๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Kamu sama sekali nggak siap-siap untuk
pestanya?” tanya dia saat dalam perjalanan kembali ke kantor.
Talisa
tersenyum. “Aku juga nggak mau pergi,” jawabnya.
“Kenapa?”
“Aku pasti nggak punya teman di sana. Buat
apa?”
Chakka diam beberapa saat. “Aku berubah
pikiran,” kata dia tiba-tiba.
“Hah?”
“Aku datang,” kata dia, sambil menoleh dan
tersenyum.
“Benar?” Talisa memastikannya lagi.
Chakka mengangguk disela-sela mengawasi
jalan dan mengendalikan laju mobil. “Ya…,” jawab dia.
“Kalau begitu aku harus beli gaun yang
bagus untuk pesta,” Talisa berkata dengan bersemangat.
Talisa membatalkan jadwal kuliahnya karena
Chakka ingin mengantarkan ke butik –butik tempat Talisa dan Ony pernah
berencana akan membeli gaun. Talisa sudah lama mengimpikan bisa membeli gaun di
sana karena semua gadis menginginkannya tapi tidak semua yang bisa membelinya
karena design-nya eksklusif dan harganya yang mahal. Talisa sudah lama
menyisihkan uang untuk bisa membeli salah satu dari sana selama bekerja.
Kota ini hanyalah kota kecil di mana belum
berdiri mall semegah yang ada di ibukota. Hanya sedikit toko-toko eksklusif
yang masuk ke sini karena pelanggannya hanya orang-orang tertentu saja. Dan
membeli baju di tempat yang mahal adalah sebuah gengsi.
Talisa merasa begitu bahagia karena pergi
ke sana degan Chakka; sembari membayangkan bagaimana nanti mereka masuk ke toko
itu dan mulai memilih gaun. Talisa akan mencoba gaun-gaun itu dan Chakka yang
memimilihkannya. Pasti akan sangat menyenangkan hingga Talisa tidak bisa
menyembunyikan senyumnya sampai mereka tiba. Ia jadi tidak sabar menunggu jam
kantor berakhir lalu mereka akan pergi ke butik dan selama perjalananan
membicarakan hal-hal yang menyenangkan baik tentang segalanya. Ia bersyukur
untuk tiap menit yang mereka lewati walau Chakka tidak banyak bicara. Dia
sering diam saat menyetir namun saat Chakka mengambil arah yang berbeda dari
tujuan semula, Talisa harus bertanya.
“Kita mau ke mana?”
“Kamu bilang mau membeli gaun?” jawab
Chakka.
“Tapi, di arah sebaliknya…,”
“Di mana?” tanya dia.
“Di dekat mall,” jawab Talisa.
“Oh, aku sama sekali nggak tahu. Aku hanya
tahu satu tempat,” jelas dia. “Di sana lebih bagus….”
Hanya itu yang dia katakan. Talisa tidak
pernah keberatan. Untuk merasakan hal seperti ini saja sudah lebih dari cukup.
Lagipula mungkin maksud Chakka adalah butik mahal lain yang sama eksklusifnya.
Chakka berasal dari Jakarta, tentu seleranya tinggi.
Sepuluh menit kemudian mereka tiba di butik
yang Chakka maksud. Sesuai firasat, butik yang dipilih Chakka memang lebih
besar. Ternyata Talisa memang mendapatkan lebih dari yang ia kira. Masuk ke
butik besar seperti Alice yang baru menginjakan kakinya di wonderland. Talisa
begitu terkesima dengan gaun-gaun yang dipajang di sana dan semua itu bagus
sampai rasanya tidak apa-apa bila ia harus tersesat di dalamnya dan bisa
mencoba gaun-gaun itu satu persatu.
Mungkin Talisa kampungan, tapi seumur hidup
itulah kali pertama ia bisa menyentuh gaun yang harganya ratusan ribu hingga
jutaan. Talisa melihat gaun kuning polos selutut dengan pita kecil di bagian
dadanya. Ia menyukainya tapi belum memutuskan akan membelinya karena begitu
masuk ke dalam butik, ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk memlih.
Talisa sampai lupa dengan Chakka yang melihat-lihat dengan acuh dan mengambil
tempat duduk di salah satu kursi. Kemudian ia mulai berkeliling sendiri sambil
menyentuh setiap gaun yang kulewati dengan gembira sampai seorang penjaga toko
menghampiri.
“Cari gaun apa, Kakak?” gadis itu bertanya.
“Gaun pesta,” jawab Talisa cepat dan
bersemangat. Dan si pramuniaga membawanya ke tempat khusus gaun pesta.
Tempat itu tidak terlalu ramai tapi Talisa
bisa mendengar suara-suara beberapa orng pelanggan yang sedang memilih gaun.
Pramuiaga menunjukan sebuah gaun ungu muda yang terpajang di sebuah manikin.
Gaun itu indah. Dalamnya sampai mata kaki dan tanpa lengan. Kainnya tidak
bermotif tapi tidak mengurangi kemewahannya karena begitu Talisa meyentuhnya,
Talisa bisa merasakan permukaan sutra yang sangat lembut pada jemarinya. Halus
sekali.
Tapi, Talisa lebih menyukai warna kuning.
“Kalau mau mereka masih punya koleksi lain,
kakak mau lihat?” tanya pramuniaga seakan tahu Talisa tidak terlalu tertarik
denga warna ungu.
Mereka menuju ke sudut lain. Tapi, kemudian
matanya tidak lagi tertuju pada gaun-gaun yang terpajang di setiap manikin,
melainkan sekelomok perempuan yang asyik memilih gaun. Talisa mengenal mereka
semua namun ada satu yang membuat bulu romanya berdiri; Dara ada di sana dan
dia melihat Talisa.
Talisa sempat mematung, cukup lama sampai
yang lain ikut menoleh padanya. Mereka saling bertatapan sebelum Talisa lihat
ada orang yang datang.
“Hey, lihat deh! Yang ini bagus ‘kan?” Onny
muncul secara tiba-tiba sambil membawa sebuah gaun di tangannya untuk
diperlihatkan kepada dua orang teman sekantor yang lain sementara Dara memandang
sambil tersenyum. Tidak butuh waktu lama bagi Onny untuk menyadari kehadiran
Talisa. “Talisa?” dia terkejut dan Talisa mengernyit.
Onny?
Bersama mereka? Bersama Dara juga? Mereka merencanakan ini bersama?
Ini sangat tidak masuk akal. Namun, Talisa
sudah bisa langsung menyimpulkan ada yang tidak beres.
“Hey, kebetulan kamu juga di sini,” Dara
menyapa dengan ramah bahkan ia rela menghampiri. “Harusnya kita bisa pergi
sama-sama ‘kan?”
Talisa menatapi tiga orang lagi –Onny, Arum
dan Suni yang kembali sibuk memilih gaun terkecuali Onny yang masih belum
menghilangkan raut terkejutnya. Namun, kemudian dia mencoba untuk tidak melihat
ke arah Talisa selagi sahabatnya itu berhadapan degan Dara yang sepertinya
ingin mengusir Talisa. Dia pasti mengira bahwa gadis sepertinya tidak cocok
datang ke tempat semahal ini.
“Aku mengajak mereka…,” Dara seakan pamer
berhasil mengumpulkan orang-orang yang pernah bermasalah dengan Talisa untuk
mengganggunya.
“Oh…,” balas talisa, lalu menjauh. Ia tidak
boleh kalah oleh tatapan mata bengisnya. Talisa tidak takut, sekali pun dia mau
mempermalukannya. “Saya juga mau lihat-lihat, semuanya bagus.”
“Ya, tentu. Di sini menjual barang-barang
yang tidak biasa. Mungkin kamu belum pernah mimpi untuk membelinya,” kata dia.
“Ya, Bu Dara benar. Jangankan bermimpi,
berharap juga nggak pernah. Dan begitu masuk ke sini rasanya berharga sekali,”
jawab Talisa sambil tersenyum dan menatap wajahnya. “Orang seperti Bu Dara mana
mengerti dengan perasaan itu karena tidak perlu usaha keras untuk bisa membelinya.”
Raut Dara berubah kesal. Ternyata gadis itu
berani meledkenya. Ditambah begitu ia mendengar Arum dan Suni tertawa di
belakang. Mereka segera menutup mulut karena Dara menoleh.
“Tapi, sekarang mimpi saya terkabul ‘kan?
Bisa membeli gaun yang ada di sini? Dan
itu adalah segalanya,” balas Talisa lagi. “Oh ya, Bu Dara, saya permisi dulu.
Saya ingin berpetualang di dunia mimpi saya karena saya bisa lupa soal gaun
maana yang saya mau beli….”
Lalu Talisa membalikan badan dan bergerak
pergi. Mungkin ia akan memilih gaun dia sudut lain saja karena masih banyak
yang belum dilihat.
“Mana Chakka?” dia bertanya tiba-tiba.
“Di depan,” jawab Talisa acuh. Lalu
benar-benar pergi.
Sejak itu Talisa tidak pernah takut lagi
pada Dara. Dia hanyalah seorang perempuan cantik –tidak lebih. Talisa meragukan
ada kebaikan di dalam dirinya. Mungkin Chakka pernah melihatnya tapi bagi
Talisa, Dara hanyalah seorang wanita yang kesepian karena dicampakan, dia tidak
akan pikir panjang memungut lagi apa yang sudah dia campakan.
***
Sebuah gaun kuning lain terpasang dengan
cantik di sebuah manikin. Gaun dengan manik Kristal di bagian bawah tampak
berkilau oleh cahaya lampu yang menerangi ruangan. Talisa membayangkan manikin
itu adalah tubuhnya dan gaun cantik itu terpasang sempurna. Ya, Talisa memang
kurus dengan kedua kaki yang panjang, tapi tubuhnya tak seindah boneka itu.
Hanya saja Talisa seperti melihat dirinya dalam wujud yang lain.
Inilah yang selalu ia impikan meski menjadi
Cinderella tidak pernah ada dalam angannya.
Tapi, tiba-tiba seseorang menarik
tangannya. Talisa pikir itu Chakka, tapi yang ia temukan adalah Onny.
“Talisa!” tegurnya. Wajah nya tampak kesal.
Talisa pun berusaha untuk tidak peduli.
Talisa tidak ingin Onny merusak saat-saat terbaik di dalam hidupnya lagi.
“Kamu harus dengar aku,” tiba-tiba dia
memaksa, menatap Talisa serius.
Kenapa
dia bersikap seperti ini? Talisa diam dan
mendengarkan. Ia ingin memastikan Onny tidak akan mengatakan hal yang merusak
kebahagiaannya saat ini.
“Ini gila, Talisa!” kata dia. “Kamu harus
menghindar!”
“Menghindar dari apa?”
“Ini sesuatu yang direncanakan!” kata dia
dan membuat Talisa semakin bingung. “Aku heran kenapa Dara tiba-tiba mengajak
kami membeli gaun. Kemarin-kemarin dia juga sering mentraktir makan siang di
luar. Ini aneh! Dia nggak pernah ramah sama karyawan sebelumnya.”
“Terus?” Talisa mulai tidak sabar.
“Talisa, apa kamu nggak sadar? Kenapa
tiba-tiba kamu dan Chakka juga di sini. Aku rasa ini bukan kebetulan!” jelas
dia. “Apa Chakka yang mengajak kamu ke sini?”
Talisa mengangguk-angguk. “Memangnya
kenapa?”
“Ini butik langganan Dara. Yang punya
adalah temannya Dara!” jawab Onny dengan tergesa-gesa. “Aku yakin Chakka
sengaja mengajak kamu ke sini karena dia tahu mereka bakal ke sini juga!”
“Iya, terus kenapa?” Talisa suda tidak bisa
menunggu penjelasan masuk akal dari Onny.
“Kamu harus keluar dari permainan mereka,
Talisa. Mereka sedang menunjukan perang dingin dan balas dendam satu sama lain.
Dara akan mengganggu kamu terus dan Chakka nggak akan peduli itu karena dia
hanya ingin bikin Dara cemburu. Kamu harus tahu itu, kamu dimanfaatkan!”
“Onny, udah!” tandas Talisa. “Aku nggak
tahu sejak kapan kamu seperti orang-orang yang selama ini menganggap kalau aku
ini pengacau! Memang apa sih salahku? Karena aku nggak cantik karena itu aku
nggak pantas untuk Chakka?”
“Bukan begitu, Talisa! Ini mulai
mengerikan!”
“Onny, dari dulu kamu juga udah bilang
begitu. Ya, ini mengerikan. Aku tahu! Mengerikan karena orang-orang berusaha
menghancurkan apa yang aku sukai! Aku nggak ngerti dengan orang-orang ini!
Itulah masalahnya!”
“Kenapa kamu bilang begitu? Kamu sama
sekali nggak merasa kalau sebenarnya Chakka nggak peduli sama kamu?”
“Onny,aku capek! Apa lagi sekarang? Di
kantor semua orang mengasingkan aku, kamu satu-satunya temanku juga seperti
itu! Sekarang kamu muncul di depanku hanya untuk bilang hal yang nggak ingin
aku dengar lagi. Kalau kamu curiga dari awal, terus kenapa kamu juga ada di
sini? Kamu pergi sama Dara ke sini ‘kan?! Dan kamu kelihatan menyukainya!”
“Aku pergi karena aku nggak tahu akan
melihat kalian juga di sini!”
“Cukup, Onny! Jangan bicara atas nama teman
lagi! Yang aku tahu teman itu selalu saling mendukung! Aku nggak pernah
merugikan kamu walaupun kamu bergosip hampir tentang semua orang di kantor, aku
menyimpan semua omong kosong itu! Kenapa sih di saat aku senang kamu malah
merusaknya! Kenapa?”
Onny tercengang. Menatap Talisa tidak
percaya. Talisa berusaha untuk tidak gentar. Betapa pun ia marah karena Onny
muncul bak pahlawan kesiangan, apa yang ia katakan mungkin menyakitkan.
“Kamu salah…,” kata Onny. “Kamu salah kalau
kamu berpikir kalau aku nggak mendukung kamu atau bahkan mengira aku
mengasingkan kamu, Sa. Kupikir teman adalah orang yang menolong di saat
temannya hampir masuk ke jurang tapi yang ditolong malah menuduh orang yang
menolongnya akan mendorongnya masuk ke sana.”
“Kamu bicara apa sih, Onny?”
Onny mengambil beberapa langkah mundur.
Tampaknya ia akan pergi. “Chakka hanya memanfaatkan kamu, Talisa,” kata dia
lagi. “Begitu kamu sadar, kamu baru tahu kalau kamu benar-benar sendirian.
Sedangkan Chakka dia nggak akan membutuhkan kamu lagi kalau dia sudah
mendapatkan Dara!”
“Apa kamu selalu seperti itu?” suara Chakka
menyela. “Selalu mengurusi sesuatu yang bukan urusan kamu?”
Talisa menoleh ke belakang sosok Chakka
yang kelihatan marah sudah berdiri di sana. Onny terlihat ketakutan melihat
Chakka. Barangkali Chakka sudah gerah dengan semua yang orang pikirkan
tentangnya dan ia sering menangkap Onny berbicara buruk tentangnya.
“Sebaiknya simpan semua opini kamu sebelum
kamu benar-benar menghancurkan orang lain,” Chakka benar-benar marah. Ia
menatap Onny tajam sampai gadis itu benar-benar mundur dan menjauh.
Namun tampaknya Onny belum akan berhenti
bicara. Ia menggeleng. Gerak bibirnya Nampak mengumpulkan kata-kata lain yang
ingin ia ucapkan dengan tidak sabar. Ia menatap Talisa dengan iba. “Cinta
memang mengubah orang,” katanya. “Tapi, kalau mengubah seseorang menjadi lebih
buruk, itu namanya gila!”
“Atas dasar apa kamu menilai sesuatu itu
baik atau buruk? Apa kamu sendiri melakukan hal yang benar?!” suara Chakka
meninggi hingga Talisa yang berdiri di sampingnya merinding. “Dengar baik-baik,
saya bukan orang yang suka membawa urusan pribadi ke pekerjaan. Tapi, kalau
kamu terus-terusan mengganggu saya dengan komentar-komentar sok tahu itu, saya
akan bertindak!”
“Oh, kamu nggak perlu melakukannya!” balas
Onny. “Aku bisa keluar sendiri! juga
nggak tahan ada di antara orang-orang gila seperti kalian!”
“Onny….” Talisa semakin ketakutan. Ingin
menghampiri Onny tapi terlambat.
Onny terlanjur menatap Chakka dengan benci.
Lalu melirik Talisa yang cemas, namun hanya sekilas. Setelah itu ia langsung
bergegas pergi. Sosok Onny yang marah telah menghilang digantikan oleh Dara
yang berdiri di dekat sebuah manikin. Ia sempat bergelagat ingin sembunyi
karena ketahuan menguping, sebelum Chakka membalikan badan dan tak lupa menarik
Talisa ikut dengannya.
Semua yang Talisa pikirkan tentang gan-gaun
yang indah telah musnah. Ia tidak pernah tahu bahwa ia akan meninggalkan tempat
itu dengan berlinang air mata. Ia memang bertengkar dengan Onny, tapi tak
pernah mengira akan seserius ini sampai Onny berani menantang Chakka.
***
Komentar
0 comments