๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku menghela nafas. “Seingatku tugas akhir kamu juga aku yang bantu bikin maket nya...”kataku. “Aku sampai ikut begadang menyelesaikan maket kamu yang rusak karena jatuh.”
“Itu beda, Sid. Sekarang ini maket beneran. Aku harus usaha sendiri kalau mau sukses...” katanya. “Kamu ‘kan punya kerjaan juga. Aku nggak mau egois, oke?”
Aku membalikan badanku untuk bisa berhadapan dan memeluknya dengan erat. “Kamu nggak keberatan aku jadi bujangan lagi di sana?” tanyaku dan Gigi terkekeh.
“Jadi bujangan sih nggak apa-apa. Masalahnya kalau kamu punya pacar baru di sana....” kata dia terdengar merajuk. Suara cekikikannya sudah hilang.
“Aku nggak seperti itu,” jawabku sambil melepas pelukanku dan ikut tertawa.
“Tapi kamu pernah seperti itu,” aku tidak menyangka dia berkata seperti itu. “Kamu melakukannya, pada Saira dan Glenda.”
“Gi, we have promised not to talk about that ever again,” aku memperingatkan.
Gigi membuang pandang sebelum beranjak dariku. “Talk about what?” balas dia., lalu berbalik untuk menatapku.
“Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba mengungkit masalah itu?” tanyaku sambil menghampiri.
Seketika dia meneteskan air mata. Tapi, tampaknya belum akan bicara karena dia lebih memilih menjauhiku agar aku berhenti bertanya.
“Magisa?” panggilku sembari menyusul langkahnya. Namun dia mengabaikanku dengan masuk ke kamar; selanjutnya menuju ke kamar mandi. Aku semakin tidak mengerti, mengapa ia bisa menangis begitu mudahnya? “Don’t do this!”
Gigi masih belum mau menjawabku. Aku memberinya waktu untuk menghapus air mata di depan kaca wastafel dan menunggu sampai dia mau menatapku lagi.
“Aku nggak tahu harus bilang apa,” kataku sambil berdiri di ambang pintu dan mengamati Gigi yang terdiam menatap dirinya di cermin. Ia belum menghapus air dari wajahnya yang sedih dan merengut.
“Everyday, I was afraid...,” kata dia, tanpa membalikan badannya. Tapi melalui cermin ia menatap ke arahku. “Satu-satunya alasan kenapa aku selalu menunggu kamu selarut apapun kamu pulang adalah untuk memastikan kamu benar-benar habis pulang dari kantor. To make sure that you were not going out somewhere with some other girls....”
Aku menghembuskan nafas, sambil mendekat. “Aku nggak melakukan hal-hal seperti itu,” kataku menegaskan.
“Aku tahu!” teriaknya dan seketika menghentikan langkahku. “I said, I was just afraid....”
“Takut apa?!” aku menjadi tidak sabar. Gigi seakan menuduhku berselingkuh.
Ya Tuhan, aku berani bersumpah bahwa aku tidak pernah tertarik pada siapapun selama menikah dengannya!
“Setiap malam, setiap kamu pulang aku mencium semua baju-baju yang kamu pakai untuk memastikan nggak ada bau lain selain dari bau parfum kamu sendiri. Aku periksa handphone kamu untuk memastikan kamu nggak terima telepon atau menelpon orang asing...” jelas dia. “Aku ngelakuin semua itu karena aku takut....”
“Tapi kamu pernah menemukan kecurigaan kamu itu, hah?” tanyaku.
Gigi menggeleng, lalu tertudunduk. “Aku nggak ketemu apa-apa di baju atau handphone kamu, Sid... Tapi... ” katanya datar, aku hampir lega. Tapi, kemudian dia menoleh ke arahku, dan tatapannya masih menusuk seperti saat ia menatapku melalui cermin beberapa saat lalu. “Satu kali aku ke kantor, aku malah melihat sesuatu yang membuat hatiku nggak pernah bisa tenang...,”
Aku mendekat selangkah, menarik lengannya. “Apa?” desakku. Rasanya aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa darinya.
udah kerjaan aku dari jaman kuliah....”


Komentar
0 comments