[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 13 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Belakangan hari lebih sering tidak bersahabat. Seolah mampu mewakilkan suasana hatinya, mendung menghiasi langit yang harusnya terik. Namun, banyak agenda yang harus tetap dijalankan. Lepas dari keributan Chakka dan Dara di kantor, Talisa masih harus berhadapan dengan antrian panjang mahasiswa regular yang ingin bertemu dosen. Ia duduk di salah satu kursi dan kembali melamun.
Tidak jelas apa yang ia pikirkan, namun benaknya kembali memutar pesta malam itu. Ia membayangkan bagaimana Chakka terlihat senang berada di tengah-tengah keluarganya sampai ia tidak menghiraukan dirinya. Apa yang laki-laki itu pikirkan? Apa dia tidak pernah memikirkan Talisa sedikit pun?
Namun betapa pun kerasnya   dia memikirkan semua itu, tetap saja dia tidak menemukan jawaban yang   pasti selain dari bahwa Chakka memang tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.
Dengan menyedihkan hujan turun, separuh hari hampir berlalu dengan menunggu. Talisa tampak bersabar namun sebenarnya hanya dalam keadaan menunggu lah ia dapat memikirkan semuanya kembali. Sambil menatapi tetesan hujan yang mencoba menerobos jendela; mengingatkannya pada dirinya sendiri yang mencoba masuk ke hati sang pujaan tapi lelaki itu tidak mengkehendaki dirinya.
Akhirnya setelah hampir dua jam melamun, Pak Indra sang dosen Penasehat Akademis keluar dari ruangannya.
“Talisa, kamu datang hari ini?” tanya Pak Indra padanya.
“Iya, Pak. Saya ingin memastikan apa saat masih bisa ikut ujian semester karena ... absensi saya banyak yang bolong,” jawab Talisa, sedikit khawatir.
Pak Indra tersenyum. “Itu hal yang biasa untuk orang yang bekerja,” ujarnya. “Yang penting kamu menyerahkan semua tugas dan mendapatkan nilai A saat ujian ....”
Talisa pun mengangguk-angguk. Ia senang. Setidaknya dosen-dosen tidak mempersulitnya; sedikit memudahkan harinya yang rumit.
“Baiklah. Saya harus mengajar sekarang. Sebaiknya kamu segera kembali ke kantor. Kalau tidak bos kamu pasti marah, Talisa,” kata Pak Indra padanya sebelum ia berlalu bersama buku-bukunya.
Aku menunggu hampir dua jam hanya untuk ini?
Talisa sedikit lesu karena sekarang sudah hujan; lebat sekali. Jangankan ke kantor, menyebrangi halaman depan saja ia harus mengambil resiko berani basah. Bagaimana dia bisa kembali ke kantor dengan pakaian yang basah? Ia hanya mendengus sambil memandang langit yang masih mendung. Hujan tampak belum akan berhenti.
“Pacar kamu yang biasa bawa mobil belum datang?” tegur seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
Talisa mengernyit, ia sama tidak mengenal orang itu; sama sekali. Tapi, memperhatikan gayanya; dari setelah kaos dan jeans, ditambah jaket kulit yang biasa dipakai para biker, dan juga sepatu kets hitam belang putih itu, sepertinya dia mahasiswa reguler. Talisa tahu betul anak-anak di kelasnya, tidak ada yang gayanya seperti anak ini.
Siapa orang ini?
“Orang itu nyaris menabrakku dengan mobilnya di gerbang,” laki-laki itu menjelaskan karena dari ekspresi Talisa, ia sadar kalau gadis itu tidak ingat padanya. “Aku melihat kamu ada di dalam mobil itu.”
“Kamu yang memotong jalan, kenapa menyalahkan orang lain?” cetus Talisa, akhirnya ingat; dia si pengendara motor yang membuat Chakka amat kesal sampai ingin turun dari mobil. Risih, Talisa pun bergeser dari sisinya untuk menjauh. Berandal menyebalkan! Gerutunya lalu berusaha mengabaikan orang itu.
Orang itu tertawa. “Dia nggak datang menjemput kamu hari ini?” ia bertanya pada Talisa seolah itu urusannya. Tapi, dari nada suaranya, kelihatannya berandal itu tengah mengejek. Sepertinya dia juga masih kesal dengan kejadian tempo hari.
“Nggak ada urusannya sama kamu!” tandas Talisa, lebih memilih menatap hujan dari pada lelaki itu.
Dia tertawa; menertawai Talisa yang menunjukan kebencian padanya. Talisa merasa harus menjauhi orang itu karena dia pembuat masalah. Setelah membuat Chakka hampir menabraknya, tidak berselang lama, dia berkelahi di halaman kampus. Dia melakukan itu seolah tidak merasa bersalah. Sekarang juga, ia mengganggu Talisa dengan bergeser ke dekat gadis itu.
“Mana ada laki-laki yang membiarkan pacarnya terjebak hujan seperti ini,” orang itu kembali menggoda Talisa; sengaja mencari-cari topik untuk membuat Talisa semakin kesal. Sepertinya karena tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membalas Chakka yang hampir mencelakainya, ia melampiaskannya kepada Talisa karena kebetulan bertemu.
“Dia bukan pacarku!” cetus Talisa, bergeser beberapa langkah. “Tolong jangan ganggu aku ya!”
Orang itu tertawa; kian jelas tengah menertawai Talisa yang berwajah cemberut. Dia menikmatinya dan puas berhasil membuat Talisa kesal.
“Kalau tahu bakal hujan, harusnya kamu bawa payung,” komentar dia semakin membikin Talisa sakit hati. “Atau karena sudah terbiasa diantar jemput pakai mobil jadi manja. Dasar perempuan!”
“Dasar ugal-ugalan!” balas Talisa emosi. “Kamu sendiri kenapa masih di sini? Menunggu hujan?! Sudah tahu di Indonesia cuma ada dua musim, musim kering dan musim hujan, kenapa nggak bawa mantel?!”
Anak itu tediam seketika. Sedikit kaget dengan balasan Talisa yang bertubi-tubi; apalagi tatapan gadis itu memang penuh kebencian padanya.
Chakka benar dia memang menyebalkan. Orang seperti itu harus dijauhi. Lihat saja caranya bicara, sama sekali tidak sopan. Dia mengomentari orang dan tidak sadar diri.
“Pai!!” suara seseorang menembus gemuruh hujan yang turun makin deras. Terlihat dua orang anak lelaki lain yang gayanya hampir sama menghampiri si berandal yang langsung membalikan badannya.
Talisa hanya memperhatikan mereka dengan perasaan jijik. Tidak tahu mengapa dia benci sekali dengan anak laki-laki sok jagoan. Sejak SMA dia sudah sering berhadapan dengan teman sekolah yang jahil dan bandel, sehingga ia tidak perlu takut menghadapi orang-orang seperti itu.
“Kamu menggoda perempuan, Pai?” tanya salah seorang temannya yang melihat Talisa berdiri tidak jauh dari si berandal yang bernama Pay itu dan tengah menatapi merka.
Pai? Nama yang jelek. Nama itu terdengar seperti kue, atau julukan yang buruk bagi Talisa.
“Ah, nggak!” jawab Pai sambil melirik Talisa dengan ekspresi melecehkan. Lalu pergi. “Aku nggak tertarik sama cewek simpanan!”
Apa dia bilang?
Ucapan itu benar-benar membuat Talisa naik darah. Tapi, ia berusaha menenangkan dirinya. Toh orang itu juga sudah pergi sama teman-temannya walaupun Talisa tahu anak-anak itu juga berpikir sama dengan Pai –menyebutnya simpanan. Apa ia dan Chakka terlihat seperti itu? Mungkin karena perbedaan umur yang cukup jauh.
Talisa tidak bisa mengingkarinya walaupun ia memanggil Chakka dengan nama saja, tidak menunjukan ada sesuatu yang lebih. Chakka tidak menganggap dirinya berarti –hanya pengisi kekosongan ketika ia bosan.
Gadis itu menarik nafas panjang lagi, menatap langit yang mendung. Kapan hujan ini akan berhenti? Tiba-tiba saja air matanya menetes. Entah mengapa, Talisa ingin menangis lagi; rasanya sejak meninggalkan perdebatan Chakka dan Dara di kantor dia sudah membuang banyak air mata. Seakan tak pernah cukup, ia melakukannya lagi; terus dan terus ...



Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments