๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Gadis itu tampak tak berdaya. Dia
terisolasi dari bentuk kehidupan kantor di mana ada gossip di situlah ada
perkumpulan. Lebih-lebih gossip itu adalah tentang dirinya; dia semakin
tersingkir dan tentu saja menjadi lelucon segar. Chakka tidak heran soal itu;
namun rasa iba muncul karena sekarang Talisa menghadapinya sendirian.
Talisa benar-benar seperti Cinderella yang
gagal. Ia meninggalkan sepatu kacanya di pesta dansa tanpa sengaja tapi sang
pangeran tidak pernah datang untuk mengembalikan sepatu itu. keesokan hari
setelah pesta dansa, orang-orang sudah tahu bahwa gadis semalam yang berdansa
dengan pangeran hanyalah seorang gadis lusuh. Saat ia kembali ke keramaian,
orang-orang menatapnya dengan cibiran dan disertai suara sumbang. Begitulah.
Saat jam kantor berakhir di hari Jumat,
Talisa terlihat menunggu angkutan umum di pinggir jalan. Ia harus ke kampus untuk
belajar. Sepertinya, gadis itu masih tetap memikirkan pendidikannya; baguslah.
Chakka sempat mengawasinya sebentar dari parkiran mobil begitu handphone-nya
berbunyi; ada panggilan dari Dara.
“Aku sudah mau naik ke pesawat. Kamu di
mana?” tanya perempuan itu padanya.
“Aku sudah mau jalan ke bandara.” Jawab
Chakka.
“Ya udah. Sampai nanti ...” balas Dara
sebelum telepon terputus. Dan Chakka sadar bahwa Talisa sudah tak terlihat;
mungkin sudah naik angkutan umum.
Tapi Chakka terkejut menemukan sosok yang
duduk di sampingnya. Wanita yang tak jelas rupa wajahnya yang biasa ia lihat.
“Pergi!” usir Chakka yang kesal pada sosok
itu. Tapi, wanita menakutkan itu menyeringai sambil menjulurkan tangannya yang
kurus dan berkerut ke wajah Chakka. Chakka sempat merinding sampai wanita itu ternyata bermaksud ‘menyentuh’
pikirannya dengan ujung-ujung kukunya yang hitam dan runcing. Beberapa saat
rasanya seperti di tusuk; sakit sekali.
Tiba-tiba saja ia merasa berada di dalam
sebuah bus yang penuh sesak; orang-orang itu menghalangi pandangannya di saat
ia mendengar suara klakson yang panjang. Chakka sudah berfirasat buruk karena
di dalam bus mulai riuh. Orang-orang di dalam bus tiba-tiba terdesak ke sisi
kiri karena supirnya membanting setir ke kiri menghindari sebuah mobil yang
datang dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi.
Chakka merasa bahwa tubuhnya tertimpa
beberapa orang sekaligus. Ia mendengar jeritan ketakutan dan kesakitan mereka
saat semua manusia di dalam bus berguling dan menghempas di sisi yang paling
bawah. Chakka menyaksikan saat sebuah kursi bus terlepas dari dudukannya
menimpa seorang pria yang kakinya patah. Semua penumpang terkapar pada
langit-langit bus yang terbalik; mereka semua terluka. Chakka merasakan
kesakitan saat ia mencoba untuk bangkit tapi tidak bisa. Ia tidak dapat
merasakan kaki kanannya yang tertimpa kursi. Ia berusaha hendak meraih kursi
bus itu, namun ia tidak bisa menggerakan tangannnya. Ketika sadar, ternyata
tangan kanannya juga patah, dengan rasa sakit yang luar biasa. Chakka menjerit;
begitu juga dengan orang lain di dalam bus itu.
Tubuhnya terguncang, bus itu kecelakaan dan
terbalik? Dan sosok Talisa yang tangan dan kakinya patah di dalam mimpinya
semalam kembali muncul, membuatnya takut.
Sosok wanita berwajah menakutkan hilang. Nafas
Chakka tersengal. Firasat macam apa itu? Ada apa ini? Dia bertanya-tanya dan
sempat berpikir sebentar sebelum ia menyalakan mesin dan melaju dengan
kecepatan tinggi.
Ia mulai memencet handphone-nya untuk
menelepon seseorang. Talisa. Beberapa saat kemudian panggilannya tersambung;
Chakka menunggu nada tunggu itu berakhir. Namun, ternyata hanya ditutup oleh
suara operator telepon. Talisa tidak mengangkat teleponnya? Mengapa? Bukankah
Talisa biasanya langsung mengangkat telepon apalagi bila Chakka yang menghubunginya?
Apa Talisa memang sengaja tidak mengangkat
teleponnya? Chakka mulai panik. Ia melaju kencang di jalan untuk mencari bus
itu; bus yang ada Talisa di dalamnya. Begitu melihat sebuah bus di depannya, ia
memacu mobilnya lebih cepat; ia harus bisa melihat ke dalam bus untuk menemukan
Talisa. Ia mengusahakan kecepatannya untuk dapat beriringan dengan bus dan
sedikit mendongak ke atas untuk memastikan bahwa Talisa ada di dalam. Namun
penumpang bus itu kelihatan sedikit. Ia tidak yakin Talisa ada di dalamnya,
karena di dalam bisikan itu suasana bus sangat ramai; seingatnya ia berdiri di
dekat pintu bus dan pastinya Talisa juga sedang berdiri di sana.
Satu bus lagi terlihat dalam jarak dua
ratus meter di depan. Chakka kembali memacu kecepatan sampai nyaris menabrak
mobil lain dari arah berlawanan dan membunyikan klakson panjang. Ia tidak
peduli pada bunyi klakson yang terdengar kesal itu. Ia berusaha menyusul bus
dalam arus lalu lintas yang cukup ramai. Chakka membunyikan klakson
berkali-kali, agar mobil yang menghalangi jalannya minggir dan bus yang ada di
depan itu memelankan kecepatannya. Namun ia berusaha keras untuk tidak beradu
bemper dengan mobil dari depan dan mengintip ke dalam bus yang lebih tinggi
dari mobilnya.
Chakka belum menemukan Talisa. Ia mengalah
beberapa saat sampai bus itu melaju lebih dulu sehingga ia bisa berpindah ke
sisi kiri jalan, meski harus menerjang pedestrian. Chakka kembali membunyikan
klakson agar orang-orang di depannya menepi. Ia punya firasat bahwa ini pasti
bus yang Talisa tumpangi.
Bus itu melambat, sepertinya sang supir
merasa dikejar dan Chakka berhasil menarik perhatian semua orang di dalam bus.
Talisa akhirnya terlihat. Ia berdiri di
dekat pintu belakang dan awalnya sama sekali tidak menoleh ke samping kirinya.
Ia menyandang tasnya dan sepertinya tidak merasa bahwa ponselnya bergetar.
Chakka kembali membunyikan klakson bertubi-tubi dan berpindah ke sisi kanan
lagi. Ia harus meminta sang supir menghentikan bus, karena mereka akan
melintasi jembatan; di sanalah bus akan keluar dari jalurnya dan jatuh kesungai
dengan ketinggian 20 meter. Mobil yang menjadi penyebab kecelakaan itu akan
lewat.
“Hei! Hentikan busnya!!” Chakka menjerit,
sambil mendongak dari mobilnya. “Hentikan busnya!!”
Supir bus yang hampir paruh baya itu
terlihat gusar. Apa-apaan orang ini? Macam polisi jalan raya saja! Pikirnya
mencak-mencak tapi ia mulai menyingkir ke tepi.
Dan Chakka kembali memandang ke depan.
Sebuah mobil melesat dalam kecepatan tinggi dari arah berlawanan. Terlihat ia
memotong beberapa mobil dalam waktu kurang dari lima detik. Chakka sadar bahwa
bagian depan mobilnya separuh berada di jalur lawan. Mobil itu tampak tak
memberinya waktu untuk menghindari tabrakan, sementara ia sendiri juga dalam
kecepatan yang tinggi karena mengejar bus yang sudah berada di jalur aman.
Chakka memejamkan matanya. Ia tidak pernah
menyangka akan menggantikan Talisa menerima sebuah kecelakaan tragis. Ia tahu,
ia tidak bisa menghindari mobil itu. Tapi, saat ia mendengar suara hempasan
beberapa kali, ia nyaris tidak merasakan apa-apa. Ia hanya mendengar jeritan
ngeri orang-orang yang menyaksikan mobil berwarna silver yang melaju kencang
itu berguling sejauh 50 meter ke depan dan berhenti dengan posisi terbalik
setelah menghantam mobil lain yang langsung ringsek di bagian depan.
Sementara Chakka masih di dalam mobilnya,
tepat berada di depan bus yang langsung mengerem saat Chakka menyusup ke kiri
jalan. Nafasnya sesak. Ia tidak percaya bisa menghindari mobil itu; meski
sebagai gantinya korban jiwa memang tidak dapat dielakan. Orang-orang berlarian
ke tengah jalan menyelamatkan korban; begitu pula dengan semua penumpang bus
yang coba ia selamatkan. Mereka menghambur keluar dari bus. Jalanan seketika
menjadi macet.
Chakka turun dari mobil; lututnya seakan
goyah ketika ia melangkah keluar dari sana. Ia memandang ke arah kerumunan
orang-orang yang sibuk membantu korban yang masih terjepit di dalam mobil yang
remuk. Chakka sepertinya tidak mengelakan orang-orang dari kematian; ia justru
malah membelokan kematian itu kepada orang lain dan itu tidak seharusnya.
Sedetik kemudian Chakka merasa bersalah;
namun kalau ia tidak membuat bus itu menyingkir, justru semua orang di dalam
bus termasuk Talisa akan menjadi korban; jumlahnya lebih banyak lagi. Namun,
baginya ia tetap tak bisa disebut pahlawan; indigo tidak bisa menjadi pahlawan
betapa pun kuatnya intuisi yang dimiliki. Bagi Chakka, indigo adalah kelemahan;
kelemahan yang membuatnya tidak bisa hidup dalam damai karena sering merasa
bersalah. Ia pernah mengalami itu terhadap teman sekelasnya Putri dan kedua
orang tuanya; sekarang Talisa.
***
Komentar
0 comments