[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 11 (2/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Talisa mendengarnya. Onny berbicara dengan beberapa anak front desk lainnya soal gaun yang akan mereka pakai saat pesta nanti. Mereka akan membelinya di salah satu butik yang ada di mall. Mereka juga mendiskusikan salon mana yang akan mereka datangi. Pesta ulang tahun perusahaan selalu meriah dan setiap tahun selalu berbeda. Seingatnya, tahun kemarin mereka merayakannya dengan acara syukuran dan mengundang anak panti asuhan. Tahun sebelumnya, kabarnya dirayakan dengan jalan-jalan selama dua hari.
Menurut jadwal acara yang sudah dipasang di papan pengumuman, acara dimulai jam tujuh malam dengan agenda makan malam, lalu seremonial ulang tahun yang dihadiri oleh direksi, kolega dan relasi bisnis. Lewat pukul sembilan akan ada live music. Pegawai boleh mengajak keluarga dan pasangan –pada acara puncak mereka membagikan doorprize seperti voucher menginap di hotel dan hadiah utamanya adalah tiket liburan ke Bali. Acara yang kedengarannya menyenangkan tapi Talisa tidak merasakan eforianya sama sekali.
Sebelum ini Talisa dan Onny pernah merencanakannya. Yaitu membeli gaun mahal di salah satu branded store untuk pesta itu. Tapi, jangankan berencana, sekarang saling tegur sapa saja tidak. Talisa enggan mnta maaf atas semua tuduhannya terhadap Onny, dan sepertinya Onny marah sekali.
“Mungkin aku nggak bisa datang,” kata Chakka secara tiba-tiba. Barangkali itulah yang membuatnya termenung sejak pagi.
“Kenapa? Katanya Ayahnya Dara datang juga ‘kan? Apa nggak apa-apa nanti kamu nggak di sana?”
“Aku cuma nggak suka pesta,” jelas dia, masih dengan waja murung.
Kalau Chakka berniat tidak hadir, Talisa juga tidak hadir. Untuk apa? Tidak seorang pun manusia di kantor ini selain Chakka yang menganggapnya ada setelah Onny juga tidak mau bicara padanya. Talisa sudah bisa membayangkan pesta itu tanpa Chakka. Di saat semua orang bersenang-senang ia hanya duduk diam di pinggir sendirian. Talisa juga tidak punya pacar yang bisa diajak.
“Kamu sudah punya alasan?”
Chakka hanya menggeleng. Tapi, rautnya belum berubah.
“Apa kamu berpikir untuk pergi dari sini, Chakka?” Talisa bertanya lagi, sambil duduk untuk memandanginya dengan seksama. Jika dia menjawab iya, Talisa akan sangat sedih.
Perasaan itu kembali menjelma menjadi rasa sesak. Talisa tidak mengerti dengan lelaki ini. Harusnya Chakka melihatnya, tapi dia lebih memilih layar komputer yang kosong daripada melihat wajah Talisa.
Apa karena aku nggak cantik?
“Itu mungkin saja…,” dia berkata akhirnya. Dengan menatap Talisa, tapi hanya beberapa detik. “Aku ini orang yang nggak punya apa-apa, Talisa. Aku hanya terikat oleh balas budi….”
“Tapi, kamu harus menentukan,”
Dia menggeleng pelan. Wajahnya semakin murung hingga Talisa kembali merasa bersalah. “Itu nggak semudah yang kamu kira…,” jawabnya.
“Karena Dara?”
Chakka terdiam.
Aku pun diam.
Keheningan kembali menusuk hati. Sampai rasanya Talisa ingin mengatakan padanya bahwa ialah satu-satunya yang mengerti dirinya dan selalu ada untuknya agar dia menyadari bahwa mungkin mereka ditakdirkan satu sama lain. Ya, Talisa memang naif, setidaknya itulah yang membuatnya bertahan dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
“Apa… kamu mau mengejar dia lagi?” itulah yang paling ingin diketahuinya saat ini untuk meredakan rasa takutnya sendiri.
Chakka langsung menggeleng –itu sangat melegakan. Syukurlah.
“Aku nggak mau ngomong soal itu lagi,” dia berkata lalu berdiri dari kursinya. “Oh ya, kamu sudah makan belum?”
Talisa menggeleng sambil tersenyum.
Chakka tampak menghela nafas. “Kalau gitu hari ini kita makan di mana?”
“Ayo kita lihat,” Talisa berkata sambil berdiri dan bersiap-siap.
Hanya dua menit mereka sudah siap keluar. Talisa menelan semua rasa pahit setiap berjalan bersamanya dengan tidak memperhatikan sekitar. Harusnya mereka terbiasa melihat Talisa dan Chakka menjadi akrab. Tapi, selalu saja ketika mereka berpapasan dengan Dara, aura kebencian terasa pekat.
Talisa memelankan langkahnya. Wanita itu berdiri di ambang pintu kantornya. Mungkin karena melihat mereka lewat dia tetap di sana. Dia selalu membuat Talisa ketakutan dengan tatapannya yang menusuk.
“Wah, kalian mau ke mana?” tanya dia, sambil melipat tangan di dada dan memperhatikan Talisa. Gerak bibirnya seakan mengisyaratkan sinis yang ganjil. Sebelumnya Dara tidak pernah menyapa mereka seperti ini.
Chakka yang berusaha tidak mempedulikannya pun kembali untuk menghampiri Talisa. Dia sama sekali tidak mau menatap ke arah Dara. Namun, wajahnya kelihatan sangat kesal. Tiba-tiba Chakka menarik tangan gadis itu agar segera pergi. Talisa terkejut sedangkan Dara tercengang. Sekali Talisa menoleh ke belakang, Dara masih menunjukan rasa marah.
Kenapa dia harus marah? Chakka tidak pernah menjadi miliknya.
Namun, kejadian itu membuat Talisa mulai sadar, Dara tengah dilanda cemburu.
Talisa menatap Chakka, memperhatikan raut wajahnya yang datar.
Benarkah Chakka sudah tidak punya perasaan apa-apa padanya?
***
“Semua orang sepertinya heboh sekali soal pesta,” Chakka mengajak Talisa bicara setelah lama tanpa suara membiarkannya mendramatisir kejadian siang tadi di kantor.
“Kenapa kamu nggak suka dengan pesta?” celetuk Talisa, mengamati wajahnya baik-baik. Terlihat sudah tak ada kemarahan di sana, terlebih ketika ia tertawa karena pertanyaan itu. Dia menyesap kopi di dalam cangkirnya sambil menatap keluar restoran –terkadang itu kosong. “Apa… kamu cuma nggak suka dengan pesta yang ada Dara di dalamnya?”
Chakka tertawa lagi; seakan Talisa lucu. “Kamu ini kenapa suka sekali menghubung-hubungkan Dara dengan segala hal tentangku?” balas dia.
Talisa menghela nafas; tahu Dara pernah menjadi alasan bagi Chakka untuk hidup normal dan menghilangkan kecendrungan indigo-nya. Dia sendiri yang mengatakannya.
“Dara juga sudah lama tahu kalau aku nggak suka pesta,”
“Jadi, apa alasan yang sebenarnya?”
Chakka mulai serius. “Pesta dengan banyak orang, nggak tahu asalnya dari mana. Entah mereka manusia atau bukan. Yang kelihatan cuma orang-orang yang berdiri sambil mengobrol tapi nggak jelas apa yang mereka bicarakan. Suara-suara itu bising dan mengganggu….” Pandangan Chakka mulai kosong. Entah dia sadar dengan apa yang dia katakan. “Aku pernah melihat perempuan yang dandanannya mengerikan, karena setengah mabuk aku bertanya-tanya apa ada perempuan yang sengaja berdandan seperti itu pergi ke pesta. Tapi, kalau diperhatikan dia hanya berdiri di tengah keramaian seperti patung, sementara orang-orang menari seperti orang gila. Dan dia… nggak tersentuh oleh orang-orang di sekelilingnya, anehnya mereka juga sepertinya nggak melihat perempuan itu berdiri di sana. Aku memandangi perempuan itu sampai akhirnya dia memutar kepalanya dan memperlihatkan wajahnya. Saat aku menyadari kalau perempuan itu adalah tamu yang nggak diundang, aku terkejut. Seolah tahu hanya aku yang bisa melihatnya… dia terus memandangku… bahkan sampai mengikutiku pulang….”
 “Jadi… perempuan itu… hantu?”
“Kurang lebih….” Jawab Chakka. “Dia bilang dia tewas di tempat itu….”
“Benar kamu sering melihat hal-hal yang ganjil seperti itu?”
“Sudah nggak terhitung, Talisa, sampai aku nggak bisa membedakan mana yang manusia betulan dan bukan….”
Talisa mengernyit. Ia hampir tidak percaya, namun di lain sisi Talisa tahu Chakka tidak mungkin mengarangnya. Talisa pernah dengar indigo memiliki keistimewaan seperti melihat hal yang kasatmata. Atau merasakan getaran yang bersifat mistis. Baginya itu terlalu fantastis karena dialami oleh orang seperti Chakka. Dia tampan, tinggi, dan kelihatannya sangat cerdas, meski dengan emosi yang sering tidak terkontrol.
“Kapan pertama kali kamu melihatnya?”
Chakka tampak berpikir. Ini mulai seperti konsultasi antara psikiater dan pasien. Kebetulan karena mengambil jurusan psikologi, Talisa tertarik untuk menggalinya lebih dalam. Dan intinya, adalah Chakka adalah orang yang sangat  ia cintai. Talisa ingin tahu lebih –lebih dari Dara yang sudah bersamanya sejak kecil. “Aku nggak ingat….” jawabnya sambil menggeleng pelan. “Terlalu sering.”
“Dari semua yang pernah kamu lihat pasti ada sesuatu yang membekas ‘kan?” Talisa bertanya dan dia mengerutkan dahinya. Sepertinya dia tidak suka membicarakan masa lalunya. Talisa mulai menyusun kata-kata untuk meyakinkannya agar bicara. “Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman, tapi… aku hanya mencoba membayangkan bagaimana rasanya hidup… atau tumbuh dengan keadaan seperti itu… kamu ‘kan masih kecil, apa nggak takut… maksudku seperti… misalnya aku orang yang nggak pernah melihat hantu atau sejenisnya… membayangkan di satu tempat itu angker … atau sekedar ditakut-takuti orang saja sudah lari pontang-panting ….”
Chakka tertawa. “Sulit untuk menjelaskannya, tapi aku pernah lihat yang wajahnya rusak total, berdarah, atau yang sekedar melayang, lewat seperti angin… mereka bukan sesuatu yang menyeramkan…,” jelas dia lagi.
“Terus apa yang paling menyeramkan?” Talisa menatapnya lekat-lekat dan Chakka membalasnya.
“Ada dua kejadian,” jawabnya dan dia terlihat begitu serius. “Kejadian yang pertama waktu aku masih tujuh tahun.”
Talisa mendengarkan dengan seksama, memperhatikan kalimat demi kalimat yang kedengaran seperti cerita horror yang belum pernah ia dengar.
“Waktu di sekolah, seperti biasa semua anak datangnya pagi. Aku nggak pernah punya teman sekelas yang aneh karena aku sendirilah yang aneh. Seperti biasa aku duduk di kursi paling belakang. Saat semuanya lagi main di halaman depan sekolah menunggu bel bunyi, aku diam di kelas. Baca buku. Lalu tiba-tiba ada yang datang. Anak perempuan yang selalu jadi langganan juara kelas. Yang aku tahu, anak perempuan itu orangnya aktif dan ramah. Ya seperti biasa dia datang untuk menyapa ‘Hai, Chakka, kamu lagi baca apa?’ dan aku nggak menjawab menoleh juga nggak. Lalu dia pergi duduk di kursi meja sebelah dan bel nya berbunyi….”
“Terus?”
“Anak-anak masuk ke kelas. Tiba-tiba suasana jadi ramai dan aku ingat, bangku meja sebelah biasanya kosong sejak ada anak yang pindah. Tapi, dia duduk di situ, padahal bangkunya di depan. Aku pikir nggak ada yang aneh walaupun wajahnya pucat pasi, putih seperti mayat. Lalu gurunya masuk dan memberitahu kabar buruk. Katanya ada anak perempuan di kelas yang hilang dan sampai saat itu belum ditemukan.”
“Anak yang pucat itu?”
Chakka mengangguk. “Namanya Putri,” jelas Chakka. “Dia hilang selama seminggu dan orang-orang bertanya apakah dia masih hidup atau sudah mati. Mereka cuma tahu kalau Putri diculik orang tak dikenal yang minta tebusan 50 juta. Beritanya jadi headline surat kabar lokal sampai media nasional.”
“Dia sudah mati?”
“Tapi, dia tetap datang ke sekolah, duduk di bangku belakang. Aku mencoba nggak peduli walaupun dia terus memelototi dan kadang mengajak bermain, aku selalu menolak.”
Talisa diam lagi.
“Tebusan dibayar keluarga ke penculik tapi Putri nggak pernah kembali. Memang dia tetap datang ke sekolah, pakai seragam merah putih yang dari hari ke hari makin lusuh dan kotor. Wajahnya mulai rusak dan dia selalu mengajak ke satu tempat setengah memaksa. Aku sudah lama tahu kalau Putri tewas sejak hari pertama dia nggak datang ke sekolah tapi mayatnya belum ditemukan.”
“Dia mengajak kamu ke mana?”
“Ke tempat di mana mayatnya dibuang penculik…”
“Apa?”
“Ya, sejak mayatnya ditemukan dan dikubur dengan layak, dia nggak pernah lagi datang ke sekolah. Aku semakin dikira aneh karena memberitahukan itu ke guru....”
“Kamu harusnya memberitahu orang lebih cepat supaya dia segera ditemukan, Chakka….”
Chakka kembali menggeleng. “Kalau aku menghiraukan semua hal itu, aku bisa gila, Talisa….” Katanya. “Orang tuaku bukan orang yang mudah mengerti tentang indigo dan semacamnya. Mereka menganggap itu seperti penyakit jiwa dan bilang kalau aku hanya berhalusinasi tentang apa yang aku lihat. Saat aku berterus terang soal Putri mereka mulai berpikir itu seperti ancaman.”
“Sampai segitunya?”
“Ya, sudah terlambat bagi mereka untuk percaya kalau aku memang bisa melihatnya….”
“Setelah mereka meninggal?”
“Tepatnya setelah mereka pulang ke rumah dari satu tempat lalu mengajakku biacara seperti orang dewasa, sebelumnya mereka ngak pernah begitu. Tahu-tahu ada polisi yang datang memberitahu kalau mereka mengalami kecelakaan dan tewas di tempat. Saat aku menengok ke tempat di mana mereka bicara tadi, mereka sudah hilang….” Dia melanjutkan. “Itu kejadian kedua yang paling membekas…”
“Apa sekarang kamu masih sering mengalami kejadian seperti itu?”
Chakka mengankat sebelah bahunya. “Tidak terlalu sering….”
Talisa pun kembali terdiam; menyadari ternyata Chakka tidak hidup dengan cara yang mudah. Ditambah dengan semua yang dilakukan Dara, Talisa merasa dia sudah banyak menderita. Orang tua yang meninggal karena kecelakaan, adopsi dan patah hati selama bertahun-tahun –Talisa tidak menyangka ia juga mengalaminya. Mungkin mereka punya persamaan. Apakah ini arti mereka dipertemukan?
Untuk sesaat mereka saling diam. Talisa hanya menatap Chakka. Anehnya, sudah tidak secanggung dulu lagi. Talisa bisa tersenyum padanya setiap saat, memandangnya tanpa ragu-ragu lagi hingga Talisa memberanikan diri untuk menggenggam tangannya; Chakka pun memberikan senyuman kepastian bahwa mereka saat ini telah berarti sesuatu.
***


Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments