[Novel Romantis] Saira Ch. 18 (3/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Aku pulang tepat waktu. Jam empat sore. Di mana aku menemukan Gigi sudah mulai beraktivitas. Dia terlihat di depan mesin cuci; sibuk mengurusi baju kotor yang menumpuk di dalam keranjang. Dia terlalu sibuk sampai tidak menyadari kehadiranku. Aku cukup lega.
Namun, karena Gigi tidak tahulah, aku bisa menyaksikan sendiri kebiasaan lamanya yang sebenarnya tidak bagus; yang mana pernah dia akui sendiri saat ia merasa cemburu; yaitu menciumi baju yang pernah kupakai. Dia melakukan itu untuk memastikan tidak ada bau lain yang menempel di sana. Karena menurut pemahamannya, jika aku dipeluk oleh wanita maka baunya akan lekat di bajuku.

Hanya saja aku tidak bisa menyembunyikan tawaku ketika melihat Gigi mual karena mencium pakaian kotorku. Dia terkejut dan tiba-tiba cemberut.
“Kamu masih ngelakuin hal-hal yang nggak berguna itu?” tanyaku, mencoba untuk melupakan makan malam yang rusak itu.
“Bau matahari,” jawabnya ketus dan aku tersentak. “Kamu panas-panasan?”
Sekolah tempatku mengajar adalah tempat sejuk di tengah Jakarta yang panas di musim panas. Tapi, kemeja biru langit di tangan Gigi adalah baju yang kupakai ketika aku harus mengikuti Saira yang berjalan kaki. Ironis. Tapi, bau matahari bukanlah bau yang bisa dicurigai oleh Gigi.
“Aku mengawasi beberapa anak yang main di halaman dan cuacanya terik,” jawabku; inilah pertama kali aku berbohong padanya.
Gigi melempar baju itu dengan kasar ke dalam mesin cuci berikut baju-baju kotor lainnya. Sepertinya aku kembali membuatnya kesal.
Begitu pekerjaan di mesin cuci selesai, Gigi berpindah ke dapur. Dia mencuci beberapa piring kotor dan aku mengawasinya. Sudah lama aku tidak melihatnya senormal ini. Mungkin setelah ini dia akan memasak tapi handphone-ku berbunyi.
Gigi menghentikan pekerjaannya dan sempat melirikku sejenak selagi aku mengangkat telepon.
“Hi, Reg,” aku menjawab teleponnya sambil menjauh.
Begitu mendengar nama adikku, Gigi yang tadi sempat mencurigai kembali melanjutkan cuci piringnya. Aku pun masuk ke kamar, memelankan suaraku sambil memastikan Gigi tidak akan muncul.
“How do you do?” Reggina bertanya padaku; seperti tahu bahwa aku tengah memenangkan sesuatu hari ini.
“Good,” jawabku.
“Where are you?” dia bertanya.
“Aku sudah di rumah,” jawabku.
“Bukan waktu yang tepat?” dia tahu bahwa aku sengaja memelankan suaraku untuk menghindari terjadinya perang dunia ke III.
“Tergantung dari apa yang ingin kamu bicarakan,” jawabku.
Reggina terkekeh. “Aku cuma mau bilang kalau aku, Mum dan Triz berencana berkunjung ke sana. Bagaimana pun kami harus melihat keadaan istri kamu ‘kan?”
“Oh ya? Kapan?”
“Probably next week?”
“Ok,” jawabku. “Tapi, ada hal yang ingin aku tanyakan soal penyelidikan kamu.”
“Penyelidikan yang mana?”
“Penyelidikan yang paling mengganggu yang pernah kamu lakukan.”
Reggina terkekeh lagi. “So?” dia bertanya; terdengar penasaran.
“Kamu sudah tahu segalanya?” aku memperhatikan pintu, menajamkan pendengaran.
I’m not God, Sidney...,” dia masih saja mempermainkanku.
“Bukannya kamu memang tahu segalanya?”
Adikku tertawa makin keras di sebarang sana. “Kamu harus bertanya dengan lebih spesifik,” jelasnya.
“Baik, kamu tahu siapa orang yang membuat dia dipenjara? Maksudku, dia warga negara Indonesia harusnya dia dideportasi dan menjalani hukuman di sini. Kenapa enam tahun? Dan setelah itu dia harus terlunta-lunta?”
“Robert-Wayne Wenchester, anak seorang pemilik bisnis properti terbesar di Canberra. Wenchester yang mabuk kebetulan melihat Saira yang tersesat di jalan, lalu menculik dan memperkosanya. Ayah Wenchester nggak terima putranya dituduh telah melakukan perkosaan yang mana itu membuat Saira harus membunuh dia. Kamu tahu kita yang memiliki koneksi di mana-mana bisa melancarkan banyak hal, dan seperti itu pula Wenchester. Dia menuntut Saira agar dihukum seberat-beratnya dengan membayar polisi, jaksa, atau siapapun terkait kasus itu. Dan Saira sendiri juga bukan gadis kecil miskin yang datang ke Australia sebagai imigran gelap. Ibunya berjuang mati-matian agar dia nggak dijatuhi hukuman berat. Akhirnya  enam tahun harus dia habiskan di balik jeruji besi. Tapi, Mamanya itu juga mengusahakan supaya dia nggak disatukan dengan tahanan lain. Ya, sejenis ruang isolasi khusus untuk dia sendiri sehingga dia nggak perlu bersentuhan dengan tahanan yang lain....”
“Apa lagi? Apa lagi selain itu?”
“Sid, apa kamu ketemu dia lagi?” Reggina membungkamku dengan balik bertanya.
Aku tidak langsung menjawab. Malah aku punya pertanyaan lain yang seketika terbesit di kepalaku. “Jadi kamu sudah tahu? Aku nggak yakin tapi aku merasa bahwa kamu menyusun sebuah rencana untukku karena kamu memang tahu semuanya. Kamu tahu semua hal yang belum aku tahu,” kataku dan entah mengapa adikku masih bisa tertawa.
“Sid, aku memang menyelidiki semuanya tapi nggak berarti segala sesuatu yang bahkan aku nggak tahu maksunya itu ada hubungannya denganku,”
“Jangan berbelit-belit, Reggina....”
“Ini tentang apa? Kamu ketemu dia terus apa hubungannya denganku? Aku mencarikan kamu pekerjaan yang kamu inginkan, terus apa masalahnya? Apa hubungannya dengan Saira Gayatri?”
Aku terdiam. Atau aku salah? Apa Reggina dan penyelidikannya memang tidak tahu bahwa Saira memiliki seorang anak yang kemungkinan adalah darah dagingku? Oh, aku ingat perkataan Anna di sekolah, barangkali Sunny adalah aib yang disembunyikan oleh keluarganya sehingga segala hal tentangnya adalah rahasia. Walaupun nama Saira tertulis di data siswa tidak berarti juga Reggina mengetahuinya. Reggina hanya menyelidiki riwayat Saira di Australia walau dia juga akhirnya tahu bahwa Saira sangat erat dengan masa laluku.
Lalu kenapa aku bisa mengajar di sekolah Sunny? Apa kali ini hanya kebetulan yang berbicara lagi? Terlalu banyak kebetulan hingga rasanya bukan Tuhan yang merencanakannya, melainkan manusia. Hanya saja, ini tetap membingungkan. Kalau adikku tahu Sunny adalah anakku tentu dia akan memberitahuku karena aku memang menginginkan seorang anak. Aku tahu adikku tidak akan membohongiku, apalagi ini menyangkut seorang anak manusia.
“Dia punya anak, Reggina,” kataku akhirnya. “Aku menemukannya di sekolah.”
“Oh ya?” Reggina benar-benar meyakinkanku bahwa dia memang tidak mengetahuinya.
“Aku pikir kamu memang tahu segalanya...,” aku sedikit kecewa dengan reaksinya.
“There’s a limit I can’t breaktrough...,” dia berkata dengan pelan hingga aku tertegun.
Aku harus menanyakan sendiri padanya jika nanti aku bertemu Saira. Aku harus tahu dan walaupun itu bukan aku, aku tetap harus tahu.

***





Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments