๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Selamat Tinggal
“Pev, gue mau nanya sesuatu sama lo,” kataku saat Pevi sibuk memilih menu makan siangnya.
“Nanya apaan?” balas dia, tanpa melepaskan matanya dari buku menu yang sedang ia telisik satu persatu.
“Menurut lo apa gue ini pengecut?” tanyaku, penuh harapan dia akan menjawabnya dengan jujur.
“Maksudnya lo pengecut?” balas dia, masih belum menatapku.
“Yah, kemarin gue... sempat ribut sama Adrian...,” jawabku dan seketika Pevi menatapku dengan mata membelalak.
“Ribut?!” perhatiannya benar-benar terpusat padaku. Bahkan matanya yang melotot itu tak berkedip sedikitpun sampai aku memberikan penjelasan lebih jauh.
“Ya...,” aku mulai gelisah. Nggak tahu harus memulainya dari mana. “Dia bilang gue selalu melarikan diri dan itu bikin orang lain dalam masalah....”
Pevi diam dan hanya menatapku iba.
“Semalaman gue terus mikirin semua ucapannya Adrian. Dia yang nggak pernah marah, tiba-tiba bilang gitu sama gue...,” kataku. Aku belum bicara lagi dengan Adrian sejak pertengkaran itu. Adrian juga nggak menelponku walaupun aku nggak pulang ke rumahnya dan memilih menginap di tempatnya Pevi tadi malam.
“Mungkin sabarnya udah lewat ambang batas. Emang apa sih yang bikin kalian ribut? Sidney?” tanya dia.
Aku langsung menggeleng. “Bukan...,” jawabku tapi aku nggak ingin membahas tentang apa yang kulakukan belakangan ini. Kalau aku cerita pasti giliran Pevi yang ingin menceramahiku. Aku sudah mendengar banyak dari Adrian.
Lagipula kalau Pevi tahu aku nggak memberitahunya dari awal, dia pasti lebih ribut daripada Adrian. Apalagi dia sempat melihatku jatuh pingsan karena kelelahan. Aku ingin membicarakan hal lain yang tiba-tiba saja mempermainkkan pikiran dan perasaanku.
“Terus?” Pevi menunggu. Dia belum memutuskan pesanan sehingga si pelayan tetap berdiri di sampingnya. “Bukan sesuatu yang serius banget kan?”
Aku menggeleng agar Pevi nggak melulu sewot atau menanggapinya berlebihan. Aku nggak ingin membahas pertengkaranku dengan Adrian karena aku tahu di mana kesalahanku.
Pevi melirik ke pelayan perempuan di dekatnya, “ saya pesan Salad with Mango Cream satu dan Green Tea,” katanya sebelum kembali menatapku dengan seksama. “Terus?” dia mulai mendesakku.
“Gue makin merasa nggak berguna, Pev,...” kataku setelah pelayannya pergi.
“Maksud lo?” tampaknya Pevi belum mengerti. Dia menungguku lewat tatapannya yang lekat pada sosokku yang pucat.
“Lo ingat gimana gue menghindari Sidney setengah mati di sekolah?” tanyaku.
“Nah, bener ‘kan? Ini soal dia lagi...,” komentar Pevi yang tiba-tiba kehilangan semangat.
“Pev, nggak seperti yang lo kira,” ujarku agar dia tetap mendengarkan. “Itu bukti kepengecutan gue. Padahal gue tahu dia juga berusaha nyari gue,” jelasku. “Gue selalu lari karena gue takut terluka.”
“Lo nyesal?” tebak Pevi cepat dengan tatapan tanpa putus.
Aku menggeleng. “Ini bukan soal gue nyesal atau nggak, Pev. Tapi, bukti kalau gue emang pengecut. Padahal bahagia ada di depan gue dan gue malah....”
“Kalau boleh komentar soal Sidney sih... itu terjadi karena dia nggak menghargai lo aja. Gue sama Nanda keukeuh bilang sama lo kalau dia punya tunangan, tapi lo nggak percaya. Habis itu dia sering kelihatan sama si Magisa. Kita kesal banget, makanya nggak ngebiarin lo dekat-dekat dia lagi,” kata Pevi. “Buat gue itu sesuatu yang wajar. Lo udah punya banyak masalah, Sai....”
Aku mengangguk-angguk mengerti. “Dan kalian emang bener, Sidney udah punya tunangan...,” kataku pelan dan kemudian memori saat menemukan Maria di apartemen mencuat dalam pikiranku secara tiba-tiba. “Tapi, dia cinta sama gue, Pev....”
Pevi terdengar menghela nafas. Dia nggak komentar lagi kali ini.
“Dia nitip sebuah surat kecil ke elo supaya bisa ketemu gue,” sambungku, tiba-tiba merasa sedih. “Tapi, gue lari lagi saat ketemu sama cewek itu. Harusnya gue nggak lari karena setelah Sunny lahir gue malah nyari dia lagi dan kejadian buruk itu menimpa gue....”
“Sai, udahlah, ngapain diungkit lagi sih?” kata Pevi, dia mulai jengah dengan arah pembicaraan kami.
“Sidney nyariin gue kemana-mana, Pev,” balasku. Ya, aku belum pernah menceritakan ini padanya. “Dia nyari gue ke setiap negara yang punya ladang bunga matahari setelah dia dengar Magisa bilang kalau kita ke sana buat nyebar abunya Nanda....”
Pevi mengerutkan dahinya. Tampak nggak percaya.
“Sidney ninggalin tunangannya demi gue...,” kataku lagi.
“Dari mana lo tahu itu?”
“Magisa pernah bilang sama gue di bandara tapi gue nggak percaya dan ketika gue ketemu sama Sidney di Australia dia juga bilang gitu...,” jelasku dan tiba-tiba air mataku menetes. “Kalau seandainya gue nggak menghindar dan lari, semuanya nggak akan kacau kayak gini....”
“Sai, lo kenapa sih?” Pevi terdengar khawatir. “Lo udah punya Adrian yang gimana pun juga seribu kali lebih baik dari Sidney. Seharusnya sekarang lo udah bisa menerima dia seutuhnya dan bukannya malah mengingat-ingat masa lalu!”
“Gue udah nerima Adrian seutuhnya, Pev. Tapi, saat gue introspeksi diri, gue jadi ingat semuanya dan menjadi nggak tenang apalagi sejak...,” kalimatku terhenti saat aku sadar harusnya aku tetap menyembunyikan dari Pevi bahwa aku bertemu Sidney lagi.
“Sejak apa?” Pevi menjadi penasaran.
Aku diam dan menggeleng pelan.
“Sai?” tegur Pevi.
“Gue juga ngelakuin hal yang sama ke Nyokap. Lari dan bikin masalah...,” sambungku.
Pevi kembali terdengar mendesah. “Yah, itu gue udah dengar dari Adrian juga,” katanya. “Dia banyak cerita soal lo dan apa yang nggak bisa dia ungkapan ke elo, Sai. Dia takut lo bakal ngajakin ribut dan menghindar. Akhirnya kejadian juga saat akhirnya dia ngomong, lo lari....”
Aku diam.
“Gue nggak pernah nasehatin lo soal itu karena Adrian yang larang. Dia ngerti trauma masa lalu yang lo alami waktu sekolah. Lo suka paranoid karena apa yang pernah si Magisa perbuat ke elo. Untuk menghindari masalah sama Magisa lo pilih sembunyi dan itu jadi kebiasaan. Gitu juga saat sama Sidney, lo ngejauhin dia karena takut terluka,” sambung Pevi. “Rasa takut itu ada di dalam diri lo, Saira. Walaupun Adrian cinta banget sama lo, dia nggak bakal bisa menghapus kejadian traumatis dalam kepala lo itu. Yang bisa ngelakuinnya cuma elo sendiri....”
“Gue nggak tahu caranya, Pev....”
“Berpikir positif. Lo bisa berpikir positif setiap mikirin Sunny. Apa itu nggak bisa jadi alasan buat lo untuk bangkit dari keterpurukan?”
“Apa gue bisa? Gue gagal, Pev....”
Pevi menggeleng-geleng. “Semua orang pernah gagal tapi mereka nggak pernah berhenti mencoba,” katanya.
Aku diam saat Pevi menatapku dalam-dalam. Dia tampak berusaha meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Jangan menyiksa diri karena masa lalu. Semuanya sudah terjadi dan kita nggak bisa mengubahnya....”
Pevi memang benar, tapi bagaimana jika masa lalu itu kembali dan kita nggak bisa menghindarinya? Aku menyadari diriku kembali terperangkap pada penyesalan yang meski nggak bisa kutunjukan pada siapa pun, namun menjerat hatiku. Aku membenci diriku yang datang padanya dengan alasan konyol. Di satu sisi aku betul-betul menyadari, aku nggak perlu melarikan diri kalau saja aku menuruti kemauan Mama. Tapi, di lain sisi keputusan yang keras kepala itu telah membawaku pada pertemuan yang tak disangka-sangka ini dan membuatku bingung.
Aku kehilangan jawaban yang tampak menegaskan bahwa aku nggak berbohong soal ayah Sunny di saat Sidney mempunyai firasat. Aku merasa bodoh. Di tubuh mereka mengalir darah yang sama; getaran yang saling mereka rasakan satu sama lain akan meruntuhkan kebohonganku. Sampai kapan aku akan berbohong? Sementara jika aku jujur, apa yang bisa diperbuat Magisa pada anakku? Inilah bentuk lain dari kepengecutanku. Aku terlalu takut berurusan dengan Magisa walaupun di saat dia datang menggangguku aku bisa melawannya terang-terangan, tapi tidak dengan kedengkiannya yang timbul setelah tahu tentang Sunny.
Hanya saja aku belum ingin memikirkannya. Aku hanya ingin memeluk Sunny lebih lama di saat aku mempertimbangkan untuk mengalah pada Mama demi dirinya. Toh, meski pun Sidney adalah ayahnya, kami nggak akan pernah bisa kembali. Bagaimana dengan Magisa yang nggak akan pernah tinggal diam? Dan bagaimana dengan Adrian yang nggak mungkin aku korbankan lagi demi perasaanku?
Aku akan melupakannya untuk selamanya setelah orang lain masuk. Aku sudah bosan menyakiti orang lain dan karenanya aku telah membuat keputusan. Aku nggak akan kembali pada Sidney, sekali pun aku tahu bahwa dia masih mencintaiku; karena cinta Adrian jauh lebih besar dan tulus darinya. Setelah ini nggak akan ada penderitaan lagi.
Dua hari aku membiarkan diriku terbawa pada kenangan penghabisan itu. Aku dan Sidney nggak akan berakhir baik. Ketika aku meninggalkan mobilnya karena dia memaksa untuk menyentuhku, itu membuatku sangat marah. Dia sudah nggak pantas menyentuhku seperti itu. Aku tahu jika aku berada lebih lama di sana, aku akan melihat Sidney memohon agar aku kembali dan tentu saja aku akan luluh. Tapi, aku sudah bisa melihat apa yang pasti akan terjadi jika aku membalas perasaannya; kehancuran yang lebih besar lagi.
Dia akan meninggalkan istrinya lalu berusaha memilikiku lagi. Aku nggak menginginkannya; sama sekali. Meski pun aku masih berharap bahwa sedikitnya Sidney bisa lega jika aku memberitahu Sunny adalah putranya. Tapi, itu nggak mungkin. Sidney akan menjadikan itu alasan untuk mengejarku lagi. Dia nggak hanya menghancurkan rumah tangganya sendiri, namun hubunganku dengan Adrian juga. Adrian sudah melamarku dan aku menerimanya. Kami hanya menunggu saat yang tepat untuk membicarakannya dengan Mama sehingga nggak perlu lagi menunda pernikahan.
Saat aku menoleh ke belakang di mana Sidney masih sembunyi di mobil setelah penolakanku yang mati-matian, aku bisa tersenyum. Sesakit itulah aku saat tahu bahwa ternyata laki-laki yang kucintai menikahi perempuan yang sudah menghancurkan hidupku. Meski nggak pernah meniatkan pembalasan terhadap Sidney, nyatanya aku berhasil melakukan hal yang sama persis seperti yang pernah dia lakukan padaku.
Dengan begitu, aku mengakhiri ini.
***
“Ngapain kamu ke sini?” Adrian menatapku datar saat dia menemuiku setelah aku menelpon mengajaknya bertemu.
“Maafin aku...,” ucapku, kuharap cukup kelihatan manja; aku sudah lama nggak bicara se-memelas itu pada orang.
Adrian terdengar menghembuskan nafas. “Aku pikir harus aku terus yang menghubungi duluan,” komentarnya sambil memandangiku. Sepertinya dia sudah luluh. “Aku kaget kamu datang sendiri setelah kamu bilang aku kedengaran seperti bule Australia itu.”
“Kenapa kamu jadi kekanakan?” balasku.
“Aku nggak kekanakan,” balas dia, mulai sebal lagi. “Kamu bisa bedain mana yang kekanakan dan mana yang namanya cemburu?”
“Setahuku cemburu itu kekanakan...,” kataku.
Adrian mendecak. “Aku masih ada tugas,” katanya, terdengar mengusir. “Aku baru bisa pulang sekitar dua jam lagi....”
“Ya udah, aku tunggu di sini...,” kataku.
“Kamu? Nungguin aku?” sekarang Adrian terdengar sinis memperjelas bahwa aku nggak pernah mau menunggunya sampai dua jam. Tampaknya dia masih kesal padaku.
“Iya, habis itu kita ketemu sama Mama-ku ya?” ujarku. aku pikir Adrian akan mengubah tampang dinginnya itu setelah dia memahami arti kalimatku. Tapi, ekspresinya terlalu biasa. Nggak ada kaget-kagetnya sama sekali. Dia terlalu datar di saat aku mengatakan bahwa aku setuju kalau kami menikah, secepatnya.
Apa dia sudah bosan kali ini?
“Gimana?” tanyaku lagi karena dia belum memberi jawaban ‘iya’.
“Nggak perlu,” katanya dengan gaya cuek itu lagi.
Jawaban itu sontak membuat perasaanku yang dari tadi menggebu-gebu tiba-tiba jadi ciut. Apa Adrian menolakku?
Aku mulai gelisah.
“Ke... kenapa?” aku masih belum puas dengan reaksi itu.
Adrian tenang saja; terlalu datar malah, sementara aku makin gelisah.
“Aku masih punya pasien sekarang di ruang ICU,” katanya, seperti menghindar. “Aku nggak bisa lama-lama.”
Aku diam di tempatku memandangi Adrian yang ingin cepat pergi. Sepertinya dia sudah nggak peduli lagi dengan hubungan ini. Aku jadi nggak meragukan bahwa perkataanku ternyata benar-benar menorehkan luka yang dalam. Sejenak aku bingung, apa aku harus mengucapkan maaf untuk ke seribu kalinya? Ya Tuhan, dia hanya akan bertambah muak!
Adrian memandangi jam tangannya. “Aku harus pergi,” dia berkata.
Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhku. Aku baru saja ditolak olehnya?
“Ta... tapi...,” aku mencoba membuatnya tinggal lebih lama meski pun bingung harus mengatakan apa. Dari sikapnya sudah ketahuan bahwa dia nggak ingin lagi berurusan denganku. “Habis ini aku mau pulang ke rumah....”
“Bagus,” komentarnya dengan santai. Dia nggak kelihatan senang atau apalah yang menunjukan bahwa dia peduli.
“Kita harus bicara ke Mama soal...,” aku melanjutkan tapi dia memotongnya.
“Soal apa? Aku pikir udah nggak perlu lagi,” dia kedengaran menegaskan bahwa apa pun yang kami rencanakan sudah gagal total.
“Adrian?” aku berusaha mempercayai bahwa Adrian yang biasanya lembut dan penuh perhatian, tiba-tiba saja menjadi cuek.
“Buat apa?” dia masih ingin menegaskan.
Aku tertunduk ingin menangis. Kenapa jadi seperti ini?
“Aku sudah menemui Mama kamu tadi, jadi buat apa lagi ke sana?” kata Adrian lagi secara tiba-tiba dan itu membuatku sangat terkejut.
Bingung bercampur senang di saat yang sama aku mendapatinya tertawa karena berhasil mempermainkanku barusan. Aku merasa sangat konyol.
“Kamu pikir aku laki-laki yang akan membiarkan kamu memikirkannya sendiri?” dia bertanya padaku, tentu dengan nada yang lembut. Ternyata dia nggak benar-benar ketus padaku.
Seketika aku terlihat bodoh. Menangis sambil tertawa
“Itu adalah kewajibanku dan kamu nggak perlu ikut bicara,” jelasnya. “Gimana pun juga, kita harus memulai ini dengan cara yang baik agar semuanya berjalan baik juga.”
Aku mengangguk-angguk tanpa berani menatap wajahnya. Karena akan ketahuan bahwa pipiku memerah karena malu. Aku senang sekali.
Adrian memelukku dengan sangat erat. Nggak peduli itu di tempat kerjanya hingga bahkan perawat yang kebetulan melintas tersipu malu sambil geleng-geleng kepala.
“Jadi kamu serius mau nungguin sampai selesai?” dia bertanya dan aku mengangguk-angguk dengan cepat. “Ya udah, kamu bisa nungguin di kantin sambil minum teh....”
Aku kira malam itu aku akan langsung pulang ke rumah tapi di perjalanan pulang aku berubah pikiran. Entah mengapa, aku ingin bersamanya lebih lama. Aku nggak pernah merasa membutuhkan orang lain sampai seperti ini....
***
Komentar
0 comments