[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 10 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Talisa merapikan mejanya setelah memindahkan banyak benda dari ruangannya di antara rak-rak yang mulai terasa menyeramkan itu –sejak Chakka cerita kalau dia bisa melihat hantu, termasuk yang biasa menemaninya di belakang sana setiap hari. Dengan bantuan seorang office boy, ia mengangkat barang-barangnya ke satu sudut yang lokasinya berhadapan dengan mejanya Chakka. Sekarang Talisa bisa memperhatikan apa saja yang dia lakukan.
Chakka datang jam  setengah sembilan –dia terlambat setengah jam. Menemukan meja Talisa sudah tepat di depan pintu membuatnya terkejut. Lalu tertawa meledek. “Kamu benar-benar serius ya?”
Talisa hanya merengut. “Harusnya kamu nggak cerita yang aneh-aneh!” celetuknya.
“Aku nggak cerita yang aneh-aneh kok,” kilahnya sambil terus tertawa.
“Tapi kamu bikin aku takut! Kamu ‘kan yang minta aku pindah ke sini sekarang kamu malah bikin aku nggak betah!” tuntutnya sambil mengikutinya menuju mejanya yang juga sudah dirapikan.
“Iya, maaf maaf,” ucapnya tanpa berhenti tertawa. “Tapi, biasanya kalau nggak diganggu, dia juga nggak ganggu manusia kok ....”
“Ih, Chakka! Kamu jangan nakut-nakutin terus dong!” teriak Talisa dan Chakka tertawa makin keras.
Pintu tiba-tiba terbuka. Talisa tercekat! Apa itu hantu?
Mereka sama-sama melihat ke sana dan menyaksikan kemunculan Dara yang selalu mendadak; di saat yang tidak tepat pula. Kenyataannya, sosok Dara yang berwajah sinis itu memang jauh lebih mengerikan dari hantu sekalipun.
“Wah, aku baru dengar ada yang panggil kamu hanya dengan nama,” kata dia, dengan wajah penuh percaya diri seperti sedang menunjuk kesalahan orang lain.
Talisa tidak tahu apa yang ingin dia buktikan padanya dengan raut itu. Kalau Dara ingin membuktikan bahwa dia lebih cantik dan menarik, itu tidak akan ada gunanya. Dia sudah menolak Chakka dengan angkuhnya, untuk apa dia menggangguku? Ataukah karena dari awal dia tidak menyukaiku, mengetahui bahwa sekarang aku adalah asistennya Chakka dia makin benci padaku? Sekali lagi, kenapa?
Chakka melirik Talisa, “Lalu kenapa?” balas dia, berusaha acuh, sambil melangkah kembali ke mejanya. “Aku nggak mempermasalahkannya.”
Dara juga melirik Talisa yang cemas. Dia membawa sebuah map di tangannya yang kemudian ia taruh di meja Talisa. Lalu pergi dengan membanting pintu.
Chakka terdiam. Dia memandang pintu itu –tampak termenung, sebelum memandang Talisa sejenak. Talisa sempat khawatir beberapa saat sampai akhirnya Chakka duduk di kursinya;Talisa merasa dia memikirkan sesuatu.
***
“Pak Chakka,” Talisa menegur bosnya yang sedang duduk di depan komputer. Dia tidak langsung menyahut karena sibuk main. Rupanya dia serius ingin bermain-main.
Belakangan dia sudah tidak pernah lagi terdengar ribut dengan Dara soal langkah perusahaan. Apa dia sudah benar-benar membiarkan Dara mengurus semuanya sendiri? Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan begitu Chakka berhenti mendebatnya. Bukannya selama ini dia berpikir bahwa Chakka ingin mengambil harta keluarga? Sekarang Chakka membuktikan yang dituduhkan selama ini padanya tidak benar dengan melepas kendali perusahaan dan malah lebih banyak bermain-main. Talisa memikirkan hal itu berulang-ulang seakan perusahaan juga adalah urusannya.
“Chakka!” panggil Talisa lebih keras dan dia terkejut.
“Apa?!” sahut dia setengah kesal. Lalu memandang ke layar komputer lagi. “Yah, mati!”
Ya ampun, kenapa perubahan Chakka yang satu ini memang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali?
“Maaf ...” ucap Talisa karena merasa mengganggu kesenangannya.
“Ada apa?” Chakka kembali memandang layar komputer, sepertinya masih ingin main.
“Aku mau izin ke kampus sebentar,” Talisa berkata. “Aku harus menyerahkan RKS-ku ke dosen karena sebentar lagi karena mau UTS ....”
“Ya,” jawabnya.
Kemudian Talisa menuju ke mejanya untuk mengambil tas. Saat itu Chakka sudah kelihatan tidak ingin main komputer lagi. Ekspresinya tampak bosan sampai-sampai ia menguap.
“Kamu mau ke sana naik apa?” dia bertanya.
“Angkutan umum,” jawab Talisa sambil melangkah menuju pintu.
Dia terdiam sejenak. “Ya sudah, aku antar saja. Kebetulan aku juga bosan dan lapar,” kata dia segera berdiri dari kursi kebesarannya. “Setelah ke kampus, kita makan siang.”
Talisa termangu. Mencoba mempercayai kata-katanya barusan. Lalu akhirnya tersenyum. Chakka sudah mengantongi kunci mobilnya bahkan dia mendahului Talisa ke luar ruangan seolah membukakan pintu untuknya.
***
Debaran itu tidak pernah berkurang. Sepanjang perjalanan ia gelisah. Talisa tidak pernah siap saat berhadapan dengannya, padahal ia selalu melihatnya setiap hari, memandanginya setiap saat. Tapi, semua itu hanya ketika Chakka tidak ‘melihat’-nya; itulah penyebab mengapa Chakka tidak pernah menyadarinya. Semua yang  Talisa dapatkan darinya hari ini seperti hadiah karena selama ini bersabar. Jika bisa bersabar lebih lama, menunggu sampai Chakka bisa membuka hatinya kembali pun tidak apa-apa.
Lagipula sekarang Talisa belum memiliki keberanian untuk mengatakan perasaannya. Itu butuh waktu. Talisa akan mengatakannya setelah Chakka melupakan wanita itu; sampai saat itu tiba ia akan terus berusaha untuk selalu ada di dekatnya.
“Sial!” Chakka berdecak saat tiba-tiba menginjak pedal rem. Mobil terhenti mendadak tepat di depan gerbang kampus.
Seorang pengendara motor melintas di depan mereka dan sepertinya tadi nyaris tertabrak. Dia tiba-tiba memotong jalan mereka, tapi entah mengapa dia berhenti tepat di depan mobil menoleh ke belakang. Talisa tidak melihat wajahnya karena dia mengenakan helm full face. Tapi, Talisa mengamati baju yang dia kenakan di balik jaket kulit hitamnya –kaos merah.
Orang itu pasti marah. Suasana mulai panas tapi membuat Talisa merinding.
“Anak sialan!” Chakka kembali menggerutu. Dia kesal karena bukan dia yang salah, tapi si pengendara motor itu. Merasa dipelototi Chakka bersiap turun dari mobil.
Talisa mulai waswas; ia tidak ingin ada keributan. Tapi, pengendara motor itu langsung pergi.
“Kurang ajar,” Chakka masih kelihatan sebal. “Kamu jangan pacaran dengan orang yang ugal-ugalan seperti itu ya?”
“Hah?” Talisa heran, kenapa dia malah bilang begitu?
“Kamu jangan dekat-dekat dengan orang yang seperti itu!”
“Kenapa?”
“Rasanya aku ingin membunuh orang itu!” jawabnya dan Talisa tertawa.
***
Ada banyak mahasiswa yang membuat janji dengan dosen sehingga harus masuk ruangan dengan bergantian. Talisa duduk di ruang tunggu sesekali melihat keluar di mana mobil Chakka terparkir dan dia sepertinya tidak ingin keluar dari sana. Dia menunggu, itu sesuatu yang sangat menggembirakan sampai Talisa tidak bisa berhenti tersenyum sampai gilirannya bertemu dosen tiba.
Chakka berdiri di sisi mobil ketika Talisa keluar dari ruang dosen. Talisa segera menghampirinya dengan wajah riang. Tidak ada masalah dengan nilai dan absensinya, semuanya hampir sempurna. Rasa lelah hampir terbayar lebih-lebih melihat Chakka yang rela menunggu.
“Selesai?” tanya dia.
Talisa mengangguk dan Chakka segera menuju ke pintu mobilnya.
Perhatian mereka tiba-tiba terpancing oleh suara keributan di sudut lain halaman parkir kampus. Rupanya ada yang berkelahi –sesama mahasiswa. Orang-orang tampak berkerumun melihat kejadian itu.
“Talisa!” Chakka memanggil dan ternyata dia sudah berada di dalam mobil.
Talisa segera membuka pintu dan naik, tapi matanya masih tertuju pada perkelahian. Terlihat dua orang laki-laki bergumul di tanah dan tiba-tiba menyadari sesuatu. Melihat baju yang dikenakan salah satu orang yang berkelahi itu bisa saja dia si pengendara motor ugal-ugalan tadi; postur tubuhnya juga mirip.
“Itu juga salah satu alasan aku nggak suka kuliah,” kata Chakka tiba-tiba.
Talisa terus memandangi dua orang itu. Terlihat seorang dosen datang sambil marah-marah, dua orang itu akhirnya d lerai. Mereka berdiri berhadapan dan saling tatap penuh kebencian. Akhirnya Talisa bisa melihat wajah orang itu, perawakan yang keras dan tegas. Dia benar-benar berandal rupanya.
“Anak itu ... sepertinya umurnya nggak akan lama ...,” kata Chakka lagi hingga Talisa terkejut.
“Kenapa kamu bicara begitu?”
“Seseorang akan membunuhnya,” hanya itu yang dia katakan. Setelah itu Chakka diam.
Itulah pertama kalinya Talisa melihat sisi lain dari Chakka. Dia adalah orang yang berbeda ketika membicarakan apa yang dilihat oleh intuisinya.
***

Previous

Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments