[Novel Romantis] Saira Ch.18 (2/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Seperti yang aku janjikan pada anak malang itu, aku menemaninya menunggu di halaman belakang setelah bel pulang berbunyi. Aku sudah berpesan pada Anna agar menelponku apabila supir yang menjemput Sunny datang. Anna tampaknya setuju walaupun pada awalnya heran kenapa Sunny bisa dekat de
nganku. Katanya aku sudah cocok menjadi seorang ayah.
Ya, seorang ayah. Harusnya begitu. Tapi, aku tidak bisa menjadi seorang ayah... dan andai saja Sunny adalah putraku... ah, itu tidak mungkin.
Aku harus bertanya pada Saira saat bertemu nanti dan dia harus menjawabnya kali ini setelah kemarin dia memberiku ekspresi yang misterius; diam dan bersikap tak ingin membahasnya. Walaupun itu akan terlihat konyol. Setidaknya, perasaan ini tidak menggelisahkanku. Dia tidak tahu seberapa besar keinginanku memiliki keturunan.
Hanya saja bagaimana dengan Gigi? Apa dia bisa menerimanya? Tapi, mau tidak mau itulah kenyataannya. Bukankah Sunny juga sudah hadir sebelum kami menikah, bahkan sebelum kami berpacaran. Aku dan Saira sempat menjalin hubungan walaupun singkat dengan ending yang menyakitkan.
Pikiranku semakin kacau saat aku memandang ke pagar itu. Aku menunggu dengan penuh harapan; terlebih Sunny yang kembali berwajah cemberut.
“Apa biasanya Mama telat?” aku bertanya, tak berharap dia akan menjawabku.
Bisa saja Saira mempunyai urusan lain ‘kan? Tapi, aku juga tidak yakin. Dia tentu tidak akan melewatkan kesempatan sekecil apa pun untuk bisa bertemu putranya ‘kan?
Sunny masih diam.
“Kamu tahu Mama tinggal di mana?”
Anak itu hanya menggeleng.
“Kamu juga nggak tahu Mama tinggal dengan siapa?”
Tiba-tiba Sunny meneteskan air mata namun segera ia tepis. Ia berusaha memandang dengan mantap. Sepertinya dia tidak suka ada yang melihatnya menangis. Dia berusaha untuk terlihat kuat; anak lelaki.
“Apa Mama datang setiap hari?” aku bertanya lagi.
Sunny menggeleng.
Kami menunggu hingga sepuluh menit berlalu. Tapi, Saira tak pernah melompat dari pagar itu. Dia tidak muncul. Aku tak tahu siapa yang lebih kecewa antara aku dan bocah itu. Namun, kami terlihat sama ketika akhirnya aku harus menggendong Sunny.
Saat itu Retha muncul dan mendapati Sunny menangis.
“Sunny kenapa?” tanya dia dari kejauhan.
“Jangan bilang bu guru...,” Sunny berbisik padaku, aku cukup terkejut karena itu pertama kalinya dia bicara kepadaku. Sepertinya dia takut kalau aku akan membongkar rahasia kecilnya.
“Hm... Sunny menjatuhkan bonekanya, dan dia sedih,” jawabku sedikit asal namun Retha tampak mempercayainya begitu saja.
“Ya sudah. Ayo, Sunny, Pak Didi sudah datang,” kata dia.
“Pak Didi?” aku bertanya, siapa itu?
“Pak Didi supir keluarga,” jawab Retha. “Dia bertanggung jawab untuk mengantar jemput Sunny sekolah. Sepertinya kamu harus bertemu dia.”
“Ya,” aku menyanggupi sambil tetap menggendong Sunny dan membawanya ke halaman depan. Aku merasa berat untuk menurunkannya. Anak itu berpegangan padaku dengan erat seakan tak ingin naik ke mobil itu. Seakan dia ingin tetap menunggu ibunya di halaman belakang.
Retha mengenalkan Pak Didi padaku. Seorang pria paruh baya; usianya sekitar 40  tahunan. Rambutnya hampir memutih dan dia memiliki senyum yang ramah.
“Sunny sampai digendong Pak Guru?” Pak Didi bertanya pada Sunny yang naik ke mobil dengan cemberut. Ia menatapku.
“Iya,” jawabku sambil memandangi wajahnya; wajahnya yang terasa familiar bagiku.
“Apa Sunny merepotkan?” tanya dia, dengan aksen jawanya yang kental. Dia menatapku lekat-lekat seperti sedang berusaha mengenaliku.
“Nggak, Pak Didi,” jawabku.
“Sunny punya kemajuan. Dia akhirnya bisa dekat dengan orang,” kata Retha terdengar sedang memujiku.
Pak Didi cukup terkejut. Dia menatapku dan tiba-tiba bersiap untuk pergi saat aku berpikir dia akan mengajak bicara beberapa saat lagi.
“Saya pamit dulu, Pak, Bu Retha,...” kata pria tua itu sebelum naik mobil dan duduk di belakang kemudi. Dia tersenyum sebelum memundurkan kendaraannya dan aku sangat yakin pernah melihatnya sebelum ini; maksudku sebelum aku berada di sekolah ini.
Kalau tidak salah, pria ini jugalah yang dulu sering mengantar Saira ke sekolah. Aku sering memperhatikan Saira turun dari mobil di depan gerbang. Dia sempat melambaikan tangan ke arah supirnya sebelum ia melangkah dengan angkuh memasuki sekolah. Sepertinya hubungan Saira dan supirnya sangat akrab; sekarang dia bertugas mengantar anaknya juga.
Pantas, Bapak itu sepertinya juga mengenaliku.





Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments