๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Belakangan hari lebih sering tidak
bersahabat. Seolah mampu mewakilkan suasana hatinya, mendung menghiasi langit
yang harusnya terik. Namun, banyak agenda yang harus tetap dijalankan. Lepas
dari keributan Chakka dan Dara di kantor, Talisa masih harus berhadapan dengan
antrian panjang mahasiswa regular yang ingin bertemu dosen. Ia duduk di salah
satu kursi dan kembali melamun.
Tidak jelas apa yang ia pikirkan, namun
benaknya kembali memutar pesta malam itu. Ia membayangkan bagaimana Chakka
terlihat senang berada di tengah-tengah keluarganya sampai ia tidak
menghiraukan dirinya. Apa yang laki-laki itu pikirkan? Apa dia tidak pernah
memikirkan Talisa sedikit pun?
Namun betapa pun kerasnya dia memikirkan semua itu, tetap saja dia
tidak menemukan jawaban yang pasti
selain dari bahwa Chakka memang tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.
Dengan menyedihkan hujan turun, separuh
hari hampir berlalu dengan menunggu. Talisa tampak bersabar namun sebenarnya
hanya dalam keadaan menunggu lah ia dapat memikirkan semuanya kembali. Sambil
menatapi tetesan hujan yang mencoba menerobos jendela; mengingatkannya pada
dirinya sendiri yang mencoba masuk ke hati sang pujaan tapi lelaki itu tidak
mengkehendaki dirinya.
Akhirnya setelah hampir dua jam melamun,
Pak Indra sang dosen Penasehat Akademis keluar dari ruangannya.
“Talisa, kamu datang hari ini?” tanya Pak
Indra padanya.
“Iya, Pak. Saya ingin memastikan apa saat
masih bisa ikut ujian semester karena ... absensi saya banyak yang bolong,”
jawab Talisa, sedikit khawatir.
Pak Indra tersenyum. “Itu hal yang biasa
untuk orang yang bekerja,” ujarnya. “Yang penting kamu menyerahkan semua tugas
dan mendapatkan nilai A saat ujian ....”
Talisa pun mengangguk-angguk. Ia senang.
Setidaknya dosen-dosen tidak mempersulitnya; sedikit memudahkan harinya yang
rumit.
“Baiklah. Saya harus mengajar sekarang.
Sebaiknya kamu segera kembali ke kantor. Kalau tidak bos kamu pasti marah,
Talisa,” kata Pak Indra padanya sebelum ia berlalu bersama buku-bukunya.
Aku
menunggu hampir dua jam hanya untuk ini?
Talisa sedikit lesu karena sekarang sudah
hujan; lebat sekali. Jangankan ke kantor, menyebrangi halaman depan saja ia
harus mengambil resiko berani basah. Bagaimana dia bisa kembali ke kantor dengan
pakaian yang basah? Ia hanya mendengus sambil memandang langit yang masih
mendung. Hujan tampak belum akan berhenti.
“Pacar kamu yang biasa bawa mobil belum
datang?” tegur seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
Talisa mengernyit, ia sama tidak mengenal
orang itu; sama sekali. Tapi, memperhatikan gayanya; dari setelah kaos dan
jeans, ditambah jaket kulit yang biasa dipakai para biker, dan juga sepatu kets hitam belang putih itu, sepertinya dia
mahasiswa reguler. Talisa tahu betul anak-anak di kelasnya, tidak ada yang
gayanya seperti anak ini.
Siapa
orang ini?
“Orang itu nyaris menabrakku dengan
mobilnya di gerbang,” laki-laki itu menjelaskan karena dari ekspresi Talisa, ia
sadar kalau gadis itu tidak ingat padanya. “Aku melihat kamu ada di dalam mobil
itu.”
“Kamu yang memotong jalan, kenapa
menyalahkan orang lain?” cetus Talisa, akhirnya ingat; dia si pengendara motor
yang membuat Chakka amat kesal sampai ingin turun dari mobil. Risih, Talisa pun
bergeser dari sisinya untuk menjauh. Berandal
menyebalkan! Gerutunya lalu berusaha mengabaikan orang itu.
Orang itu tertawa. “Dia nggak datang
menjemput kamu hari ini?” ia bertanya pada Talisa seolah itu urusannya. Tapi,
dari nada suaranya, kelihatannya berandal itu tengah mengejek. Sepertinya dia
juga masih kesal dengan kejadian tempo hari.
“Nggak ada urusannya sama kamu!” tandas
Talisa, lebih memilih menatap hujan dari pada lelaki itu.
Dia tertawa; menertawai Talisa yang
menunjukan kebencian padanya. Talisa merasa harus menjauhi orang itu karena dia
pembuat masalah. Setelah membuat Chakka hampir menabraknya, tidak berselang
lama, dia berkelahi di halaman kampus. Dia melakukan itu seolah tidak merasa
bersalah. Sekarang juga, ia mengganggu Talisa dengan bergeser ke dekat gadis
itu.
“Mana ada laki-laki yang membiarkan
pacarnya terjebak hujan seperti ini,” orang itu kembali menggoda Talisa;
sengaja mencari-cari topik untuk membuat Talisa semakin kesal. Sepertinya
karena tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membalas Chakka yang hampir
mencelakainya, ia melampiaskannya kepada Talisa karena kebetulan bertemu.
“Dia bukan pacarku!” cetus Talisa, bergeser
beberapa langkah. “Tolong jangan ganggu aku ya!”
Orang itu tertawa; kian jelas tengah
menertawai Talisa yang berwajah cemberut. Dia menikmatinya dan puas berhasil
membuat Talisa kesal.
“Kalau tahu bakal hujan, harusnya kamu bawa
payung,” komentar dia semakin membikin Talisa sakit hati. “Atau karena sudah
terbiasa diantar jemput pakai mobil jadi manja. Dasar perempuan!”
“Dasar ugal-ugalan!” balas Talisa emosi.
“Kamu sendiri kenapa masih di sini? Menunggu hujan?! Sudah tahu di Indonesia
cuma ada dua musim, musim kering dan musim hujan, kenapa nggak bawa mantel?!”
Anak itu tediam seketika. Sedikit kaget
dengan balasan Talisa yang bertubi-tubi; apalagi tatapan gadis itu memang penuh
kebencian padanya.
Chakka benar dia memang menyebalkan. Orang
seperti itu harus dijauhi. Lihat saja caranya bicara, sama sekali tidak sopan.
Dia mengomentari orang dan tidak sadar diri.
“Pai!!” suara seseorang menembus gemuruh
hujan yang turun makin deras. Terlihat dua orang anak lelaki lain yang gayanya
hampir sama menghampiri si berandal yang langsung membalikan badannya.
Talisa hanya memperhatikan mereka dengan
perasaan jijik. Tidak tahu mengapa dia benci sekali dengan anak laki-laki sok
jagoan. Sejak SMA dia sudah sering berhadapan dengan teman sekolah yang jahil
dan bandel, sehingga ia tidak perlu takut menghadapi orang-orang seperti itu.
“Kamu menggoda perempuan, Pai?” tanya salah
seorang temannya yang melihat Talisa berdiri tidak jauh dari si berandal yang
bernama Pay itu dan tengah menatapi merka.
Pai?
Nama yang jelek. Nama itu terdengar seperti kue,
atau julukan yang buruk bagi Talisa.
“Ah, nggak!” jawab Pai sambil melirik
Talisa dengan ekspresi melecehkan. Lalu pergi. “Aku nggak tertarik sama cewek
simpanan!”
Apa dia bilang?
Ucapan itu benar-benar membuat Talisa naik
darah. Tapi, ia berusaha menenangkan dirinya. Toh orang itu juga sudah pergi
sama teman-temannya walaupun Talisa tahu anak-anak itu juga berpikir sama
dengan Pai –menyebutnya simpanan. Apa ia dan Chakka terlihat seperti itu?
Mungkin karena perbedaan umur yang cukup jauh.
Talisa tidak bisa mengingkarinya walaupun
ia memanggil Chakka dengan nama saja, tidak menunjukan ada sesuatu yang lebih.
Chakka tidak menganggap dirinya berarti –hanya pengisi kekosongan ketika ia
bosan.
Gadis itu menarik nafas panjang lagi,
menatap langit yang mendung. Kapan hujan
ini akan berhenti? Tiba-tiba saja air matanya menetes. Entah mengapa,
Talisa ingin menangis lagi; rasanya sejak meninggalkan perdebatan Chakka dan
Dara di kantor dia sudah membuang banyak air mata. Seakan tak pernah cukup, ia
melakukannya lagi; terus dan terus ...
Komentar
0 comments