๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Komplikasi
Bukannya tidak senang. Bukannya tidak merasa bersyukur. Karena Mama selalu memaksa, supaya aku bisa hidup layak dengan berpendidikan tinggi. Tidak seperti dirinya. Aku hanya takut punya harapan yang terlalu besar untuk masa depanku. Di negeri yang seperti ini. Di mana cita-cita bisa ditebus hanya dengan uang. Aku yang tidak punya kemampuan apa-apa menjadi makanan orang-orang yang berkantong tebal. Di negeri ini kemampuan tidak lebih menjamin daripada uang.
Sejak kecil aku tinggal berdua dengan Mama. Di kontrakan yang tidak jauh dari kampus sehingga aku bisa jalan kaki 10 menit dan langsung sampai. Aku melanjutkan sekolah di Universitas Swasta yang cukup terkenal di kotaku dan mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Dulu Mama ingin sekali melanjutkan kuliah tapi tidak punya uang. Setamat SMA Mama langsung bekerja dan menikah dengan orang yang dicintainya. Dia papaku, yang tidak pernah kulihat wajahnya, aku bahkan juga tidak pernah melihat fotonya. Mama sudah membuangnya.
Kupikir, mana mungkin dia ingat aku. Bahkan mungkin dia tidak tahu darah dagingnya telah terlahir ke dunia dan merasakan penderitaan yang sangat pedih sejak kecil. Hidup dengan cara yang hina dan membeli kebahagiaan palsu dengan menjual semua harga diri.
Aku tinggal berpindah- pindah karena alasan-alasan tertentu yang selalu sama. Aku tidak bisa membicarakannya sekarang. Tapi, yang pasti setiap kali kami pindah, Mama hanya bisa datang beberapa kali seminggu. Sebenarnya aku tidak mau membahas Mama pergi ke mana tapi yang pasti ia bekerja agar aku bisa makan dan sekolah juga membelikan aku pakaian yang bagus supaya aku tidak kelihatan rendahan. Lagipula Mama menyembunyikanku supaya aku tidak ikut terkena masalah karena pekerjaannya itu.
Kupikir pergi kuliah setiap pagi akan membebani saja karena aku kembali berhadapan dengan anak-anak lama yang tentu tidak akan lupa padaku. Rara atau Alya misalnya. Kami pernah sekelas di SMA dan pernah terlibat perselisihan serius hanya karena masalah cowok.
Mereka selalu menjadikan aku topik menarik untuk dibahas.
Mutiara Alita, panggilannya Rara. Cewek ini memang tidak pernah suka padaku. Merasa paling cantik, modis dengan dandanan dan pakaian yang dia pikir sudah ‘oke’ untuk ukuran kampus sebesar ini di mana ada banyak anak konglomerat di dalamnya. Dia orang yang ‘ngotot’, cerewet, dan ‘over-pede’. Yang aku tahu Rara berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dengan papanya yang bekerja sebagai PNS. Tapi, dia punya satu kelebihan yang jarang dimiliki orang, yaitu pantang menyerah, apa lagi dalam meyakinkan orang bahwa yang dikatakannya benar.
Drama Queen, Alya Mirani, cantik tapi agak ‘lebay’. Dari gaya juga cara bicara yang ‘alay’ dan terkesan dibuat-buat. Suaranya melengking seperti Jeng Kellin, memang ‘jengkelin’ soalnya Alya sering pakai rok ke kampus, katanya biar ‘unyu’. Tanpa sadar waktu dia naik tangga cowok-cowok menunggu di bawah sambil menengadah dan bilang ‘Wow’ tanpa koprol.
Pertarungan ronde kedua di kampus dimulai. Dengan hal yang sederhana seperti asal usulku. Cewek-cewek memang suka memepermasalahkan dari mana seseorang berasal. Jika seseorang berasal dari keluarga kaya mereka juga membahas merek baju, sepatu dan tas yang dipakai orang itu, harga dan belinya di mana, dan barang KW atau tidak.
Mereka membandingkan apa yang mereka punya dengan milik orang lain yang kelasnya jauh di atas mereka. Kalau mereka punya barang yang lebih bagus artinya mereka jauh lebih baik dan itu seperti prestasi yang sangat membanggakan. Mereka tidak akan pernah sadar betapa sulitnya mencari uang jaman sekarang untuk sekedar makan apalagi beli barang-barang mahal.
Aku salah satu yang paling sering dibahas karena termasuk cewek yang selalu datang ke kampus dengan pakaian yang bagus-bagus. Masalahnya bukan soal merek atau harga dari barang-barang yang kupakai. Tapi, bagaimana aku bisa membelinya?
“Kayaknya nggak mungkin deh,” ada yang berpendapat begitu.
Tapi Rara meyakinkan mereka. “Iya beneran! Dulu kami satu SMA kok” jawab mereka. “Mamanya pernah datang ke sekolah waktu dia kelamaan bolos. Dandanannya dan wanginya selangit! Suka merokok lagi”
Telingaku panas. Aku paling tidak suka mamaku disebut-sebut.
“Kayaknya nggak mungkin” salah seorang dari perkumpulan itu bilang ke yang lain.
“Tapi, kami nggak pernah lihat papanya!”
‘Mungkin aja sudah cerai” cetus seseorang yang lagi duduk di depan mereka sambil baca buku. “Kenapa kalian nggak urus urusan masing-masing?”
“Idih, kok kamu marah sih!” cetus Rara.
“Dasar cewek...” gumam cowok itu sambil pergi dari sana. Lalu dia lewat di dekatku karena aku duduk tepat di dekat pintu. Dan tiba-tiba dia pukul kepalaku dengan pelan pakai buku yang tadi dia baca sambil lewat. Tanpa ngomong apa-apa Bikin aku jadi kelihatan tambah ‘bego’.
Cowok itu memang agak aneh. Dia tidak banyak bicara dan suka baca buku. Ke mana – mana selalu bawa buku. Aku tidak tahu banyak soal dia karena dia juga termasuk anak yang tidak terlalu suka bergaul. Yang cuma bicara kalau ditanya. Sisanya dia bisa saja diam seharian jika tidak ada yang menegur. Namanya Wirahadi Restu. Panggilannya Wira. Baju favoritnya kemeja lengan panjang dan jeans yang selalu berwarna gelap. Pakai tas ransel besar dan sepatu kets putih. Dia tidak berteman dengan siapapun selain dirinya sendiri. Jarang menyapa orang selain dosen dan bicara dengan amat sangat efektif. Dia lumayan keren karena bertubuh tinggi, rambut hitam lurus dan kulit kuning langsat. Kelihatannya juga alim. Cowok ‘banget’ tapi dia termasuk yang tidak populer di kampus karena banyak yang lebih keren daripada dia.
Contohnya Ben. Pacarnya gonta-ganti. Mobilnya juga. Kemarin pakai Mazda keluaran terbaru. Hari berikutnya dia bawa BMW. Ben memang keren, gaul dan ‘cakep’. Tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi berisi. Rambutnya cepak. Gaya berpakaian selalu berubah-ubah dan mengikuti tren. Kulitnya putih. Tapi, aku agak malas melihatnya. Soalnya waktu itu pernah memergoki Ben berduaan di toilet dengan pacarnya. Lagipula cowok itu juga tidak tahu malu. Sudah tertengkap basah, bertemu aku dia malah menggoda aku untuk jadi pacarnya. Aku tidak mau! Walau sebenarnya, aku memang cewek matrealistis. Tapi, kalau hari itu tidak memergoki dia pasti aku lagsung mau. Hanya saja ini bukan soal Ben. Semua tentang dia sudah bisa ditebak. Dia putus dengan pacarnya, lalu ditampar dan besoknya bawa yang baru plus mobil baru juga. Seperti siklus dari siang ke malam. Malam ke siang.
Masalahku seperti penyakit komplikasi. Pertama, ingin bekerja dan cari uang sendiri tidak dibolehkan Mama. Kedua, aku sama sekali sudah tidak konsentrasi belajar karena masalah-masalah seperti itu. Ketiga, tugas-tugas dari dosen makin lama makin banyak. Keempat, aku harus berjuang dalam stigma orang-orang yang memandang aku dan Mama sebelah mata. Kelima, aku tidak bisa berbuat sesuatu supaya Mama berhenti dari kerjaannya itu. Keenam, aku kesepian karena tidak punya teman. Ketujuh, aku harus terus ‘bersembunyi’ supaya bisa kuliah dengan tenang. Dan kedelapan, aku belum juga menemukan cowok kaya.
Aku paling benci jika ada tugas kelompok. Kali ini pembagian kelompoknya benar-benar payah. Soalnya dosen tidak mau siswa itu pilih teman yang itu-itu saja. Satu kelompok anggotanya tiga orang. Lagipula kali ini ada tugas makalah dalam Bahasa Indonesia dengan tema yang sudah ditentukan oleh dosen dan masing-masing kelompok berbeda.
Aku tidak berkomentar. Aku tahu satu kelompok sama orang macam Ben adalah masalah. Karena dia hampir tidak mau tahu. Apalagi Wira, dia juga tidak suka bekerja sama dengan orang lain. Karena dia individualis sejati.
“Kayaknya terjebak nih” kata Wira tiba-tiba. “Yang satu bego, yang satu lagi gila”
Hanya aku yang mendengarnya sementara Ben sudah ‘ngeloyor’ alias bolos.
Siapa yang bego? Siapa yang gila?
Pak Sutha, dosen kami mulai menerangkan apa yang mau kami kerjakan umtuk minggu depan. Kami kebagian jatah membahas tentang kebudayaan.
“Aku mau ke perpustakaan” jawab Wira. Datar, tenang, plus dingin. Lalu pergi pergi ke tempat yang dimaksudnya. Tanpa mengajak. Seolah-olah kalau mau ikut dia ya ikut, kalau tidak, ya tidak apa-apa juga.
Ben juga mengekor. Aku ikut mereka di akhir cerita.
“Dia memang seram” kata Ben bisik-bisik
“Kayaknya yang seram itu kamu, bukan dia” celetukku. “Kenapa nempel-nempel terus? Aku jadi gerah. Pergi sana!”
“Kamu kasar amat sih, Bita!” protesnya.
Wira yang sedang serius baca buku melirik kami yang tidak melakukan apapun dari tadi selain bolak-balik buku tidak jelas tapi tidak juga menemukan apa yang kami cari. Sepertinya dia sebal lagi. Di perpustakaan tidak boleh ribut karena penjaganya pasti akan memelototi kami sampai kena mental. Lalu dia kembali melihat bukunya dan mencatat beberapa hal yang penting. Tugas kelompok kali ini semuanya akan dikerjakan oleh Wira. Tapi, dia tidak pernah protes. Padahal aku dan Ben lagsung ‘ngeloyor’ ke kantin untuk mengobrol dan bercanda sambil makan bakso.
“Aku sama Wira SMA –nya sama” kataya bercerita. “Dia memang begitu anaknya”
‘Aku nggak nanya” tandasku.
Ben malah ketawa lagi. “Tapi, kayaknya kamu naksir dia” ejeknya.
“Enggak!” tukasku.
Dia masih tertawa tidak jelas. Terkekeh-kekeh pula.
Aku merasa bersalah dan ingin balik lagi ke perpustakaan. Paling tidak aku bisa menolong dia cari buku atau apa. Agar aku sedikitnya mengerti apa yang akan kami kerjakan.
Tapi, Ben terus menahan aku pergi.
“Seperti nggak tahu Wira aja. Dia nggak bisa diganggu kalau lagi serius. Palingan juga diusir dia karena mengganggu” katanya,
“Tapi, tugasnya banyak lho. Masa dia sendiri yang kerjain, Ben?”
“Kalau nggak selesai, jangan panggil dia Wira.” Tukasnya.
Tapi tetap saja aku merasa tidak enak. Begitu Ben ‘cabut’ bersama pacarnya aku kembali ke perpustakaan mencari Wira di tempat tadi kami meninggalkannya. Rupanya sudah tidak ada. Aku juga mencari di setiap sudut perpustakaan karena kupikir dia berkeliling mencari buku yang kami butuhkan. Tapi, aku tidak menemukannya dan akhirnya pulang.
Pasti Wira juga sudah pulang.
Entah kenapa, besok paginya aku bangun pagi dengan perasaan yang lebih ceria dari biasanya. Semalam mama menelpon bahwa ia akan datang nanti sore. Sudah seminggu lebih aku nggak bertemu dengannya karena Mama ‘sibuk’.
------
Komentar
0 comments