๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Pesta telah dimulai satu jam saat mereka
tiba. Semua orang tampak menikmati makan malam di round table sambil mendengarkan live
music dari sebuah grup band. Pesta itu sudah ramai sekali oleh undangan
–kolega, rekan bisnis hingga karyawan yang berdiri di dekat meja prasmanan
menikmati dessert aneka rasa.
Pertama kali Talissa menginjakan kakinya di
ballroom, ia sempat menarik nafas panjang sebelum melangkah lebih dalam.
Bergabung dalam keramaian sambil sesekali memperhatikan sekeliling. Beginilah
pesta itu. Untuk sesaat ia mengabaikan Chakka yang memilih berpisah darinya
sejenak karena harus menghampiri keluarganya.
Talisa masih sibuk mengawasi sekitarnya,
mencari tempat kosong untuk dirinya dan Chakka. Namun, ia terkejut saat melihat
bahwa Chakka sudah menemukan tempatnya –meja yang sama dengan keluarga Dara di
mana ada ayah dan ibu beserta saudara-saudaranya. Tampaknya sebuah kursi khusus
untuk Chakka sudah disiapkan dan karena inilah Chakka akhirnya mau datang ke
pesta. Mereka menunggu anak angkat kesayangan mereka datang. Sementara Chakka
sedang mengobrol dengan keluarganya, termasuk juga Dara yang duduk di
sebelahnya, Talisa masih berdiri di tengah. Memandang ke tempat yang tak bisa
ia datangi.
Beberapa orang yang menyadari kehadirannya
menoleh dan kembali saling bicara. “Eh, lihat itu ...” di sambut beberapa
pasang mata yang mengawasi seolah di balik gaun indahnya yang menakjubkan
Talisa sedang membawa bom yang sebentar lagi akan meledak.
Talisa masih berdiri di sana, sepertinya
tak ada tempat kosong baginya untuk duduk. Seolah tak ada yang bersedia
memberinya tempat walaupun kakinya terasa begitu pegal. Chakka juga sepertinya
lupa mereka datang bersama. Tiba-tiba ia teringat pada Onny.
Ah seandainya saja ia dan Onny tidak
bertengkar, pasti ia tidak akan sendirian begini. Mereka akan duduk di salah
satu round table, memakan apa saja
yang mereka temukan di meja prasmanan tanpa peduli orang-orang akan mencemooh
mereka rakus. Tapi, kenyataannya Onny tidak akan pernah ada lagi di pesta mana
pun. Talisa mulai menyesal tidak membela Onny di saat Chakka memaki sahabatnya,
karena itulah ia kehilangannya.
Sekelompok orang yang tidak mengenalnya
mulai melirik ke arahnya. Talisa terlihat seperti gadis yang salah masuk ke
ruang pesta di mana tampaknya ia tak mengenal siapa pun. Ia melihat sekitarnya
dengan bingung dan kesakitan. Sepatu hak tinggi yang menopang keseluruhan
penampilannya mulai membuatnya panik. Talisa tidak bisa berdiri di sana lebih
lama namun tak ada yang peduli sekali pun dia adalah yang paling cantik.
Lama-lama Talisa mulai tidak betah degan
sorot mata yang menelanjanginya seakan mereka bisa melihat menembus gaun kuning
yang dia kenakan. Ia memaksakan dirinya untuk melangkah pergi dengan tertatih.
Kakinya terasa pegal dan sakit sampai ia ingin melepas sepatu itu namun ia
harus bersabar sampai berhasil keluar.
Dirinya bukan Cinderella yang ketinggalan
sebelah sepatunya hanya karena pangeran yang sedang mengejar. Talisa adalah
Cinderella yang gagal ketika ia melepas sepatu itu dari kakinya yang memerah di
depan pintu masuk ballroom. Ia sempat diperhatikan oleh beberapa tamu yang baru
datang dan hendak masuk. Ada yang tertawa geli, ada juga yang heran saat Talisa
menenteng sepatu itu menuju restroom dengan wajah cemberut.
***
Tetesan air mata terasa hangat di pipinya
meski ia tidak melihat ada bara api ketika berkaca. Dandanan salon itu sudah
luntur. Polesan maskara dan eyeliner-nya belepotan di sepanjang lingkar mata.
Namun seakan tak puas air mata tidak kunjung berhenti. Satu jam sudah ia berada
di dalam toilet wanita duduk di atas kloset memandangi sepatu pestanya.
Apa arti semua ini? Ia mulai
bertanya-tanya. Sementara Chakka yang tidak merasa kehilangan, belum
menghubunginya. Mungkin ia terlalu menikmati saat-saat bersama keluarganya. Apa
yang bisa Talisa lakukan? Ia menatap langit-langit untuk menahan air matanya,
namun ia tidak bisa menengadah berlama-lama karena matanya perlu berkedip. Dan
setiap ia melakukannya, air mata mengalir lebih deras melewati pipinya yang
sudah tak merona.
Ini adalah pesta yang buruk. Pesta pertama
yang benar-benar buruk bagi Cinderella yang gagal.
Lagi, ia melangkah keluar dari toilet untuk
berkaca di depan wastafel. Ia melihat bayangan seorang gadis dengan wajah
menyeramkan terpantul di cermin dan seketika mendengar jeritan seorang
perempuan. Matanya hitam seperti panda dengan sorot yang tajam. Dikiranya
bayangan menakutkan di cermin itu adalah sesosok hantu penghuni toilet wanita,
ia segera menoleh ke belakang.
Talisa juga terkejut melihat wanita bergaun
merah muda dengan belahan dada rendah itu karena dia adalah Dara. Dara yang
kemudian tertawa menyadari bahwa hantu yang dia lihat adalah seorang gadis yang
ia ingin selalu terlihat menyedihkan.
“Ya ampun! Apa-apaan kamu?!” dia berteriak,
tapi tertawa puas. Sepertinya tahu kalau Chakka sudah menelantarkan Talisa di
pesta.
Talisa berusaha mengabaikan perempuan itu
dengan tetap melangkah ke wastafel, berniat menghapus segala bentuk tambalan di
wajahnya. Ia mencuci bersih semua yang menempel di bibir dan matanya juga untuk
mengembalikan wajah sesungguhnya. Talisa sudah berniat ingin pulang karena
pesta ini hanya semakin menunjukan betapa kesepian dirinya.
“Kamu mau kembali ke ballroom dengan wajah
yang nggak enak dilihat begitu?” tanya Dara padanya, terdengar meledek. “Dengar
ya, aku sudah kasihan sama kamu karena selalu jadi perbincangan di kantor.
Jangan sampai malam ini menjadi malam terburuk kamu. aku juga nggak setega itu
melihat kamu mempermalukan diri kamu sendiri. Lagipula ini pesta besar. Bisa
panjang urusannya kalau orang lain tahu kalau kamu adalah karyawan.”
“Apa Bu Dara kesurupan memberiku nasehat
sepanjang itu?” balas Talisa sembari memutar matanya –seperti melawan.
“Kamu bilang apa?”
“Atau saking sukanya berbohong sampai mengatakan
hal-hal yang kebalikan dari yang ada di hati?” balas Talisa lagi. “Aku
benar-benar nggak mengerti ....”
“Heh ....,”
“Dengar, Bu Dara, aku dan Bu Dara nggak
punya masalah,” kata Talisa menegaskan. “Coba pikir apa salahku sampai aku
dimusuhi? Apa aku mengganggu pacarnya Bu Dara?”
Dara mengernyit, sepertinya dia belum paham
apa yang dikatakan gadis itu.
“Aku nggak merampas milik orang lain, tapi
aku nggak mengerti kenapa aku diperlakukan seperti perusak kebahagiaan orang,”
jelas Talisa lagi.
“Kamu benar-benar nggak tahu diri ya. Jadi
karena dilindungi Chakka kamu jadi berani sama aku?”
“Aku dilindungi karena aku nggak bersalah
tapi diperlakukan nggak adil!”
“Kamu jangan terlalu banyak bermimpi,
Talisa. Kamu pikir Chakka tertarik dengan gadis kecil seperti kamu?”
Talisa mulai geram. Ia menatap Dara dengan
tajam dan bersiap untuk membalas “Ya, aku memang gadis kecil dan untungnya aku
bukan perempuan tua yang patah hati!” katanya dengan keras. “Aku memang bukan
gadis yang menarik, dan di saat orang nggak tertarik padaku, aku nggak perlu
berkecil hati karena aku juga sudah tahu akan seperti itu. Tapi, wanita cantik
saja kalau sudah tidak ada yang tertarik dan dicampakan rasanya itu lebih
menyakitkan dari pada berwajah jelek dan tidak menarik!”
Tanpa jeda, Dara pun mendampratnya. Sebuah
tamparan mendarat di pipi Talisa yang langsung tercenung. “Jaga bicara kamu,
dasar gadis nggak tahu malu!” cacinya kepada gadis itu.
Talisa syok. Ia merasakan sakit merambat
dengan cepat di wajahnya hingga ke ulu hati.
Berani
sekali perempuan itu menamparku! Benar-benar perempuan kesepian yang malang!
“Marah karena apa yang aku bilang benar?!”
tantang Talisa lagi. “Sekarang siapa yang lebih menyedihkan? Berusaha
mendapatkan apa yang tidak pernah didapatkan atau menjilat ludah sendiri saat
memungut kembali apa yang sudah dibuang jauh-jauh?!”
Ya, kata-kata Talisa membungkam Dara yang
hanya bisa membuat wanita itu mengepalkan tangan tanpa berani memukul lagi.
“Aku nggak mengambil apapun dari siapa
pun!” tegas Talisa kemudian. “Jadi berhentilah memperlakukan aku seperti
pencuri!”
Lalu ia memunguti sepatunya yang tertinggal
di toilet dan membawanya pergi. Talisa meninggalkan restroom sambil menenteng sepatu. Ia melewati lorong yang panjang
dengan mengabaikan tatapan geli orang-orang. Sejak ia terbiasa diperolok,
Talisa seakan tidak punya rasa malu berjalan tanpa alas kaki hingga ke loby
bahkan sampai ia bisa menemukan taksi di pinggir jalan. Namun tampaknya di
udara yang lembab itu, tidak ada yang bebelas kasihan padanya.
Taksi-taksi itu seakan penuh secara
mendadak agar dunia ini menjadi lebih tak adil baginya. Jadi ia melangkah
menapaki jalan yang keras dan kasar menuju rumah sambil sesekali menyeka air
matanya yang terus mengalir. Gerimis mulai turun, alam juga tidak iba padanya.
Ada apa dengan hari ini? Kenapa dengan
malam ini?
***
“Ya Tuhan, Talisa, 39 derajat!” Reti
menghela nafas sambil memandangi thermometer yang baru ia cabut dari mulut
Talisa yang terkatup. “Apa sih yang terjadi di pesta itu sampai kamu pulang
jalan kaki sambil nyeker, di tengah hujan pula. Mau jadi bintang sinetron?!”
“Kak Reti berisik!” tandas Talisa sambil
beguling ke samping dan menggulung tubuhnya yang demam dengan selimut tebal. Di
luar masih hujan walau pun tidak lebat, rasanya tetap saja menyedihkan bagi
Talisa.
Sekali lagi, Talisa melihat layar
handphone-nya sembunyi-sembunyi. Lalu menarik nafas. Tidak ada pesan atau
telepon dari Chakka dari dua hari yang lalu, padahal sudah selama itu juga dia
tidak masuk kantor.
“Aku nggak tahu ya kamu pacaran dengan
laki-laki yang seperti apa. Tapi, kalau menurutku sih ... laki-laki yang tega
menelantarkan perempuan di jalan itu bukan orang yang baik,” Reti mulai berkomentar.
“Kemarin pergi bersama, pulangnya kamu nggak diantar. Kamu nggak bisa
membedakan mana yang serius dan yang iseng?”
Talisa semakin merengut. Ia juga membungkus
kepalanya dengan selimut supaya tidak mendengar komentar Reti lagi.
Reti hanya bisa memandangi adiknya itu
dengan kasihan. “Hentikan, Talisa,” kata dia kemudian. “Kamu pasti nggak ingin
Mama atau Papa tahu soal ini. Kalau mereka tahu, laki-laki seperti itu nggak
akan bisa diterima ....”
Talisa diam. Berikutnya ia hanya mendengar
suara pintu kamarnya yang menutup. Sepertinya kakak perempuannya yang cerewet
itu sudah pergi. Walaupun kesal karena komentar kakaknya yang sok tahu, Talisa
tidak bisa mengingkari bahwa perkataannya benar.
Ke mana Chakka di saat ia membutuhkannya?
Chakka memang tidak peduli. Lalu apa yang
dia harapkan?
Mungkin semua ini harus dihentikan,
pikirnya kemudian. Berkat Chakka ia mendapatkan pesta terburuk dalam hidupnya.
Ia juga kehilangan Onny sahabatnya. Talisa juga sudah tidak fokus pada
kuliahnya. Semua hal buruk yang terjadi padanya adalah gara-gara lelaki itu,
namun Chakka tidak pernah bertanggung jawab. Talisa sadar, Chakka hanya berbuat
semaunya tanpa memikirkan perasaannya.
Di pesta itu mereka seperti dua orang yang
saling tidak mengenal saja. Dia menikmati makan malam bersama keluarga
angkatnya dan lupa telah meninggalkan Talisa –itu tidak bisa diterima.
***
Komentar
0 comments