[Ch.11] FORGETTING SIDNEY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Pembalasan Saira

Kami sama sekali nggak mengucapkan selamat tinggal ketika dia mengantarku ke bandara keesokan pagi. Kupikir itu adalah perpisahan yang paling kuinginkan walaupun hatiku nggak sepenuhnya bisa menerima. Seandainya bukan perempuan itu; aku mungkin akan mengatakan semua yang harusnya Sidney tahu. Tapi, dia adalah Magisa; perempuan itu telah menghancurkan seluruh kehidupanku. Aku juga nggak ingin dia melakukan hal yang sama pada anakku. Perempuan itu selalu punya celah untuk masuk dan menghancurkan sesuatu secara diam-diam dan rapi. Aku harus menjauhkan Sunny darinya meski itu artinya aku harus menjauhkan dia dari ayahnya juga. Itu adalah alasan yang logis mengapa aku memilih diam dan pergi.

Setelah kembali ke Indonesia, kehidupanku dimulai dari nol. Aku pulang ke rumah hanya untuk bertemu dengan Sunny yang telah berusia enam tahun lebih. Dia sudah jauh lebih besar dari saat terakhir melihatnya. Nggak ada satu tempat pun yang pantas di sebut rumah selain dari sisinya walaupun aku harus berhadapan dengan Mama yang masih belum terlalu banyak bicara denganku.

Aku merindukan kamarku di mana ada tempat tidur yang nyaman, dinding ungu yang ditempeli gambar-gambar supermodel dunia, TV dan koleksi DVD romantis yang belum semuanya kutonton. Semua itu masih di sana seakan menungguku kembali. Tapi, kamar ini sudah nggak cocok lagi untuk perempuan dewasa yang memiliki anak berusia enam tahun.

Aku menengok ke dalam lemari di mana bajuku yang menurut Mama sempit masih tergantung di tempatnya dengan rapi. Ketika membukanya, aku merasa melihat Ananda yang sedang asyik memilih baju dengan gembira. Aku juga merindukannya hingga tiba-tiba air mataku menetes. Aku duduk di tempat di mana ia pernah berada sambil memandangi sekelilingku hanya untuk mengenangnya.

Tiba-tiba Sunny sudah berdiri di pintu lemari dengan boneka kelincinya.

“Mama...,” dia memanggilku dengan cemas; mungkin karena melihatku menangis.

Aku berusaha tersenyum sambil merentangkan tanganku. “Ayo sini, Sayang...,” ucapku menantinya sampai ke dekapanku.

Sunny mendekat dan aku memeluknya dengan erat sambil menyeka air mataku. Aku bersyukur kepedihanku hampir segera berlalu.

Setelah rasanya cukup, aku pergi menemui satu-satunya sahabatku yang tersisa. Aku belum memberitahu Pevi tentang kedatanganku dan pasti akan sangat terkejut melihatku sudah hadir di depan matanya secara tiba-tiba.

Aku nggak menyangka Pevi meneruskan pekerjaanku yang dulu; seorang model. Bedanya Pevi bukan gadis sampul, dia dikontrak oleh sebuah brand baju yang cukup terkenal untuk berpose dengan koleksi gaunnya yang indah. Impian yang dia hanyutkan di dalam botol ternyata telah menjadi kenyataan; bahkan lebih dari yang ia minta. Dengar-dengar Pevi sudah sering gonta ganti pacar karena menurutnya nggak ada yang serius.

Saat kami bertemu di studio foto tempat ia sedang pemotretan, kami sempat membicarakan masa lalu sebentar. Tentang impian-impian yang kami hanyutkan bersama dan menyebutkan mana saja yang telah menjadi kenyataan. Ternyata nggak semua yang dikabulkan. Badai kehidupan membawa setiap orang ke jalan yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya.

“Gue ingat, kayaknya cuma sekali lo nulis permohonan yang nggak ada hubungannya sama Sidney,” dia menyipitkan matanya. “Waktu lo bilang mau ketemu sama bokap lo. Ya ‘kan?”

Aku tersenyum hampa sambil mengangguk. “Ya, gue lupa apa aja yang pernah gue tulis. Sebagian besarnya...,” jelasku.

“Ada banyak permohonan, Sai,” dia mengingatkan sambil menatapku hangat. Lalu memegangi bahuku. “Satu hal yang paling gue ingat adalah lo pernah bilang ingin menikah dengan Sidney....”

Aku mengangguk lagi sambil menarik nafas. Kenangan itu hampir membuatku menangis lagi. “Lo ‘kan tahu kalau gue tolol. Kuliah mau dijurusan apa? Jadi model lagi juga nama gue udah tercemar ke mana-mana. Saat itu gue merasa hanya Sidney yang bisa menyelamatkan gue dari kehidupan gue yang ngebosenin,” jelasku sambil menyeka setetes kecil di sudut mataku. Aku menatap Pevi lagi walau aku nggak sanggup menahan tangisku. “Cuma itu yang gue tahu. Karena dia keren, kaya, dan Mama gue pasti nggak akan nolak kalau Sidney ngelamar gue. Gue... naif banget ya?”

“Yaah, gue juga naif banget, Sai...,” ujar Pevi. “Gue maunya punya pacar yang romantis dan bisa menerima gue apa adanya. Akhirnya gue memang punya pacar, setelah kurus pastinya. Tapi, lo tahu apa? Gue ngerasa cowok itu cuma ngelihat dari fisiknya aja. Dia belum tentu menerima gue saat gue masih gendut, jelek, dan nggak populer. Sampai sekarang itu alasan gue nggak mau pacaran lagi untuk sementara....”

Aku diam dan mengamati Pevi yang ikutan sedih.

“Sai, lo tahu nggak, impian itu jauh lebih indah saat kita belum memilikinya?” dia berkata lagi sambil menatapku. “Setelah kita mendapatkannya, ternyata semua nggak seperti yang kita bayangin. Memang sih tanpa impian kita nggak akan berubah jadi lebih baik dan sebuah proses nggak akan mengkhianati hasil. Tapi... terkadang impian itu kejam, Sai....”

“Kenapa?”

“Karena untuk sebuah impian, terkadang kita harus mengorbankan banyak hal yang sebenarnya penting buat kita melebihi impian itu sendiri...,”

“Kenapa lo berpikiran seperti itu?”

Pevi tertawa pelan. “Tapi, lo nggak usah kepikiran soal itu,” ia berujar kemudian. “Karena di satu sisi, impian menjaga seseorang untuk terus hidup dan bertahan....”

Aku tersenyum. Dia benar sekali.

Setelah ngobrol sebentar di tempat pemotretan kami lanjut ke cafe mall yang ada di pusat kota. Rasanya sehari dua hari nggak akan cukup untuk menumpahkan segala kegelisahanku atas apa yang terjadi. Hanya Pevi yang membuatku lepas dari semua beban yang bertengger di pundakku belakangan ini.

***

“Gue terus terang...,” Pevi menatapku lekat-lekat. Tatapan matanya yang melotot itu tampak menunjukan kalau ia nggak percaya dengan apa yang baru saja kuberitahu. “sama sekali nggak nyangka kalau... Sidney dan si kawat gigi Magisa... menikah... dan gue nggak mau dengar ada embel-embel happily ever after di belakangnya.”

“Enam tahun, Pev,” jelasku mempertegas. “Mereka bertahan selama itu.”

Pevi menggeleng-geleng, masih nggak percaya. “Gue perlu tahu kenapa Sidney bisa betah menikah sama psikopat itu!” dia mulai histeris.

“Seperti yang lo tahu, kita hidup karena impian tapi  buat si kawat gigi Magisa kebohongan adalah cara dia tetap hidup...,” balasku sambil minum sodaku. “Yang pasti dia nggak pernah bilang sama Sidney kalau gue ketemu dia di bandara apalagi hal-hal jahat yang dia lakuin setelah itu ke gue.”

“Bisa-bisanya dia melenggang bebas seolah nggak ada hubungan sama kejadian yang bikin lo celaka, Sai?” Pevi masih melotot.

Aku menatapnya dengan santai. “Nggak ada yang bisa membuktikannya. Supir taksinya nggak ngaku dan gengnya Wenchester nggak kenal sama si kawat gigi Magisa. Mereka bilang gue mengarang cerita dengan melibatkan orang lain yang sebenarnya sama sekali nggak ada.”

Pevi hanya menatapku prihatin. Mungkin sudah nggak ada kata-kata baginya untuk bisa mengungkapkan perasaannya yang kesal setengah mati selain sumpah serapah, makian dan sejenisnya. Dia tahu percuma emosi karena toh si kawat gigi Magisa sudah bahagia seperti ungkapan yang paling dia benci itu, Happily Ever After.

“Dia bahkan nggak dipanggil sebagai saksi,” hanya itu yang dia katakan.

“Dia dilindungi oleh keluarga Wenchester supaya bisa terus nyeret gue ke penjara. Gue pikir itu alasan yang paling masuk akal.”

“Kenapa keluarga bule itu mau repot-repot melindungi dia? Kalau gitu apa hubungan apa si kawat gigi Magisa sama mereka?”

“Kalau polisi benar-benar niat ngebebasin gue, dia cuma tinggal ngecek penumpang pesawatnya. Pasti ketemu tapi entah kenapa ada sesuatu yang terus menghalang-halangi kebenaran dalam kasus gue. Kayaknya itu konspirasi balas dendam seolah gue ngebunuh putra mahkota kerajaan mana gitu....”

“Luar biasa ya si kawat gigi Magisa. Kayaknya mudah banget dia ketemu sama orang-orang yang seide sama dia untuk ngebalas musuh bebuyutannya....”

“Dia emang beruntung. Gue akui, Pev. Dia mendapatkan semuanya. Gue punya firasat Wenchester yang gue bunuh itu ada hubungannya sama dia karena di bandara dia pernah ngaku punya pacar bule yang bakal jemput dia ke bandara. Mungkin Wenchester orangnya.”

“Itu bisa aja Sidney ‘kan? Dia manfaatin situasi untuk ngejebak lo mumpung dia punya kesempatan! Nggak masuk akal dia minta pacarnya untuk nyulik elo!”

“Gue juga berpikir kayak gitu. Tapi, yang bikin gue jadi heran... kenapa Wenchester mau ngelakuin itu buat dia kalau mereka nggak punya hubungan?”

“Dia ‘kan jago memperdaya orang, Sai. Lo lupa?”

Aku terdiam sejenak lalu menatap Pevi serius. “Tapi, apa yang dia janjiin ke Wenchester kalau berhasil mencelakai gue?” tanyaku dan Pevi angkat bahu. “Gue pikir... keluarga Wenchester nggak sengaja mengamankan si kawat gigi Magisa karena kalau dia dipanggil jadi saksi otomatis semuanya bakal terungkap dan gue bebas. Keluarganya nggak mau gue lepas dari hukuman. Itu lebih masuk akal...”

“Hm... rumit ya? Mungkin kematian Wenchester di luar dugaan dia. Mana ada orang yang mau disuruh iseng untuk mati sih?” celetuknya terdengar gusar.

“Gue curiga kalau selain Sidney, si kawat gigi Magisa juga dekat sama bule itu.”

“Harusnya waktu ketemu sama Sidney lo nanya apa si kawat gigi Magisa masih perawan saat dia nikahin? Kalau nggak berarti bisa jadi si bule itu yang punya kerjaan lebih dulu! Tahu ‘kan di barat sono bebasnya kayak apa. Bisa aja tuh bule galau karena diputusin tiba-tiba karena si kawat gigi Magisa tiba-tiba dilamar Sidney! Bisa jadi juga tuh bule mohon-mohon ke si Magisa akan ngelakuin apa aja asalkan dia balik! Dan pas ketemu sama momen ddi bandara, si Magisa manfaatin dia! Itu bisa aja, Sai! Bonusnya tuh bule mampus di tangan lo!”

Aku tercengang. Kali ini menatap Pevi nggak percaya. “Kenapa gue nggak pernah kepikiran sampai ke sana ya, Pev?” tanyaku padanya.

Pevi mendecak kesal. “Gue hafal banget sama sifatnya dia yang rapi dan terorganisir! Lagian dia arsitek ‘kan? Arsitek memang jago merancang segala hal!” katanya. “Gue sempat dengar dari teman-teman kalau si kawat gigi Magisa itu ngotot pingin kuliah di Australia padahal ortunya nggak mampu untuk ngebiayain dia. Dan lo tahu, setelah lulus SMA dia berubah jadi angsa yang ngincar orang-orang kaya! Di Australia sana dia tinggal di apartemen bagus, lo pikir siapa yang ngebiayain dia? Pemda? Hah! Gue nggak yakin yang ngebiayain itu Sidney setelah dengar cerita lo mereka itu nggak pacaran dan tiba-tiba Sidney melamar. Si kawat gigi Magisa memang seduktif tapi dia nggak ngemis karena kalau dia minta sesuatu dari Sidney pasti bikin tuh orang il-feel sama dia! Satu hal yang kita tahu pasti, dia terobsesi banget sama sesuatu yang bikin lo hancur! Gue yakin, dia ngejar-ngejar Sidney setengah mati cuma untuk ngebuktiin ke elo kalau dia bisa lebih daripada lo dengan mengambil apa yang lo cintai!”

Dan Sidney termakan semua omongan itu.

“Apa lo bilang sama Sidney soal Sunny?” tanya Pevi kemudian tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

Aku menggeleng.

Pevi kedengaran menghembuskan nafas lega. “Syukur deh. Gue nggak kebayang gimana dia tahu kalau Sidney punya anak dari lo,” kata dia. Ternyata pembicaraan itu masih ada hubungannya dan dia juga merasakan kecemasan yang sama denganku.

***

Setelah mengobrol sambil makan siang di mall, aku sempat menemani Pevi berbelanja baju dan kebetulan yang kukenakan sangat jauh dari sosok ‘Saira’ yang pernah dia kenal. Pevi ingin mengembalikan sosokku yang dulu; paling tidak gayanya karena menurutnya masih belum terlambat menjadi seorang hot mom yang kekinian. Aku hanya perlu ke salon, memotong rambut dan melakukan sesuatu dengan kulitku yang kusam.

“Eh, by the way, lo belum nemuin Adrian sejak balik ke sini?” tanya Pevi saat kami dalam perjalanan menuju rumahnya dengan taksi.

Aku ingat, aku kembali mengacaukan situasi dengan Adrian baru-baru ini sehingga aku masih enggan untuk mendatanginya dan menjelaskan yang sebenarnya. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan ekspresi lelah.

“Gue nggak pernah lagi ketemu Adrian lagi lho belakangan ini. Kayaknya dia sengaja banget gitu, menghindari gue. Entah karena gue pingin tahu banget dan dia masih belum pegang kepastian apa-apa dari lo,” jelas dia, nyerocos lagi.

“Itu dia masalahnya...,” kataku sambil menyapukan helaian rambut poniku yang panjang ke belakang. “Gue... mungkin bikin dia kecewa berat lagi deh kali ini....”

“Lo nggak bilang supaya dia ngelupain lo karena lo udah ketemu lagi sama cinta mati lo di Australia ‘kan?”

Aku menggeleng dan kembali gelisah sambil mengMagisat kuku dengan tangan gemetaran.

Pevi menatapku curiga. “Adrian udah tahu kalau lo ketemu sama Sidney di sana?” dia mengulang pertanyaannya lagi.

Aku mengangguk pelan kali ini sambil memejamkan mataku untuk menenangkan perasaanku. “Gue nelpon dia pakai handphone-nya Sidney...,” jawabku.

“Apa?!” Pevi menjerit sampai supit taksi ikut kaget. Dia menatapku sambil melotot. “Lo sinting?!”

“Gue nggak bisa apa-apa. Tiket pulang dicuri. Uang juga gue nggak punya, Pev. Gue juga nggak nyangka ketemu Sidney. Saat itu gue pikir, Adrian bisa bantuin gue pulang. Paling nggak setelah itu gue niat menerima lamaran dia... tapi... gue nggak punya pilihan....”

“Terus Sidney tahu lo nelpon Adrian?” Pevi masih melotot padaku. “Lo cerita juga ke Sidney kalau ada cowok yang mencintai lo lebih dari dia?”

“Sidney nggak tahu soal Adrian... waktu gue pakai handphone Sidney gue bilang mau telepon bokap...,” jelasku, berusaha terlihat cukup khawatir agar Pevi nggak terus-terusan melotot. Aku tahu yang aku lakukan salah. “Saat Adrian nanya gue pakai telepon siapa, gue jawab dengan jujur kalau gue ketemu Sidney.....”

“Reaksinya gimana?”

“Adrian nggak komentar tapi gue tahu kalau dia... kecewa. Terus dia matiin teleponnya gitu aja....”

“Sumpah ya kenapa gue bisa punya teman cakep tapi begonya nggak ketulungan kayak lo, Sai?! Ngapain lo minta tiket pulang ke Adrian kalau udah ketemu sama miliarder yang juga jatuh cinta setengah mati sama lo?! Toh juga pulangnya dibayarin Sidney!”

“Gue... gue... cuma kepikiran untuk menghindar. Gimana pun gue udah janji bakal nemuin Adrian secepatnya... gue cuma nggak mau berubah pikiran hanya karena ketemu Sidney....”

“Dan nyatanya lo berhasil nostalgila bareng dia!” Pevi bertambah histeris. “Sekarang jawab dengan jujur ke gue, selama itu kalian ngapain aja?”

Jantungku berdebar keras saat Pevi kembali menyipitkan matanya. Aku nggak menyangka Pevi bisa setajam itu terhadapku walaupun nyaris nggak bisa menyembunyikan apa-apa. Aku merasakan kekalahanku pada kecurigaannya.

“Gue ke... Sydney Opera House aja...,” jawabku menghindari tatapannya tapi Pevi masih mengincar arah tatapanku.

“Yakin?” dia mendesakku. “Nggak ada sesuatu yang lain misalnya?”

“Nggak ada...,” jawabku cemas.

“Gue nggak percaya! Tujuh tahun, Saira. Lo nggak ketemu Sidney William Adams yang bikin lo nggak bisa mengendalikan masa puber lo!” dia semakin tajam saja mencecarku. “Nggak mungkin dia puas hanya dengan ucapan terima kasih! Setelah dia tahu lo dipenjara, nggak mungkin dia bisa nahan diri untuk nggak meluk-meluk lo... itu bullshit! Dia ‘kan setengah bule, pasti main cium-cium ‘kan?!”

“Lo apaan sih?!” teriakku panik. “Kenapa lo malah maksa-maksa gue?!”

Pevi tersenyum sinis. “Tuh ‘kan. Bener!” dia menunjukku sambil tertawa.

“Lo mau bikin gue malu di depan supir taksi?!” balasku sampai supir taksi kembali melirik lagi dari kaca spion.

“Iyeee!” celetuknya sambil menyandarkan punggungnya dan mengalihkan pandangan ke luar. “Nggak semudah itu buat lo menghindari pesona cowok magang yang bikin satu sekolah histeris karena kedatangannya....”

“Gue dan Sidney nggak akan kembali bersama, Pev...,” kataku meyakinkannya.

Pevi kembali mendesah berat. “Terus sekarang gimana? Sidney udah balik ke istrinya dan sayang-sayangan lagi sementara lo udah bikin satu-satunya cowok yang mencintai lo dengan tulus benar-benar berhenti berharap...,” gerutunya.

“Gue juga bingung...,” gumamku. “Kemarin Sunny juga bilang mau ketemu Pak Dokter-nya, tapi gue nggak berani janji.”

“Ya sih, Sunny dekat banget sama Adrian. Mungkin udah dianggap kayak bapaknya sendiri. Tahu ‘kan itu boneka kelinci yang udah lusuh selalu dibawa ke mana-mana? Boneka itu Adrian yang kasih pas dia baru lahir. Selama tinggal sama gue ‘kan juga Adrian yang ngasih kita duit buat beli semua kebutuhannya Sunny. Kurang apa lagi coba sampai lo berani nelpon dia dari handphone orang yang bikin dia cemburu?”

“Tapi, gue sama Sidney selesai. Nggak ada alasan lagi buat ketemu....”

“Ya udah deh. Gue punya ide. Lo bisa jadiin Sunny alasan untuk ketemu sama Adrian lagi,” usul Pevi yang membuatku memeluknya sangat erat di dalam taksi; lagi-lagi supir taksi yang kepo mengintip lewat spion.

“Gue cinta sama lo, Pev!” teriakku.

“Lo bullshit!” celetuknya berpura-pura cemberut sebelum ia tertawa membalas pelukanku.

***

Sebelum jam lima kami sudah sampai di rumahnya Pevi; di mana orang tuanya tinggal dan pernah mengasuh Sunny. Rasanya orang pertama yang pantas kutemui lebih dulu adalah Mama-nya Pevi. Taksi berhenti nggak jauh dari gang rumah Pevi karena jalan sempit nggak ada mobil yang bisa masuk. Kami harus jalan kaki sekitar 50 meter lagi untuk sampai ke rumahnya Pevi.

Tapi, kami nggak menyangka akan dihampiri oleh seseorang yang paling nggak ingin kulihat saat ini. Magisa, si kawat gigi Magisa.

“Senang banget ya bisa lihat kalian reunian lagi,” tegur dia dengan tatapan angkuhnya. Si cupu berkawat gigi Magisa itu sudah jauh berubah. Tampilannya ala nyonya kaya dengan barang mahal sekujur badan; mulai dari sepatu hingga rambutnya yang sekarang dicat pirang.

“Iya senang banget bisa reunian sama teman lama daripada keluyuran sendirian nggak jelas,” balas Pevi.

“Sorry, apa gue kenal lo?” dia bertanya sambil bertolak pinggang pada Pevi. “Eh, lo si Pevita gendut ‘kan?”

“Eh iya, lo si kawat gigi Magisa yang punya mading tukang fitnah ‘kan?” balas Pevi sambil ikut bertolak pinggang. “Mau apa lo ke sini?”

Wajah Magisa berubah cemberut. Kekesalan tampak memadat di sana seakan ia ingin menghampiri Pevi dan menjambak rambutnya. Tapi, ia berdiri tegap dan berusaha tidak gentar.

“Lo mau apa ke sini?” tanyaku sambil memutar mataku. Aku ingin segera pergi sebelum kesialan kembali terjadi padaku.

“Jangan pura-pura nggak tahu alasan kenapa gue ke sini, Saira!” tantangya dengan nada sinis. “Lo pikir gue bakal diam aja setelah tahu kalau lo sempat-sempatnya tidur bareng suami gue di hotel? Dasar lacur lo!”

Pevi terkekeh. “Kenapa lo malah nyari Saira? Kenapa nggak tanya langsung aja sama suami lo?” celetuknya. “Mungkin aja dia masih cinta sama Saira karena toh dia kawin sama lo kepaksa dan nggak mau lagi dikutin ke mana-mana sama lo!”

“Gue nggak ngomong sama lo! Jangan ikut campur!” teriaknya sambil menunjuk-nunjuk Pevi.

Pevi hampir saja maju untuk menjambak rambutnya saat aku menarik kembali Pevi untuk menjauh. Justru aku yang maju beberapa langkah untuk menghadapinya. Aku sudah muak dengan perempuan ini.

“Jadi setelah lo tahu, lo mau apa?” balasku, sambil ikut bertolak pinggang. “Lo mau ngerayu siapa lagi buat nyulik gue terus ngebunuh gue?”

Magisa memperlihatkan senyum sinis. “Lo ngebales gue rupanya?”

Aku tersenyum. “Apa ya namanya?” balasku. “Lo boleh pakai barang mahal atau ke salon ekslusif buat merubah penampilan lo, tapi di dalam sana hati lo tetap aja busuk. Walaupun lo udah nggak pakai kawat gigi Magisa, tetap aja lo itu adalah dia, si kawat gigi Magisa yang paling menyedihkan di sekolah. Semua orang berubah, tapi lo? Lo tetap aja seorang pembohong!”

“Lo jangan macam-macam sama gue, Sai!” dia mulai menunjukku dengan ekspresi geram. “Gue bisa menghancurkan kehidupan lo sekali lagi kalau lo berani mengganggu Sidney!”

“Dasar freak lo ya!” celetuk Pevi di belakangku lalu tertawa meledek.

Aku ikut tersenyum. “Lo jangan sok deh, Magisa!” kataku. “Lo pikir Sidney menikahi lo karena cinta? Lo itu nggak lebih dari sekedar pelarian buat dia karena kepergian gue! Lo mau nyangkal? Kalau nggak, kenapa dia masih aja tergoda sama gue? Enam tahun lalu lo pura-pura di depan gue supaya masuk jebakan lo, dia nggak bakal tahu itu nanti? Gue bisa bikin dia ninggalin lo kalau gue mau! Tapi, maaf ya, gue nggak serendah itu karena gue nggak mau disamain sama perempuan kayak lo!”

Aku nggak tahu dari mana kata-kata yang kuucapkan dengan amarah meledak-ledak itu. Tahu-tahu bibirku nggak bisa berhenti mengatakannya. Tapi, di dalam hatiku, aku tahu bahwa itu kukatakan hanya untuk memanas-manasi Magisa yang mulai terpancing emosi.

“Lo udah salah banget nyerang gue ke sini,” kataku pelan dan dalam. “Sampai kapan sih lo mau bohongin orang?”

“Diem lo!”

Aku tertawa untuk membuatnya terganggu dan menarik mundur dirinya. 

“Dulu lo bisa seenak jidat memfitnah gue! Sekarang kalau lo mengganggu kehidupan gue lagi, gantian gue yang bikin lo nyesal!” ancamku hingga akhirnya dia mundur lalu memilih pergi dengan mobil sedan mahalnya.

Aku yakin di rumah dia akan membuat skenario baru untuk Sidney agar kisahku nggak menyentuh keutuhan pernikahan mereka. Tapi, aku sudah nggak peduli.

“Gue senang lo bisa ngebalas dia juga akhirnya,” kata Pevi, “dengan kata-kata yang nggak bisa dia balas.”

“Gue bakal ngelindungin anak gue,” jawabku dengan pasti. “Walaupun ada seribu orang Magisa Sunariya di dunia ini....”

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments