๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Selangkah Lebih Dekat
Aku terdiam di sampingnya. Aku tidak tau apa rencana Wira selanjutnya untuk tugas kami. Yang jelas aku tidak banyak bicara. Takut salah. Takut diledek.
“Gimana nih?” Wira bertanya. Tapi sepertinya itu buat dirinya sendiri karena dia tampak tidak sadar ada aku di sampingnya.
Aku pun juga, aku sama sekali tidak memikirkan tugas itu sejak pagi. Sejak aku bangun pagi dengan perasaan tidak enak. Kurang tidur dan tenggorokanku sakit karena panas dalam. Belakangan itu aku sering minum yang dingin-dingin padahal aku paling tidak bisa. Kadang tulang-tulangku rasanya sakit. Biasanya setelah itu aku langsung demam.
Seketika terpikir untuk pulang tapi kulihat Wira sudah menghilang. Dia sudah jalan duluan. Tanpa bilang sesuatu atau aku memang tidak dengar dia bicara sesuatu.
Aku berlari mengerjarnya karena belum terlalu jauh.
“Wi...Wira!” panggilku.
Sebelum ini aku tidak pernah bicara banyak dengannya. Bahkan menyapa dan memanggil namanya juga jarang. Soalnya sejak semester satu aku tidak pernah punya urusan berarti dengannya. Lagipula juga Wira orang yang tidak suka banyak bicara dan ditanyai.
Wira berhenti dan menengok ke arahku.
“Kamu mau ke mana?” tanyaku padanya. “Trus tugasnya? Kan harus dikumpulin besok. Gimana dong?”
“Nih mau ke rental komputer buat ngerjainnya” jawabnya singkat dan langsung cabut.
“Eh, tunggu!” panggilku megejarnya karena jalannya cepat sekali.
“Apa lagi sih?” cetusnya.
Aku terdiam dan jadi lupa mau ngomong apa karena tanggapannya yang nggak bersahabat itu. Aku jadi bertanya memangnya salah aku panggil dia?
Wira menunggu tapi aku malah melongo di depannya sambil mengatur nafas yang sesak sehabis mengejar langkahnya. Dan sepertinya dia mulai gerah karena aku belum juga bicara sesuatu sementara siang itu panasnya minta ampun dan bikin keringatan. Wira tampak tidak kuat menahan teriknya matahari.
“A..aku...” aku mulai menjelaskan maksudku. “Aku punya laptop...”
“Trus kenapa nggak bilang daritadi?” tanyanya dan bukan reaksi lega seperti yang kuharapkan.
Setidaknya aku bisa bantu sedikit untuk tugas kami.
“Mana laptopnya?”
“Ng...aku nggak bawa! Habisnya berat, di kampus juga nggak terpakai. Lagian nggak ngerti juga mau dipakai buat apa” jawabku dan sontak dia tertawa lagi.
“Kamu memang bego ya...” katanya sambil terpingkal – pingkal.
Lho?
Aku termangu. Mudah sekali Wira tertawa karena jawaban yang begitu sepele. Atau aku lagi-lagi bilang sesuatu yang pantas ditertawakan? Jadi harus bagaimana bicaranya supaya orang ini tidak menganggapku bodoh?, gerutuku sambil memadangi dia yang mencoba berhenti tertawa dan kembali serius.
“Ya udah” katanya sambil membuka tas untuk ngambil sesuatu di dalamnya. Yaitu flashdisk dan buku catatan. “Semuanya sudah ada di situ. Kamu tinggal lanjutin”
Aku langsung mengambil buku dan flashdisk miliknya. “Aku bisa kok ngerjainnya seharian ini” kataku sok yakin. Meski nantinya aku bakal bingung setengah mati karena sesuatu bernama Microsoft Office. “Tenang aja...”
Wira mengernyit. Meragukan aku atau dia berpikir untuk mengambil bahannya kembali dariku?. Cowok ini memang susah dimengerti.
Tapi, aku suka.
“Ng...nomor hp kamu berapa? Nanti kalau ada yang nggak ngerti tanya aja” ia bertanya dan akupun jadi salah tingkah.
Pertama-tama aku terdiam sampai dia menegur dan aku baru percaya Wira minta nomor telpon aku, beberapa saat kemudian saat cowok itu udah nggak sabar melihat ketololanku. Kedua aku mulai periksa semua saku dari saku baju, saku celana samping dan belakang, sampai akhirnya aku menggeledah tasku dan mengeluarkan semua isinya. Tapi benda itu nggak tidak ada. Jangan-jangan ketinggalan di rumah atau di kelas! Malah tidak ingat nomornya lagi!
“Kayaknya aku lupa!” kataku, histeris. Shock dan bingung.
Ketiga, Wira malah tertawa. Tidak berhenti sampai aku malah tambah bingung.
“Ya ampun!” katanya masih tertawa cekikikan mandangin aku. “Itu yang digantung di leher apa sih?”
Aku sadar melihat handphone–ku ada di depanku. Aku memang goblok. Padahal biasanya juga selalu digantung di leher supaya nggak tidak lupa. Kenapa aku langsung hilang ingatan ditanyai dia? Kayaknya gawat. Wira sekarang jadi tahu kalau aku juga ‘tulalit’ tingkat tinggi. Malunya...
Tertawanya juga nggak berhenti-berhenti lagi. Semua jadi melihat kami!
“Wira...jangan ketawa terus dong...” pintaku mulai cemas, karena cowok super dingin ini tidak pernah begini sebelumnya.
Wira kembali serius dan bersiap mengetik di handphone–nya”Berapa nomornya?”, ia bertanya padaku lalu tiba-tiba saat melihatku “Puh..”, ia lagi-lagi tidak bisa menahan tawanya.
“Ah, Wira...”, rengekku supaya jangan membuat aku tambah malu.
“Iya deh, iya!”, katanya, “Cepat sebutin nomornya!”.
Aku menyebutkan nomornya satu per satu sementara dia masih saja menahan tawa. Kalau tidak tahan, dia ngakak lagi. Tapi, ya sudahlah. Jarang-jarang bisa begini dengannya.
Biasanya selalu memperhatikannya diam-diam saat serius memperhatikan pelajaran atau sedang baca buku. Mungkin karena dia pendiam aku jadi penasaran dan selalu mau tau. Tapi, aku jarang bicara langsung dengannya.
Aku tidak bisa berhenti tersenyum sejak saat aku punya nama “Wira” di handphone–ku. Karena tidak pernah ada nama lain selain ‘Mama’ yang tersimpan di sana. Setibanya di rumah dengan semangat 45 aku langsung mengerjakan tugas itu. Cepat selesainya, besok aman! Walau kepalaku ‘nyut-nyutan’ karena berada di bawah terik mentari siang-siang. Tenggorokanku jadi makin kering dan sakit. Tinggal menunggu demamnya saja. Tapi, korban sakit sedikit juga tidak apa – apa asalkan merasa selangkah lebih dekat dengannya.
Aku tiduran di kasur sambil melamun dan memandang langit-langit kamar. Sepi dan sunyi. Tapi, tidak apa-apa. Karena ada sesuatu yang membuat aku jadi merasa cewek paling bahagia sedunia. Aku tidak tahu kenapa. Yang jelas setiap pagi rasanya ada sesuatu yang bagus menunggu di kampus. Tidak seperti biasanya kadang aku malas-malasan dan telat masuk.
Lalu handphone-ku yang berada di atas meja belajar berbunyi. Pasti mama!
Segera aku turun dari tempat tidur dan meraih handphone–ku dan melihat nama Wira muncul. Sindrom gagu itu lagi-lagi muncul. Aku gemetaran waktu menekan tombol jawab dan sempat terdiam cukup lama mendengar Wira bilang “Halo?”, “Bita?”, “Halo?”, yang makin lama makin tidak sabar tapi aku tidak kunjung bersuara. “Kamu dengar nggak sih?” suaranya agak keras dan aku langsung terkejut. Kurasa dia pasti dengar hembusan nafas dan reaksiku. Seperti orang yang blank lalu terkejut.
“Ah, ya...halo...”, suaraku pasti terdengar gemetaran. Aku malu, lalu berdiri di depan cermin dan melihat mukaku merah lagi. Sampai meram sendiri.
“Kamu kenapa sih? Lagi tidur? Ini baru jam 8...”, katanya.
“Ng...nggak kok...”, jawabku deg-degan.
“Gimana? Tugasnya ada masalah nggak?” tanyanya dengan suara normal.
“Udah selesai”, jawabku mantap, mudah-mudahan dia akan puas dengan hasil kerjaku. Ternyata tidak terlalu sulit. Tinggal ketik, atur sedikit, dan selesai!.
“Bagus kalau gitu”, katanya lagi tanpa reaksi, “Udah ya. Sampai ketemu besok di kampus”.
Aku kembali berbaring di atas kasur dan mencoba untuk tidur. Walau aku mendapatkan reaksi yang sangat biasa, aku tetap tidak sabar untuk menunggu pagi datang. Supaya bisa cepat-cepat ke kampus dan Wira melihat apa yang bisa kulakukan untuk kelompok kami.
Tapi, yang kudapatkan malah ekspresi kecewa.
“Sejarahnya Pak Sutha nggak pernah kasih nilai C”, katanya lesu.
Ben malah tertawa. “Kacau nih!”, serunya. Tidak ada kecemasan sama sekali. Padahal semua siswa yang ada di kelas tertawa, bisa-bisanya dapat nilai C dari Pak Sutha.
Aku merasa bersalah dan hanya bisa diam setelah minta maaf. Walaupun Wira tidak marah tetap dia tidak habis pikir. Kenyataannya aku memang tidak terlalu bisa bekerja dengan komputer. Semuanya karena hanya salah format. Padahal isinya bagus. Tapi karena aku lupa justify kiri kanan sehingga tidak rapi. Sebelum membaca isinya Pak Sutha lebih dulu menyematkan C di halaman depan dan bilang bahwa tidak ada seorangpun yang mau membaca makalah yang berantakan sekalipun isinya bagus. Kami jadi malu pada teman-teman yang lain.
Wira meninggalkan aku dan Ben di kantin saat handphone nya berbunyi dan ia pun harus mengangkatnya.
“Yang penting sudah usaha...” hibur Ben. “C masih mending daripada D”
“Aku sih bisa terima. Aku nggak enak sama Wira...” jelasku.
Ben terdiam dan terus memandangiku yang termangu merasa bersalah.
“Aku tau apa yang bikin kamu terganggu. Bukan masalah nilai kan?”, Ben mulai sok tau lagi. Tapi aku jadi mendengarkan ucapannya yang kadang terdengar ‘ngawur’. “Kamu nggak akan pernah bisa menarik perhatian Wira”.
Aku mengernyit. Aku tidak suka pendapatnya yang sok tau. Meski ketika kutanya hatiku tebakan Ben memang benar.
“Aku kenal Wira. Walaupun nggak dekat sih. Tapi aku tau kalau Wira punya pacar dua”, sambungnya.
Aku kaget juga dan dia pasti lihat wajahku shock mencoba mempercayai yang aku dengar benar. Makin ketahuan bahwa aku kelihatan sangat berharap sama pertemanan ini. Itu seolah menjawab kenapa Wira cuek padaku dan cewek-cewek yang ada di sekelilingnya. Aku semakin ingin mendengar lebih banyak agar aku bisa meyakinkan diri untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Yang tadi telpon itu pasti Putri. Pacarnya” jelas Ben lagi. “Sebenarnya Putri itu mantannya Wira. Kalau berhubungan lagi itu tandanya balikan.”
Aku tidak bergerak sedikitpun. Aku tau nggak ada untungnya untuk Ben menceritakan yang bukan-bukan soal Wira karena dia sudah lama tau aku nggak pernah mau jadi pacarnya gara-gara ‘insiden’ di toilet itu. Walau Ben brengsek, dia tidak akan tega membohongi aku.
“Satu lagi anak SMA, sering telponan dan SMS –an. Kamu sering lihat nggak sih Wira sering megang hp kalau lagi nyantai di kantin?”
Aku menggeleng sekali dan terus menetapnya agar ia mengatakan apa yang nggak pernah kutahu.
“Kalau anak SMA itu jelas Wira cuma mainin. Tapi, Wira cinta mati sama Putri sejak SMA. Sampai nekat bunuh diri. Pernah lihat pergelangan tangan Wira ada bekas lukanya?”
Aku menggeleng lagi.
“Ketutup sih. Soalnya selalu pakai baju lengan panjang,” lanjut Ben. “Yang pasti itu karena nggak terima diputusin Putri. Mamanya Wira udah meninggal, sebulan kemudian papanya kawin lagi. Adiknya banyak. Makanya Wira jadi kayak gitu”
Tidak sepatah kata pun bisa kuucapkan. Semangat tadi pagi menghilang entah ke mana.
Melihatku Ben malah jadi bingung dan garuk kepala. “Duh, kok aku jadi ngegosip ya...” gumamnya.
Aku masih mencoba mempercayai kata – katanya.
“Kamu cewek baik” kata Ben lagi dengan provokatif. Dia tidak pernah seserius ini sebelumnya. “Aku bilang semuanya supaya kamu nggak kecewa berat. Tapi, jangan sampai Wira tau kalau aku cerita semuanya ke kamu ya? Ntar aku nggak enak”
Awalnya aku mengingat baik - baik pesan Ben sebelum ia pergi begitu pacarnya datang. Aku masih duduk dan tubuhku shock. Aku mengatur nafas. Lalu setelah kembali normal aku mulai berpikir untuk menghapus semuanya mulai detik itu juga.
Tapi, Wira kembali lagi karena ternyata ia meninggalkan tasnya di kursi.
Aku memandanginya dan masih berusaha keras untuk berpikir jernih. Wira yang sama sekali tidak kelihatan playboy punya pacar lebih dari satu. Dilihat dari sifatnya mungkin dia memang setia makanya sampai nekat bunuh diri gara-gara diputuskan. Aku memandangi pergelangan tangannya yang memang selalu tertutup lengan baju.
“Apa sih?” tegurnya. “Kamu nyeremin...”
Aku langsung sadar. Kalau memandangnya kelamaan dia jadi tau soal perasaanku. Nanti aku juga yang repot karena dia tidak akan memandangku sebagai cewek normal.
“Ben mana?” ia bertanya sambil meminum sisa air mineralnya.
‘Pergi” jawabku sambil siap-siap mau pergi. Membereskan isi tasku dan pakai jaket supaya tidak kepanasan. Lagipula aku juga terserang demam. Sebenarnya tadi pagi aku tidak berniat masuk tapi karena ingat tugas harus diserahkan aku memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur dan berangkat kuliah jalan kaki. Walau aku tau aku tidak akan kuat. “Udah ya, aku pulang...”
“Kamu sakit?” tegurnya sambil berdiri. “Sumpah, pucat...”
“Nggak...” jawabku. “Tiduran sebentar nanti juga sembuh”
Satu – satunya hal yang tidak kumengerti kenapa jalan seakan dimudahkan untukku.
Wira menghampiriku dan bersikeras mengantarku pulang. Jika yang dibilang Ben benar, kenapa aku bisa dengan mudah mendapatkan Wira?
ooOoo
Komentar
0 comments