๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rahasia Sidney
Dua orang sipir wanita berbadan tegap dan besar berdiri di depan selku saat aku berdiam diri di sudut tempat tidur sambil memandangi foto-foto Sunny yang dikirim oleh Pevi melalui surat. Salah seorang membawakan sebuah kardus yang tampak berat sedangkan yang satunya lagi membukakan pintu agar rekannya bisa memberikan benda itu kepadaku.
Lagi-lagi mereka bicara tapi aku nggak mengerti. Kedua orang itu kemudian saling berbicara dan tertawa meledek; mungkin setelah enam tahun mereka sangat jarang mendengarku berbicara. Andai aku bisa bilang di sekolah aku terkenal dengan kebodohanku dalam hampir semua mata pelajaran lebih-lebih Bahasa Inggris, mereka pasti akan tertawa lebih keras. Lagipula di sel ini aku selalu sendirian dan akan lebih baik aku nggak pernah tahu tentang apa yang mereka bicarakan tentangku. Berbicara dengan mereka hanya membuatku tertekan dengan ketidakadilan yang harus kuterima hanya karena membunuh putra seorang taipan kaya. Mereka cenderung menutup mata atas kasusku. Begitulah.
Sipir itu menaruh kardus itu di atas tempat tidur reyot yang menjadi saksi bisu saat aku mendamba pada hari ini; hari kebebasanku. Aku akan meninggalkan semua yang ada di sini dengan membawa pulang semua kenangan buruk yang akan selalu terpatri di benakku.
Setelah mereka meninggalkanku, aku beringsut ke sisi tempat tidur di mana kardus itu berada. Dari luarnya aku bisa langsung menebak. Mereka mengembalikan semua barang-barang yang nggak boleh kumiliki selama di penjara; baju-bajuku yang mungkin akan kebesaran jika kukenakan sekarang; aku merasa lebih kurus dari yang pernah kuingat. Tapi, aku cukup terkejut saat menemukan tiket penerbangan Sydney – Jakarta serta beberapa lembar uang dolar Australia di dalam sebuah amplop yang ditumpuk paling atas.
Aku nggak tahu siapa yang menitipkannya. Tapi, setahuku selain Adrian dan Mama, siapa lagi? Mereka dua orang yang berkorban banyak untukku, tapi selalu mendapatkan penderitaan dariku.
Setelah kedua sipir pergi, aku segera bersiap dengan mengganti baju. Aku sudah bosan mengenakan baju oranye itu selama enam tahun. Rambutku tumbuh memanjang dengan tidak beraturan. Kulitku juga sudah mengusam; di penjara sangat mustahil untuk bisa merawat diri. Aku pernah melihat tahanan wanita lain yang wajahnya selalu mengutuk hari. Kehidupan yang keras dan dipenjara membuat mereka nggak bisa menjadi wanita seperti selayaknya; yang harusnya lembut dan keibuan. Aku nggak ingin seperti mereka walau aku sendiri pun mulai menjadi pribadi yang pahit.
Kesialan terjadi begitu saja di dalam hidupku dan ujungnya sangat panjang. Aku pikir ini adalah hukuman karena pernah menyia-nyiakan apa yang kumiliki. Tapi, kali ini aku berharap sangat setidaknya keberuntungan bisa berpihak padaku; sekali saja. Mungkin orang-orang telah bosan dengan kepedihanku dan aku pun sudah muak dengan ketidakadilan yang menikamku berulang kali. Aku nggak ingin kehidupanku harus selalu hitam pekat seakan aku seorang pendosa yang nggak akan pernah diampuni.
Aku terlanjur memvonis diriku nggak akan pernah bahagia. Setiap aku mencoba memperbaiki sesuatu, aku malah merusaknya.
Saat melangkahkan kaki keluar dari ruang pesakitan itu aku berdoa di dalam hati; semoga kerinduanku pada rumah akan terobati dan semoga aku menemukan bahagia yang sejati bersama putraku. Tapi aku hanya sosok kecil di hadapan dunia yang kejam. Kehidupan ini telah merampas banyak hal dariku dan entah mengapa Tuhan masih saja nggak adil.
Hanya beberapa jam setelah aku menghirup kebebasan, seseorang yang kebetulan melintas di dekatku tiba-tiba merampas tas dalam genggamanku. Dia melarikan diri dengan sangat cepat dan sekalipun aku mengejarnya sekuat tenaga dia akhirnya menghilang di antara pejalan kaki yang memadati pedestrian. Aku kembali tersesat dan mulai paranoid soal itu. Setelah kehilangan tiket pulang aku hanya berputar-putar di tempat yang sama sampai rasa haus yang sangat di siang hari yang terik itu membawaku ke sebuah supermarket bernama Walmart.
Aku berpikir untuk membeli minuman kaleng untuk meredakan rasa kering di tenggorokanku. Setidaknya aku masih ingat, uang yang kutemukan di dalam kardus masih tersimpan di saku jaket hoodie-ku. Tapi, sialnya lagi; aku nggak menemukan uang sialan itu di sana. Aku memeriksa semua saku yang kumiliki.
“Brengsek!” gerutuku sebal karena menyadari uang itu mungkin terjatuh dari sakuku saat aku berlari mengejar pencuri tadi!
Tentu saja aku mulai panik. Kasir Walmart mulai menatapiku seperti hendak menagih hutang atas kaleng minuman yang kuambil di rak. Saat itulah kutemukan seseorang dari belakang antrian yang lumayan panjang itu menyalip. Aku nggak menyangka bahwa dia adalah Sidney William Adams; seseorang yang membuatku berada di tempat terkutuk ini; seseorang yang pernah kucari setengah mati untuk sebuah pertanggungjawaban atas pengkhianatannya padaku.
***
Kamu pernah tahu seperti apa rasanya tanpa sengaja menggoda seorang lelaki yang sudah beristri di luar konteks istrinya adalah orang yang menghancurkan hidupmu? Rasanya campur aduk seperti nasi Padang yang dibungkus, tapi tidak dengan rasanya. Bernostalgia dengan Sidney adalah kesalahan besar. Walaupun statusnya sekarang adalah suami dari Magisa Sunariya; nama ini benar-benar tabu bagiku di saat yang sama aku merasa pantas untuk merampas apa yang seharusnya menjadi milikku kalau aku mau. Aku bahkan nggak ingin menyebut namanya karena takut terkena sial. Jadi saat harusnya aku menceritakan pada Sidney bahwa istrinya telah menjebakku tepat sebelum pernikahan mereka, aku malah diam.
Pertanyaannya, pantaskah aku mempertanyakan cinta yang sudah dipupus oleh Sidney sendiri? Logika memaksaku untuk tetap pada tempatku; dia nggak akan menikahi Magisa kalau dia nggak mencintainya, bukan? Intinya nggak ada lelaki yang bisa membagi hatinya untuk dua orang perempuan dalam waktu bersamaan; dan kalaupun ada berarti dia brengsek. Meski pun teman-temanku bilang -dengan ngotot sekali, bahwa dia memang brengsek, aku masih berkeyakinan Sidney bukan tipe yang suka mempermainkan hati perempuan. Dia terlalu ramah; dan itu bisa saja disalahartikan oleh orang yang menyukainya; seperti Magisa. Sidney sama sekali nggak sebrengsek itu; dia hanya nggak mau mengatakan yang sebenarnya karena ada sesuatu yang dia lindungi.
Benci rasanya mengakui kebenaran yang pernah diungkapkan si kawat gigi Magisa untuk menarik simpati agar aku mendengarkannya dan masuk perangkapnya yang mengerikan itu. Tentang Maria dan mengapa mereka memakai cincin pertunangan di mana milik Sidney mungkin disembunyikannya di dalam laci yang dia nggak boleh ku buka. Semua teka-teki tentang Sidney terjawab. Tapi, aku belum siap mengungkap kelamnya kehidupanku selepas aku pergi darinya.
Hanya saja, aku mengetahui bahwa ada satu hal lagi dari kata-kata Magisa yang bukan kebohongan; Sidney mencariku sampai keliling dunia. Bayangkan dia membuatku hampir luluh dan putus asa dalam melarikan diri dari cintanya. Kami bisa saja bersatu; nggak bisa dipungkiri. Tapi, Tuhan malah mempertemukan kami enam tahun kemudian dalam keadaan yang membuatku nggak bisa kembali padanya begitu saja. Sekalipun itu Magisa; Sidney sudah menikahinya atas nama cinta.
Bila aku tetap menuntut padanya, aku akan sama seperti wanita yang merampas Papa dariku; dari Mama juga. Mama akan benci hal itu. Tapi, Sidney menunjukan bahwa segala hal tentang kami belumlah berakhir; menurutnya kami nggak pernah mengucapkan ‘Selamat tinggal’ dan pada saat dia memelukku ketika aku menangis menceritakan kepedihanku; aku mengenyampingkan semua hal yang membelenggu kerinduanku pada kenangan itu. Dia seakan ingin mengatakan bahwa menikahi Magisa mungkin adalah kesalahan.
“Jadi... apa kamu bakalan bilang sama aku di mana sebenarnya kamu menyimpan cincin tunangan itu?” aku bertanya sambil terkekeh dan seketika Sidney memalingkan wajahnya; dia tampak cukup tersinggung dengan pertanyaan itu. Tapi, aku sama sekali nggak bermaksud untuk mengungkit masa lalu. “Aku cuma ingin tahu kenapa aku nggak boleh membuka laci, lemari atau apa pun yang ada di apartemen kamu. Terus terang aku apa lagi teman-temanku jadi penasaran.”
Malam hampir mendekati dini hari dan aku sama sekali nggak mengantuk. Nggak ada lagi topik yang menarik untuk dibicarakan; tentu aku juga nggak mau membahas rumah tangganya karena masih sedikit menyakitkan. Dia pasti memiliki seorang atau dua orang anak. Sidney Junior; ah, hatiku sakit membayangkannya.
Sebelumnya Sidney sempat protes karena aku mempunyai terlalu banyak rahasia; menakjubkan aku malah merasa dia yang merahasiakan banyak hal dariku.
“Kamu nggak punya pertanyaan lain?” celetuknya; berwajah gusar. “Kenapa kita harus membicarakan semua yang sudah berlalu?”
“Karena hanya itu yang kita punya, Sid,” jawabku cepat dan tegas. “Kisah kita berada di masa lalu.” Aku nggak ingin memberikan alasan yang lebih ekstrim lagi semisal masa depannya sudah berada di tangan istrinya dan aku hanya memiliki setengah dari masa lalunya. Setelah malam ini berlalu, masa lalu itu juga akan tetap di sana tanpa bisa dirubah.
Sidney menatapku datar sehingga aku memukul dadanya dan dia sedikit menjerit karena terkejut.
“Ayolah, kamu berpikir kalau aku nggak cukup dewasa untuk mendengarkan bagaimana kamu punya pacar lebih dari dua?” ledekku sambil berbaring di sofa dan menghadap langit-langit kamar hotel bintang lima itu.
“Aku menyimpannya di dashboard mobil.” kata Sidney dengan wajah cemberut. “Kamu puas?”
Aku tertawa cekikian sambil memandangi wajahnya.
“Biasanya aku juga nggak pernah pakai cincin itu,” jelasnya lagi masih dengan wajah cemberut.
“Tapi kamu cerita sama Bu Tetty ‘kan kalau kamu udah tunangan?” aku memutar tubuhku agar bisa memperhatikan ekspresinya yang gusar itu dengan baik; aku ingin tahu lebih sehingga aku bisa menertawai bodohnya diriku di masa lalu.
“Nggak tahu cara bilangnya, tapi ibu-ibu itu memang rasa ingin tahunya tinggi sekali,” jelas dia, menatapku sebal seakan menyindirku juga. “Mereka yakin kalau laki-laki seperti aku ini nggak sendiri.”
Aku segera bangkit karena teringat satu hal lagi. “Ah ya! Aku ingat Bu Tetty minta aku ngejauhin kamu!” kataku dengan bersemangat.
Sidney mengerutkan dahinya. “Bu Tetty? Melakukan hal seperti itu?” kedengarannya dia nggak yakin kalau Bu Tetty itu bersikap seperti ibunya saja.
“Aku nggak tahu siapa yang ngadu. Tapi, dia bilang kalau yang aku lakukan itu nggak pantas,” jelasku sambil kembali berguling di sofa. “Bu Tetty tahu aku sering main ke tempat kamu.”
“Oh ya?” Sidney masih nggak percaya.
“Aku sih nggak mau nuduh ya, tapi ini pengalaman yang sering kualami berkali-kali. Ada orang yang menguntit dengan rapinya sehingga dia bisa tahu segalanya dan bersikap seperti korban di depan orang lain,” jawabku, bernada serius. “Dan... aku nggak ingin obrolan ini berlanjut karena aku nggak ingin cerita kita sampai ke Ananda....”
Sidney diam beberapa saat. “Aku minta maaf atas apa yang dia lakukan,” katanya.
Aku terhenyak dan hanya menatapi Sidney heran. Aku sendiri mulai nggak suka dengan arah pembicaraan kami. Aku sudah menghindarinya sedari tadi karena nggak ingin membongkar kegilaan Magisa; semua yang kulemparkan padanya akan kembali memantul padaku seperti yang sudah-sudah. Aku berusaha menerima kenyataan bahwa dia mendapatkan lelaki yang pernah kucintai secara sah jadi aku nggak akan menceritakan pertemuan kami di bandara. Itu akan menghancurkan Sidney juga; sekali lagi karena mereka memang menikah atas nama cinta.
Ya, aku nggak bisa mengatakan bahwa istrinya benar-benar psikopat.
“Aku sering mendengarnya...,” balasku pelan dan menyambungnya di dalam hati. Tapi aku nggak pernah mempercayainya. Nggak akan.... “Tapi, kamu nggak pantas minta maaf untuknya.”
Sidney diam lagi; sikap itu membuatku sedikitnya merasa bahwa dia sama sekali nggak tenang. Aku memandangi Sidney yang berusaha menyembunyikan gelisahnya. Dia memandangi handphone-nya yang sudah kehabisan baterai itu sesekali; dia berusaha menyembunyikan perasaan itu dariku.
“Kamu boleh pergi,” kataku. “Bukannya aku sudah aman di sini?”
Dia hanya menatapku.
“Orang-orang bisa berubah, Sid...,” kataku lagi.
“Tapi, tidak dengan cara kamu memanggilku,” balas dia.
Kali ini Sidney yang membungkamku.
“Aku gelisah karena rasa bersalahku sendiri, Saira,” dia menjelaskan.
“Itu sudah berlalu,” tegasku. “dan aku masih hidup.”
“Kamu nggak kelihatan hidup di mataku,” celetuknya.
“Dari mananya?”
Sidney lagi-lagi nggak menjawabku. Aku sibuk memandangi langit-langit yang dirancang dengan sempurna di atas wajahku. Sudah lama aku nggak berada di tempat senyaman ini. Tapi, pikiranku terhalang oleh sesuatu; wajah Sidney sudah berada di depan wajahku.
“Kamu juga berubah,” kata dia menatapku lekat-lekat.
Aku tertawa, sembari menangkup pipinya dengan tanganku. “Lebih kurus? Lebih jelek?” candaku.
Dia menggeleng pelan. “Buat aku kamu tetap cantik...,”
Aku tertawa sambil mendorong tubuhnya dariku. Lalu bangkit dengan tawa yang sama.
Sidney tampak mengeluh karena dia terjatuh menghempas lantai yang untung saja dilapisi karpet bulu yang tebal.
“Itu rayuan basi!” kataku sambil melemparnya dengan bantal sofa. “Apa sih yang kamu harapkan?”
Wajahnya masih merengut saat memandangiku. Aku mengabaikannya dengan kembali terlentang memandangi langit-langit sambil menarik kembali suara tawaku.
“Obrolan kita belum selesai dan aku nggak mau kamu main cium sembarangan,” kataku.
Sidney terkekeh pelan. “Bukannya dulu kamu suka sekali dicium?” balasnya dengan menyebalkan.
“Aura kamu itu udah nggak bisa lagi membuatku tergoda,” kataku menegaskan. “Kamu udah tua, Sid! Aku nggak tertarik karena kamu mulai berumur dan gendut.”
Kata-kata itu tampaknya berhasil membuat Sidney berkecil hati karena dia memutuskan untuk naik ke sofa yang satunya lagi dan tiduran di sana.
“Kamu belum menjawab semua pertanyaanku,” kataku lagi.
“Pertanyaan apa lagi? Kamu pikir ini wawancara kerja?”
“Aku nggak bisa tidur, Sid. Selama enam tahun aku nggak bisa tidur nyenyak. Kalau aku tertidur aku sering mimpi buruk. Aspa lagi yang bisa aku lakukan?”
Sidney mendecak. “Katakan apa lagi yang ingin kamu tahu!”
Aku mencoba mengingatnya lagi. Padahal tadi aku punya pertanyaan iseng lain yang ingin kuajukan, tapi tiba-tiba lupa; mungkin karena sedikit membahas tentang istrinya yang sakit jiwa.
“Ya, satu hal yang aku selalu penasaran dari dulu,” kataku, pertanyaan itu kembali tiba-tiba seperti aku sempat kehilangannya tadi.
“Apa?” Sidney kedengaran sudah siap.
“Siapa yang dulu pernah menelpon kamu di mobil dan kamu ngomongnya Bahasa Inggris terus juga saat kita lagi tiduran sama-sama, kamu sampai pergi keluar kamar untuk bicara?” tanyaku dan aku yakin Sidney bertambah gusar lagi. “Aku heran banget, apa salahnya kamu menelpon di dekatku toh juga aku nggak ngerti.”
Aku mendengarnya menghela nafas lelah. Tapi, aku nggak memperhatikan bagaimana raut wajahnya.
“Jawaban yang ada di pikiran kamu sekarang itu benar,” jawab dia dengan suara pelan. “Tapi, kamu nggak tahu kalau aku memikirkan kamu terlalu sering daripada siapa pun. Aku memang punya tunangan tapi aku sama sekali nggak cinta. Kamu harus tahu kalau itu ide ayahku, demi perusahaannya dan begitu semuanya kacau aku disalahkan. Perjanjian bisnis gagal dan ayahku jatuh sakit.”
Aku cukup syok dengan penjelasan itu.
“Aku kehilangan kamu sementara ayahku sama sekali nggak bisa terima dengan kesalahanku. Saat dia meninggal pun dia nggak merasa aku sudah berusaha keras untuk menjadi seperti yang dia inginkan,” sambung Sidney lagi; terdapat emosi dingin di dalam nada suaranya yang pelan itu. “Aku berada dalam situasi terburukku setelah dia meninggal aku nggak menjalankan perusahaan hasil jerih payahnya selama ini dengan baik. Aku hampir membuat semuanya hancur berantakan dan semuanya karena satu hal, Saira... kehilangan kamu....”
Sidney tampak terkejut saat aku tiba-tiba sudah berlutut di sisi sofa tempat ia berbaring menghadap langit-langit.
“Jangan dilanjutkan...,” kataku berbisik sambil memandangi wajah Sidney yang memerah karena menahan emosi. “Aku tahu apa yang akan kamu katakan selanjutnya....”
Yaitu, mengapa kemudian akhirnya dia menikahi Magisa; faktanya dia selalu ada di mana pun karena dia penguntit dan menunggu saat seperti itu untuk bisa masuk dan menyingkirkanku selamanya. Tapi, harusnya dia juga tahu bahwa dia nggak bisa menyingkirkanku dengan mudah. Aku tahu itu saat Sidney akhirnya bangkit untuk mendekapku. Sidney memelukku sangat erat hingga aku dapat merasakan detak jantungnya yang keras seakan ingin keluar dari rongga dadanya. Aku bisa merasakan nafasnya yang memburu saat kemudian dia memagutku lewat ciuman yang dulu selalu kuinginkan. Rasanya sama sekali berbeda sekali pun ini bibir yang sama yang pernah disentuh oleh perempuan sial itu; dulunya bibir ini milikku. Demikian pula dekapan hangat kedua tangannya yang kuatvini.
Tapi, malam itu adalah milik Sidney dan Saira yang selama ini hanya saling mengingat dalam kegelapan hingga cahaya mempertemukan mereka di Walmart. Aku ingat itu dengan baik. Aku nggak bisa menahan lembutnya buaian di dalam pelukan Sidney sebelum aku memastikan bahwa Sidney bukan lelaki berumur dan gendut. Dia sama sekali nggak berubah sehingga aku membiarkan kami kembali pada masa lalu.
***
Komentar
0 comments