[Novel Romantis] Saira Ch. 9 (2/5)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Ponselku berbunyi. Aku mulai menggapai-gapai ke tempat di mana aku membuang celana jeansku. Benda itu tersimpan di saku sejak semalam. Gigi masih berbaring di atas tubuhku dan aku belum ingin menurunkannya karena kulitnya.
“Siapa?” tanya Gigi sambil mendongak saat aku sedang menengok layar ponselku.
“Reggina,” jawabku sebelum mengangkat teleponnya. “Hai.”

Good morning, Sidney,” sapa adik perempuanku itu.
Morning, Reg,...” jawabku. Mungkin suaraku terdengar serak dan lelah.
“Still sleeping?” tannya Reggina terndengar mencurigai. “Or having a really good times?”
Aku tertawa. Heran dia bisa menebaknya dengan benar. “Ada apa?” tanyaku, merasakan Gigi sedikit beringsut agar aku bisa bernafas saat bicara. Dia masih terlihat malas-malasan dan belum ingin bangkit.
“Kapan kamu kembali?” tanya Reggina.
Aku terkekeh. “Aku baru pergi tiga hari,” kataku.
But, for Mum it feels like years, Sid,” dia mengingatkan sambil ikut terkekeh.
Aku tidak bisa berkomentar. Ibuku selalu seperti itu. Aku hanya tersenyum membayangkan betapa dia ingin sekali menelponku setiap jam tapi kedua adikku pasti melarangnya karena aku membutuhkan waktu berdua dengan Gigi untuk mengurus banyak hal di sini.
“Kami sudah di apartemen. Begitu semuanya beres, aku pasti kembali secepatnya. Apa ada masalah?” tanyaku.
“Nggak juga...,” jawabnya.
Gigi bangkit dia ikut menguping dengan mendekatkan telinganya ke wajahku. Sepertinya dia ingin tahu sekali seolah kalau Reggina menelpon dia akan memberitahukan masalah yang terjadi sepeninggalku.
“Are you happy there?” tanya Reggina tiba-tiba.
Aku mengernyit. “What do you mean?” balasku.
Reggina terdengar menghela nafas. “No, nothing...,” jawab dia. “Kalau semuanya sudah beres, cepat kembali. We got something very necessary to tell you.”
“Bad news or good news?”
“It can be both,” jawabnya. “Just take your time. Be back soon.”
Aku masih bertanya-tanya saat teleponnya ditutup. Lalu kembali menjatuhkan kepalaku di atas lantai yang keras. Tubuhku sakit sekali seperti baru ketindihan saat tidur.
“Jadi kamu harus cepat balik?” tanya Gigi, kedengarannya sedikit kecewa.
Aku tidak menjawab. Hanya membelai puncak kepalanya yang bersandar di bahuku dengan lembut. Baru beberapa saat mulai betah di sini, aku sudah memikirkan akan meninggalkannya sendirian. Itu sangat berat bagiku.
“Aku nggak akan ke mana-mana sampai kita selesai mendekorasi apartemen ini,” ujarku kemudian. “Aku janji mau mengangkat lemari, tempat tidur dan meja-mejanya kan?”
Gigi tertawa pelan. Lalu mengecup pipiku. “Kedengarannya ada masalah di sana. Apa nggak apa-apa?” tanya dia lagi.
Aku menatapnya lekat-lekat, untuk meyakinkannya bahwa semalam adalah pertama kalinya, aku merasa bisa lepas dari pemikiran tentang perusahaan yang membuatku selalu mengenyampingkan dirinya. Aku ingin kami terus seperti ini, menikmati kebersamaan seperti ini setiap hari. Tidur sampai siang dan bermalas-malasan sepanjang hari, makan mie cup instan saat lapar, yang mana belum pernah kami lakukan selama  enam tahun  menikah.
“You’re all I have,” kataku, meyakinkannya bahwa saat ini aku mampu membuang semua keluh kesah tentang tanggung jawab terhadap almarhum ayahku dan rasa takut tidak bisa membahagiakan dirinya. “Aku nggak membutuhkan apa-apa lagi.”






Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments