๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Persembunyian
Aku pergi kuliah setiap hari, melewati gang dan menyapa tetangga yang menoleh padaku dan mereka pun membalasku dengan senyuman. Aku juga pulang tepat waktu. Hanya pada hari Rabu aku pulang jam tiga sore dan sisanya kadang-kadang pulang jam sebelas. Jika ada tugas aku
pulang telat untuk mencari buku di perpustakaan atau pergi ke warnet untuk mencari bahan tugas dan mencetaknya jadi lembaran-lembaran yang harus diserahkan pada waktu yang ditentukan. Aku selalu mengerjakan tugasku dan tidak pernah absen hadir di setiap mata kuliah. Habisnya aku tidak mau terkurung di rumah seharian karena pasti membosankan. Kadang pergi ke kampus dan melihat tingkah aneh anak-anak sebayaku membuatku terhibur.
Ada sekelompok anak gaul yang suka mengganggu temannya dengan kata-kata yang mengocok perut. Aku memperhatikan mereka dari kejauhan dan sering ikut tertawa sendiri mendengar apa yang mereka bicarakan untuk bercanda atau menghibur teman-teman yang lain.
Di kampus ada 3 macam tipe mahasiswa. Yang pertama, tipe center of attention, seperti Rara dan Alya yang selalu ingin kelihatan paling ‘Wow’ di antara semua cewek. Mereka tidak suka pacaran dengan anak mahasiswa tulen tapi mahasiswa yang sudah punya pekerjaan tetap_biasanya para senior_. Karena itu mereka ingin dikenal orang tingkah sensasional mereka. Mulai dari pakai baju yang warna dan modelnya sama juga model rambut seperti pinang dibelah dengan golok.
Tipe yang kedua, Upper Class, seperti Ben. Ciri-cirinya adalah gonta-ganti mobil tiap ke kampus dan semuanya adalah mobil Eropa atau paling nggak mobil Asia kelas mewah. Mereka suka sekali membicarakan soal tren-tren otomotif yang ada di luar negeri dan kebanyakan tidak bisa dimengerti oleh anak-anak kampung yang hanya bisa membeli majalah otomotif dan bermimpi bisa memborong mobil yang ada di gambar majalah. Rata-rata tipe ini juga suka gonta-ganti pacar dan sombong. Cuma Ben yang berteman sama siapa saja sementara yang lain kebanyakan hanya berteman dengan ‘sesama’. Tapi, tipe yang satu ini tidak suka menjadi center of attention karena pastiya tanpa jadi pusat perhatian pun mereka sudah ‘beken’. Apalagi jika orang tua mereka menyumbang satu labor komputer untuk kampus. Ini baru bilang ‘Wow’
Yang ketiga, Nerd, kelompok yang dianggap minoritas. Tapi setengah dari semua mahasiswa di kampus termasuk dalam golongan ini. Mereka berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah. Siswa-siswa pintar yang kuliah dengan mengandalkan beasiswa juga termasuk dalam kelompok ini. Karena walaupun mereka adalah center of attention para dosen atau teman-teman yang cuma sekedar memanfaatkan tapi sulit untuk bisa jadi Upper Class.
Aku tidak termasuk kelompok manapun.
Memang miris kehidupan jaman sekarang. Kalau bukan Heroya Zero, kalau bukan Zero belum tentu jadi Hero. Aku tidak tau dari mana dapat istilah itu. terkadang dosen membedakan mahasiswanya. Tapi, mau bagaimana? Ada mahasiswa yang membuat dosen ill-feelakan kelakuannya, dimulai dari sering bolos, ‘nyolot’ dan tidak mengerjakan tugas. Jadinya dosen itu hanya fokus kepada yang mau belajar dan balas dendam dengan cara menyuruh mereka yang bandel untuk mengulang tahun depan. Mahasiswanya lain lagi, sebagian ada yang stress karena ingat umur yang terus bertambah dan harus menyediakan lebih banyak uang, tapi sebagian enjoy saja karena toh akan lulus juga karena ortu mereka berduit.
Kembali lagi ke tugasnya Pak Sutha, dosen Bahasa Indonesia yang CBSA. CBSA singkatan dari Catat Buku Sampai hAbis. Begitu kira-kira. Kelas Pak Sutha dimulai jam 8 pagi hari Kamis setiap minggunya.
Dosen Bahasa Indonesia ini umurnya sekitar 50 tahunan. Pakai kaca mata dan peci hitam, agak gemuk dan suaranya keras. Tapi, dosen ini tidak pernah marah-marah dan selalu memberi nilai minimal B kepada semua mahasiswa. Pak Sutha dosen paling baik sekampus karena tidak pernah membuat mahasiswanya mengulang. Biasanya Pak Sutha mendiktekan catatan, boleh ditulis, boleh tidak, asal tugas dikerjakan dan nilai A atau B dengan mudahnya tertera di lembar latihan. Beliau menyuruh kami membuat karangan sendiri seperti gagasan kronologis dan cerita fiksi hingga akhirnya kami semua mengarang indah dengan meraja lela di selembar kertas.
“Sudah selesai nih” kata Wira memberi tahu aku dan Ben bahwa dia sudah menemukan bahan untuk makalah kami. “Tapi, aku nggak punya komputer buat ngetiknya”
“Kayaknya aku bisa bantu deh” Ben nawarin.
Wira langsung mengeluarkan bahan makalah yang tadi sudah dia catat dibukunya. “Nih, ngetik tugas kamu” katanya sambil menyodorkan buku itu ke Ben.
“Mmm...maksud aku, Aku mau pinjamin laptop,” Ben nyengir lagi. “Suruh si Bita, dia juga nggak melakukan apa-apa”
“Tapi aku nggak bisa ngetik!” sahutku, dan tiba-tiba kedua cowok itu tertawa terbahak-bahak.
“Jaman sudah secanggih ini pakai komputer aja nggak bisa?” ledek Ben. “Jangan-jangan lihat komputer aja nggak pernah”
Aku jadi malu. Wira tertawa sampai keluar air mata segala. Bukannya tidak pernah lihat komputer, tapi pakai komputer itu jarang sekali.
“Nih cewek...cakep-cakep bego nya minta ampun...” sambung Ben.
Ternyata mereka sangat kompak menertawai orang.
“Tapi, sekarang aku nggak bawa laptopnya” kata Ben kembali serius. “Gini aja deh, kita ke rumah aku dulu. Kerjain di sana aja, gimana?”
Aku dan Wira ikut Ben naik BMW-nya. Ben terpaksa membatalkan janji dengan sang pacar. Tapi, aku tidak menyangka bahwa dua orang ini ternyata cukup akrab. Mungkin karena Ben tidak henti-henntinya bicara dan Wira serius menanggapinya. Oh iya, mereka dulu sekolah di SMA yang sama. Mereka hanya cerita soal-soal teman-teman mereka yang dulu dan beberapa hal yang pernah terjadi di masa itu. Aku duduk di belakang. Menikmati perjalanan singkat karena aku sangat jarang naik mobil. Apalagi mobil mewah, ini pertama kalinya bagiku. Kupikir kuliah memang tidak ada salahnya. Aku jadi tidak terlalu memikirkan persoalan yang ada di rumah.
Ternyata rumah Ben besar sekali. Berada di komplek elit yang rata- rata ada mobil mewah di garasinya. Kalau bisa tinggal di tempat seperti ini pasti asyik. Ada kolam renangnya, masing-masing kamar ada kamar mandinya. Perabotannya mahal semua. Mamanya Ben juga baik dan menyambut kami ramah. Ia meminta pembantu buat menyiapkan minuman dan snack buat kami. Tapi Ben cuek-cuek saja pada mamanya yang masih kelihatan muda. Malahan saat disuruh ganti baju dulu dia malah ‘nyolot’.
Ben pergi ke kamarnya mengambil laptop dan printer, dibantu oleh Wira. Tidak lama mereka kembali dan Wira mulai mengerjakan tugas kelompok kami dengan serius. Benar kata Ben, Wira memang tidak suka diganggu kalau sedang serius. Sementara Ben sibuk dengan Blackberry-nya sambil dengar musik dan tiduran di sofa. Dia sama sekali tidak peduli hal lain selain kesibukan pribadinya.
Aku pergi ke halaman belakang dan melihat kolam renangnya yang cukup besar. Pasti enak hidup di rumah seperti ini. Besar, luas, perabotannya lengkap dan yang pasti punya tempat tidur yang empuk. Aku duduk di pinggir kolam renang dan main air sebentar sebelum Wira memanggilku karena sudah jam 5 sore. Aku langsung ingat mama pulang dan pasti dia sudah menunggu di rumah.
Tugas itu belum selesai karena lumayan banyak tapi Ben sudah ketiduran duluan. Wira membangunkan Ben dengan duduk di atas perutnya sampai cowok itu bangun dan langsung berteriak kesakitan dan sesak nafas.
‘Gila ih!” makinya kesal sambil melempar Wira dengan bantal sofa.
Wira tertawa lepas.
Aku tidak pernah lihat dia begitu sebelumnya. Aku tidak menyangka tugas kelompok dan sekelompok dengan kedua orang yang rumit ini, yang kupikir menyebalkan ternyata malah menyenangkan. Aku jadi tidak berhenti tertawa.
Lalu Ben mengantar kami pulang pakai mobil. Sepanjang jalan Ben memang tidak pernah berhenti bicara dan bercanda.
“Nggak mungkin dapat A deh” kata Ben.
“Itu gara-gara kamu ada di kelompok” Wira nyolot. “Tiap kali sekelompok sama kamu, aku sial terus!”
Ben sewot. “Kayaknya kamu nggak ikhlas”
Di ambang malam, seperti biasa, jam-jam sibuk begini bertemu macet. Kami terjebak sangat lama di jalan. Aku tinggal di pinggiran kota. Perumahan kampung dengan masyarakat yang beragam. Rata-rata mereka adalah pendatang dari luar daerah, mereka mempunyai aksen dan logat yang khas. Mama berasal dari Aceh. Tapi, ia sudah lama tidak pulang ke kampung halaman. Padahal ia masih punya keluarga dan saudara yang semuanya masih tinggal di Simelue. Aku mengerti bagaimana hubungan mama dan keluarganya. Mama telah memilih jalannya sendiri dan sangat sulit bagi keluarganya untuk bisa menerimanya kembali.
Sedangkan papaku tinggal di Singapura. Kupikir, masalah itulah yang membuat mama jadi seperti sekarang. Masalah yang kuhadapi selama ini. Mama tidak pernah bisa menemukan jodohnya dan hidup bahagia. Apa lagi sekarang, mama terlanjur terjerumus dalam dunia hitam yang membuat kami selalu kesulitan berbaur. Aku diharuskan sembunyi agar bisa hidup dengan baik.
“Kamu dari mana aja, Sayang?” tanya mama yang lagi duduk sambil beres – beres baju.
Seperti biasa, mama selalu kelihatan cantik dengan pakaian bagus dan menarik. Wajahnya tampak senang, selalu begitu, tidak pernah terlihat sedih. Rambut mama kali ini dicat warna coklat dan ikal. Mama jarang kelihatan tanpa make up. Karena harus selalu menyembunyikan garis-garis usia di wajahnya dan kelihatan muda. Tapi, terkadang, hal-hal seperti itu tidak bisa disembunyikan. Jika diperhatikan lagi keriput itu mulai tampak dari hari ke hari. Membuktikan tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa melawan waktu.
“Dari rumah teman, ngerjain tugas, terus di jalan macet” jawabku.
“Oh” Mama tersenyum. “Mama ada hadiah nih buat kamu”
Mama selalu memberikan pakaian yang bagus dan mahal. Ia mencukupi semua kebutuhanku. Aku tidak pernah minta uang karena sebelum diminta mama udah memberikannya. Untuk jajan dan keperluan lainnya. Kadang aku jadi bertanya, apakah mama menyayangiku?
Tapi, mama menyayangiku dengan cara berbeda.
Kali ini mama membelikan sesuatu yang lain dari biasanya.
“Mama nggak mau kamu ngerjain tugas di warnet lagi. Lagian juga biayanya mahal. Kamu juga bisa ngerjain tugas di rumah” kata mama waktu aku menemukan laptop dan printer dalam tas belanjaannya. “Juga bisa dibawa ke kampus lagi”
Aku tidak langsung senang. Yang terpikirkan olehku saat itu adalah, darimana mama dapat uang membeli barang-barang itu? Ini jauh lebih mahal dari baju-baju branded yang dihadiahkan mama setiap kali ia mengunjungiku.
“Gimana, Sayang? Kamu senang nggak?”
Aku mengangguk canggung. “Tapi, Ma...”
“Kayaknya mama harus pergi lagi nih. Maaf ya Mama lagi-lagi nggak bisa nemenin kamu di rumah. Soalnya Mama banyak urusan. Nanti kalau ada apa-apa kamu telpon Mama ya? Mama pasti datang” katanya seperti nggak ingin membahas keingintahuanku.
Mama mengambil tasnya. Lalu memelukku sebentar dan pergi.
Pertemuan kami seringkali hanya seperti itu saja. Sebentar tapi menyisakan banyak pertanyaan di hatiku. Dengan siapa lagi mama pergi saat ini? Apa yang dia lakukan di saat dia sama sekali nggak sempat meginap walau semalam pun? Apakah Mama berhutang dengan orang lain untuk memanjakanku? Apa Mama mungkin berhubungan dengan seorang pria kaya?
Seperti selama ini, Mama menyembunyikannya rapat-rapat. Mama selalu menyembunyikan lukanya. Padahal, aku anaknya. Satu-satunya yang ia miliki di dunia ini. Satu-satunya yang ia anggap paling berharga di dunia ini melebihi nyawanya sendiri. Aku pun juga begitu. Tapi, aku tidak pernah bisa melakukan sesuatu untuknya. Jangankan membantu mencari uang, aku bahkan tidak bisa menjadi tempat bersandar baginya di saat ia pulang dalam keadaan sedih dan sakit.
Mama seringkali menutup pintu kamar dan tidak keluar dalam waktu yang cukup lama. Begitu ia muncul di hadapanku ia kembali menjadi sosok ibu yang biasa memasak untuk anaknya dan bertanya kebutuhanku. Saat aku mencoba membahasnya ia selalu menjawab bahwa yang dihadapinya bukan masalah besar sehingga aku tidak perlu mencemaskannya. Mama bilang kadang masalah selesai dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu. Tapi, bagiku masalah yang seperti itu malah seperti bom waktu yang diam tak beriak, tapi ketika saatnya tiba akan meledak dan menghabiskan semuanya. Hal seperti ini sering terjadi pada kami yang hidup dalam dunia seperti ini.
Kami tenang beberapa saat, sementara masalah berdetak setiap detik seperti balon yang terus dipompa perlahan, makin lama makin besar dan besar sampai akhirnya meledak. Jika saat itu tiba, kami langsung pindah rumah. Memulai dari awal lagi. Tapi sejak aku SMA, mama mulai menjagaku dari lingkungan yang mungkin akan membuatku seperti dirinya. Makanya aku sering ditinggalkan sendiri dengan sejumlah uang dan nomor telpon untuk menghubunginya jika aku butuh sesuatu. Mama selalu memberikannya tepat waktu. Tapi, jika aku meminta waktu untuk bisa bersamanya hanya untuk sekedar jalan-jalan atau belanja, Mama seringkali ingkar janji. Sehingga aku tidak pernah lagi memintanya tinggal denganku lebih lama karena tidak ingin ia pusing mencari waktu untuk bertemu denganku sementara ia punya banyak pekerjaan.
Aku kesepian. Di kontrakan yang tidak terlalu besar dan tidak ada perabotan yang bagus. Jika bosan aku mengisi waktu dengan bersih-bersih seperti mengepel lantai dan mencuci baju. Kadang aku tidur siang setengah hari. Bangun saat Adzan Maghrib berkumandang. Lalu mandi dan nonton TV sebentar lalu tidur lagi. Kalau ada PR, aku langsung kerjakan sebagai cara untuk menghabiskan hari.
Besoknya juga nggak jauh berbeda. Jalan kaki ke kampus dan ketemu sama rutinitas di mana aku masuk ke kelas dan mencari tempat duduk paling belakang dan terisolir. Aku tidak terlalu aktif di kelas dalam menjawab pertanyaan dosen tapi mereka tahu aku cukup pandai. Makanya kadang aku sering ditanyai sesuatu apabila teman-teman yang lain tidak bisa menjawab. Aku juga sering memberikan jawaban yang salah tapi aku senang hampir semua dosen senang padaku.
Komentar
0 comments