[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 14 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Ruang itu nyaris kosong. Tidak ada apa-apa selain dari sebuah sofa dan TV layar datar yang menempel di dinding dan menjadi satu-satunya hiasan di sana. Chakka menyebutnya ruang tamu. Di sinilah ia tinggal, seorang diri. Tapi, tempat itu begitu rapi, entah karena tak banyak yang bisa dilihat.
Dengan perasaan berdebar, Talisa masuk setelah melepas sepatu. Dingin masih tersisa pada pakaian yang dia kenakan karena sempat terpapar hujan saat akan naik ke mobil Chakka. Ia memeluk dirinya sendiri karena kedinginan saat Chakka menuju ke kamarnnya.
“Kamu harus ganti baju,” kata Chakka mendongak dari pintu kamarnya. “Nanti masuk angin.”
Deg! Talisa kembali berdebar. Ganti baju? Di kamarnya Chakka? Ia ingin menolak, tapi ... tidak sepenuhnya menerima kalau ia harus menolak. Setelah diam beberapa saat, akhirnya ia masuk ke kamar itu dan menemukan Chakka sedang mengambil beberapa baju dari lemarinya. Dia menaruh sebuah kaos di atas tempat tidur Chakka yang serba putih.
“Kamu bisa pakai yang itu,” katanya tapi masih mencari sesuatu di dalam lemarinya. Mungkin baju untuk dia pakai sendiri. Begitu dia menemukannya, Chakka bergegas pergi. Meninggalkan Talisa di kamar itu dan tak lupa menutup pintunya.
Talisa menghembuskan nafas. Walaupun di suhu yang dingin, wajahnya terasa panas. Ia duduk di atas tempat tidur, berusaha menenangkan dirinya supaya tidak bertingkah memalukan di depan lelaki itu. Ini pengalaman pertama masuk kamar seorang lelaki, memakai bajunya juga. Ini terasa seperti ... ah ... sulit diungkapkan dengan kata-kata. Talisa begitu bahagia.
Seperti maniak, ia mengelus permukaan tempat tidur Chakka. Membayangkan setiap malam lelaki itu tidur di sini; setiap bagian dari kulitnya menyentuh permukaan ini. Tersadar dirinya mulai seperti orang mesum, Talisa segera turun dari tempat tidur dan keluar.
Ah apa yang aku pikirkan?
Chakka sedang berada di dapur ketika Talisa keluar kamar. Ia sedang menyeduh teh di dalam cangkir putih. Talisa baru sadar Chakka suka sekali dengan warna putih.
Tanpa ragu lagi, Talisa memutuskan untuk duduk di sofa coklat yang menghadap TV. Lalu memandang sekitarnya, sampai Chakka kembali dengan secangkir teh.
“Terima kasih,” ucap Talisa saat Chakka menaruh tehnya di atas meja. Kemudian ia meraih remot TV dan menyalakannya.
Beberapa saat Chakka sibuk mencari chanel TV, Talisa teringat sesuatu.
“Apa nggak apa-apa kalau kita nggak kembali ke kantor?” tanya dia pada Chakka, yang sudah melupakan soal itu.
“Ini sudah jam setengah lima,” dia mengingatkan. “Kamu nggak usah memusingkan soal itu.”
Talisa berubah murung. Bagaimana besok Dara mencecarnya lagi? Mungkin kalau di luar urusan pekerjaan, Talisa bisa melawannya. Tapi, kalau pekerjaan yang mana Talisa memang sering melalaikannya, ia pasti tidak akan berkutik.
“Aku nggak akan membiarkan dia memaki kamu lagi,” ujar Chakka seraya membelai puncak kepala Talisa dan gadis itu langsung tersipu.
Kenapa Chakka jadi memanjakannya seperti ini? Talisa belum siap menerima perlakuan manis Chakka, walau pun lelaki ini sudah menciumnya beberapa kali di mobil. Ia tertunduk malu tapi Chakka malah menarik Talisa ke sisinya; lebih rapat. Ini benar-benar seperti mimpi, seolah Talisa mendapatkan Chakka dengan cara yang begitu mudah. Ia seolah membuang kenyataan yang pernah ada bahwa cintanya dulu hanya bertepuk sebelah tangan, walaupun intinya sejak di mobil sampai kemudian ia berakhir di pelukan Chakka, tidak sedikit pun lelaki itu berkata bahwa ia juga mencintai Talisa. Ia hanya bersikap bahwa ia membutuhkan Talisa karena gadis itu juga demikian.
***
Hujan belum berhenti dan jarum jam bergerak sangat cepat. Mereka sudah mengganti berbagai canel TV tapi gemuruh itu membuat suasana ceria dari tontonan komedi menjadi tidak lucu. Talisa menjadi bosan namun belum ingin pulang. Ia belum siap beranjak dari sisi Chakka yang selalu membelai rambutnya lembut.
“Jadi besok kamu nggak datang ke kantor lagi?” tanya Talisa padanya.
Chakka menggeleng. Membenarkan kalau ia nggak berniat kembali ke sana.
“Berarti aku juga harus mengundurkan diri?” tanya Talisa lagi.
“Ya ...,” jawab Chakka. “Aku juga nggak mau kamu berurusan lebih banyak dengan Dara.”
“Terus apa yang kamu katakan pada ayahnya Dara? Dia akan menentang hal itu ‘kan?”
“Itu pasti. Tapi, aku sudah bertekad untuk mundur,”
Talisa tersenyum, lalu tertawa kecil. “Kita seperti mau kawin lari saja ya?”
Chakka ikut tertawa. “Lari dari apa?”
“Nenek sihir,”
Tawa Chakka terdengar makin keras. “Terus kita ini apa? Kamu si kerudung merah dan aku serigala yang jahat?” balasnya.
Tapi, serigala dan si kerudung merah tidak terlibat asmara. Meski pun begitu, cinta tetaplah cinta yang buta. Tidak melihat siapa, dia bisa datang kapan dan di mana saja.
“Aku sama sekali nggak keberatan jadi si kerudung merah yang dimangsa serigala,” kata Talisa.
“Aku nggak akan memangsa kamu, kok ...” balas Chakka, sebelum ia mendekatkan dirinya dan Talisa menerimanya begitu saja tanpa mempertanyakan apakah lelaki itu juga mencintainya.
Yang Talisa tahu adalah dia tidak akan melewatkan kesempatan sekecil apapun hanya demi bisa mendapatkan saat-saat yang berharga ini. Talisa ingin menghilangkan ketakutannya akan segala sesuatu tentang Chakka yang selalu menjadi yang pertama dan terakhir karena hal yang menyenangkan begitu muda berlalu; seperti teori relativitas. Karena ia tak tahu persis perasaan lelaki itu padanya dan apakah ini akan terulang lagi. Namun, kedekatan yang secara mendadak dan intens benar-benar melumpuhkan akal sehatnya. Seakan tak ada lagi hari esok bagi mereka. Apa pun yang terjadi malam ini, Talisa tak akan pernah menyesal.
Tapi, hari esok yang Talisa impikan di mana ia tetap berada di sisi Chakka tidak pernah ada. Jika saja hari yang hujan itu tidak terjadi, mungkin Talisa akan bisa melepaskan diri dari Chakka sebelum semuanya terlanjur. Jika saja ...
***
Talisa membuka matanya karena ia mendengar suara telepon yang berbunyi lalu suara Chaka yang menyahut panggilan itu di belakangnya. Talisa bangkit dari halusnya permukaan seprai yang membuatnya sempat terbuai; untuk mendengarkan siapa yang menelepon Chakka di saat seperti ini. Chakka membelakanginya, hanya memperlihatkan kulit punggungnya yang membuat Talisa ingin kembali memeluknya.
“Apa?!” suara Chakka terdengar terkejut. Entah siapa yang menghubunginya dan seharusnya ia tidak perlu mengangkat telepon itu karena sedang bersama Talisa; lebih-lebih Dara yang menelpon.
Talisa kembali berfirasat buruk dan bertanya? Apakah ia sudah keluar dari hutan? Apakah semuanya belum jelas setelah apa yang baru saja mereka lakukan?
Tapi, ketika Chakka membalikan badannya untuk menatap Talisa dan mengatakan sesuatu yang amat penting, sepertinya perjuangan Talisa belum berakhir.
Talisa belum keluar dari fase di mana ia harus berjuang keras lagi. Yang ada bahkan ia malah masuk ke dalam labirin dan kembali tersesat.
“Aku harus pergi, Talisa ...,” katanya terlihat sangat menyesal.
“Apa yang terjadi?” tanya Talisa mengamati air muka Chakka yang kelihatan cemas dan hampir menangis.
Chakka menggeleng. Dia terlihat sangat gelisah. “Ayah Dara meninggal dunia dan aku harus ke sana sekarang ...,” jawabnya sambil buru-buru berpakaian dan pergi.
“Kamu mau pergi lagi?” Talisa menatapnya penuh harap.
“Aku benar-benar minta maaf ....” Hanya itu jawaban yang dia berikan sebelum pergi dan menutup pintunya.
Chakka meninggalkan Talisa di sana, dengan selimut yang masih menutupi separuh kulit tubuhnya. Talisa tidak pernah melupakan kejadian itu. di saat ia telah menyerahkan dirinya seutuhnya, Chakka meninggalkannya –masih demi perempuan itu. Mungkin kali ini, Chakka tidak akan kembali.
***

Next


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments