[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 17 (3/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Seorang lelaki berpakaian serba hitam berdiri di depan sebuah pintu yang terbuka di keremangan. Di sudut lorong hanya ada sebuah lampu yang tak mampu menerangi wajah muda-mudi yang tengah mengantri untuk masuk melewati penjaga itu.
“Chakka, ini tempat apa?” Talisa bertanya kepada Chakka yang membawanya ke dalam antrian orang-orang itu.
Penjaga berbadan besar menyoroti mereka sekilas sebelum bisa melewatinya. Lalu mereka disambut lorong gelap di mana Talisa samar-samar mendengar suara music bertempo cepat dan merasakan getaran dari sound system-nya. Cahaya remang tercipta oleh biasan lampu warna-warni yang menyeruak dari ujung lorong yang berbelok ke kiri.
Talisa masih memandangi Chakka yang tampak tenang; melangkah seperti pria yang flamboyan dengan setelan kantor yang masih melekat ditubuhnya. Ia tidak megerti apa-apa sampai mereka mencapai sumber dari biasan cahaya warna-warni itu. Yaitu sebuah kehidupan lain di mana ada music, tarian, minuman dan asap rokok. Kehidupan yang hanya hidup lewat jam sembilan malam; diskotik.
Tidak pernah sebelumnya, Talisa melihat keramaian seperti ini. Ia bahkan tidak pernah tahu di kotanya di mana adat dan budayanya yang begitu kuat, ada tempat seperti ini. Mungkin, karena selama ini ia hanya tinggal di dunianya yang kecil, yang terikat aturan dan sanksi sosial. Saat ini, persetan dengan semua itu. Talisa merasa bahwa ia harus keluar dari zona nyaman yang ditetapkan orang tuanya untuk dirinya selama ini.
Chakka menjulurkan tangannya saat mereka harus melewati sekelompok orang yang tertawa sambil menari dengan rokok atau minuman di tangan mereka. Chakka tampak tidak membiarkannya tersesat walaupun tempat ini tidak terlalu luas. Namun yang pasti, orang-orang di sini mungkin akan memperlakukannya dengan tidak sopan. Tanpa ragu Talisa meraihnya; ke mana pun Chakka mengajaknya ia akan tetap mengikutinya. Saat itu Chakka tersenyum, terlihat gurat ketidaksabarannya untuk mengajak Talisa ke tempat yang ingin ia tunjukan yaitu meja di mana bartender sudah menunggu pesanan minuman.
Talisa heran, begitu Chakka memberi isyarat pada seorang bartender berseragam kemeja putih dan rompi hitam, orang itu langsung menyiapkan minumannya. Sepertinya Chakka sudah sering ke sini; mungkin karena ini satu-satunya diskotik yang ada di kota dan tempat-tempat seperti ini barangkali hanya menimbulkan banyak pertentangan di masyarakat.
“Kamu minum minuman keras juga selain Coca Cola?” tanya Talisa.
Chakka tertawa; seakan pertanyaan itu terdengar lucu.
“Aku pikir kamu cuma mau minum Coca Cola!”
Bartender memberi Chakka dua sloki minuman hasil racikannya. Ia menyodorkan salah satunya ke Talisa yang langsung mengerutkan dahi; tentu ia menolak. Menurutnya masuk ke tempat seperti ini saja adalah sebuah kesalahan besar; apalagi minum minuman keras.
“Ayo, minum, biasanya kamu protes kalau aku beri Coca Cola,” kata Chakka padanya.
“Ini minuman keras, Chakka. Bukan air putih,” celetuk Talisa; ia bersikeras tidak akan menyentuhnya. “Lagipula baunya nggak enak, lebih nggak enak lagi dari Coca Cola yang rasanya kayak disetrum listrik!”
Tapi, tiba-tiba Chakka menarik tubuhnya sambil menggenggam satu sloki. Ia mengarahkan sloki itu ke mulut Talisa, memaksanya menyesap minuman itu. Talisa berontak; ia benci dengan bau keras yang menusuk hidungnya. Ia menyingkirkan tangan Chakka darinya dengan kasar. Lalu Chakka tertawa karena memandangi ekspresi marah Talisa; wajahnya yang merengut itu terlihat menggemaskan.
“Kamu bilang kamu akan mengikuti aku ke mana pun,” kata Chakka mencandainya sedikit.
“Tapi, kamu nggak bilang kalau aku juga harus jadi pemabuk. Itu sama sekali nggak ada di kontrak kita,” kata Talisa, mendengus; menatap Chakka dengan sedikit jengkel.
“Kontrak apa?”
“Kalau kamu mabuk, mabuk saja. Aku nggak ikut!”
“Terus kalau kamu nggak minum, apa yang akan kamu lakukan di sini?”
Talisa tidak menjawab. Ia masih terlihat kesal pada Chakka sampai rasanya ia ingin pergi; sepertinya ia benar-benar salah ‘masuk’.
Tiba-tiba Chakka merangkul pundaknya. “Sudahlah! Kamu nggak perlu memikirkan dunia di luar sana mau seperti apa!” katanya, berujar. Lalu memutar tubuh Talisa menghadap lantai dansa yang tumpah ruah oelh orang-orang yang menari seperti kesurupan. “Malam ini kita terpisah dari semua itu! kamu mengerti?”
“Tapi, ...” Talisa masih mencoba membantahnya tapi ketika menyadari Chakka menatapnya lekat-lekat, semua alasan untuk  harus pergi dari sini tersingkirkan.
“Kamu yang bilang kalau kita punya kontrak,” ia menegaskan. “Di sini kita bisa melupakan kenyataan dunia di luar sana mengharuskan aku menikah dengan perempuan yang mencintai orang lain demi warisan keluarganya. Kita bisa melupakan bahwa beberapa hari yang lalu kita nyaris mati dalam kecelakaan tragis. Hanya di sini ... ingat, hanya di sini ....”
“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Talisa, mulai terhipnotis.
Chakka tidak menjawab, ia hanya menyodorkan sloki minuman kepadanya. “Lupakan semuanya,” dia berkata. “Lupakan.”
***

Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments

    • avatar Midnight says:

      sebenarnya sudah smpai chapter 21 sih tapi masih ragu-ragu karena lagi stuck. Sabar ya....