๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Aku ingin bicara serius dengan kamu,”
Chakka menghampiri Talisa yang sedang bersiap untuk meninggalkan kantor.
“Ya?” sahut Talisa, dalam satu detik
menelan ludah. Menenangkan perasaannya. Ia
tahu Chakka akan mengatakan sesuatu yang melukai hatinya lagi. Namun ia
sudah terbiasa dengan itu. Bukankah tidak ada yang lebih buruk penolakan cinta?
Talisa sudah melalui itu beberapa kali.
“Aku nggak tahu lagi harus bilang apa, tapi
... aku nggak ingin terus ada perdebatan lagi,” katanya, berusaha bersikap
persuasif; karena Chakka tahu bahwa Talisa akan bersikap santai seperti
memiliki ilmu besi dan entah sejak kapan gadis itu menjadi amat keras kepala.
“Perdebatan apa?” balas Talisa. “Antara aku
dan Dara maksudnya?”
“Kamu tahu maksudku,” tegas Chakka.
Talisa menghela nafas. Lalu tertawa. “Apa
kamu pernah lihat aku mengganggu Dara?” balasnya. “Aku melakukan pekerjaanku
dengan baik dan aku nggak melewatkan apa pun. Aku hanya berusaha melewati
neraka ini dengan senyuman.”
Chakka jadi tidak mampu berkata apa-apa.
Entah sejak kapan juga Talisa jadi pintar menjawab pertanyaannya sampai ia
terbungkam.
Talisa diam. Ia mulai gentar. Ya, dia belum
kuat betul menahan setiap tuduhan kesalahan yang ditimpalkan padanya. “Apa yang
aku lakukan?” ia bertanya. “Aku sudah melakukannya dengan baik. Aku berusaha
professional, seperti yang kamu mau. Walaupun hatiku sakit. Tapi, aku berusaha
untuk nggak mengacau ....”
“Kenapa kamu nggak menghentikannya saja?
Semuanya akan tetap sia-sia sekali pun aku membiarkan kamu melakukan apa pun
yang kamu inginkan ...,” Chakka kembali berujar dengan rasa ibanya. “Aku nggak
mau menghancurkan kehidupan seseorang lebih dari ini ...”
Talisa kembali tertawa –lirih. “Memangnya
kamu kira hidupku bisa lebih hancur dari ini?” balasnya, membuat Chakka kembali
tergigit rasa bersalah. “Menurut kamu hidupku yang mana lagi yang bisa
dihancurkan, Chakka?”
Chakka tidak menjawab.
“Kalau kamu mau memecatku, nggak apa-apa.
Aku bisa terima,” kata Talisa, ia kembali terdengar santai. “Tapi, kalau kamu
pikir itu bisa menghentikanku, kamu salah besar. Sebuah surat PHK nggak akan
merubah apa pun.”
“Talisa, tolong, berhentilah menyakiti diri
kamu sendiri seperti ini ....”
“Dan membiarkan kamu yang melakukannya
terus menerus padaku?”
Chakka lagi-lagi kehabisan kata-kata
balasan. “Ini nggak akan berjalan seperti yang kamu rencanakan,”
“Aku hanya nggak bisa berhenti, itu saja,”
kata Talisa menegaskan. “Kamu bisa bertahan dengan seseorang yang sudah
mencampakan kamu berkali-kali. Kamu mengajarkan aku dengan baik sekali dan
itulah yang membuatku bertahan sampai detik ini ...”
“Ini sia-sia, tolong hentikan semuanya,
jangan memaksaku melakukan apa yang nggak seharusnya kulakukan!” Chakka mulai
kesal.
“Apa yang terburuk yang bisa kamu lakukan?”
balas Talisa. “Membunuhku? Setelah kamu selamatkan aku dari bus itu? seharusnya
kamu nggak melakukan itu kalau kamu ingin menyingkirkanku selamanya. Biarkan
aku mati di sana dengan menggenaskan. Itulah hal terburuk yang bisa kamu
lakukan dan aku sudah melaluinya. Sekarang katakan, apa yang mau kamu lakukan?”
“Kamu benar-benar gila, Talisa ....”
“Aku sama gilanya seperti kamu ....” Balas
Talisa, menyeringai. “Aku nggak tahu caranya berhenti ....”
Chakka menarik nafas lelah. “Baiklah,
semuanya terserah kamu,” katanya. “Aku hanya nggak ingin terkesan menelantarkan
kamu. Lakukan sesuai dengan keinginan kamu.”
Talisa hanya tersenyum. Ia tertunduk.
Berusaha untuk tetap tenang. Penolakan yang berulang kali, itu terasa kian
manis oleh air matanya yang jatuh setelah Chakka meninggalkan ruangan itu. dan
Talisa masih tertawa dalam tangisnya sambil menahan sakit di dadanya yang
memuncak. Ia tahu ia telah memaksa Chakka dengan sikapnya; namun
membandingkannya dengan apabila menyerah, tak akan membuat perbedaan. Semua ini
tak berujung.
***
Chakka menarik nafas panjang lalu
menghembuskannya dengan cepat di depan pintu. Ia baru meninggalkan Talisa
dengan sikap keras kepalanya itu di dalam sana. Ia merasa begitu lelah; selalu
begitu setiap ia berusaha meyakinkan Talisa untuk menyerah. Namun, sepertinya
dinding pertahanan Talisa terlalu kuat. Ia harus meyakinkan Dara lagi untuk
bersabar, meski tidak tahu sampai kapan. Chakka begitu takut jika Talisa
membuka suara ke semua orang tentang apa yang pernah terjadi. Hal itu akan
membuat Dara kecewa padanya. Jadi dia berusaha memikirkan kata-kata yang bagus
untuk wanita itu agar dia tak mengeluhkan Talisa lagi.
Sesaat Chakka benar-benar merasa dirinya,
seorang pengecut yang tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri. Ia
melangkah dengan lesu ke ruangan Dara, bermaksud mengajak tunangannya untuk
pulang bersama. Tapi, ia menemukan Dara tengah menelepon dengan seseorang.
“Aku berada di posisi yang sulit, antara
kenyataan dan pendapat orang ... aku nggak bisa menempatkannya ... ayahku
meninggal, Zi, aku mohon jangan memperburuk keadaan ....” Suaranya terdengar
memohon.
Chakka terdiam di ambang pintu. Ia sengaja
tidak membuat suara agar Dara yang tengah menghadap jendela tidak menyadarinya.
“Semuanya sudah berakhir ... aku mengerti,
tapi ini hanya akan menyiksa kita berdua, Zi ...,” sambung Dara, ia terdengar
begitu emosional dalam ungkapan kesedihannya. “Aku tahu kamu nggak seperti yang
mereka pikirkan, aku cuma ingin melepaskan kamu dari semua hinaan dan cacian
itu ....”
Dara dan mantan suaminya, Razi ternyata
masih saling berkomunikasi. Chakka tidak pernah tahu itu dan sepertinya ia
merasa tertipu. Namun, ia tetap diam sampai Dara membalikan badannya dan ia
terkejut mendapati Chakka. Segera ia tutup telepon di saat ponselnya masih di
telinga. “Chakka?”
Chakka tidak berkata apa-apa. Ia hanya
terkejut sehingga ia memutuskan untuk lari saja daripada melampiaskannya pada
pintu, meja atau apa pun. Dengan langkah cepat Chakka kembali ke ruangannya
untuk mengambil jas dan beberapa barangnya yang masih tertinggal di meja. Ia
menemukan Talisa masih di depannya dan sepertinya gadis itu buru-buru menghapus
air matanya karna melihat Chakka masuk dengan tiba-tiba.
Tak lama Dara menyusul. “Chakka!” serunya,
mengejar Chakka yang hendak keluar ruangan dengan wajah kesal. “Chakka, please, dengarkan aku dulu ... ini nggak
seperti yang kamu kira ....”
“Oh ya?” balas Chakka, yang memaksa untuk
tetap berlalu darinya.
Dara menahan Chakka dengan tubuhnya agar
tak melangkah keluar. Mereka mulai saling mendorong seolah tak menyadari Talisa
juga ada di sana. Namun, Talisa ternyata berinisiatif untuk melarikan diri
daripada melihat pertengkaran mereka yang menurutnya akan berakhir happy end dengan pelukan dan ciuman
mesra. Baginya itu menjijikan.
Chakka menyaksikan Talisa pergi; seperti
yang biasa ia inginkan. Sementara Dara memaksanya untuk mendengarkan.
“Kamu berbohong?” tanya Chakka, yang sudah
tersulut emosinya. “Kamu mencemburui aku dengan Talisa sedangkan kamu ada di
sini setiap hari untuk mengawasi apa aku bicara padanya atau nggak, sementara
kamu masih berhubungan dengan bebas sama mantan suami kamu?”
“Chakka, aku nggak tahu kenapa dia
tiba-tiba menelepon!”
“Dan kamu dengan senang hati mengangkat
teleponnya? Mengatakan hal-hal seolah kamu masih peduli dengan orang seperti
itu?”
“Chakka, please, ...”
“Sepertinya kamu menyesal bercerai dengan
dia dan terpaksa menyetujui pernikahan ini hanya karena ayah kamu!”
“Chakka ....” Panggil Dara tampak menyesal
namun Chakka sudah berada di ambang pintu untuk segera meninggalkannya.
***
Talisa menengadahkan tangannya ke langit
dan menampung tetesan hujan yang jatuh dari cucuran atap. Dingin sekali.
Sayangnya, Talisa lupa memasukan payung ke dalam tasnya. Padahal ia harus
menyebrang jalan, untuk bisa meberhentikan bus yang akan membawanya pulang di
seberang sana. Syukurlah tidak ada jadwal kuliah hari ini, pikirnya.
Tapi, hujan yang datang pada musim tak
menentu ini selalu membawa kesedihan. Ia selalu menatapi hujan dengan sedih;
seakan itu dapat mewakilkan perasaannya yang hancur saat ini. Hujan ini
sepertinya belum akan berhenti karena langitnya begitu mendung; pasti masih
menyimpan banyak air di dalamnya. Lalu dengan berani Talisa menurunkan
langkahnya ke pinggir jalan lalu berlari ke seberang. Dinginnya hujan langsung
mengguyur tubuhnya sampai ke halte. Ia menunggu bersama beberapa orang lain di
bawah atap halte bus yang sudah reyot.
Dua menit kemudian, sebuah bus singgah.
Namun Talisa tidak bisa naik. Di dalamnya sudah memuat banyak orang yang takut
kena hujan di jalan. Bus selanjutnya juga sudah penuh. Bus-bus yang lewat
berikutnya juga tidak memberi ruang pada sesama penumpang di halte yang
terpaksa harus menunggu lebih lama dalam dinginnya tempias air hujan.
Talisa mulai menggigil, sambil memeluk
tasnya dengan kemeja kantornya yang sudah basa kuyup. Ia melihat-lihat ke ujung
jalan, menanti apakah bus yang lega sudah ada untuknya. Namun, ia tak melihat
tandanya dari kejauhan. Ia melempar pandangan jauh ke depan tanpa menyadari
bahwa sebuah mobil sudah berhenti tepat di depannya.
Mobilnya Chakka.
Apa Chakka menyuruhnya naik?
Lalu Chakka yang duduk di belakang setir
mendongak. Ia mengisyaratkan Talisa untuk cepat naik.
Hatinya tidak mampu memungkiri bahwa saat
itu Chakka kembali memungutnya karena hubungannya dengan Dara tiba-tiba menjadi
kacau. Tapi, Talisa tidak kuasa menolak, inilah yang diinginkanya; bersama
Chakka walau sesaat saja.
***
Komentar
0 comments