejut. Dia menikmatinya;
walau di saat bersamaan hatinya juga tercabik menyadari bahwa saat ini dirinya
adalah seorang perempuan yang tidak tahu malu juga tak punya harga diri.
“Apa ... apaan kamu?” balas Dara dari seberang
sana.
“Dia sedang tidur,” ulang Talisa.
Talisa tertawa kecil; tanpa jawaban. Lalu
telepon terputus. Dara pasti membanting ponselnya karena marah dan tak terima.
Dia mulai panik; mondar-mandir; begitulah.
Namun, Talisa masih tak merasa menjadi
pemenangnya. Satu malam di diskotik di mana ia bisa melupakan kenyataan sejenak
telah berlalu. Begitu ia memandangi Chakka yang masih tertidur, ia kembali
ingat, laki-laki ini tidak mencintainya; laki-laki ini bukan miliknya; tidak
akan pernah menjadi miliknya. Meski pun mereka mempunyai sebuah ‘ikatan’ yang
tak mudah putus. Takdir mereka sangatlah unik.
***
PLAK!
Dara baru saja menampar Chakka begitu baru
melihatnya. Seperti wanita yang benar-benar terluka diselingkuhi ia meradang,
sampai ingin menjambak Talisa yang masuk bersamaan dengan Chakka. Rupanya
wanita itu sudah menunggu di kantor sejak pagi dengan mata merah, wajah pucat
dan pakaian yang tak rapi.
“Kurang ajar!” makinya, sebelum ia
menghampiri Talisa yang terkejut menemukannya. “Pelacur!”
Tapi, sebelum Dara sempat memberikan
tamparan yang rasanya sama kepada Talisa, Chakka sudah lebih dulu menariknya
dari Talisa. Lalu menyeretnya keluar untuk bertengkar di ruang sebelah.
Talisa hanya diam di dekat pintu;
membiarkan mereka pergi adalah cara terbaik baginya untuk memberikan Chakka
waktu menyelesaikan persoalannya. Selalu ada saat di mana Talisa yang selalu
menahan perasaan; Chakka akan kembali kepadanya setiap ingin melarikan diri dan
itu saja sudah lebih dari cukup. Meski mendengar keributan di ruang sebelah
tetap saja membuatnya menangis.
Dia memang sudah tak punya harga diri, lalu
apa? Setidaknya masih punya cinta. Cintanya lah yang membuat Chakka kembali
datang ke pelukannya, meski tanpa balasan namun Chakka sudah mengakui bahwa
tanpa Talisa ia akan sangat kesepian. Chakka sudah mengakui bahwa tidak pernah
ada seorang pun yang bisa menyentuh kepedihan dan kegelapan di dalam dirinya
sebelum Talisa.
Sampai penghabisan, Talisa tidak akan
pernah menyerah memperjuangkan cintanya ....
Sepuluh menit kemudian Chakka kembali,
dengan wajah kesal. Ia sempat membanting pintu sampai Talisa yang duduk di
kursinya terkejut setengah mati. Sepertinya petengkaran itu memang membuat
hubungan mereka semakin kacau. Talisa tidak bertanya. Ia perlu membuat aturan
sejauh mana ia harus tahu segala hal tentang Chakka mulai sekarang; ia merasa
harus menutup mata tentang Dara. Talisa tidak pernah ingin membicarakan tentang
Dara; begitu pula dengan Chakka. Chakka akan datang dengan sendirinya setiap ia
lelah dengan perempuan itu; ironis.
Mereka lebih memilih pergi ke tempat di
mana mereka bisa meninggalkan kenyataan sejenak; walaupun sebenarnya ini bisa
berakhir jika saja Chakka mencintai Talisa. Tapi, tak ada yang mampu mengubah
Chakka.
Saat dia kembali pada tunangannya, Talisa
menjadi bayang-bayang kesepian yang mencari tempat berteduh dari hujan yang ia
benci. Hingga suatu hari, Talisa terdesak untuk bisa ‘merasakan sesuatu’ selain
dari cinta butanya kepada Chakka. Dia harus memikirkan kuliahnya dan
keluarganya yang mulai heran dengan kelakuannya.
***
Ujian semester kali ini benar-benar kacau.
Namanya berada di daftar mahasiswa kelas malam yang harus mengulang. Artinya,
untuk mengejar ketinggalan SKS, Talisa harus meluangkan waktu untuk masuk
kuliah di siang hari. Artinya masuk kuliah reguler dan meminta izin Chakka
selama tiga jam untuk belajar setiap harinya sampai SKS tuntas. Sepertinya ini
akan menjad masalah; terutama bagi Dara meski pun Chakka tidak akan membiarkan
perempuan itu menindak Talisa.
Hanya saja, ia sama sekali tidak mengerti
dengan apa yang ia pelajari sejak jarang masuk kuliah; sering keluyuran bersama
Chakka membuat otaknya menjadi tumpul. Entah ada apa dengan dirinya; melakukan
apa yang dia suka tak lagi menjadi hal yang menyenangkan. Begitu terjebak,
Talisa yang muak meninggalkan kelas, menyendiri ke satu tempat di mana tak ada
seorang pun yang melihatnya menyulut rokok dengan pemantik api.
Chakka mengajarkan padanya, inilah cara
terbaik menghilangkan ketegangan; merokok. Menghembuskan asap rokok di depan
wajahnya, seakan bisa memberi inspirasi. Tapi, tidak. Merokok itu rasanya lebih
kepada menghilangkan semacam rasa haus yang tak bisa diredakan dengan minum
air; ini hanyalah sebuah kebiasaan dan Chakka-lah yang membuatnya terbiasa.
Tapi, tiba-tiba saja ketenangannya
terganggu oleh sesuatu; seseorang menyaksikannya menghisap rokok di sela
jarinya dengan khidmat. Terlambat sembunyi, Talisa berusaha untuk acuh.
Lagipula yang dilihatnya hanya anak kelas reguler yang menyebalkan itu. Bocah
itu pernah mengatainya ‘simpanan orang’, melihat dirinya merokok juga tidak
mengubah apa-apa. Di mata orang itu Talisa sudah dianggap rendah; dia tidak
peduli.
Namun yang tidak dimengerti Talisa adalah
kenapa ia selalu melihat orang itu di kampus dan menemukannya tengah memandang
dirinya di berbagai kesempatan. Talisa berusaha untuk tidak peduli, toh dia
pasti sedang mengumpulkan kata-kata hinaan lain padanya. Talisa sangat benci
dengan orang seperti itu. tapi, ia tak bisa menghindar saat orang itu tiba-tiba
muncul di hadapan Talisa dengan motor besarnya; menawarkan tumpangan.
“Ayo naik, aku bisa antar kamu ke tempat
kerja,” dia berkata dengan ramah.
Talisa heran, apa orang ini memperhatikan
saat Talisa begitu buru-buru mengemasi bukunya karena harus kembali ke kantor;
ia harus hadir dalam rapat general hari ini kalau tidak ingin posisinya
dipermasalahkan. Saking tergesa-gesanya, Talisa bahkan menjatuhkan bukunya
beberapa kali di sepanjang lorong kampus. Ia begitu kerepotan dengan beberapa
buku tebal yang ia bawa.
“Aku naik bus saja,” Talisa tetap melangkah
melewatinya. Naik motor dengan laki-laki yang pernah merendahkannya tanpa
alasan?
Anak itu memacu motornya mengikuti langkah
Talisa yang angkuh menghindarinya. “Hei, aku tahu aku nggak punya mobil, tapi
aku nggak tega lihat kamu kerepotan. Kamu juga sepertinya buru-buru ....”
“Aku baru tahu ada orang yang berniat
menolong tapi juga mengatakan hal-hal yang mengesalkan. Kalau kamu tahu diri
nggak punya mobil, jangan sok jadi pahlawan,” celetuk Talisa.
“Hey, Talisa, jangan begitu!” kata orang
itu masih membuntutinya dengan suara motor dua tak nya yang bersauara nyaring
dan bising.
Talisa heran, orang ini sekarang juga tahu
namanya. Tapi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dari Chakka!
“Halo?” Talisa menjawab telepon itu dan
segera mengbaikan si pengganggu itu.
“Kamu sudah di mana?” tanya Chakka
terdengar mendesak. “Rapatnya akan dimulai, Talisa. Aku ingin kamu mengerjakan
beberapa laporan ini dulu.”
“Iya, iya, aku segera ke sana!” kata Talisa
lalu teleponnya terputus. Ini membuatnya panik. Ia hanya punya satu jam untuk
kembali ke kantor dan megerjakan laporan yang dibutuhkan Chakka. Tapi, butuh
setengah jam untuk sampai ke kantor dengan naik bus yang biasa, setengah jam
lagi tak akan cukup untuk membuat laporan.
Tapi, si pengacau masih di sana. Sepertinya
dia tidak mau pergi sebelum Talisa mengiyakan untuk naik ke motornya dan
bersedia diantar. Apa boleh buat. Dia tidak ingin terlambat.
***

Komentar
0 comments