๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku menepati janjiku bahwa sampai semua yang kami butuhkan untuk tinggal di Jakarta sudah ada, tertata pada tempatnya seperti yang Gigi inginkan. Perabotan dan barang elektronik seperlunya untuk mengisi ruang kecil di mana kami bisa menjadi sepasang merpati yang baru saja jatuh cinta.
Setiap hari terasa hangat. Aku tidak ingin beranjak dari tempat tidur cepat-cepat sekalipun rutinitas baru Gigi dimulai. Gigi harus bangun pagi dan berangkat ke kantor. Karena kantornya dekat, aku pikir tidak masalah menahannya sedikit lebih lama bersamaku karena aku tidak biasa tinggal sendiri di rumah. Karena biasanya aku yang selalu berangkat pagi-pagi bahkan di saat Gigi masih ingin bersamaku.
Kami jarang memadu kasih dan tidak bisa benar-benar menikmati saat-saat itu entah karena aku yang kelelahan sepulang dari kantor. Kupikir, Gigi mengalami siksaan batin yang luar biasa selama ini. Akhirnya aku merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan ketika sangat menginginkan sentuhannya.
“Aku harus ke kantor...” kata Gigi sambil turun dari tempat tidur. Entah perasaanku saja atau dia terdengar sangat dingin. Mungkin karena dia sudah telat berangkat kerja dan dia tidak ingin bermesraan sedikit saja denganku.
Tapi, aku belum puas. Aku menarik tangannya dan menyeretnya kembali ke sisiku. Aku menjatuhkan tubuhnya yang polos di atas seprai putih yang kusut lalu memulainya lagi. Namun, kurasakan Gigi tidak bersemangat seperti biasanya. Dia terasa begitu pasrah di dalam keberingasanku. Aku tidak memperhatikan raut wajahnya, mungkin dia kesal karena aku memaksa. Aku juga tidak bicara untuk mengatakan aku tidak ingin dia pergi. Aku begitu menginginkannya.
Lalu aku menatap wajahnya dan terperanjat.
Seraut wajah yang tanpa ekspresi; mata yang menatapku dingin. Aku sadar, dia bukan istriku. Seorang gadis lain berambut hitam legam dan dipotong pendek tak beraturan. Tubuhnya kurus dan kulitnya seputih kapas; pucat sekali; dan juga terasa dingin.
“Sai...ra?” aku menyebutkan namanya dengan gemetar.
Air mata menetes dari sudut matanya. Dia menatapku sambil berbisik, “Sa...kit...,”
Ya Tuhan, apa yang kulakukan?! Hatiku menjerit dan tiba-tiba ia lenyap.
Aku segera bangkit dan menyadari sepi di sekelilingku. Gigi sudah tidak di sisiku. Cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela kamar menerangi setiap sudut. Nafasku tersengal dan aku berusaha untuk tenang. Mimpi macam apa itu?
***
Semuanya sudah berubah. Aku tidak tahu di mana gadis itu berada. Kenapa aku masih saja merasa bersalah? Aku sudah berusaha sekuat tenaga bukan? Tapi, tetap saja aku tidak bisa menemukannya. Seolah dia ditelan bumi. Kenapa dia bisa hadir di dalam mimpiku?
“Kamu mikirin apa sih?”, Gigi memelukku sambil menyandarkan seluruh tubuhnya di punggungku. “Pasti pikiran kamu sudah sampai di Sydney, ya ‘kan?”
Aku hanya tersenyum.
“Aku kan udah bilang, kalau kamu mau balik nggak apa-apa. Toh rumah kita udah jadi. Kamu udah bantuin aku menyusun perabotan,” ujar dia.
“Tapi, sekali aku pergi, susah untuk kembali ke sini. Sekali pun itu demi kamu...,” kataku sedikit sedih. Lalu menoleh. Perhatianku kemudian tertuju pada sesuatu yang berada di tengah-tengah ruangan kami. Maket gedung yang dibuat oleh Gigi untuk klien pertamanya. Sudah hampir seminggu kami mengerjakannya bersama walaupun aku hanya kebagian tugas memotong dan mengelem partisi. “Maket kamu belum selesai.”
“Aku bisa selesaiin sendiri kok,” ujarku. “Itu kan udah kerjaan aku dari jaman kuliah....”


Komentar
0 comments