๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Seorang lelaki berpakaian serba hitam
berdiri di depan sebuah pintu yang terbuka di keremangan. Di sudut lorong hanya
ada sebuah lampu yang tak mampu menerangi wajah muda-mudi yang tengah mengantri
untuk masuk melewati penjaga itu.
“Chakka, ini tempat apa?” Talisa bertanya
kepada Chakka yang membawanya ke dalam antrian orang-orang itu.
Penjaga berbadan besar menyoroti mereka
sekilas sebelum bisa melewatinya. Lalu mereka disambut lorong gelap di mana
Talisa samar-samar mendengar suara music bertempo cepat dan merasakan getaran
dari sound system-nya. Cahaya remang
tercipta oleh biasan lampu warna-warni yang menyeruak dari ujung lorong yang
berbelok ke kiri.
Talisa masih memandangi Chakka yang tampak
tenang; melangkah seperti pria yang flamboyan dengan setelan kantor yang masih
melekat ditubuhnya. Ia tidak megerti apa-apa sampai mereka mencapai sumber dari
biasan cahaya warna-warni itu. Yaitu sebuah kehidupan lain di mana ada music,
tarian, minuman dan asap rokok. Kehidupan yang hanya hidup lewat jam sembilan
malam; diskotik.
Tidak pernah sebelumnya, Talisa melihat
keramaian seperti ini. Ia bahkan tidak pernah tahu di kotanya di mana adat dan
budayanya yang begitu kuat, ada tempat seperti ini. Mungkin, karena selama ini
ia hanya tinggal di dunianya yang kecil, yang terikat aturan dan sanksi sosial.
Saat ini, persetan dengan semua itu. Talisa merasa bahwa ia harus keluar dari
zona nyaman yang ditetapkan orang tuanya untuk dirinya selama ini.
Chakka menjulurkan tangannya saat mereka
harus melewati sekelompok orang yang tertawa sambil menari dengan rokok atau
minuman di tangan mereka. Chakka tampak tidak membiarkannya tersesat walaupun
tempat ini tidak terlalu luas. Namun yang pasti, orang-orang di sini mungkin
akan memperlakukannya dengan tidak sopan. Tanpa ragu Talisa meraihnya; ke mana
pun Chakka mengajaknya ia akan tetap mengikutinya. Saat itu Chakka tersenyum, terlihat
gurat ketidaksabarannya untuk mengajak Talisa ke tempat yang ingin ia tunjukan
yaitu meja di mana bartender sudah menunggu pesanan minuman.
Talisa heran, begitu Chakka memberi isyarat
pada seorang bartender berseragam kemeja putih dan rompi hitam, orang itu
langsung menyiapkan minumannya. Sepertinya Chakka sudah sering ke sini; mungkin
karena ini satu-satunya diskotik yang ada di kota dan tempat-tempat seperti ini
barangkali hanya menimbulkan banyak pertentangan di masyarakat.
“Kamu minum minuman keras juga selain Coca
Cola?” tanya Talisa.
Chakka tertawa; seakan pertanyaan itu
terdengar lucu.
“Aku pikir kamu cuma mau minum Coca Cola!”
Bartender memberi Chakka dua sloki minuman
hasil racikannya. Ia menyodorkan salah satunya ke Talisa yang langsung mengerutkan
dahi; tentu ia menolak. Menurutnya masuk ke tempat seperti ini saja adalah
sebuah kesalahan besar; apalagi minum minuman keras.
“Ayo, minum, biasanya kamu protes kalau aku
beri Coca Cola,” kata Chakka padanya.
“Ini minuman keras, Chakka. Bukan air
putih,” celetuk Talisa; ia bersikeras tidak akan menyentuhnya. “Lagipula baunya
nggak enak, lebih nggak enak lagi dari Coca Cola yang rasanya kayak disetrum
listrik!”
Tapi, tiba-tiba Chakka menarik tubuhnya
sambil menggenggam satu sloki. Ia mengarahkan sloki itu ke mulut Talisa,
memaksanya menyesap minuman itu. Talisa berontak; ia benci dengan bau keras
yang menusuk hidungnya. Ia menyingkirkan tangan Chakka darinya dengan kasar.
Lalu Chakka tertawa karena memandangi ekspresi marah Talisa; wajahnya yang merengut
itu terlihat menggemaskan.
“Kamu bilang kamu akan mengikuti aku ke
mana pun,” kata Chakka mencandainya sedikit.
“Tapi, kamu nggak bilang kalau aku juga
harus jadi pemabuk. Itu sama sekali nggak ada di kontrak kita,” kata Talisa,
mendengus; menatap Chakka dengan sedikit jengkel.
“Kontrak apa?”
“Kalau kamu mabuk, mabuk saja. Aku nggak
ikut!”
“Terus kalau kamu nggak minum, apa yang
akan kamu lakukan di sini?”
Talisa tidak menjawab. Ia masih terlihat
kesal pada Chakka sampai rasanya ia ingin pergi; sepertinya ia benar-benar
salah ‘masuk’.
Tiba-tiba Chakka merangkul pundaknya.
“Sudahlah! Kamu nggak perlu memikirkan dunia di luar sana mau seperti apa!”
katanya, berujar. Lalu memutar tubuh Talisa menghadap lantai dansa yang tumpah
ruah oelh orang-orang yang menari seperti kesurupan. “Malam ini kita terpisah
dari semua itu! kamu mengerti?”
“Tapi, ...” Talisa masih mencoba
membantahnya tapi ketika menyadari Chakka menatapnya lekat-lekat, semua alasan
untuk harus pergi dari sini
tersingkirkan.
“Kamu yang bilang kalau kita punya
kontrak,” ia menegaskan. “Di sini kita bisa melupakan kenyataan dunia di luar
sana mengharuskan aku menikah dengan perempuan yang mencintai orang lain demi
warisan keluarganya. Kita bisa melupakan bahwa beberapa hari yang lalu kita
nyaris mati dalam kecelakaan tragis. Hanya di sini ... ingat, hanya di sini
....”
“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya
Talisa, mulai terhipnotis.
Chakka tidak menjawab, ia hanya menyodorkan
sloki minuman kepadanya. “Lupakan semuanya,” dia berkata. “Lupakan.”
***
Ini baru nyampe chapter 19 ya kak??
sebenarnya sudah smpai chapter 21 sih tapi masih ragu-ragu karena lagi stuck. Sabar ya....