๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Ruang itu nyaris kosong. Tidak ada apa-apa
selain dari sebuah sofa dan TV layar datar yang menempel di dinding dan menjadi
satu-satunya hiasan di sana. Chakka menyebutnya ruang tamu. Di sinilah ia
tinggal, seorang diri. Tapi, tempat itu begitu rapi, entah karena tak banyak
yang bisa dilihat.
Dengan perasaan berdebar, Talisa masuk
setelah melepas sepatu. Dingin masih tersisa pada pakaian yang dia kenakan
karena sempat terpapar hujan saat akan naik ke mobil Chakka. Ia memeluk dirinya
sendiri karena kedinginan saat Chakka menuju ke kamarnnya.
“Kamu harus ganti baju,” kata Chakka mendongak
dari pintu kamarnya. “Nanti masuk angin.”
Deg! Talisa kembali berdebar. Ganti
baju? Di kamarnya Chakka? Ia ingin menolak, tapi ... tidak sepenuhnya
menerima kalau ia harus menolak. Setelah diam beberapa saat, akhirnya ia masuk
ke kamar itu dan menemukan Chakka sedang mengambil beberapa baju dari
lemarinya. Dia menaruh sebuah kaos di atas tempat tidur Chakka yang serba
putih.
“Kamu bisa pakai yang itu,” katanya tapi
masih mencari sesuatu di dalam lemarinya. Mungkin baju untuk dia pakai sendiri.
Begitu dia menemukannya, Chakka bergegas pergi. Meninggalkan Talisa di kamar
itu dan tak lupa menutup pintunya.
Talisa menghembuskan nafas. Walaupun di
suhu yang dingin, wajahnya terasa panas. Ia duduk di atas tempat tidur,
berusaha menenangkan dirinya supaya tidak bertingkah memalukan di depan lelaki
itu. Ini pengalaman pertama masuk kamar seorang lelaki, memakai bajunya juga. Ini terasa seperti ... ah ... sulit
diungkapkan dengan kata-kata. Talisa begitu bahagia.
Seperti maniak, ia mengelus permukaan
tempat tidur Chakka. Membayangkan setiap malam lelaki itu tidur di sini; setiap
bagian dari kulitnya menyentuh permukaan ini. Tersadar dirinya mulai seperti
orang mesum, Talisa segera turun dari tempat tidur dan keluar.
Ah
apa yang aku pikirkan?
Chakka sedang berada di dapur ketika Talisa
keluar kamar. Ia sedang menyeduh teh di dalam cangkir putih. Talisa baru sadar
Chakka suka sekali dengan warna putih.
Tanpa ragu lagi, Talisa memutuskan untuk
duduk di sofa coklat yang menghadap TV. Lalu memandang sekitarnya, sampai
Chakka kembali dengan secangkir teh.
“Terima kasih,” ucap Talisa saat Chakka
menaruh tehnya di atas meja. Kemudian ia meraih remot TV dan menyalakannya.
Beberapa saat Chakka sibuk mencari chanel
TV, Talisa teringat sesuatu.
“Apa nggak apa-apa kalau kita nggak kembali
ke kantor?” tanya dia pada Chakka, yang sudah melupakan soal itu.
“Ini sudah jam setengah lima,” dia
mengingatkan. “Kamu nggak usah memusingkan soal itu.”
Talisa berubah murung. Bagaimana besok Dara
mencecarnya lagi? Mungkin kalau di luar urusan pekerjaan, Talisa bisa
melawannya. Tapi, kalau pekerjaan yang mana Talisa memang sering melalaikannya,
ia pasti tidak akan berkutik.
“Aku nggak akan membiarkan dia memaki kamu
lagi,” ujar Chakka seraya membelai puncak kepala Talisa dan gadis itu langsung
tersipu.
Kenapa Chakka jadi memanjakannya seperti
ini? Talisa belum siap menerima perlakuan manis Chakka, walau pun lelaki ini
sudah menciumnya beberapa kali di mobil. Ia tertunduk malu tapi Chakka malah
menarik Talisa ke sisinya; lebih rapat. Ini benar-benar seperti mimpi, seolah
Talisa mendapatkan Chakka dengan cara yang begitu mudah. Ia seolah membuang
kenyataan yang pernah ada bahwa cintanya dulu hanya bertepuk sebelah tangan,
walaupun intinya sejak di mobil sampai kemudian ia berakhir di pelukan Chakka,
tidak sedikit pun lelaki itu berkata bahwa ia juga mencintai Talisa. Ia hanya
bersikap bahwa ia membutuhkan Talisa karena gadis itu juga demikian.
***
Hujan belum berhenti dan jarum jam bergerak
sangat cepat. Mereka sudah mengganti berbagai canel TV tapi gemuruh itu membuat
suasana ceria dari tontonan komedi menjadi tidak lucu. Talisa menjadi bosan
namun belum ingin pulang. Ia belum siap beranjak dari sisi Chakka yang selalu
membelai rambutnya lembut.
“Jadi besok kamu nggak datang ke kantor
lagi?” tanya Talisa padanya.
Chakka menggeleng. Membenarkan kalau ia
nggak berniat kembali ke sana.
“Berarti aku juga harus mengundurkan diri?”
tanya Talisa lagi.
“Ya ...,” jawab Chakka. “Aku juga nggak mau
kamu berurusan lebih banyak dengan Dara.”
“Terus apa yang kamu katakan pada ayahnya
Dara? Dia akan menentang hal itu ‘kan?”
“Itu pasti. Tapi, aku sudah bertekad untuk
mundur,”
Talisa tersenyum, lalu tertawa kecil. “Kita
seperti mau kawin lari saja ya?”
Chakka ikut tertawa. “Lari dari apa?”
“Nenek sihir,”
Tawa Chakka terdengar makin keras. “Terus
kita ini apa? Kamu si kerudung merah dan aku serigala yang jahat?” balasnya.
Tapi, serigala dan si kerudung merah tidak
terlibat asmara. Meski pun begitu, cinta tetaplah cinta yang buta. Tidak
melihat siapa, dia bisa datang kapan dan di mana saja.
“Aku sama sekali nggak keberatan jadi si
kerudung merah yang dimangsa serigala,” kata Talisa.
“Aku nggak akan memangsa kamu, kok ...”
balas Chakka, sebelum ia mendekatkan dirinya dan Talisa menerimanya begitu saja
tanpa mempertanyakan apakah lelaki itu juga mencintainya.
Yang Talisa tahu adalah dia tidak akan
melewatkan kesempatan sekecil apapun hanya demi bisa mendapatkan saat-saat yang
berharga ini. Talisa ingin menghilangkan ketakutannya akan segala sesuatu
tentang Chakka yang selalu menjadi yang pertama dan terakhir karena hal yang
menyenangkan begitu muda berlalu; seperti teori relativitas. Karena ia tak tahu
persis perasaan lelaki itu padanya dan apakah ini akan terulang lagi. Namun,
kedekatan yang secara mendadak dan intens benar-benar melumpuhkan akal
sehatnya. Seakan tak ada lagi hari esok bagi mereka. Apa pun yang terjadi malam
ini, Talisa tak akan pernah menyesal.
Tapi, hari esok yang Talisa impikan di mana
ia tetap berada di sisi Chakka tidak pernah ada. Jika saja hari yang hujan itu
tidak terjadi, mungkin Talisa akan bisa melepaskan diri dari Chakka sebelum
semuanya terlanjur. Jika saja ...
***
Talisa membuka matanya karena ia mendengar
suara telepon yang berbunyi lalu suara Chaka yang menyahut panggilan itu di
belakangnya. Talisa bangkit dari halusnya permukaan seprai yang membuatnya
sempat terbuai; untuk mendengarkan siapa yang menelepon Chakka di saat seperti
ini. Chakka membelakanginya, hanya memperlihatkan kulit punggungnya yang
membuat Talisa ingin kembali memeluknya.
“Apa?!” suara Chakka terdengar terkejut.
Entah siapa yang menghubunginya dan seharusnya ia tidak perlu mengangkat
telepon itu karena sedang bersama Talisa; lebih-lebih Dara yang menelpon.
Talisa kembali berfirasat buruk dan
bertanya? Apakah ia sudah keluar dari hutan? Apakah semuanya belum jelas
setelah apa yang baru saja mereka lakukan?
Tapi, ketika Chakka membalikan badannya
untuk menatap Talisa dan mengatakan sesuatu yang amat penting, sepertinya
perjuangan Talisa belum berakhir.
Talisa belum keluar dari fase di mana ia
harus berjuang keras lagi. Yang ada bahkan ia malah masuk ke dalam labirin dan
kembali tersesat.
“Aku harus pergi, Talisa ...,” katanya
terlihat sangat menyesal.
“Apa yang terjadi?” tanya Talisa mengamati
air muka Chakka yang kelihatan cemas dan hampir menangis.
Chakka menggeleng. Dia terlihat sangat
gelisah. “Ayah Dara meninggal dunia dan aku harus ke sana sekarang ...,”
jawabnya sambil buru-buru berpakaian dan pergi.
“Kamu mau pergi lagi?” Talisa menatapnya
penuh harap.
“Aku benar-benar minta maaf ....” Hanya itu
jawaban yang dia berikan sebelum pergi dan menutup pintunya.
Chakka meninggalkan Talisa di sana, dengan
selimut yang masih menutupi separuh kulit tubuhnya. Talisa tidak pernah
melupakan kejadian itu. di saat ia telah menyerahkan dirinya seutuhnya, Chakka
meninggalkannya –masih demi perempuan itu. Mungkin kali ini, Chakka tidak akan
kembali.
***
Komentar
0 comments