๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dara terlihat duduk di depan kaca meja rias,
masih dengan pakaian serba hitam walaupun sudah seminggu ayahnya dimakamkan. Ia
menatap dirinya di cermin, lalu menangis. Kesedihannya belum berkurang sejak
mereka sama-sama naik pesawat menuju Jakarta setelah mendengar kabar duka. Dara
masih menyesali ketiadaan dirinya di saat-saat terakhir ayahnya.
Sedangkan Chakka hanya berdiri di ambang
pintu, memandanginya sebentar sebelum menutup pintu dan kembal ke ruang tengah.
Ia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana. Kemudian ia mulai berjalan-jalan
menuju halaman belakang –tempat ia biasa menemani Dara bermain ketika mereka
masih kecil dulu. Kenangan itu masih di sana.
Beberapa waktu lalu dia sudah memutuskan
melepaskan semua ini demi kebebasannya. Tapi, seolah yang ia putuskan salah,
pria tua yang ia sebut sebagai ayah itu meninggal dunia. Kematiannya seakan
menjerat Chakka untuk tidak melarikan diri. Sehingga pembicaraan mereka di
pesta yang menjadi terakhir kalinya itu kembali teringat.
“Dara
harusnya menjadi penari balet, bukan pengusaha. Untuk itu kamu di sana, Chakka ...,” pria berambut putih itu berkelakar di depan istri dan anak-anaknya,
membuat Chakka sedikit jengah karena Dara di sampingnya tampak tidak senang.
Wanita itu memalingkan wajahnya dengan
kesal dari Chakka yang berusaha untuk tak menoleh ke samping.
“Jadi
apa kalian sudah merencanakannya?” tanya pria itu
lagi melirik putrinya yang tengah kehilangan selera makan.
“Dara
baru bercerai, Pa,” jawab Dara, agak sinis.
“Chakka
sudah tahu itu. Semua sudah tahu itu. Lalu kenapa?”
ayahnya memang terdengar memaksa.
“Pa,
...” Dara mencoba membantah kata-kata ayahnya.
“Kalau
kamu menikah dengan orang lain, Papa tidak akan restu, bahkan sampai mati pun
Papa tidak mau.” Putus sang ayah, tanpa ragu-ragu. “Papa tahu, laki-laki yang berada di
sekitar kamu hanya orang yang gila harta dan Papa tidak bisa membayangkan kamu
menikah dengan orang yang salah lagi.”
“Tapi,
Chakka ...” Dara masih membantah.
“Tidak
ada masalah dengan Chakka, keputusan ada di tangan kamu,” putus pria itu, masih tanpa menatap putrinya.
Tak tahan, Dara meninggalkan meja itu
dengan wajah kesal.
“Papa,
jangan memaksa Dara seperti itu,” ujar Aira, adik
perempuan Dara yang berada di meja yang sama. “Nggak semudah itu buat dia. Lagian ‘kan Chakka juga pasti punya
pacar.”
Sang ayah melirik Chakka yang dari tadi
tidak bicaara sepatah kata pun. “Pacar?”
ia terkekeh.
Chakka masih diam sementara anggota
keluarga yang lain juga mulai berdebat.
“Aira
benar, Pa. Kasihan Dara, dia baru saja melalui masa-masa sulit. Harusnya kita
memberikan dia waktu,” Benny kakak laki-laki Dara
juga ikut berujar. Ia melirik Chakka sejenak dan sempat menunjukan
ketidaksukaannya.
“Memangnya
Papa menyuruh mereka menikah besok pagi?” celetuk
sang ayah. “Pokoknya Papa tidak terima
orang lain selain Chakka menjadi menantu di rumah kita. Dia sudah bersama kita
sejak kecil. Kalau nanti Papa meninggal dan kalian masih belum menerima Papa
tidak akan bisa tenang, kalian mengerti?”
Ucapan ayah Dara tidak pernah main-main.
Semua orang mengingat malam itu baik-baik dalam benak mereka dan setelah dia
meninggal, pesan terakhirnya itu menjadi sebuah wasiat yang tak bisa ditolak.
“Chakka!” ia tersadar oleh suara panggilan
yang seketika membuatnya membalikan badan.
Ibu angkatnya berdiri di teras dan tengah
menunggunya menghampiri. Tampaknya ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
Chakka segera kembali ke dalam rumah –ia sudah mempunyai firasat akan hal ini.
Bahwa semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk membicarakan hal yang sangat
mendadak.
Dara sudah keluar dari kamar, dia bergabung
bersama ibu dan saudara-saudaranya dalam pembicaraan saat Chakka baru sampai.
“Kami sudah membicarakannya dan sepakat
soal keinginan Papa, Chak ...,” Benny memulai. “Mungkin memang sebaiknya kamu
dan Dara menikah. Karena perusahaan yang ada di Padang tidak bisa dibiarkan
begitu saja dan Dara memang nggak bisa mengurusnya sendiri. Padang kota yang
sedang berkembang dan prospeknya sangat bagus untuk bisnis keluarga kita.”
“Demi perusahaan?” Chakka terkekeh.
Harusnya mereka sadar bahwa Chakka tidak pernah menolak Dara karena dia
benar-benar mencintainya, bukan karena harta. Bertahun-tahun ia menahan dirinya
namun setelah melewati saat-saat yang berat mereka justru mengatakan demi
perusahaan?
“Tinggalkan semua pacar kamu,” kata Benny
padanya dengan menjurus. “Kami nggak ingin ada masalah lagi.”
Chakka masih terkekeh. Inilah satu-satunya
alasan mengapa dia tidak menyukai keluarga yang telah membesarkannya ini;
mereka sangat angkuh dan tidak mempunyai rasa kasih sayang. Meski hidup
bertahun-tahun di dalamnya, Chakka tidak benar-benar bahagia. “Bagaimana kalau
aku nggak mau?” balasnya, terdengar menantang. “Aku juga punya hak untuk
berpendapat bukan?”
“Ini pesan terakhir Papa sebelum
meninggal,” Aira menegaskan.
Sekali pun pria yang mereka panggil Papa
itu adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya, tidak cukup mampu
memaksanya. Permasalahannya bukan pada perusahaan tapi perasaan. Bagaimana
rasanya menikah tanpa cinta? Wanita itu hanya punya kebencian terhadapnya.
Bagaimana ia bisa menikahinya? Lagipula keluarga ini selalu berpikiran buruk
tentangnya. Chakka ingin membuktikan bahwa ia tak seperti yang mereka duga
sebelumnya.
“Maaf, aku nggak bisa,” putus Chakka sambil
berdiri. “Sebelum ini bahkan aku berpikir untuk melayangkan surat pengunduran
diri. Aku akan menetap di Padang dan menjauh dari keluarga ini ....”
“Chakka?” Dara bersuara. Matanya
membelalak. Ia tampak tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Chakka
barusan.
Tapi, Chakka keburu melangkah pergi.
“Aku permisi dulu ...,” ucapnya.
Tapi, tidak disangka begitu ia ingin naik
mobil Dara mengejarnya.
“Chakka, tunggu!” panggil wanita itu dengan
terseok-seok. Wajahnya terlihat sedih. Sebelumnya Dara belum pernah terlihat
memelas seperti itu.
Chakka hanya menatapnya, berusaha untuk
tidak terpengaruh. Ia memang harus pergi. Ia harus memulai kehidupan baru di
luar bayang-bayang Dara yang tidak akan pernah mencintainya.
“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Dara,
seolah masih kurang jelas apa yang diputuskan Chakka di depan keluarganya.
“Kamu memintaku pergi jauh, aku melakukannya.
Kamu bilang berhenti mengganggu kamu, aku juga melakukannya. Dan semua itu
selalu karena alasan yang sama, kamu nggak akan bisa mencintaiku,” kata Chakka
menjelaskan. Amarah seketika terpancar di matanya.
“Maaf, maafkan aku, Chakka ....” Tangis Dara
kembali pecah. Ia bahkan juga menarik lengan Chakka agar jangan naik ke mobil
dan pergi. “Aku mohon, jangan pergi dengan cara seperti ini ....”
“Aku cuma kehilangan akal, Dara. Di dalam
sana mereka selalu bicara soal perusahaan yang sebenarnya aku nggak peduli. Aku
memikirkan semua itu karena kamu. Karena permintaan Papa!” Chakka semakin
emosi. “Dan ini bukan lagi urusan sepele! Kamu sendiri yang mengatakan tidak
akan menikah tanpa cinta! Aku menyanggupinya ‘kan? Kenapa di saat aku sudah
bisa menerima kenyataan kamu memohon? Apa ini seperti permainan? Apa ini
lucu?!”
“Chakka, aku mohon dengarkan aku sebentar
...,” desak Dara sambil menarik-narik tangannya. “Aku akan mencoba .... Aku
akan mencobanya ....”
Chakka terdiam. Ia hanya bisa menatap Dara
tanpa berkedip. Apa maksud Dara?
“Jika memang kita nggak bisa menikah tanpa
cinta, tapi ... paling tidak aku ingin kamu tahu kalau aku ingin mencobanya
...,”
“Demi apa? Demi Papa? Demi perusahaan?”
Dara tidak menjawabnya, sehingga Chakka
yang emosi kembali menarik dirinya agar ia bisa pergi. Tapi, genggaman Dara
pada lengan bajunya sangat kuat.
“Apa sudah terlalu terlambat? Apa kamu
sudah punya seseorang di hati kamu saat ini?” tanya Dara, menunduk dan suaranya
begitu rendah dan pelan. “Aku gelisah, benar-benar gelisah ... karena aku ...
aku cemburu. Hatiku sakit.. kamu tahu ... sakit sekali sampai aku selalu ingin
marah ... kamu mengerti?”
Chakka masih diam, dan mendengarkan denga
seksama.
“Aku nggak tahu apa aku pantas
mengucapkannya setelah semua yang aku katakan dan menyakiti kamu ... bukan aku
mengatakannya karena aku benci, tapi karena aku bingung ... aku heran dengan
hari-hariku yang aneh di mana kamu sudah nggak ada untuk membuatku kesal ...
membuatku marah karena sikap kamu yang seenaknya ... aku baru merasa bahwa
aku memiliki semua itu setelah banyak
hal berubah dan kupikir itu adalah sebuah kehilangan ... aku nggak bisa
menggantinya ... aku nggak bisa menemukannya di dalam diri orang lain ... jadi
mengertilah ... saat ini aku bingung sekali ... ayahku meninggal dunia ... dan
aku nggak bisa memenuhi keinginan terakhirnya ... aku sangat tersiksa ...
Chakka ....”
“Aku juga tersiksa ... dan aku nggak bisa
berbuat apa-apa,” kata Chakka.
“Aku mohon, Chakka ... jangan
meninggalkanku ... jangan ....” Dara merengek seperti anak kecil sambil
memohon.
Tidak pernah Chakka melihatnya seperti itu
sebelumnya. Ia tahu keputusan yang telah ia buat terjadi di saat yang tidak
tepat. Ketika melihat Dara menangis, ia tidak bisa membiarkannya begitu saja.
Di dalam pikirannya memang tak pernah ada orang lain namun bukan berarti ia
lupa pada Talisa yang ia tinggalkan dan selalu menunggu.
Ketika meraih uluran tangan Dara yang
hampir terperosok ke dalam jurang kehacuran, Chakka memaksa otaknya untuk
membuang semua rasa bersalahnya kepada Talisa. Sebelum itu ia hanya bisa
mengucapkan ‘Maaf, Talisa ...’
***

Komentar
0 comments