[Ch.13] FORGETTING SIDNEY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Another Coincident

“Aku yakin masalah kali ini nggak sepele,” kata Adrian tenang sementara aku tertunduk berusaha untuk nggak menangis lagi.

Aku belum menyentuh makanan yang Adrian pesankan untukku karena kehilangan selera makan padahal perutku sedang lapar. Setelah dari sekolah Sunny, Pevi mengantarku ke rumah sakit. Nggak ada tempat yang bisa kutuju selain Adrian walaupun dia belum mengetahui alasan pasti mengapa Mama mengusirku ditambah melarangku bertemu Sunny.Pevi juga sudah pergi lagi karena ada jadwal pemotretan. Aku gelisah sampai rasanya ingin memanjat pagar agar bisa masuk.

“Apa yang bikin Mama kamu sampai ngelarang kamu segala ketemu Sunny?” Adrian mulai curiga dan aku nggak siap mengatakan yang sebenarnya. “Pasti alasannya serius.”

Aku hanya menghela nafas lelah tanpa berani menatap Adrian.

Tapi, dia menggenggam tanganku yang basah oleh keringat dingin.

“Saira?” tegur dia lembut sampai akhirnya aku menatapnya juga.

Bagaimana aku bisa menyembunyikannya lebih lama?

“Mama ngusir aku karena aku nggak mau ikut dia ke kantor atau... menikah sama pilihannya...,” jawabku dengan pelan, berharap Adrian nggak keburu berpikiran kalau aku memanfaatkannya.

Memang Adrian terlihat terkejut. Matanya sampai melotot; tapi hanya sesaat. Dia menimpalinya dengan tawa pelan seakan pengakuanku itu terdengar konyol.

“Apa?” komentarnya dia, dengan tawa yang makin keras juga.

Aku melongo. Bisa-bisanya dia menertawaiku saat harusnya dia mengerutkan dahi setelah tahu alasan mengapa aku datang padanya.

“Kenapa kamu ketawa?” tanyaku, merengut. Aku pikir sama sekali nggak ada yang lucu diusir dari rumah karena nggak ingin dinikahkan. Terdengar seperti cerita lama : Siti Nurbaya.

“Kamu percaya Mama kamu bakal ngelakuin itu?” balas dia.

“Kenapa nggak? Mama-ku bakat banget mengendalikan semua hal di sekitarnya,”

“Kenapa kamu nggak mau?” Adrian bertanya setelah berhenti tertawa. Sepertinya dia mulai serius.

“Ya nggak mau lah!” kataku, sedikit sewot. “Palingan juga yang mau sama aku pasti mata duitan!”

“Termasuk aku?” tanya Adrian, dia menatapku serius hingga jantungku berdetak keras.

Aku sudah kelepasan bicara dan mungkin dia tersinggung.

“Bukan kamu! Tapi, sama yang dijodohin Mama-ku!” teriakku secepat mungkin. Emosiku kembali terkuras sampai nafasku sesak. “Jelas aku nggak mau!”

“Aku pikir kamu nggak mau karena ada yang kamu cintai,” kata Adrian; itu membiusku untuk diam dan terpana padanya sebelum akhirnya tertunduk dengan rasa bersalah. Kata-kata itu terdengar menohok jika yang dia maksud itu Sidney.

Apakah kata-kataku kemarin nggak cukup meyakinkannya; bahwa aku akan berusaha dan belajar untuk mencintai dirinya?

Aku kembali bingung.

“Kamu sudah ketemu sama orangnya?” tanya Adrian lagi. Sepertinya dia ngotot untuk tahu lebih jauh.

Aku menggeleng pelan. “Itu baru rencana karena Mama-ku pikir dia udah menemukan orang yang tepat,” jawabku sedih.

“Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sudah punya pacar?” tanya dia dengan nada yang sederhana dan tenang.

Aku menatapnya sekali lagi dan Adrian tampak biasa saja. Bahkan sekilas dia tampak sedang mempermainkanku.

“Mama nggak bakal percaya aku punya pacar,” jawabku murung dan nggak sanggup melanjutkan bahwa laki-laki yang pernah ada di dalam hidupku selain dari ayahku hanyalah Sidney. “Dia bakal bilang aku bohong supaya aku bisa mengelak....”

“Aku bolak balik Jakarta-Sydney untuk kamu, masa dia masih nggak tahu soal aku?” tanya Adrian.

Aku menghela nafas. “Tahu sendiri Mama lebih suka sama yang bisa bantuin dia ngurus perusahaan, bukannya dokter,” jawabku dan juga nggak ingin meneruskan bahwa Mama sama sekali nggak melirik Adrian walaupun dia seorang dokter ; karena bukan dari keluarga kaya.

“Hm...,” hanya itu yang terdengar dari Adrian yang kemudian menyesap kopinya dengan pelan.

Aku menatapnya lagi dengan hati-hati untuk mengatakan sesuatu. “Kamu nggak ngerasa aku manfaatin kamu ‘kan?”

“Manfaatin kenapa?” balas dia santai, tapi penuh perhatian. Itulah lebihnya Adrian. Dia selalu kelihatan berpikir positif terhadap segala hal.

“Ya, tahu-tahu aku nyari kamu setelah diusir...,” jawabku ragu-ragu.

Dia tertawa kecil sambil kembali mengusap punggung tanganku dengan lembut. “Saat ini aku nggak bisa merasakan apa-apa selain bahagia seolah hari ini seperti mimpi,” kata dia. “Aku nggak curiga apalagi berpikiran jelek soal kamu karena perasaan itu sama sekali nggak ada di hatiku dan nggak akan pernah ada....”

Dia membuatku kembali melongo sementara Adrian mendekat padaku sambil menaruh kedua sikunya di meja agar dia bisa memperhatikanku lebih dekat. Sikapnya terlalu manis dan jujur aku sama sekali nggak pernah dipandangi selembut itu; bahkan oleh Sidney.

“Aku pernah melihat kamu pergi dariku ratusan kali, Saira. Ada yang lebih buruk dari itu?” dia berkata. “Hatiku sakit dan itu lebih dari sekedar menyiksa diri dengan berpikiran negatif, curiga apalagi cemburu. Karena aku pernah tahu siapa yang kamu pikirkan di saat aku tersiksa sendirian. Aku pernah lihat gimana kamu mengejar orang lain di depan mata kepalaku sendiri. Aku juga pernah merelakan kamu sepenuh hati hanya agar kamu bisa bersama dengan dia. Aku pernah berpikir bahwa aku sudah nggak punya harapan. Aku pernah berhenti berharap bahwa kamu akan kembali.”

Kata-katanya membuat air mataku menetes. Aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu sering pergi darinya karena akhirnya aku kembali.

“Rasa cemburu atau curiga sekali pun nggak ada apa-apanya dengan semua kepedihan itu,” dia melanjutkan sambil mengusap air mata di wajahku dengan pelan. “Aku percaya kalau kali ini kamu nggak akan pergi lagi dariku karena kamu yang datang padaku. Terus kenapa aku harus berpikiran jelek soal kamu?”

“Terima kasih...,” ucapku mulai terisak.

“Aku juga pernah melakukan kekeliruan yang besar terhadap kamu,” dia berkata sambil mengelus pipiku dan menatapku sedih. “Kalau saja aku nggak menyuruh kamu ke Sydney, semua ini nggak akan terjadi....”

“Ad, kita udah pernah bahas itu sebelumnya. Itu nggak benar...”

“Karena itu kita akhiri saja semua itu....,” katanya. “Kalau aku bisa melepaskan kamu dari keharusan yang dibuat oleh Mama-mu, kenapa nggak, Saira?”

Aku mengangguk-angguk. Adrian benar sekali.

Tapi, aku tertawa di sela tangisku. “Mama pasti histeris kalau tiba-tiba aku bawa kamu ke rumah,” jawabnya. “Mama nggak semudah itu langsung percaya....”

“Maksud kamu?”

“Hubungan aku sama Mama cukup rumit. Aku belum mau pulang karena kalau kita datang secepat ini, artinya Mama menang.”

“Tapi, kamu jadi nggak bisa ketemu Sunny ‘kan?”

Aku mengangguk mengerti. “Aku selalu punya cara kok,” jawabku meyakinkannya.

“Jadi, kamu belum mau pulang?”

“Adrian, bukannya aku nggak mau dengerin saran kamu sih. Tapi... aku yakin nanti akan ada syarat tambahan lagi dari Mama. Aku capek dengan semua itu....”

“Aku sih nggak masalah,” jawab dia, menatapku lekat-lekat sambil tetap memegang tanganku. “Karena aku senang kamu bisa tinggal lebih lama.”

Setelah selesai makan siang, kami pun segera meninggalkan restoran dan menuju halte busway terdekat. Adrian memang seorang dokter yang sukses, tapi dia lebih suka hidup sederhana. Itulah yang menarik darinya. Dia mengajarkanku arti kesederhanaan yang sesungguhnya; seperti yang Ananda pernah tunjukan padaku.

Aku telah melangkah keluar dari kotak yang dibuat oleh Mama sejak lama tapi baru kali ini aku merasa begitu bebas. Kami berjalan kaki dengan gembira di sepanjang pedestrian sambil membicarakan restoran tradisional yang enak khususnya warung nasi Padang. Hal seperti ini nggak pernah kumiliki saat bersama Sidney yang benci jalan kaki; dia mengikutiku dengan terpaksa karena nggak ingin aku melarikan diri.

Sedikit demi sedikit, aku mulai berhenti membandingkan. Mungkin karena aku mulai menyadari bahwa Sidney nggak pernah memberiku apa yang Adrian sekarang berikan dan itulah yang sebenarnya aku kubutuhkan; sebuah kepercayaan dan keteguhan hati yang kuat.

Hujan mengguyur dalam perjalanan pulang di atas busway. Meski pun gelap di luar sana, semangat  nggak luntur oleh air hujan. Perjalanan singkat itu terasa menyegarkan oleh tetesan air yang membasahi kami setelah turun dari busway dan masih harus berjalan kaki menuju rumah. Aku tahu salah satu dari kami atau dua-duanya akan terserang masuk angin dan flu tapi membayangkan mie instan legendaris tanah air dan secangkir teh di rumah membuat kami berlarian di sepanjang gang karena tidak sabar. Dan begitulah aku membiarkan dia menyentuhku untuk merasakan ada cinta yang lebih manis....

***

Dinding tinggi sekalipun nggak bisa menghalangiku. Mengingat semua yang telah kulalui untuk bisa sampai pada detik ini, aku merasa seperti telah kembali dari neraka dunia. Aku telah melewati masa-masa yang sulit tapi perjuangan masih tetap berlanjut untuk jalan terjal yang lain. Masalah memang nggak pernah habis, ia selalu datang lagi dengan wujud yang berbeda-beda.  Adrian bilang seperti itulah kehidupan seharusnya.

Dulu, pikiran mudaku pernah mempertanyakan apakah aku ini orang yang hidup karena semuanya datar-datar saja. Sekarang, aku memahami mengapa kehampaan itu ada di hatiku karena hidupku yang dulu nyaris tanpa masalah.

Dan sekarang, inilah kehidupanku yang sesungguhnya. Melompat dan memanjat pagar lagi. Bedanya waktu SMA aku melompati pagar karena ingin bolos dari sekolah, sekarang? Aku harus masuk ke lingkungan sekolah untuk menemui Sunny. Untuk memberitahunya aku akan datang setiap sebelum pulang sekolah di halaman belakang.

Aku menelusuri koridor yang masih kosong karena pelajaran belum usai sambil sesekali memperhatikan sekitar. Menyusup diam-diam nggak pernah semenegangkan ini. Aku ingat saat-saat aku menghindari Sidney di sekolah karena nggak ingin dia melihatku. Itu juga menegangkan sekaligus menyedihkan di saat yang sama aku hanya bisa menyaksikannya bicara dengan gadis lain dari kejauhan.

Ya, sekolah selalu mengingatkanku pada masa lalu. Terkadang aku ingin kembali untuk mengubah banyak hal. Beberapa saat kemudian aku seperti melihat diriku yang mengenakan seragam putih abu-abu berlari menembus keramaian mengejar seseorang.

Sidney terlihat berada di ujung sana dan dia menoleh saat aku tiba di hadapannya. Lalu semua itu buyar oleh satu suara; bunyi bel yang menandai berakhirnya semua pelajaran hari ini.

Dengan kasak-kusuk aku mencari titik persembunyian di mana aku bisa mengawasi kelas Sunny.

Aku menunggu keramaian itu berlalu sembari memperhatikan setiap wajah anak-anak yang lewat dari balik sebuah pintu ruangan kosong. Bahkan hingga anak terakhir keluar dari kelas Sunny, aku belum juga melihatnya. Seorang guru perempuan membimbing anak itu ke halaman depan menuju jemputan yang pasti sudah menunggu.

Setelah memastikan koridor itu kosong, aku memberanikan diri menengok langsung ke dalam kelas. Dan ternyata kelas itu benar-benar sudah kosong.

Aku sangat kecewa bahwa mungkin Sunny nggak datang hari ini. Pasti karena kemarin aku berusaha menemuinya dan Mama berpikiran aku akan membawa Sunny kabur kalau aku punya kesempatan. Padahal sudah susah-susah melompati dinding itu dan percobaan pertama hingga akhirnya aku berhasil juga -yang tak terhitung lagi kalinya, ternyata kembali sia-sia.

Dengan kecewa aku memutar badanku. Aku nggak tahu apa aku sanggup melompat lagi karena sakit dan nyeri pada semua anggota gerakku baru terasa. Aku pikir ini akan membuatku dilempar keluar dari lingkungan sekolah dan setelah ini pasti Mama akan memindahkan Sunny ke sekolah lain hanya agar aku nggak bertemu dengannya lagi.

Tapi, pikiranku terlalu mudah putus asa.

Sunny sudah berada di hadapanku setelah aku memutar badan dengan lesu dan hendak keluar dari kelas.

Anak itu melongo, menatapku seakan nggak percaya. “Mama?” dia memanggilku dan aku segera berlari untuk memeluk dan menciumnya. Aku memejamkan mataku rapat-rapat untuk merasakan bahwa ini bukan lamunan di siang bolong. Aku benar-benar dapat memeluk putraku; buah cintaku. Dan kilasan aku berada di hadapan Sidney, tiba-tiba kembali dalam ruang mataku yang terpejam. Aku ingin mengatakan ‘Ayo kita pergi!’

Lalu aku membuka mataku, di hadapanku adalah seorang anak lelaki; dia hadir di sini karena Sidney. Darah dan daging yang berasal dari Sidney. Meskipun dia lebih mirip denganku, nggak akan pernah bisa diingkari bahwa Sidney juga berhak atas dirinya. Tapi, aku terlalu takut Magisa akan menghancurkannya seperti dia pernah menghancurkanku. Aku akan menjaganya walau aku terpaksa harus menyembunyikannya dari Sidney selama yang diperlukan.

Tapi, aku lupa ada yang pernah mengatakan : DARAH TIDAK BISA DILAWAN.

Setelah melompati pagar menjadi rutinitas beberapa kali dalam seminggu terus berlanjut tanpa sepengetahuan Adrian, aku tidak menyangka siang itu aku menemukan Sunny bersama laki-laki itu di halaman belakang. Aku pikir itu mimpi. Aku melihat mereka berdua dari ketinggian. Aku sempat berpikir bahwa aku mungkin keliru; bisa saja itu orang lain yang postur dan wajahnya mirip. setelah aku mendarat di tanah,  rasa nyeri di kaki akibat lompatan jauh itu terasa nyata hingga benar-benar meyakinkanku bahwa dia adalah Sidney.

Ajaib bukan?  Sidney seperti paku yang ditarik oleh magnet. Dia hadir di sisi Sunny disaat aku nggak ada. Anehnya aku merasa lega di saat yang sama tubuhku tumbang oleh rasa sakit yang membuatku nggak bisa melihat Sunny atau pun Sidney.

***

“Apa ini?” Adrian menanyaiku dengan dahi berkerut sambil mengangkat siku tanganku yang nyeri.

Aku yang tengah melamunkan pertemuan kembali itu tiba-tiba sadar dan menemukan Adrian sudah datang. Perasaanku masih campur aduk karena tiga hari aku nggak bisa menemui Sunny. Adrian melarangku ke rumah karena fisikku begitu lemah karena anemia. Katanya, aku bisa mati karena kekurangan darah kalau nggak segera ditangani.

Seharusnya aku beristirahat seminggu penuh untuk mengembalikan kondisi fisikku seperti semula. Tapi,membayangkan nggak bisa melihat Sunny saja, aku nggak yakin bisa sembuh. Aku ingin sekali bertemu dengannya walaupun sebentar.

Adrian masih mengamati siku tanganku dan aku baru sadar bahwa ada guratan merah di sana. Aku selalu mendapatkan memar itu setiap aku gagal melompati pagar. Aku sedikit takut karena Adrian curiga dan mulai memandangiku dari ujung kaki ke ujung kepala.

“Kenapa bisa begini?” dia bertanya lagi.

“Aku... nggak sengaja kebentur sendi pintu...,” jawabku, berusaha menghindari tatapannya.

“Kebentur berkali-kali?” Adrian mengerutkan dahinya. Tentu saja dia nggak akan mudah percaya. Dia juga sudah menemukan memar itu di lututku saat aku terbaring lemah di rumah sakit selama dua hari. “Aku nggak mau menuduh kamu berbohong lagi tapi kamu sudah tahu kalau aku nggak bisa percaya jawaban kamu.”

Aku diam. Apa yang harus aku katakan? Jika aku berterus terang, apa mungkin menghindari mengungkapkan kenyataan bahwa aku bertemu Sidney lagi? Aku nggak ingin Adrian tahu itu karena dia pasti akan kecewa lagi walaupun aku sudah memantapkan hati untuk memilih dirinya. Adrian selalu cemburu akan Sidney dan dia sudah berdamai dengan masa laluku dengan menerima diriku yang sekarang.

“Dari mana memar-memar itu, Saira?” Adrian mendesakku lagi.

Aku menghembuskan nafas. Kalau sudah begini apa yang bisa kukatakan selain mengakuinya saja?

“Aku.. cuma berusaha untuk ketemu Sunny...,” jawabku tertunduk cemas.

“Dan?” Adrian tampak meunggu tidak sabaran tanpa mengalihkan tatapannya dariku.

“Aku... aku memanjat pagar belakang sekolah...,” jawabku dan seketika kudengar Adrian mendecak kesal.

Dia pasti marah.

“Aku nggak punya jalan lain, Ad...,” kataku berusaha membela diri saat Adrian mulai mondar-mandir menahan kesal.

“Kamu punya, Saira!” dia menegaskan sambil menghampiriku dengan mata setengah melotot. Emosinya begitu mudah tersulut?

Aku nggak percaya aku bisa membuatnya marah setelah dia begitu sabar selama ini. Adrian belum pernah marah padaku. Kalau pun ada hal yang nggak dia sukai, dia lebih memilih diam dan kemudian mengajakku bicara lagi seolah nggak ada kejadian.

“Semua ini berakhir kalau kamu nggak keras kepala!” katanya, terdengar menyalahkan.

Aku menatapnya heran. Kenapa dia bicara seperti itu padaku? Bukankah aku sudah mengatakan alasan kenapa aku pergi dari rumah dan pertama kali aku datang ke sini dia tampak memahaminya?

“Ada jalan lain yang nggak perlu harus berliku-liku seperti ini!” kata dia.

“Kamu nggak kenal Mama-ku!” kataku.

“Aku kenal dengan baik ibu kamu setelah kamu dipenjara!” balas dia. “Aku nggak pernah melihat seorang ibu yang begitu sabar terhadap anaknya sampai seperti itu! Aku pikir setelah kamu keluar kamu bisa berubah! Tapi, kamu tetap saja keras kepala!”

Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Aku memang takut pada Adrian, tapi saat dia marah padaku seperti itu rasanya nggak adil. Dia belum sepenuhnya mengerti bagaimana hubunganku dengan Mama. Aku nggak mungkin bilang padanya bahwa alasan lain Mama nggak suka Adrian karena dia membantuku menyembunyikan Sunny selama bertahun-tahun.

“Semuanya masih bisa dibicarakan, tapi kamu selalu memilih melawan! Sama seperti yang kamu lakukan sekarang! Kamu memanjat pagar untuk bertemu Sunny, padahal kalau sebenarnya kamu bicara baik-baik sama Mama-mu, kamu nggak harus melakukan hal yang konyol itu! Lihat sekujur tubuh kamu! Semuanya memar seperti  dipukuli habis-habisan!” kata dia. “Aku bersabar karena aku yakin aku bisa membuat kamu berubah dengan caraku! Tapi, aku salah! Ada satu hal di dalam diri kamu yang nggak pernah bisa kupahami!”

Aku hanya tertunduk diam. Ini bukan pertama kalinya aku diceramahi oleh orang lain yang kuharap bisa mengerti keadaanku tapi malah memaksaku melakukan apa yang nggak bisa kulakukan.

“Kamu seorang ibu, jangan menyiksa diri kamu sendiri seperti ini...,” kata Adrian lagi.

“Adrian,” panggilku untuk menghentikannya bicara dan dia tampak menyimak dengan diam sambil menatapiku. “Kamu sama sekali nggak kedengaran berusaha membuat aku berubah jadi lebih baik.”

“Apa?” dia kembali mengerutkan dahinya, tampak nggak terima dengan perkataanku.

“Di telingaku, kamu lebih kedengaran seperti Sidney,” kataku akhirnya sambil turun dari tempat tidur dan bersiap-siap meninggalkan rumah sakit itu.

“Siapa pun akan mengatakan hal seperti itu sama kamu...,” Adrian memelankan suaranya. “Jika semua orang yang kamu kenal berpikiran yang sama tentang kamu, kamu tahu itu artinya apa? Berarti ada yang salah dengan cara berpikir kamu!”

“Aku hanya ingin semua mengerti!” kataku, mengeraskan suaraku untuk membuatnya diam agar aku bisa bicara. “Aku berada di posisi yang sulit! Semua orang di dunia ini seolah memaksaku melompat ke jurang! Dan kalau aku nggak melompat ke jurang, ada lagi yang akan membunuhku!”

“Bagaimana orang lain mengerti kalau kamu sendiri nggak mau mengerti?!” balas Adrian lagi.

“Aku pikir kamu ngerti aku, Adrian!” kataku, semakin keras. “Aku tahu kalau aku bersalah pada Mama-ku! Aku tahu itu! Tapi, aku ini manusia yang gagal! Aku sudah bilang ratusan kali kalau aku nggak sanggup menjadi seperti yang Mama harapkan! Semakin Mama memaksaku semakin aku aku ingin melarikan diri! Kamu tahu itu?!”

“Melarikan diri?” Adrian terdengar sinis dan terlihat senyum merendahkan di bibinya. “Apa kamu nggak pernah sadar setiap kamu melarikan diri saat itulah masalah selalu muncul? Harusnya kamu menghadapinya, bukan malah lari! Aku ngerti inilah yang bikin kamu kehilangan banyak hal dalam hidup kamu!”

“Apa kamu bosan menghadapi aku, Adrian? Apa kamu muak sama aku sampai kamu bilang begitu sama aku?!” tantangku.

“Demi Tuhan, Saira! Kalau aku bosan atau muak sama kamu, kamu nggak akan berada di sini!” katanya. “Apa yang tersisa dari kamu untuk aku?! Apa?! Apa lagi selain sifat keras kepala kamu yang bikin aku habis kesabaran! Hitung berapa tahun yang aku habiskan cuma untuk bisa sedekat ini sama kamu kalau kamu pikir aku semudah itu merasa muak! Aku terlalu sabar, Saira! Terlalu sabar sampai kamu terus saja memaksaku untuk melihat kamu seperti ini!”

Kata-kata Adrian membuatku terbungkam. Lebih-lebih dia kelihatan sangat marah yang mana belum pernah kulihat selama mengenalnya.

Pada akhirnya, aku nggak memenangkan perdebatan dengan Adrian akan sifat dan sikapku. Karena Adrian memang benar; dia selalu benar. Aku hanya... hanya terlalu emosi dan bingung sampai ingin menangis. Aku sudah berjanji akan bersamanya tapi setelah bertemu Sidney beberapa hari lalu, aku kembali kehilangan arah. Terlebih melihat dia dan Sunny, berdiri berdampingan yang mana sebelumnya nggak pernah terbayang olehku. Dia pasti begitu mempedulikan Sunny bahkan dia nggak tahu Sunny adalah anaknya sendiri. Sidney juga pasti akan bertanya padaku siapa ayahnya dan curiga bahwa itu mungkin dirinya.

Sidney nggak bisa mempunyai anak dari Magisa. Aku merasa bersalah karena harus merahasiakannya. Tapi, justru karena itulah aku semakin takut untuk memberitahu kebenarannya. Magisa pasti nggak akan membiarkannya. Bisa saja... dia...

Aku mulai mempertanyakan kenapa Tuhan mengirimnya berulang kali ke hadapanku untuk membolak-balikan hatiku. Aku bahkan nggak menginginkannya lagi walaupun belum sepenuhnya lupa pada kenangan itu. Apa maksud semua ini?

Ketika kerinduan pada Sunny memuncak, aku meninggalkan rumah sakit tanpa seizin Adrian. Aku nggak peduli pada hujan yang mengguyur sejak tengah hari. Aku sangat yakin aku akan sembuh apabila bertemu Sunny dan satu-satunya yang bisa menolongku adalah Sidney.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments