[Novel Romantis] Saira Ch. 18 (1/3)

🌜 Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia πŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hariπŸ₯³

Info Gambar

Scent of The Sun

Nama Saira Gayatri tertulis di data siswa milik Sunny. Benar seperti yang Anna katakan, tidak tertera nama ayahnya di sana. Saira belum berterus terang padaku dan semalam sempat terlintas pikiran bagaimana kalau akulah orang itu. Kami memang pernah melakukannya; beberapa kali dan jika aku mencocokan tanggal lahir dan kapan terakhir kali kami berhubungan, semuanya cukup masuk akal.

Tapi masalahnya kenapa Saira tidak memberitahuku? Apa karena aku sudah menikah? Apa karena dia takut akan merusak rumah tanggaku?
Baiklah, satu lagi misteri yang belum terpecahkan.
“Looks like you we’re chained with Sunny,” seseorang menegurku dan aku cukup terkejut. Rupanya Retha. “Apa kamu lihat Anna?”
“Oh?” aku tidak sadar bahwa Anna ternyata sudah tidak di mejanya. “Mungkin dia sudah kembali ke kelas.”
Aku kembali berkutat dengan data siswa yang lain. Aku perlu membacanya beberapa saat sebelum masuk kelas. Hari ini adalah kelas gambar; anak-anak biasanya suka sekali dengan kegiatan itu. Tapi, walaupun Anna tidak di tempat, Retha tak kunjung pergi. Dia masih berdiri di hadapanku; menatapiku; hingga aku risih.
“Kalau kamu mau tahu banyak tentang Sunny, aku bisa bantu,” katanya.
Aku tertawa pelan. Setahuku aku tahu lebih banyak sekarang.
“Terima kasih, Retha...,” ucapku kembali fokus pada data siswa di mejaku. Tapi, perempuan itu tiba-tiba merampasnya dariku; walaupun dengan cara yang lambat dan itu membuatku sangat heran. Terlebih dia menatapku begitu intens seolah ingin menunjukan sesuatu yang harusnya kulihat atau mungkin membuatku terpana.
Well, memang, bila dibandingkan dengan Anna yang usianya di atasku, aku dan Retha sepertinya seumuran. Dan karena aku mendengar anak-anak memanggilnya dengan Miss, dia mungkin masih single. Aku berusaha menendang jauh-jauh pikiran bahwa perempuan ini berusaha menarik perhatianku karena itu belum tentu benar. Aku tidak ingin terlalu percaya diri tapi tetap saja tatapannya itu cukup membuatku gelisah.
“Kamu terlalu memperhatikan Sunny. Ingat, Sid, muridnya ada sepuluh. Mereka bisa cemburu kalau kamu cuma perhatian sama satu orang anak saja,” kata dia, pelan dengan suara yang sengaja dibuat dalam. Dia masih menatapku seakan ingin menerkamku. “Aku juga bisa cemburu....”
Aku hanya membalasnya dengan tertawa. “Ada-ada saja...,” balasku sembari berdiri; tak sabar ingin menyudahi pembicaraan dengannya. “Aku harus kembali ke kelas. Mereka pasti sudah menunggu.”
Retha terlihat sedikit gusar. Apa boleh buat. Aku tidak ingin ‘meleleh’ oleh tatapannya yang menggelikanku.
***
“Sidney, look!” seorang anak perempuan memanggilku selagi aku memperhatikan Sunny yang tak sedikit pun menyentuh alat gambarnya.
Tampaknya Sunny tidak suka dengan menggambar.
Aku mengalihkan perhatian kepada Joana, gadis kecil berdarah Inggris itu berusaha menunjukan gambar yang dia buat. Dia berusaha mengangkat gambar itu tinggi-tinggi agar aku bisa melihatnya hingga aku harus jongkok untuk mengamati.
“This is my fluffy unicorn!” Joana menjelaskan tentang gambarnya tapi bagiku yang terlihat adalah sosok binatang yang jauh sekali dari bentuk unicorn tapi dihiasi dengan pelangi.
“That is nice, Joan...,” aku tersenyum.
“I will send it to Daddy,” dia berkata dengan logat Inggrisnya yang kental.
Tapi, aku sudah memperhatikan Sunny yang asyik dengan boneka kelincinya. Agaknya itu benda yang sangat berarti baginya; mungkin pemberian Mamanya.
“It will be lovely,” balasku lalu Joana dengan girang kembali ke mejanya. Dia mulai menambahkan warna-warna lain dalam gambarnya sementara aku merasa harus menghampiri Sunny.
Anak itu kembali murung setelah kemarin dia begitu senang bertemu dengan ibunya. Kenapa Mama Saira tega sekali memisahkannya dengan ibunya seolah-olah dia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu?
Kertas gambar Sunny masih putih bersih. Krayon-krayonnya pun masih rapi di dalam kotak. Kedua benda itu sepertinya tak pernah disentuh.
“Kamu nggak suka menggambar?” tanyaku, walau aku sudah tahu bahwa dia tidak akan menjawabku. Dia persis seperti ibunya; tapi dengan versi yang berbeda.
Dia hanya menatapku. Dia tidak peduli dengan teman-temannya yang bersemangat.
Aku beralih ke boneka kelinci yang dia pegang. “Itu dari Mama?” tanyaku.
Sunny mengangguk pelan. Hanya itu. Namun masih terlihat cemberut.
“Apa nanti dia datang lagi?” aku bertanya, rasanya aku juga ingin bertemu dengannya lagi.
Sunny tetap diam. Dari ekspresinya yang kecut, sepertinya dia tidak tahu atau tidak yakin ibunya akan datang. Mungkin saja, setiap hari memanjat pagar itu, apa dia tidak terluka? Apakah Saira tidak pernah terjatuh?
“Kamu mau ketemu Mama?” aku bertanya dan Sunny menggeleng dengan cepat.
Air muka Sunny kelihatan sedikit berubah.
“Baik, nanti kita tunggu Mama ya,” jawabku sedikit berbisik padanya. “Dia pasti datang. Kalau dia datang, nanti kamu kasih gambarnya ke Mama ya?”
Akhirnya bocah itu memberiku senyumnya. Barulah ia menyentuh krayonnya dan mulai membuat goresan di kertas gambar. Namun, tetap saja boneka kelinci itu berada di dalam pelukannya. Ternyata segala sesuatu yang membuat Sunny bahagia adalah ibunya; dan selama ini tak ada yang tahu itu. Ya, juga tak ada yang tahu bahwa Saira sering melompati pagar belakang hanya untuk bertemu putranya.
Aku mengusap kepalanya sejenak sebelum beralih ke anak-anak lain. Hingga kelas gambar selesai, Sunny tampak sedikit bersemangat.








Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments