๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Apa yang kamu lakukan, Chakka?” tegur
Talisa yang menghampiri Chakka setelah ia turun dari bus dan terkejut menemukan
mobil Chakka tepat di depan bus.
Chakka terlihat sangat kacau; ia memandangi
kerumunan itu dengan wajah sedih. “Aku melihatnya, Talisa ...,” jawab dia,
terdengar gemetaran. “Mereka yang pergi ....”
“Mereka siapa?” tanya Talisa kebingungan
dan ikut memusatkan perhatian kepada kerumunan? Ada apa di sana? Ada siapa di
sana selain dari orang-orang yang berusaha menolong korban?
“Mereka yang harusnya tidak mati hari ini
....” Jawab Chakka dan seketika Talisa merinding.
“Apa kamu nggak apa-apa?” Talisa mulai
cemas, ia mencoba meraih tubuh Chakka yang menggigil hebat sebelum pria itu
rubuh.
“Aku benci diriku sendiri ....” Kata Chakka
tiba-tiba; ia menutupi kepalanya dengan kedua lengannya sambil jongkok. Tampak
berusaha untuk tidak melihat apa yang bisa ia lihat.
“Chakka?” Talisa semakin khawatir, karena
suara Chakka mulai parau.
“Aku benci diriku sendiri karena aku nggak
bisa mengatasinya ... ini membuatku gila ....” Chakka mulai meracau. Ia tampak
tak ingin didekati apalagi di sentuh. “Setiap aku mengenal seseorang, aku
selalu punya firasat akan apa yang terjadi! Peduli atau tidak aku akan tetap
merasa bersalah! Aku benci itu! Ini seperti kutukan!”
“Maksud kamu ... kalau seandainya kamu
nggak menyuruh supir bus menyingkir, maka yang kecelakaan itu adalah busnya?”
tanya Talisa, ia sendiri juga mulai ketakutan. “Maksud kamu ... aku akan mati
hari ini?”
Chakka kembali berdiri. Ia berusaha untuk
tenang lagi walau wajahnya masih menunjukan rasa sedih dan kecewa. “Kamu ...
dalam rasa sakit bukan?” tanya dia, menatap dengan dahi berkerut seakan menahan
kesedihan. “Aku bisa merasakannya ....”
Talisa terdiam. Ia pun ikut merasa sedih;
mengetahui bahwa sebenarnya Chakka dapat merasakan kepedihannya namun di saat
yang sama juga ia sadar bahwa belakangan Chakka menghindari semua itu. “Lalu
kenapa kamu nggak berhenti ... menyakitiku?” gadis itu bertanya dengan suara
gemetaran. “Kamu tahu itu sakit, Chakka. Tapi, kenapa?”
Chakka diam. Dia tidak menjawab dengan
pasti. Talisa tidak akan mengerti betapa besar rasa bersalahnya saat ini. Ia
baru saja menyaksikan jiwa-jiwa yang mati keluar dari mobil yang ringsek
berjalan ke tujuan mereka. Talisa tidak tahu rasanya melihat hal-hal seperti
itu dengan perasaan bersalah.
“Dan kenapa ... kamu nggak membiarkan aku
di dalam bus itu kalau akhirnya aku hidup hanya untuk melihat kamu seperti ini?
Kalau aku mati, akan mengakhirinya bukan?” tanya Talisa.
“Kenapa kamu bicara begitu, Talisa? Aku
menyelamatkan kamu karena masa depan kamu masih panjang. Kamu bilang itulah
yang harus aku lakukan saat aku menceritakan tentang Putri!”
Talisa menggeleng. “Kamu nggak tahu rasanya
setelah menaruh masa depan di tangan seseorang yang kamu pikir akan menjadi
masa depan itu sendiri, lalu seseorang itu pergi darinya?” balasnya. “Apa yang
tersisa dariku sekarang, Chakka? Di dalam bus itu, mungkin akan lebih baik bagi
semuanya, toh kamu tahu aku nggak punya masa depan. Kematian memisahkanku dari
semuanya. Tapi kenapa kamu menarikku keluar dari takdirku sendiri?”
“Jadi kamu serius ingin mati, hah?!
Sedangkal itu pikiran kamu?! Aku melakukannya karena itulah yang harus
kulakukan! Dan itu mengerikan bagiku!” Chakka mulai berteriak. Ia menghampiri
Talisa yang hampir menangis dengan penuh amarah.
“Hidupku adalah kamu, Chakka! Kalau kamu
tidak ada, bagiku itu bukan hidup!” balas Talisa. “Kupikir Tuhan adil padaku,
dengan mengirimku ke dalam bus untuk mati agar kamu sadar bahwa nggak ada
seorang pun yang bisa mencintai kamu seperti aku! Kupikir itu satu-satunya hal
yang akan menyadarkan kamu kalau aku ... aku ....”
“Aku tahu, Talisa ...” suara Chakka
melemah. Ia memusatkan perhatian pada Talisa yang menangis; menangis di tengah
keramaian yang penuh duka. “Maafkan aku ... kamu boleh memakiku, memukulku
sampai puas ... tapi aku harus mengatakan ini ... aku nggak bisa membalas
perasaan kamu ... aku nggak bisa membiarkan kamu terus bergantung padaku karena
aku ... hanya bisa mencintai satu orang, dan itu bukan kamu ....”
Talisa diam. Tidak ada suara sedikit pun
dari bibirnya yang tekatup rapat. Sementara air mata mengalir di pipinya yang
pucat. Ekspresi merana itu tidak dibuat-buat.
“Aku ingin kita menghakhiri semua ini,
karena aku akan menikahi Dara ....” sambung Chakka lagi.
Sesaat kemudian, Talisa membiarkan riuh
sirine ambulans dan mobil polisi mengambil alih kekosongan di dalam kepalanya.
Talisa tidak merasakan apa-apa selain tetesan panas di wajahnya. Chakka hanya
menatap dengan rasa bersalah itu; sepertinya ini akan benar-benar menjadi akhir
baginya.
“Aku nggak menarik kamu dari takdir kamu
sendiri, Talisa. Tuhan nggak menciptakan hal-hal seperti itu dalam kehidupan
manusia. Ini hanya ... seperti dinamika hidup, semuanya bisa berubah dalam
sekejap ....” katanya, sambil mendekati Talisa seolah akan mengucapkan
perpisahan yang sesungguhnya. “Inilah takdir kamu yang sebenarnya ... untuk
melanjutkan hidup ... dan ... menemukan seseorang yang jauh lebih baik dariku
....”
“Seseorang yang lebih baik?” celetuk
Talisa, ia ingin menangis, namun ia berusaha untuk tidak terisak. “Apa kita
tetap harus mencari seseorang yang lebih baik sedangkan di dalam mencintai
seseorang kita bisa melihat hal baik di dalam dirinya? Sekali pun dia seorang
iblis? Apa cinta itu hanya kepada orang yang lebih baik? Lagipula apa maksudnya
dengan lebih baik?”
“Orang yang bisa mencintai kamu, Talisa.
Kamu pantas mendapatkannya?”
“Tapi, aku orang yang bisa mencintai kamu.
Berarti aku lebih baik dari Dara ‘kan? Kenapa kamu nggak memilihku kalau aku
lebih baik? Kenapa?”
Chaka terdiam. Kata-kata polos Talisa malah
membungkamnya.
“Aku nggak akan menyerah ....” Tegas Talisa
kemudian. “Kamu hanya belum menyadarinya ....”
“Talisa sudahlah ....”
“Aku nggak akan menyerah!” Talisa
menegaskan sekali lagi; dengan tatapan yang penuh keteguhan di matanya yang
masih merah oleh tangisan. “Lihat apa yang dunia ini lakukan ke aku! semua
orang memusuhiku! Semua orang nggak menyukaiku karena aku menyukai kamu! Dan
kamu nggak menginginkan aku! Ini nggak adil! Tapi, apa yang bisa kulakukan?
Kamu mengambil semuanya, Chakka ....”
“Maafkan aku, Talisa, aku nggak tahu
semuanya akan seperti ini ....”
Talisa menarik nafas panjang; menghapus
derai air matanya di pipi sebelum menatap Chakka dengan sungguh-sungguh. Ini
akan menjadi keputusan terbesar dalam hidupnya. “Kalau kamu nggak bisa
mencintaiku sekarang, aku akan menunggu ... berapa lama pun itu ... aku akan
berusaha menjadii perempuan yang pantas buat kamu ....”
***
Komentar
0 comments