[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 15 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Jakarta ....
Dara terlihat duduk di depan kaca meja rias, masih dengan pakaian serba hitam walaupun sudah seminggu ayahnya dimakamkan. Ia menatap dirinya di cermin, lalu menangis. Kesedihannya belum berkurang sejak mereka sama-sama naik pesawat menuju Jakarta setelah mendengar kabar duka. Dara masih menyesali ketiadaan dirinya di saat-saat terakhir ayahnya.
Sedangkan Chakka hanya berdiri di ambang pintu, memandanginya sebentar sebelum menutup pintu dan kembal ke ruang tengah. Ia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana. Kemudian ia mulai berjalan-jalan menuju halaman belakang –tempat ia biasa menemani Dara bermain ketika mereka masih kecil dulu. Kenangan itu masih di sana.
Beberapa waktu lalu dia sudah memutuskan melepaskan semua ini demi kebebasannya. Tapi, seolah yang ia putuskan salah, pria tua yang ia sebut sebagai ayah itu meninggal dunia. Kematiannya seakan menjerat Chakka untuk tidak melarikan diri. Sehingga pembicaraan mereka di pesta yang menjadi terakhir kalinya itu kembali teringat.
“Dara harusnya menjadi penari balet, bukan pengusaha. Untuk itu  kamu di sana, Chakka ...,” pria berambut putih itu berkelakar di depan istri dan anak-anaknya, membuat Chakka sedikit jengah karena Dara di sampingnya tampak tidak senang.
Wanita itu memalingkan wajahnya dengan kesal dari Chakka yang berusaha untuk tak menoleh ke samping.
“Jadi apa kalian sudah merencanakannya?” tanya pria itu lagi melirik putrinya yang tengah kehilangan selera makan.
“Dara baru bercerai, Pa,” jawab Dara, agak sinis.
“Chakka sudah tahu itu. Semua sudah tahu itu. Lalu kenapa?” ayahnya memang terdengar memaksa.
“Pa, ...” Dara mencoba membantah kata-kata ayahnya.
“Kalau kamu menikah dengan orang lain, Papa tidak akan restu, bahkan sampai mati pun Papa tidak mau.” Putus sang ayah, tanpa ragu-ragu. “Papa tahu, laki-laki yang berada di sekitar kamu hanya orang yang gila harta dan Papa tidak bisa membayangkan kamu menikah dengan orang yang salah lagi.”
“Tapi, Chakka ...” Dara masih membantah.
“Tidak ada masalah dengan Chakka, keputusan ada di tangan kamu,” putus pria itu, masih tanpa menatap putrinya.
Tak tahan, Dara meninggalkan meja itu dengan wajah kesal.
“Papa, jangan memaksa Dara seperti itu,” ujar Aira, adik perempuan Dara yang berada di meja yang sama. “Nggak semudah itu buat dia. Lagian ‘kan Chakka juga pasti punya pacar.”
Sang ayah melirik Chakka yang dari tadi tidak bicaara sepatah kata pun. “Pacar?” ia terkekeh.
Chakka masih diam sementara anggota keluarga yang lain juga mulai berdebat.
“Aira benar, Pa. Kasihan Dara, dia baru saja melalui masa-masa sulit. Harusnya kita memberikan dia waktu,” Benny kakak laki-laki Dara juga ikut berujar. Ia melirik Chakka sejenak dan sempat menunjukan ketidaksukaannya.
“Memangnya Papa menyuruh mereka menikah besok pagi?” celetuk sang ayah. “Pokoknya Papa tidak terima orang lain selain Chakka menjadi menantu di rumah kita. Dia sudah bersama kita sejak kecil. Kalau nanti Papa meninggal dan kalian masih belum menerima Papa tidak akan bisa tenang, kalian mengerti?”
Ucapan ayah Dara tidak pernah main-main. Semua orang mengingat malam itu baik-baik dalam benak mereka dan setelah dia meninggal, pesan terakhirnya itu menjadi sebuah wasiat yang tak bisa ditolak.
“Chakka!” ia tersadar oleh suara panggilan yang seketika membuatnya membalikan badan.
Ibu angkatnya berdiri di teras dan tengah menunggunya menghampiri. Tampaknya ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Chakka segera kembali ke dalam rumah –ia sudah mempunyai firasat akan hal ini. Bahwa semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk membicarakan hal yang sangat mendadak.
Dara sudah keluar dari kamar, dia bergabung bersama ibu dan saudara-saudaranya dalam pembicaraan saat Chakka baru sampai.
“Kami sudah membicarakannya dan sepakat soal keinginan Papa, Chak ...,” Benny memulai. “Mungkin memang sebaiknya kamu dan Dara menikah. Karena perusahaan yang ada di Padang tidak bisa dibiarkan begitu saja dan Dara memang nggak bisa mengurusnya sendiri. Padang kota yang sedang berkembang dan prospeknya sangat bagus untuk bisnis keluarga kita.”
“Demi perusahaan?” Chakka terkekeh. Harusnya mereka sadar bahwa Chakka tidak pernah menolak Dara karena dia benar-benar mencintainya, bukan karena harta. Bertahun-tahun ia menahan dirinya namun setelah melewati saat-saat yang berat mereka justru mengatakan demi perusahaan?
“Tinggalkan semua pacar kamu,” kata Benny padanya dengan menjurus. “Kami nggak ingin ada masalah lagi.”
Chakka masih terkekeh. Inilah satu-satunya alasan mengapa dia tidak menyukai keluarga yang telah membesarkannya ini; mereka sangat angkuh dan tidak mempunyai rasa kasih sayang. Meski hidup bertahun-tahun di dalamnya, Chakka tidak benar-benar bahagia. “Bagaimana kalau aku nggak mau?” balasnya, terdengar menantang. “Aku juga punya hak untuk berpendapat bukan?”
“Ini pesan terakhir Papa sebelum meninggal,” Aira menegaskan.
Sekali pun pria yang mereka panggil Papa itu adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya, tidak cukup mampu memaksanya. Permasalahannya bukan pada perusahaan tapi perasaan. Bagaimana rasanya menikah tanpa cinta? Wanita itu hanya punya kebencian terhadapnya. Bagaimana ia bisa menikahinya? Lagipula keluarga ini selalu berpikiran buruk tentangnya. Chakka ingin membuktikan bahwa ia tak seperti yang mereka duga sebelumnya.
“Maaf, aku nggak bisa,” putus Chakka sambil berdiri. “Sebelum ini bahkan aku berpikir untuk melayangkan surat pengunduran diri. Aku akan menetap di Padang dan menjauh dari keluarga ini ....”
“Chakka?” Dara bersuara. Matanya membelalak. Ia tampak tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Chakka barusan.
Tapi, Chakka keburu melangkah pergi.
“Aku permisi dulu ...,” ucapnya.
Tapi, tidak disangka begitu ia ingin naik mobil Dara mengejarnya.
“Chakka, tunggu!” panggil wanita itu dengan terseok-seok. Wajahnya terlihat sedih. Sebelumnya Dara belum pernah terlihat memelas seperti itu.
Chakka hanya menatapnya, berusaha untuk tidak terpengaruh. Ia memang harus pergi. Ia harus memulai kehidupan baru di luar bayang-bayang Dara yang tidak akan pernah mencintainya.
“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Dara, seolah masih kurang jelas apa yang diputuskan Chakka di depan keluarganya.
“Kamu memintaku pergi jauh, aku melakukannya. Kamu bilang berhenti mengganggu kamu, aku juga melakukannya. Dan semua itu selalu karena alasan yang sama, kamu nggak akan bisa mencintaiku,” kata Chakka menjelaskan. Amarah seketika terpancar di matanya.
“Maaf, maafkan aku, Chakka ....” Tangis Dara kembali pecah. Ia bahkan juga menarik lengan Chakka agar jangan naik ke mobil dan pergi. “Aku mohon, jangan pergi dengan cara seperti ini ....”
“Aku cuma kehilangan akal, Dara. Di dalam sana mereka selalu bicara soal perusahaan yang sebenarnya aku nggak peduli. Aku memikirkan semua itu karena kamu. Karena permintaan Papa!” Chakka semakin emosi. “Dan ini bukan lagi urusan sepele! Kamu sendiri yang mengatakan tidak akan menikah tanpa cinta! Aku menyanggupinya ‘kan? Kenapa di saat aku sudah bisa menerima kenyataan kamu memohon? Apa ini seperti permainan? Apa ini lucu?!”
“Chakka, aku mohon dengarkan aku sebentar ...,” desak Dara sambil menarik-narik tangannya. “Aku akan mencoba .... Aku akan mencobanya ....”
Chakka terdiam. Ia hanya bisa menatap Dara tanpa berkedip. Apa maksud Dara?
“Jika memang kita nggak bisa menikah tanpa cinta, tapi ... paling tidak aku ingin kamu tahu kalau aku ingin mencobanya ...,”
“Demi apa? Demi Papa? Demi perusahaan?”
Dara tidak menjawabnya, sehingga Chakka yang emosi kembali menarik dirinya agar ia bisa pergi. Tapi, genggaman Dara pada lengan bajunya sangat kuat.
“Apa sudah terlalu terlambat? Apa kamu sudah punya seseorang di hati kamu saat ini?” tanya Dara, menunduk dan suaranya begitu rendah dan pelan. “Aku gelisah, benar-benar gelisah ... karena aku ... aku cemburu. Hatiku sakit.. kamu tahu ... sakit sekali sampai aku selalu ingin marah ... kamu mengerti?”
Chakka masih diam, dan mendengarkan denga seksama.
“Aku nggak tahu apa aku pantas mengucapkannya setelah semua yang aku katakan dan menyakiti kamu ... bukan aku mengatakannya karena aku benci, tapi karena aku bingung ... aku heran dengan hari-hariku yang aneh di mana kamu sudah nggak ada untuk membuatku kesal ... membuatku marah karena sikap kamu yang seenaknya ... aku baru merasa bahwa aku  memiliki semua itu setelah banyak hal berubah dan kupikir itu adalah sebuah kehilangan ... aku nggak bisa menggantinya ... aku nggak bisa menemukannya di dalam diri orang lain ... jadi mengertilah ... saat ini aku bingung sekali ... ayahku meninggal dunia ... dan aku nggak bisa memenuhi keinginan terakhirnya ... aku sangat tersiksa ... Chakka ....”
“Aku juga tersiksa ... dan aku nggak bisa berbuat apa-apa,” kata Chakka.
“Aku mohon, Chakka ... jangan meninggalkanku ... jangan ....” Dara merengek seperti anak kecil sambil memohon.
Tidak pernah Chakka melihatnya seperti itu sebelumnya. Ia tahu keputusan yang telah ia buat terjadi di saat yang tidak tepat. Ketika melihat Dara menangis, ia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Di dalam pikirannya memang tak pernah ada orang lain namun bukan berarti ia lupa pada Talisa yang ia tinggalkan dan selalu menunggu.
Ketika meraih uluran tangan Dara yang hampir terperosok ke dalam jurang kehacuran, Chakka memaksa otaknya untuk membuang semua rasa bersalahnya kepada Talisa. Sebelum itu ia hanya bisa mengucapkan ‘Maaf, Talisa ...’
***

Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments