[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 16 (2/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Gadis itu tampak tak berdaya. Dia terisolasi dari bentuk kehidupan kantor di mana ada gossip di situlah ada perkumpulan. Lebih-lebih gossip itu adalah tentang dirinya; dia semakin tersingkir dan tentu saja menjadi lelucon segar. Chakka tidak heran soal itu; namun rasa iba muncul karena sekarang Talisa menghadapinya sendirian.
Talisa benar-benar seperti Cinderella yang gagal. Ia meninggalkan sepatu kacanya di pesta dansa tanpa sengaja tapi sang pangeran tidak pernah datang untuk mengembalikan sepatu itu. keesokan hari setelah pesta dansa, orang-orang sudah tahu bahwa gadis semalam yang berdansa dengan pangeran hanyalah seorang gadis lusuh. Saat ia kembali ke keramaian, orang-orang menatapnya dengan cibiran dan disertai suara sumbang. Begitulah.
Saat jam kantor berakhir di hari Jumat, Talisa terlihat menunggu angkutan umum di pinggir jalan. Ia harus ke kampus untuk belajar. Sepertinya, gadis itu masih tetap memikirkan pendidikannya; baguslah. Chakka sempat mengawasinya sebentar dari parkiran mobil begitu handphone-nya berbunyi; ada panggilan dari Dara.
“Aku sudah mau naik ke pesawat. Kamu di mana?” tanya perempuan itu padanya.
“Aku sudah mau jalan ke bandara.” Jawab Chakka.
“Ya udah. Sampai nanti ...” balas Dara sebelum telepon terputus. Dan Chakka sadar bahwa Talisa sudah tak terlihat; mungkin sudah naik angkutan umum.
Tapi Chakka terkejut menemukan sosok yang duduk di sampingnya. Wanita yang tak jelas rupa wajahnya yang biasa ia lihat.
“Pergi!” usir Chakka yang kesal pada sosok itu. Tapi, wanita menakutkan itu menyeringai sambil menjulurkan tangannya yang kurus dan berkerut ke wajah Chakka. Chakka sempat merinding sampai  wanita itu ternyata bermaksud ‘menyentuh’ pikirannya dengan ujung-ujung kukunya yang hitam dan runcing. Beberapa saat rasanya seperti di tusuk; sakit sekali.
Tiba-tiba saja ia merasa berada di dalam sebuah bus yang penuh sesak; orang-orang itu menghalangi pandangannya di saat ia mendengar suara klakson yang panjang. Chakka sudah berfirasat buruk karena di dalam bus mulai riuh. Orang-orang di dalam bus tiba-tiba terdesak ke sisi kiri karena supirnya membanting setir ke kiri menghindari sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi.
Chakka merasa bahwa tubuhnya tertimpa beberapa orang sekaligus. Ia mendengar jeritan ketakutan dan kesakitan mereka saat semua manusia di dalam bus berguling dan menghempas di sisi yang paling bawah. Chakka menyaksikan saat sebuah kursi bus terlepas dari dudukannya menimpa seorang pria yang kakinya patah. Semua penumpang terkapar pada langit-langit bus yang terbalik; mereka semua terluka. Chakka merasakan kesakitan saat ia mencoba untuk bangkit tapi tidak bisa. Ia tidak dapat merasakan kaki kanannya yang tertimpa kursi. Ia berusaha hendak meraih kursi bus itu, namun ia tidak bisa menggerakan tangannnya. Ketika sadar, ternyata tangan kanannya juga patah, dengan rasa sakit yang luar biasa. Chakka menjerit; begitu juga dengan orang lain di dalam bus itu.
Tubuhnya terguncang, bus itu kecelakaan dan terbalik? Dan sosok Talisa yang tangan dan kakinya patah di dalam mimpinya semalam kembali muncul, membuatnya takut.
Sosok wanita berwajah menakutkan hilang. Nafas Chakka tersengal. Firasat macam apa itu? Ada apa ini? Dia bertanya-tanya dan sempat berpikir sebentar sebelum ia menyalakan mesin dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Ia mulai memencet handphone-nya untuk menelepon seseorang. Talisa. Beberapa saat kemudian panggilannya tersambung; Chakka menunggu nada tunggu itu berakhir. Namun, ternyata hanya ditutup oleh suara operator telepon. Talisa tidak mengangkat teleponnya? Mengapa? Bukankah Talisa biasanya langsung mengangkat telepon apalagi bila Chakka yang menghubunginya?
Apa Talisa memang sengaja tidak mengangkat teleponnya? Chakka mulai panik. Ia melaju kencang di jalan untuk mencari bus itu; bus yang ada Talisa di dalamnya. Begitu melihat sebuah bus di depannya, ia memacu mobilnya lebih cepat; ia harus bisa melihat ke dalam bus untuk menemukan Talisa. Ia mengusahakan kecepatannya untuk dapat beriringan dengan bus dan sedikit mendongak ke atas untuk memastikan bahwa Talisa ada di dalam. Namun penumpang bus itu kelihatan sedikit. Ia tidak yakin Talisa ada di dalamnya, karena di dalam bisikan itu suasana bus sangat ramai; seingatnya ia berdiri di dekat pintu bus dan pastinya Talisa juga sedang berdiri di sana.
Satu bus lagi terlihat dalam jarak dua ratus meter di depan. Chakka kembali memacu kecepatan sampai nyaris menabrak mobil lain dari arah berlawanan dan membunyikan klakson panjang. Ia tidak peduli pada bunyi klakson yang terdengar kesal itu. Ia berusaha menyusul bus dalam arus lalu lintas yang cukup ramai. Chakka membunyikan klakson berkali-kali, agar mobil yang menghalangi jalannya minggir dan bus yang ada di depan itu memelankan kecepatannya. Namun ia berusaha keras untuk tidak beradu bemper dengan mobil dari depan dan mengintip ke dalam bus yang lebih tinggi dari mobilnya.
Chakka belum menemukan Talisa. Ia mengalah beberapa saat sampai bus itu melaju lebih dulu sehingga ia bisa berpindah ke sisi kiri jalan, meski harus menerjang pedestrian. Chakka kembali membunyikan klakson agar orang-orang di depannya menepi. Ia punya firasat bahwa ini pasti bus yang Talisa tumpangi.
Bus itu melambat, sepertinya sang supir merasa dikejar dan Chakka berhasil menarik perhatian semua orang di dalam bus.
Talisa akhirnya terlihat. Ia berdiri di dekat pintu belakang dan awalnya sama sekali tidak menoleh ke samping kirinya. Ia menyandang tasnya dan sepertinya tidak merasa bahwa ponselnya bergetar. Chakka kembali membunyikan klakson bertubi-tubi dan berpindah ke sisi kanan lagi. Ia harus meminta sang supir menghentikan bus, karena mereka akan melintasi jembatan; di sanalah bus akan keluar dari jalurnya dan jatuh kesungai dengan ketinggian 20 meter. Mobil yang menjadi penyebab kecelakaan itu akan lewat.
“Hei! Hentikan busnya!!” Chakka menjerit, sambil mendongak dari mobilnya. “Hentikan busnya!!”
Supir bus yang hampir paruh baya itu terlihat gusar. Apa-apaan orang ini? Macam polisi jalan raya saja! Pikirnya mencak-mencak tapi ia mulai menyingkir ke tepi.
Dan Chakka kembali memandang ke depan. Sebuah mobil melesat dalam kecepatan tinggi dari arah berlawanan. Terlihat ia memotong beberapa mobil dalam waktu kurang dari lima detik. Chakka sadar bahwa bagian depan mobilnya separuh berada di jalur lawan. Mobil itu tampak tak memberinya waktu untuk menghindari tabrakan, sementara ia sendiri juga dalam kecepatan yang tinggi karena mengejar bus yang sudah berada di jalur aman.
Chakka memejamkan matanya. Ia tidak pernah menyangka akan menggantikan Talisa menerima sebuah kecelakaan tragis. Ia tahu, ia tidak bisa menghindari mobil itu. Tapi, saat ia mendengar suara hempasan beberapa kali, ia nyaris tidak merasakan apa-apa. Ia hanya mendengar jeritan ngeri orang-orang yang menyaksikan mobil berwarna silver yang melaju kencang itu berguling sejauh 50 meter ke depan dan berhenti dengan posisi terbalik setelah menghantam mobil lain yang langsung ringsek di bagian depan.
Sementara Chakka masih di dalam mobilnya, tepat berada di depan bus yang langsung mengerem saat Chakka menyusup ke kiri jalan. Nafasnya sesak. Ia tidak percaya bisa menghindari mobil itu; meski sebagai gantinya korban jiwa memang tidak dapat dielakan. Orang-orang berlarian ke tengah jalan menyelamatkan korban; begitu pula dengan semua penumpang bus yang coba ia selamatkan. Mereka menghambur keluar dari bus. Jalanan seketika menjadi macet.
Chakka turun dari mobil; lututnya seakan goyah ketika ia melangkah keluar dari sana. Ia memandang ke arah kerumunan orang-orang yang sibuk membantu korban yang masih terjepit di dalam mobil yang remuk. Chakka sepertinya tidak mengelakan orang-orang dari kematian; ia justru malah membelokan kematian itu kepada orang lain dan itu tidak seharusnya.
Sedetik kemudian Chakka merasa bersalah; namun kalau ia tidak membuat bus itu menyingkir, justru semua orang di dalam bus termasuk Talisa akan menjadi korban; jumlahnya lebih banyak lagi. Namun, baginya ia tetap tak bisa disebut pahlawan; indigo tidak bisa menjadi pahlawan betapa pun kuatnya intuisi yang dimiliki. Bagi Chakka, indigo adalah kelemahan; kelemahan yang membuatnya tidak bisa hidup dalam damai karena sering merasa bersalah. Ia pernah mengalami itu terhadap teman sekelasnya Putri dan kedua orang tuanya; sekarang Talisa.
***

Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments