๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Talisa mendengarnya. Onny berbicara dengan
beberapa anak front desk lainnya soal
gaun yang akan mereka pakai saat pesta nanti. Mereka akan membelinya di salah
satu butik yang ada di mall. Mereka juga mendiskusikan salon mana yang akan
mereka datangi. Pesta ulang tahun perusahaan selalu meriah dan setiap tahun
selalu berbeda. Seingatnya, tahun kemarin mereka merayakannya dengan acara
syukuran dan mengundang anak panti asuhan. Tahun sebelumnya, kabarnya dirayakan
dengan jalan-jalan selama dua hari.
Menurut jadwal acara yang sudah dipasang di
papan pengumuman, acara dimulai jam tujuh malam dengan agenda makan malam, lalu
seremonial ulang tahun yang dihadiri oleh direksi, kolega dan relasi bisnis.
Lewat pukul sembilan akan ada live music.
Pegawai boleh mengajak keluarga dan pasangan –pada acara puncak mereka
membagikan doorprize seperti voucher menginap di hotel dan hadiah
utamanya adalah tiket liburan ke Bali. Acara yang kedengarannya menyenangkan
tapi Talisa tidak merasakan eforianya sama sekali.
Sebelum ini Talisa dan Onny pernah
merencanakannya. Yaitu membeli gaun mahal di salah satu branded store untuk
pesta itu. Tapi, jangankan berencana, sekarang saling tegur sapa saja tidak.
Talisa enggan mnta maaf atas semua tuduhannya terhadap Onny, dan sepertinya
Onny marah sekali.
“Mungkin aku nggak bisa datang,” kata
Chakka secara tiba-tiba. Barangkali itulah yang membuatnya termenung sejak
pagi.
“Kenapa? Katanya Ayahnya Dara datang juga
‘kan? Apa nggak apa-apa nanti kamu nggak di sana?”
“Aku cuma nggak suka pesta,” jelas dia,
masih dengan waja murung.
Kalau Chakka berniat tidak hadir, Talisa
juga tidak hadir. Untuk apa? Tidak seorang pun manusia di kantor ini selain
Chakka yang menganggapnya ada setelah Onny juga tidak mau bicara padanya.
Talisa sudah bisa membayangkan pesta itu tanpa Chakka. Di saat semua orang
bersenang-senang ia hanya duduk diam di pinggir sendirian. Talisa juga tidak
punya pacar yang bisa diajak.
“Kamu sudah punya alasan?”
Chakka hanya menggeleng. Tapi, rautnya
belum berubah.
“Apa kamu berpikir untuk pergi dari sini,
Chakka?” Talisa bertanya lagi, sambil duduk untuk memandanginya dengan seksama.
Jika dia menjawab iya, Talisa akan sangat sedih.
Perasaan itu kembali menjelma menjadi rasa
sesak. Talisa tidak mengerti dengan lelaki ini. Harusnya Chakka melihatnya,
tapi dia lebih memilih layar komputer yang kosong daripada melihat wajah Talisa.
Apa
karena aku nggak cantik?
“Itu mungkin saja…,” dia berkata akhirnya.
Dengan menatap Talisa, tapi hanya beberapa detik. “Aku ini orang yang nggak
punya apa-apa, Talisa. Aku hanya terikat oleh balas budi….”
“Tapi, kamu harus menentukan,”
Dia menggeleng pelan. Wajahnya semakin
murung hingga Talisa kembali merasa bersalah. “Itu nggak semudah yang kamu
kira…,” jawabnya.
“Karena Dara?”
Chakka terdiam.
Aku pun diam.
Keheningan kembali menusuk hati. Sampai
rasanya Talisa ingin mengatakan padanya bahwa ialah satu-satunya yang mengerti
dirinya dan selalu ada untuknya agar dia menyadari bahwa mungkin mereka
ditakdirkan satu sama lain. Ya, Talisa memang naif, setidaknya itulah yang
membuatnya bertahan dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
“Apa… kamu mau mengejar dia lagi?” itulah
yang paling ingin diketahuinya saat ini untuk meredakan rasa takutnya sendiri.
Chakka langsung menggeleng –itu sangat
melegakan. Syukurlah.
“Aku nggak mau ngomong soal itu lagi,” dia
berkata lalu berdiri dari kursinya. “Oh ya, kamu sudah makan belum?”
Talisa menggeleng sambil tersenyum.
Chakka tampak menghela nafas. “Kalau gitu
hari ini kita makan di mana?”
“Ayo kita lihat,” Talisa berkata sambil
berdiri dan bersiap-siap.
Hanya dua menit mereka sudah siap keluar.
Talisa menelan semua rasa pahit setiap berjalan bersamanya dengan tidak
memperhatikan sekitar. Harusnya mereka terbiasa melihat Talisa dan Chakka
menjadi akrab. Tapi, selalu saja ketika mereka berpapasan dengan Dara, aura
kebencian terasa pekat.
Talisa memelankan langkahnya. Wanita itu
berdiri di ambang pintu kantornya. Mungkin karena melihat mereka lewat dia
tetap di sana. Dia selalu membuat Talisa ketakutan dengan tatapannya yang
menusuk.
“Wah, kalian mau ke mana?” tanya dia,
sambil melipat tangan di dada dan memperhatikan Talisa. Gerak bibirnya seakan
mengisyaratkan sinis yang ganjil. Sebelumnya Dara tidak pernah menyapa mereka
seperti ini.
Chakka yang berusaha tidak mempedulikannya
pun kembali untuk menghampiri Talisa. Dia sama sekali tidak mau menatap ke arah
Dara. Namun, wajahnya kelihatan sangat kesal. Tiba-tiba Chakka menarik tangan
gadis itu agar segera pergi. Talisa terkejut sedangkan Dara tercengang. Sekali
Talisa menoleh ke belakang, Dara masih menunjukan rasa marah.
Kenapa dia harus marah? Chakka tidak pernah
menjadi miliknya.
Namun, kejadian itu membuat Talisa mulai
sadar, Dara tengah dilanda cemburu.
Talisa menatap Chakka, memperhatikan raut
wajahnya yang datar.
Benarkah Chakka sudah tidak punya perasaan
apa-apa padanya?
***
“Semua orang sepertinya heboh sekali soal
pesta,” Chakka mengajak Talisa bicara setelah lama tanpa suara membiarkannya
mendramatisir kejadian siang tadi di kantor.
“Kenapa kamu nggak suka dengan pesta?”
celetuk Talisa, mengamati wajahnya baik-baik. Terlihat sudah tak ada kemarahan
di sana, terlebih ketika ia tertawa karena pertanyaan itu. Dia menyesap kopi di
dalam cangkirnya sambil menatap keluar restoran –terkadang itu kosong. “Apa…
kamu cuma nggak suka dengan pesta yang ada Dara di dalamnya?”
Chakka tertawa lagi; seakan Talisa lucu. “Kamu
ini kenapa suka sekali menghubung-hubungkan Dara dengan segala hal tentangku?”
balas dia.
Talisa menghela nafas; tahu Dara pernah
menjadi alasan bagi Chakka untuk hidup normal dan menghilangkan kecendrungan
indigo-nya. Dia sendiri yang mengatakannya.
“Dara juga sudah lama tahu kalau aku nggak
suka pesta,”
“Jadi, apa alasan yang sebenarnya?”
Chakka mulai serius. “Pesta dengan banyak
orang, nggak tahu asalnya dari mana. Entah mereka manusia atau bukan. Yang
kelihatan cuma orang-orang yang berdiri sambil mengobrol tapi nggak jelas apa
yang mereka bicarakan. Suara-suara itu bising dan mengganggu….” Pandangan
Chakka mulai kosong. Entah dia sadar dengan apa yang dia katakan. “Aku pernah
melihat perempuan yang dandanannya mengerikan, karena setengah mabuk aku
bertanya-tanya apa ada perempuan yang sengaja berdandan seperti itu pergi ke
pesta. Tapi, kalau diperhatikan dia hanya berdiri di tengah keramaian seperti
patung, sementara orang-orang menari seperti orang gila. Dan dia… nggak
tersentuh oleh orang-orang di sekelilingnya, anehnya mereka juga sepertinya
nggak melihat perempuan itu berdiri di sana. Aku memandangi perempuan itu
sampai akhirnya dia memutar kepalanya dan memperlihatkan wajahnya. Saat aku
menyadari kalau perempuan itu adalah tamu yang nggak diundang, aku terkejut.
Seolah tahu hanya aku yang bisa melihatnya… dia terus memandangku… bahkan
sampai mengikutiku pulang….”
“Jadi… perempuan itu… hantu?”
“Kurang lebih….” Jawab Chakka. “Dia bilang
dia tewas di tempat itu….”
“Benar kamu sering melihat hal-hal yang
ganjil seperti itu?”
“Sudah nggak terhitung, Talisa, sampai aku
nggak bisa membedakan mana yang manusia betulan dan bukan….”
Talisa mengernyit. Ia hampir tidak percaya,
namun di lain sisi Talisa tahu Chakka tidak mungkin mengarangnya. Talisa pernah
dengar indigo memiliki keistimewaan seperti melihat hal yang kasatmata. Atau
merasakan getaran yang bersifat mistis. Baginya itu terlalu fantastis karena
dialami oleh orang seperti Chakka. Dia tampan, tinggi, dan kelihatannya sangat
cerdas, meski dengan emosi yang sering tidak terkontrol.
“Kapan pertama kali kamu melihatnya?”
Chakka tampak berpikir. Ini mulai seperti
konsultasi antara psikiater dan pasien. Kebetulan karena mengambil jurusan
psikologi, Talisa tertarik untuk menggalinya lebih dalam. Dan intinya, adalah
Chakka adalah orang yang sangat ia
cintai. Talisa ingin tahu lebih –lebih dari Dara yang sudah bersamanya sejak
kecil. “Aku nggak ingat….” jawabnya sambil menggeleng pelan. “Terlalu sering.”
“Dari semua yang pernah kamu lihat pasti
ada sesuatu yang membekas ‘kan?” Talisa bertanya dan dia mengerutkan dahinya.
Sepertinya dia tidak suka membicarakan masa lalunya. Talisa mulai menyusun
kata-kata untuk meyakinkannya agar bicara. “Aku nggak bermaksud bikin kamu
nggak nyaman, tapi… aku hanya mencoba membayangkan bagaimana rasanya hidup…
atau tumbuh dengan keadaan seperti itu… kamu ‘kan masih kecil, apa nggak takut…
maksudku seperti… misalnya aku orang yang nggak pernah melihat hantu atau
sejenisnya… membayangkan di satu tempat itu angker … atau sekedar ditakut-takuti
orang saja sudah lari pontang-panting ….”
Chakka tertawa. “Sulit untuk
menjelaskannya, tapi aku pernah lihat yang wajahnya rusak total, berdarah, atau
yang sekedar melayang, lewat seperti angin… mereka bukan sesuatu yang
menyeramkan…,” jelas dia lagi.
“Terus apa yang paling menyeramkan?” Talisa
menatapnya lekat-lekat dan Chakka membalasnya.
“Ada dua kejadian,” jawabnya dan dia
terlihat begitu serius. “Kejadian yang pertama waktu aku masih tujuh tahun.”
Talisa mendengarkan dengan seksama, memperhatikan
kalimat demi kalimat yang kedengaran seperti cerita horror yang belum pernah ia
dengar.
“Waktu di sekolah, seperti biasa semua anak
datangnya pagi. Aku nggak pernah punya teman sekelas yang aneh karena aku
sendirilah yang aneh. Seperti biasa aku duduk di kursi paling belakang. Saat
semuanya lagi main di halaman depan sekolah menunggu bel bunyi, aku diam di
kelas. Baca buku. Lalu tiba-tiba ada yang datang. Anak perempuan yang selalu
jadi langganan juara kelas. Yang aku tahu, anak perempuan itu orangnya aktif
dan ramah. Ya seperti biasa dia datang untuk menyapa ‘Hai, Chakka, kamu lagi
baca apa?’ dan aku nggak menjawab menoleh juga nggak. Lalu dia pergi duduk di
kursi meja sebelah dan bel nya berbunyi….”
“Terus?”
“Anak-anak masuk ke kelas. Tiba-tiba suasana
jadi ramai dan aku ingat, bangku meja sebelah biasanya kosong sejak ada anak
yang pindah. Tapi, dia duduk di situ, padahal bangkunya di depan. Aku pikir
nggak ada yang aneh walaupun wajahnya pucat pasi, putih seperti mayat. Lalu
gurunya masuk dan memberitahu kabar buruk. Katanya ada anak perempuan di kelas
yang hilang dan sampai saat itu belum ditemukan.”
“Anak yang pucat itu?”
Chakka mengangguk. “Namanya Putri,” jelas
Chakka. “Dia hilang selama seminggu dan orang-orang bertanya apakah dia masih
hidup atau sudah mati. Mereka cuma tahu kalau Putri diculik orang tak dikenal
yang minta tebusan 50 juta. Beritanya jadi headline
surat kabar lokal sampai media nasional.”
“Dia sudah mati?”
“Tapi, dia tetap datang ke sekolah, duduk
di bangku belakang. Aku mencoba nggak peduli walaupun dia terus memelototi dan
kadang mengajak bermain, aku selalu menolak.”
Talisa diam lagi.
“Tebusan dibayar keluarga ke penculik tapi
Putri nggak pernah kembali. Memang dia tetap datang ke sekolah, pakai seragam
merah putih yang dari hari ke hari makin lusuh dan kotor. Wajahnya mulai rusak
dan dia selalu mengajak ke satu tempat setengah memaksa. Aku sudah lama tahu
kalau Putri tewas sejak hari pertama dia nggak datang ke sekolah tapi mayatnya
belum ditemukan.”
“Dia mengajak kamu ke mana?”
“Ke tempat di mana mayatnya dibuang
penculik…”
“Apa?”
“Ya, sejak mayatnya ditemukan dan dikubur
dengan layak, dia nggak pernah lagi datang ke sekolah. Aku semakin dikira aneh
karena memberitahukan itu ke guru....”
“Kamu harusnya memberitahu orang lebih
cepat supaya dia segera ditemukan, Chakka….”
Chakka kembali menggeleng. “Kalau aku
menghiraukan semua hal itu, aku bisa gila, Talisa….” Katanya. “Orang tuaku
bukan orang yang mudah mengerti tentang indigo dan semacamnya. Mereka
menganggap itu seperti penyakit jiwa dan bilang kalau aku hanya berhalusinasi
tentang apa yang aku lihat. Saat aku berterus terang soal Putri mereka mulai
berpikir itu seperti ancaman.”
“Sampai segitunya?”
“Ya, sudah terlambat bagi mereka untuk
percaya kalau aku memang bisa melihatnya….”
“Setelah mereka meninggal?”
“Tepatnya setelah mereka pulang ke rumah
dari satu tempat lalu mengajakku biacara seperti orang dewasa, sebelumnya
mereka ngak pernah begitu. Tahu-tahu ada polisi yang datang memberitahu kalau
mereka mengalami kecelakaan dan tewas di tempat. Saat aku menengok ke tempat di
mana mereka bicara tadi, mereka sudah hilang….” Dia melanjutkan. “Itu kejadian
kedua yang paling membekas…”
“Apa sekarang kamu masih sering mengalami
kejadian seperti itu?”
Chakka mengankat sebelah bahunya. “Tidak
terlalu sering….”
Talisa pun kembali terdiam; menyadari
ternyata Chakka tidak hidup dengan cara yang mudah. Ditambah dengan semua yang
dilakukan Dara, Talisa merasa dia sudah banyak menderita. Orang tua yang
meninggal karena kecelakaan, adopsi dan patah hati selama bertahun-tahun
–Talisa tidak menyangka ia juga mengalaminya. Mungkin mereka punya persamaan.
Apakah ini arti mereka dipertemukan?
Untuk sesaat mereka saling diam. Talisa
hanya menatap Chakka. Anehnya, sudah tidak secanggung dulu lagi. Talisa bisa
tersenyum padanya setiap saat, memandangnya tanpa ragu-ragu lagi hingga Talisa
memberanikan diri untuk menggenggam tangannya; Chakka pun memberikan senyuman
kepastian bahwa mereka saat ini telah berarti sesuatu.
***
Komentar
0 comments