๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Kapan magangnya selesai?” tanya dia satu kali –bahkan juga ikut merokok. Aku baru tahu dia jago merokok.
“Bukan magang,” ralatku. “Meneliti.”
“Meneliti apa?”
“Macam-macam.”
“Contohnya?”
Aku tidak menjelaskan lebih lanjut. Rasanya percuma menjelaskan pada bocah ingusan yang sok dewasa.
“Nggak sedang meneliti berapa banyak anak yang melanggar peraturan sekolah dalam setahun ‘kan?” Saira sedikit memaksa.
“Itu termasuk,” jawabku singkat sembari membuang puntung rokok lalu menginjaknya sampai asap kecil mengepul di bawah sepatuku.
“Pasti nggak seru,” putusnya.
“Apanya?” balasku, tidak tertarik untuk menjelaskan sekilas soal penelitianku padanya.
“Ya, penelitian itu,” dia sendiri juga tampak bosan. Bertanya tapi seolah tak mengharapkan jawabannya. Semakin meyakinkan bahwa tidak ada gunanya bicara dengan gadis itu. “Penelitian itu bisa bikin seseorang jadi kayak kakek-kakek yang keriput dan berkaca mata tebal.”
Dia membuatku tertawa. “Kamu lihat di mana ada peneliti yanng seperti itu?”
“Film kartun,” jawabnya singkat lalu mengepulkan asap putih dari mulutnya. “Peneliti itu biasanya kolot dan nggak bergaul.”
“Kata siapa?”
“Kataku. Barusan,” jawabnya acuh lalu membuang puntung rokoknya ke tanah dan membiarkannya terbakar sampai habis di sana.
“Kalau nggak meneliti lebih dulu, memangnya kamu pikir dari mana datangnya ilmu pengetahuan?” balasku, tanpa sadar menyulut sedikit perdebatan.
“Sosial,” jawab dia santai. “Makanya ada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ‘kan?”
“Contohnya?” aku sedikit menantangnya.
Dia melirikku. “Pergaulan,” jawab dia mantap.
“Memangnya kamu bergaul?” cetusku.
Saira hanya cemberut selagi aku tertawa.
“Oh, aku lupa. Kamu ketua geng SS itu ‘kan?”
“Aku bukan ketua geng,” bantahnya dengan tampang masam yang menurutku amat lucu, “dan aku nggak menyebutnya SS! Nggak pernah!”
“Terus?”
Untuk bagian ini, Saira diam. Dia tampak menarik diri dari obrolan kami yang melantur dan membuatnya jadi serius karena anehnya aku pun penasaran dengan apa yang dilakukan kelompok yang dijuluki Saira’s Squad itu. Mereka mulai terkenal karena banyaknya rahasia yang menyelubungi kelompok itu namun begitu banyak gadis-gadis di sekolah yang ingin bergabung.
Seakan memang penuh misteri, Saira kabur. Malam setelah pertemuan itu, aku mulai bingung dengan objek penelitianku. Dari semula aku hanya meneliti bagaimana tingkah laku anak-anak dan masalah pelanggaran di sekolah. Aku juga meneliti efektifitas dari semua peraturan sekolah yang pernah dibuat. Namun, semua itu hanya menggiringku pada pertanyaan yang klise, apakah sistem pendidikan yang sudah ada benar-benar diterapkan atau sebenarnya sekolah hanya sebagai wadah untuk bersaing tentang siapa yang bisa berada di puncak ranking? Jika sekolah hanya tentang scoring, bagaimana dengan anak-anak pintar yang tidak bisa bersaing secara akademis sementara mereka berbakat di bidang lain? Seni, olahraga dan yang lainnya. Jawaban dari semua pertanyaan itu hanya membuatku merasa bahwa tesisku amatlah biasa.
Aku tidak bisa meyakinkan Prof. Henley bahwa tesis ini benar-benar berguna. Aku pun hampir gila memikirkannya.
***
Kelompok itu disebut Saira’s Squad karena Saira yang memimpinnya. Tidak lama setelah hancurnya popularitas Saira sehingga untuk membalas Gigi, ia pun memberikan surat rahasia kepada gadis-gadis yang ia pilih untuk bergabung dengannya. Memang anggotanya masih sedikit namun gaungnya sangat kedengaran karena aktivitas rahasia yang mereka lakukan. Tidak ada yang tahu kapan dan di mana mereka berkumpul.
Aku menjadi salah satu yang paling penasaran dengan kegiatan rahasia itu sampai kemudian aku menemui Gigi –reporter sekolah yang berita-beritanya sering jadi informasi penting dan panutan.
“Dia memilih anggotanya secara acak,” kata Gigi. “Bisa aja anak yang pintar, tertutup atau kutu buku sekali pun.”
Awalnya kupikir yang bergabung hanyalah korban bully-ing tapi menurut Gigi yang juga menyelidiki gerak-gerik SS anggotanya tidak terbatas.
“Di kelasku sih ada satu,” kata dia lagi. “Anaknya nggak pendiam. Biasa aja sih. Tiba-tiba dia dikirimi surat gitu.”
“Apa isi suratnya?” tanyaku.
Gadis berkaca mata itu menatapku heran. Lalu ia angkat bahu. “Nggak tahu deh. Kayak ada kodenya, tapi aku belum pernah lihat sendiri...,”
“Kode?”
Gigi mengangguk-angguk. Sebenarnya gadis ini hanya terlihat logis dan sedikit polos. Begitulah. Walaupun aku sedikit tidak senang dengan apa yang ia lakukan terhadap Saira –yang mana itu sangat memvonis dan tidak adil, tapi melihat caranya berpikir aku cukup kagum. Dia belum pernah menulis tentang terkenalnya SS di mading sekolahnya dan ternyata ia sendiri juga berniat menyelidikinya terlebih dahulu.
“Oh ya, kenapa kakak tiba-tiba tertarik dengan SS?” tanya dia.
Aku menggeleng. “Bukan tertarik. Hanya ingin tahu,” jawabku.
“Aku masih mengumpulkan informasi,” kata dia. “Kalau Kakak butuh, aku bisa memberikan keterangan. Kakak sedang memulis tesis ‘kan?”
“Ya, maaf, sedikit merepotkan,” balasku.
“Ah, nggak repot kok! Aku ‘kan reporter sekolah. Sudah tugasku berbagi informasi dengan orang lain ‘kan?” dia meyakinkanku dengan senyum manisnya. Kelihatan behel dengan aksesoris biru memagari gigi-giginya yang tak rapi.
Aku pun mengangguk lalu tiba-tiba gadis itu mengulurkan tangannya.
“Oh ya, kita belum kenalan. Panggil aku Gigi aja ya,...” kata dia ceria. Nama panggilan yang cocok.
“Sidney Adams,” jawabku dan aku membalas uluran tangannya. “Panggil Sid aja, jangan panggil kakak. Kedengarannya aneh...”
Saat itulah Saira muncul dan melihat kami. Dia langsung balik kanan saat aku sudah melepaskan tangan Gigi. Aku tidak sadar bahwa sejak itu dia mulai menghindariku seperti sesuatu yang mengancam.



Komentar
0 comments